
Kini ketiga motor sudah keluar dari bengkel nasi motor, melaju dijalan raya ketupat menuju tempat kediamannya di gang si'iran.
Untuk sampai digang si'iran mereka harus melalui jalan raya delima.
Jarak tempuh antara jalan raya ketupat dan jalan raya delima tepatnya digang si'iran lumayan cukup jauh, perjalanan satu setengan jaman, baru mereka bisa sampai.
Kini mereka bertiga sudah memasuki jalan raya delima, bertepatan dengan berkumandangnya suara adzan maghrib, suara panggilan bagi umat muslim diseluruh dunia untuk melaksanakan ibadah solat.
''Aa Pandi, dan Aa gito ayo cepetan, sudah maghrib nih.'' Ucap Astuti sambil menarik gas pool.
''Okee.. Siapa takut.'' Jawab Gito dan pandi.
Laju sepeda motorpun semakin kencang, memburu waktu solat magrib yang sangat mepet sekali jarak waktunya.
Tidak lama kemudian mereka telah memasuki gang si'iran, dan akhirnya mereka telah sampai didepan bengkelnya nandi, gito dan pandipun ikut kebengkel nandi berhubung tadi ada permasalahan dengan orang yang baru dikenalnya, yang sempat adu jotos dengan gito.
Nampak nandi lagi berjalan dengan mengenakan pakain baju koko dan sarung corak-corak berpeci warna hitam.
''Ko baru pada pulang jam segini, emang banyak yang service apa gimana?.'' Tanya Nandi.
''Bukan di, nantilah gua ceritain.'' Jawab Gito.
''Ooh ya udah, buruan ambil air wudhu nanti ketinggalan berjama'ah.'' Kata Nandi.
Gito dan pandi lalu bergegas ke kamar mandi yang ada dibengkel untuk menbersihkan badannya terlebih dahulu.
Setelah itu merekapun pergi kemasjid menyusul Nandi, bahkan Kamal sudah duluan berada didalam masjid.
Sesampainya didalam masjid, gito dan pandi masih keburu ikut berjama'ah solat maghrib.
Dua puluh menit kemudian, para jama'ah pun sudah pada bubar dari masjid.
Nandi beserta para sahabatnyapun sudah pada keluar, langsung memburu ketempat duduk yang ada didepan bengkel.
''Pan lo ikut gua.'' Ucap Nandi.
''Emang ada apa sih di, gua jadi degdegan nih.'' Kata Pandi.
''Ya udah nanti juga lo tau.'' Ucap Nandi.
Pandipun tidak berani bertanya lagi, ia segera ikut sama nandi. setelah berada didalam rumah, nandi lalau menunjukan arah kedapur pada pandi.
''Lo bawain tuh makanan keluar, dan sekalian bikinin kopi tiga.'' Ucap Nandi.
''Lah, ko tiga, emang lo gak ngopi?.'' Tanya Pandi.
''Gua nanti aja nyusul, gua ada perlu dulu sama bokap dan nyokap gua.'' Jawab Nandi.
Pandi langsung menuju keruang dapur, dan diambilnya tiga gelas, lalu dituangkan kopi hitam dicampur gula pasir, setelah itu diseduh dengan air panas dari sebuah termos, dan diaduk hingga merata supaya gulanya larut dalam air, terus pandi membawanya keluar kehadapan Kamal dan gito.
''Ini ngopi dulu, supaya pikirannya agak lempeng.'' Ucap Pandi.
''Widiiihh, benar juga nih, tau aja lo pan disituasi kaya gini.'' Ucap Kamal.
''Weeh mantap dah.'' Saut gito sambil mengambil segelas kopi yang masih mengepul.
''Ya iya dong, kan gua sahabat lo, jadi gua tau selera lo berdua.'' Pungkas Pandi.
''Emang bener lo pan, lo itu sangat pintar kalau membuat kopi, kopi dan gulanya pas banget, iya gak to.'' Ucap Kamal sambil menoleh pada gito.
''Yoo'iii.'' Jawab gito.
''Lo itu ya, paling pintar ya kalau ngocok orang, kamal kamal, gak ngaruh pada gua mah.'' Ucap Pandi.
''Ini orang aneh ya, gua bilang begitu benar apa adanya, buset dah, lieur jadina aing.'' Ucap Kamal.
kamal garuk-garuk kepala, dan gito tersenyum sambil membenar apa kata kamal.
''Sampean ojo koyo ngono toh pan, kopinya enak tenan.'' Saut gito.
Pandipun terus menyeripit kopi buatannya sendiri, sambil matanya mendelik keatas seperti lagi merasakan kopinya itu.
''Tapi iya ya, ko gua bisa bikin kopi, mantap pisan euy.'' Kata Pandi.
''Tuh kan, lo sendiri bisa ngerasa'in.'' Ucap Kamal.
Begitulah ketiga sahabatnya nandi selalu ceria dimanapun mereka berada.
Sementara nandi lagi ngobrol sama pak dirman dan bu sari ibunya, tidak ketinggalan pula astuti berada ditengah-tengah mereka.
''Ada apa sih pak, bapak memanggil aku?.'' Tanya Nandi.
''Ya kita ngobrol aja atuh di, iya mah.'' Jawab pak dirman sambil melirik pada istrinya.
''Iya nandi, dalam keluarga itu hatus ada komunikasi, masa kamu ngurusin kerja'an aja, kali-kali dong kita ngobrol.'' Saut Bu sari.
''Tapi aku rasa, ada yang lain deh, yang akan ibu sama bapak bicarakan, iya kan bu?.'' Tanya Nandi.
''Iya ada sih.'' Jawab Bu sari.
''Terus bapak sama ibu mua ngomongin masalah apa?.'' Tanya Nandi.
''Begini nandi, kamu kan sekarang, ya sudah sukseslah, dan usiamu juga sudah mau menginjak dua puluh enam tahun, apa kamu belum ada niat untuk rumah tangga?.'' Tanya pak dirman.
''Ya ada sih pak, nandi kan normal masa kagak nikah, tapi untuk sa'at ini, ku belum kepikiran kesitu.'' Jawab Nandi.
''Ya terus hubunganmu sama sindi gimana.'' Ucap bu sari memotong pemnicara'an.
__ADS_1
''Ko ibu bisa tau, perasa'an ku gak pernah bilang, wah ini pasti kerja'an lo ya dek.'' Ucap Nandi sambil melirik pada adiknya astuti.
''Aah kagak Aa, aku gak bilang kesiapa-siapa, termasuk ibu.'' Jawab Astuti.
''Bohong loo.'' Kata Nandi sambil mencubit astuti.
''Iiih apa'an sih Aa, sakit tau.'' Ucap Astuti sambil meringis karena dicubit oleh nandi.
''Sudah sudah, apa'an sih kalian malah berantem, Ibu tau dari Kamal dan gito, yang waktu kamu tidak ada seharian, ibu sempet nanya pada kamal dan gito, ya mereka jawab sejujurnya, emang kenapa sih, kamu pake rahasia-rahasia'an segala?.'' Tanya bu sari pada nandi.
''Ya bukan begitu bu, nandi gak bermaksud merahasia'in sama ibu dan bapak, tapi belum sa'atnya, maksudku kalau sudah tiba pada waktunya nanti ku juga akan cerita.'' Ucap Nandi.
''Ya terus Aa sekarang mau nyalahin tuti juga.'' Pungkas Astuti.
''Iya ma'ap deh, segitu juga ngambek.'' Ucap Nandi.
''Habisnya, Aa nandi begitu kasar, awas lo kalau nanti sama teh sindi kasar, tuti haaajar.'' Ucap Astuti sambil memperlihatkan tinjunya pada abangnya.
Pak dirman dan bu sari tersenyum bahagia melihat anak-anaknya yang selalu rukun, walau terkadang suka ada salah paham.
Setelah pak dirman dan bu sari mendengar penjelasan dari nandi, bahwa dirinya belum memikirkan untk berumah tangga, pak dirman pun tidak mau memaksakan kehendaknya.
Setelah jam dinding menunjukan pukul 20:15 menit, nandipun pamit untuk keluar menemani sahabatnya yang duduk diluar.
Nampak terlihat oleh nandi kamal, gito dan pandi masih pada ngobrol ngaler ngidul sambil bercanda saling ejek.
''Wah sudah habis kopinya.'' Ucap Nandi sambil duduk dibangku.
''Huuh dari tadi juga sudah habislah.'' Jawab Kamal.
''Kalian ini ngopi apa haus sih.'' Kata Nandi.
''Ya dua-duanya sih.'' Saut Gito.
''Heh to, pan emang ada yang mau lo omongin apa tadi?.'' Tanya Nandi pada gito dan pandi.
''Begini di, tadi dibengkel sempet ada masalah.'' Ucap Pandi.
''Masalah apa sih?.'' Nandi bertanya lagi.
Terus pandi menceritakan kejadian dibengkel itu, sampai mendetil, malahan masalah astuti yang dikejar-kejar oleh kedua lelaki yang membawa motor yamaha nmax pun dicertakannya, hingga astuti bisa lepas dari pengejaran karena memakai jalan tikus untuk menghilangkan jejak.
''Nah begitu di.'' Ucap Pandi.
''Emang dia orang mana sih?.'' Tanya Nandi.
''Ya gua juga gak kenal di, wajahnya aja baru kali itu gua lihat.'' Ucap Gito.
''Kalau mendengar ancamannya, sepertinya masalah ini akan panjang.'' Ucap Nandi.
''Tapi ucapan lo ada bener juga sih mal.'' Ucap Pandi.
''Ya kita jangan terlalu nganggap enteng orang, waspada ya harus, lagian lo main tonjok aja sih to.'' Ucap Nandi.
''Habisnya gua kesel di, orangnya ngeyel, rese lagi ya sudah gua hajar tu orang.'' Jawab Gito.
Disa'at mereka lagi asik ngobrol, tiba-tiba dari kejauhan ada orang berlari lagi mendekati kearah Nandi dan kawan-kawan, sambil berteriak-teriak meminta pertolongan.
''Toloooong toloooong.'' Berkata orang tersebuat sambil berlari.
Nandi beserta para sahabatnya itu serentak kaget, merekapun langsung beranjak dari tempat duduknya.
''Ada apa ini, itu seperti mang engkus.'' Ucap Nandi.
Orang yang bernama mang engkus itu langsung mendekati nandi dan kawan-kawannya, dengan napas yang ngos-ngosan ia menyebut-nyebut nama nandi.
''Nak nandi tolongin mamang.'' Ucap mang engkus.
''Tenang dulu mang, mal ambil air minum.'' Ucap Nandi menyuruh kamal ambilin air minum.
Kamalpun langsung menuanhkan air putih kedalam gelas lalu dikasihnya pada nandi.
''Sekarang mamang minum dulu, biar mamang tenang.'' Ucap Nandi sambil memberikan segelas air minum pada mang engkus.
Tanpa menolak mang engkuspun lalu meneguk segelas air putih yang nandi berikan itu.
'''Sekarang tarik napas yang dalam lalu keluarkan melalui hidung secara perlahan.'' Kata Nandi.
Dan mang engkus menuruti apa yang diperintahkan oleh nandi, setelah mang engkus terlihat tenang, nandi lalu bertanya.
''Ada apa mang, sepertinya mamang kaya ketakutan begitu?.'' Tanya Nandi.
''Tolong saya nak nandi, saya diancam oleh tangan kanannya pak sobirin, karena saya belum bisa membayar utang, malahan orangnya pak sobirin mau menculik sapitri putri saya.'' Ucap mang engkus.
''Jadi mang engkus hutang sama rentenir?.'' Tanya Nandi.
''Iya nak nandi, mamang terpaksa karena kepeped untuk biaya sekolah sapitri, kalau tidak bisa bayar sekarang sapitri mau dibawa buat jaminan, tolonglah saya nak nandi.'' Ucap mang engkus sambil memohon-mohon.
''Tenang mang engkus jangan panik, ini sudah keterlaluan, berapa hutang mamang sama pak dmsobirin itu?.'' Tanya Nandi.
''Tiga juta nak nandi.'' jawab mang engkus.
Setelah itu nandi memanggil astuti, tidak lama kemudian astutipun langsung krluar menemui abangnya.
''Ada apa Aa?.'' Tanya astuti.
''Ambilin duit tiga juta, di brangkas dikamar abang.'' Ucap Nandi.
__ADS_1
''Untuk apa Aa?.'' Tanya Astuti.
''Nanti abang jelasin.''Jawab Nandi.
''Baik Aa.'' Ucap Astuti sambil bergegas masuk rumah untuk mengambil uang yang nandi minta
Selepas itu astuti sudah keluar rumah lagi, dengan membawa uang sebesar tiga juta rupiah, untuk menolong mang engkus yang lagi didesak pak sobirin seorang bos rentenir.
Kini uang sudah berada ditangan nandi.
''Apa orangnya sekarang masih ada dirumah mamang?.'' Tanya Nandi.
''Masih nak nandi.'' Jawab mang engkus.
''Ya sudah, sekarang mamang naik motorku, sementara pandi, gito dan lo mal tunggu disini.'' Ucap Nandi.
''Wah tidak bisa di, pokonya kita semua ikut, dan gua tau preman kaki tangan pak sobirin.'' Ucap Kamal.
''Ya sudah kalau begitu.'' Jawab nandi, sambil menyelah motor yamaha Rx kingnya.
Mang engkus lalu menaiki motornya nandi dan duduk dijok belakangnya nandi, sementara kamal, gito dan pandi mengikutinya dari belakang
Kini ketiga motor melaju menuju rumahnya mang engkus, pandi dan gito satu motor boncengan sedangkan kamal satu motor sendirian.
Setibanya didepan rumahnya mang engkus nampak terlihat oleh nandi kaki tangannya pak sobirin lagi marah-marah pada istrinya mang engkus.
''Dimana suamimu, kapan mau bayar hutangnya.'' Bentak lelaki berwajah brewok.
''Iya tuan ma'ap hari ini saya belum bisa bayar hutang, suami saya nganggur, mau bayar pake apa buat makan juga susah.'' Ucap wanita setengah tua sambil melas-melas.
''Saya tidak peduli, kalian mau makan mau nggak, makanya kalau merasa kere jangan coba-coba pinjam uang sama pak sobirin.'' Jawab lelaki brewok itu.
''Y sudah sebagai jaminannya, saya bawa anak gadismu.'' Berkata lelaki temennya sibrewok.
''Jangan atuh juragan, dimana rasa kemanusia'anmu, dasar para begundal lintah darat.''Teriak istrinya mang engkus sambil melompat kearah pintu kamar trmpat sapitri berada.
''Kurang ajar, dasar wanita tidak tau diri, dudah hidupmu melarat.'' Ucap sibrewok sambil mengayunkan telapak tangannya kearah muka istrinya mang engkus.
Plaaaaaakkkkkk.
Sebuah tamparan hinggap dimuka istrinya mang engkus.
''Aaaauuuwwww, dasar manusia terkutuk.'' menjerit istri mang engkus karena mearasakan sakit diwajahnya, sambil memaki ketiga begundal pak sobirin.
Ketiga kaki tangan pak sobirin lalu menarik istrinya mang engkus, dibawa keruang tengah dan sibrewok masuk ke kamarnya sapitri.
Nampak sapitri lagi duduk disudut tempat tidur karena ketakutan pas melihat sibrewok masuk.
''Hahaha, ayo neng kita ikut ketempat pak sobirin, disana makan serba enak dan tidurpun dituang berase.'' Ucap Sibrewok sambil mendekati sapitri perlahan-lahan.
Sapitri lalu berteriak memanggil kedua orang tuanya.
'' Bapak, ibu tolongin pitri, keluar kau mausia jahat, atau ku akan menerikan maling.'' Bentak sapitri.
''Hahaaa, silahkan tidak akan ada orang yang bisa melawan pak sobirin.'' Ucap Sibrewok.
''Siapa bilang.'' Ada suara laki-laki dibelakang sibrewok.
Sibrewok kaget Lalu ia membalikan tubuhnya kearah suara itu.
Betapa kagetnya sibrewok, begitu melihat ada sosok lelaki masih muda berpostur tinggi dan berisi.
Sapitri sangat gembira ketika orang yang dibelakang sibrewok, adalah orang yang sangat dikenalinya.
''Bang Nandi, tolongin pitri bang.'' Teriak sapitri.
Sapitri pun berlari kearah pemuda itu, yang tak lain adalah nandi, alias sikidal.
''Ooh jadi ini pemuda yang bernama Nandi itu, katanya banyak preman yang ditaklukannya, mau apa kau mau jadi sok pahlawan.'' Bentak sibrewok.
''Haii bang apa tidak ada cara yang lebih bijak gitu, selain ini, negara kita ini negara hukum, abang bisa dikenakan pasal berlapis, masalah hutang piutang kenapa disangkut pautkan dengan menyandra manusia.'' Ucap Nandi dengan tenangnya.
''Ini bukan urusanmu Nandi.'' Kata sibrewok.
''Ya sekarang jadi urusan gua bang.'' Ucap Nandi.
''Ooh jadi kau menantang pak sobirin, dan kau tau akibatnya, rojak, juned..'' Teriak sibrewok memanggil temannya.
''Kedua temanmu itu sudah gua amanin bang, Sekencang apapun abang berteriak tidak akan didengarnya.'' Ucap Nandi dengan santainya.
''Kurang ajar kau, heaaatt.'' Teriak sibrewok sambil mengayunkan tinjunya.
Dengan tenangnya nandi mengelak dari pukulan dibrewok.
Sibrewok merasa di hina oleh pemuda kemarin sore, dengan geramnya sibrewok terus menyerang nandi, nandi hanya mengkaper setiap serangan-serangan sibrewok.
♤☆☆☆☆☆☆☆♤♤♤☆☆☆☆☆☆☆♤
BERSAMBUNG
Nantikan di episode selanjutnya.
Klik like, tulis comentar dan sarannya, favorit dan vote juga boleh.
Terima kasih atas dukungannya, semoga sukses selalu.
Selamat membaca.
__ADS_1