SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 230


__ADS_3

Pukul 17:00


Nandi telah tiba di depan rumah, lalu turun dari motornya melangkah menuju rumah orang tuanya.


Begitu memasuki ruangan tengah pak Dirman dan Buk sari nampak lagi duduk sambil memandang kedatangan Nandi dengan intens.


"Gimana Nandi apa Anggita dan Sindi sudah ketemu?." Tanya Buk Sari.


"Ketiwasan Buk, Pak." Ujar Nandi.


"Ketiwasan bagaiman? Ngomong yang jelas." Cetus pak Dirman.


Sebelum menjawab Nandi duduk sambil merunduk, sehingga tidak terasa di kedua bola matanya nampak sudah berkaca-kaca.


"Lho ko malah nangis, ada apa ini sebenarnya, tolong jelasin sama ibuk dan Bapakmu." Ujar Buk Sari.


"Sindi dan Anggita ada yang nyulik Buk." Lirih Nandi bernada sedih


"Apa....??? Ada yang nyulik." Sontak pak Dirman dan Buk sari.


"Si penculik minta uang tebusan." Ujar Nandi.


"Berapa meminta uang tebusannya?." Tanya pak Dirman.


"Seharga mobil Ferrari." Uajr Nandi.


"Emang berapa, ibuk tidak paham?." Tanya Buk Sari.


"Sekitar tiga miliaran Buk, Pak." Jawab Nandi.


"Haaaaahhhh.....Tiga miliar, kita lapor aja polisi." Usul Pak Dirman.


"Jangan pak, kalau lapor polisi keselamatan Anggita dan Sindi terancam, apalagi Sindi lagi mengandung." Ujar Nandi.


"Lalu bagaimana jalan keluarnya, apa kamu mau menuruti permintaanya, uang tiga miliar itu sangat banyak sekali Nandi, bisa-bisa usahamu bangkrut." Tukas pak Dirman.


"Apa boleh buat pak, keselamatan Anak dan istri lebih utama bagiku, ketimbang uang segitu." Ujar Nandi.


"Mau pakai apa bawa uang segitu banyak Nandi." Ujar pak Dirman.


Di saat itu Pula muncul Astuti dan Kamal yang baru sampai ikut mencari Anggita dan Sindi.


"Bagaimana Bang, ku sudah mencari sampai ke peloksok kampung tapi tak satupun orang yang pernah melihat Teh Sindi dan Dek Gita." Ujar Kamal.


"Udah tidak usah di cari percuma." Cetus Buk sari.


"Kok ibuk ngomong begitu sih." Cetus astuti keheranan.


Lalau pak Dirman memberi penjelasan pada Astuti yang seperti kaget.


"Ibuk bicara begitu, karena Sindi dan Anggita ada yang nyulik nak." Ungkap pak Dirman.


Astuti dan Kamal tersontak kaget.


"Ap? Ada yang nyulik beneran Bang?." Tanya kamal.


"iya benar, masa gua main-main." Ujar Nandi agak sedikit tersinggung dengan pertanyaan Kamal.


"Iya maaf Bang maksud aku bukan begitu, kira-kira siapa orangnya bang?." Tanya Kamal.


"Gua juga gak tau, tadi si penculiknya nelpon gua." Ujar Nandi.


Mendengar penjelasan Nandi, Astuti seperti menemukan jalan, lalu bertanya pada Nandi.


"Kalau begitu ada dong nomor telponnya, dan nomor apa?." Tanya Astuti.


"Iya ada sih, nomornya Telkomsel, emang kenapa gitu?." Nandi balik bertanya.


"Ya elah Aa, biarpun Aa lagi panik tapi pikiran harus jernih, maksud aku kita bisa melacaknya melalui nomor telponnya, kan sekarang kalau registrasi Kartu perdana harus cantumkan Nik dan KK, Si Doni kan Hacker juga, ya di coba dulu siapa tau ada jalan keluarnya." Ujar Astuti.


Nandi yang tadinya seperti buntu bagaimana caranya untuk mendatangi lokasi mereka, akhirnya nampak semringah ke tika Astuti memberikan ide cemerlangnya.


"Iya betul, Mal coba lo telpon Doni, Gito, Pandi, Hasan dan Toglo." Pinta Nandi.


Kamal pun langsung menghubungi para famili Gang Si'iran, dan menceritakan musibah yang lagi di alami Nandi, dan segera untuk datang ke rumahnya pak Dirman.


Singkat cerita.

__ADS_1


Para famili Gang Si'iran sudah nampak hadir memenuhi ruangan tengah rumahnya pak Dirman.


Lalu Nandi menyuruh Doni untuk melacak nomor telepon yang waktu tadi siang menghubunginya.


Doni pun langsung membuka Laptop yang sudah di siapkannya oleh Astuti.


Kemudian Doni mulai memasukan data-data dan nomor telpon yang Nandi berikan itu, melalu aplikasi show caller, dengan kepintarannya Doni di dunia digital dan ilmu komputer.


Sehingga Nandi dan para famili Gang Si'iran akhirnya menemui titik terang dengan kemunculan data-data di layar Laptop dari nomor


+62812×××××××× terakhir di gunakan pukul 15:00.


"Di sini tertulis nama pengguna nomor ini bernama Ricad, dan lokasinya di kawasan perkebunan, dekat Danau ××××." Ujar Doni.


"Tapi sekarang Nomornya sudah tidak aktip, berarti hanya sekali pakai aja Di." Lanjut Doni.


"Lalu bagaiman rencana kita selanjutnya Di?." Tanya Pandi.


"Kita beraksi malam ini, cuman gua akan sendiri membawa mobil dan uang tebusan, karena mata mereka tersebar di mana-mana begitu ancamnya sama gua." Ujar Nandi.


"Gua ada ide, untuk memperlancar aksi kita, kita pun jangan sampai kalah pintar sama mereka, gua yakin sepertinya ini kelompok mavia kelas kakap, Nomor handphone kita, harus kita blok dari spam atau anonim, takutnya kita ke duluan sama mereka yang menyewa para Hacker, dan bisa mengetahui data-data kita." Usul Doni.


"Cakep ide cemerlang." Ujar Hasan.


Kemudian Doni pun langsung melakukan pemblokan pada nomor Handphone para famili Gang Si'iran dari spam atau anonim, supaya aksinya tidak bisa di pantau oleh para Hacker yang kemungkinan mereka gunakan.


Pukul 21:00 Wib


Nandi sudah meluncur dengan mobil pajeronya seorang diri ke arah perkebunan dekat sebuah Danau, di sebelah barat kota itu.


Sementara Hasan dan Kamal serta Doni sibuk menyeting kendara'annya terutama di bagian kenalpot di seting dengan kenalpot yang bisa meredam suara, dan lampunya tidak memakai lampu jarak jauh cuma lampu untuk memberi tanda bila sewaktu waktu berpapasan dengan kendara'an lain, dan semua kendara'an di pasang JPS, Supaya di antara mereka bisa saling mengetahui posisi dan jalan yang akan di lalui.


Kali ini permasalhan yang sangat besar yang di alami oleh Nandi khususnya dan para famili Gang Si'iran, karena ini mempertaruh kan hidup dan mati, demi terbebasnya Anggita dan Sindi dari jeratan para Mavia Jendra cobert yang di pimpin oleh Handoko, Ricad dan Aldi.


Di tempat lain.


Nampak Sindi di sekap di sebuah ruangan, dan Anggita di pisahkan dari ibuknya, karena niatnya Handoko yang ingin menghancurkan Nandi sampai sehancur-hancurnya.


Sindi di ikat menjadi satu di atas tempat tidur beralaskan kasur yang empuk.


Pintu kamar kini terdengar terbuka bersama'an dengan munculnya lelaki berkulit putih dan berkumis serta bulu jambang yang menyatu dengan jenggot yang tpis semakin menghiasi ketampanan lelaki itu yang tak lain adalah Handoko.


"Lepaskan aku lelaki brengsek." Berontak Sindi.


"Tenang saja cantik, hebat juga di Nandi bisa mempunyai istri secantik ini, kulit yang bersih serta lesung pipitnya membuat semua lelaki akan tergoda." Bisik Handoko sembari mendekatkan wajahnya di pipinya Sindi.


"Jangan macam-macam bajingan, nanti suami saya akan datang dan kau akan menyesal." Bentak Sindi Sembari menggeleng-gelengkan kepalanya karena geli oleh bulu jambang Handoko yang menempel di pipinya.


"Oowh galak juga rupanya istri si Nandi, tapi semakin kau beringas semakin aku ingin merasakan mulusnya tubuhmu, hahahaha." Ujar Handoko sambil mengelus kulit lembut pipinya Sindi.


"Dasar iblis, tolooooong toloong...." Teriak Sindi.


"Ayo teriaklah sekencang-kencangnya, karena di disini tempatnya jauh dari keramaian, mendingan sekarang temani aku tidur ya, kan sayang hamilmu belum di tua'in." Ujar Handoko dengan jorok.


Angin malam yang bertiup dingin memasuki celah-celah pentilasi kamar tempat Sindi di sekap membuat Handoko semakin bangkit dan bergairah, tanpak di sadari kejantanannya pun mulai bangkit dan berdiri.


Handoko mulai meaniki perutnya Sindi yang terus berontak, ia tidak perduli dengan teriakan Sindi.


Tapi yang maha kuasa masih melindungi Sindi, ketika Handoko mau melakukan aksi bejadnya terdengar suara yang mengetuk pintu.


Tok


Tok


Tok


"Han, Handoko keluarlah, sasaran sudah meluncur kesini, tadi Anggota kita dari titik satu memberi kabar." Panggilnya dari luar kamar.


"Sial, ada aja gangguan." Batin Handoko.


Sindipun kini merasa lega hatinya, karena dirinya masih di lindungi sama yang kuasa.


"Terima kasih ya Alllah, engkau masih melindungi hambamu ini yang selalu banyak kesalahan dan dosa, ampunkanlah hamba." Batin Sindi.


Handoko pun langsung krlua dan menutup pintu ruangan tempat Sindi di sekap dan langsung menguncinya.


Ceklekk

__ADS_1


Suara pintu terdengar di kunci dua kali, lalu Handoko bersama Ricad segera beranjak dari tempat itu untuk menemui Nandi, dalam hati Handoko agak sedikit kebingungan dan tidak mengerti lalu bertanya pada Ricad.


"Yang bener lo Nandi lagi meluncur kesini?." Tanya Handoko.


"Iya, Anggota kita yang di tugaskan di titik satu tadi melapor." Jawab Ricad.


"Lho ko bisa." Ujar Handoko.


"Maksud lo' itu gimana sih kan elo yang minta sasaran untuk datang dengan membawa tebusan." Ujar Ricad belum paham.


"Bukan begitu maksud gue, ko bisa dia datang, padahal gue belum mengirimkan alamatnya pada Nandi, tau dari mana dia, apa jangan-jangan di pihak kita ada pengkhianat." Ujar Handoko curiga.


"Jangan ngaco lo' kalau di otakmu selalu berprasangka buruk pada sesama anggota, sama saja lo' memasukan racun kedalam tubuhmu sendiri, jujur aja, Jendra Cobert sudah lima belas tahun berjalan, tidak pernah sesama anggota saling tikung." Dengus Ricad merasa tersinggung dengan kecurigaannya Handoko.


"Iya gue minta ma'ap Cad, kenapa lo jadi tersinggung, ya sudah lupakan saja ucapan gue tadi, sekarang kita habisi si Nandi setelah kita mendapatkan apa yang kita inginkan." Ujar Handoko.


Ricad tidak berkata, dia berjalan mengikuti Handoko sambil bergumam.


"Gue mesti hati-hati sama ini orang, sepertinya orang begini akan menikam dari belakang seperti yang telah di lakukannya sama Bos Rudy Gardan sekarang gue nyesel kenapa pula gue mesti mau menuruti niatnya dia padahal Handoko orang baru di sini." Batin Ricad.


Sementara Nandi yang lagi melaju dengan mobil pajero New sport, setelah melewati titik penjaga satu, Handphone nya terdengar berdering, lalu Nandi membuka kotak dan di ambil Headset Blutooth lalu dipasang di kedua telinganya, dan panggilan masuk pun sudah tersambung.


"Lima puluh meter lagi berhenti, sudah di pastikan lo' sudah membawa uang tebusan itu." Begitu nada bicara di telpon.


"Oke, jangan banyak bacot sekarang cepat bawa anak dan istri gua, kalau emang lo' pingin uang." Jawab Nandi.


Tidak lama kemudian Nandi pun langsung menghentikan laju mobilnya, lalu Nandi keluar sambil menenteng tas cooper besar.


"Hai pengecut cepatlah keluar." Teriak Nandi.


Di jarak seratus meteran nampak bermunculan puluhan orang-orang dengan bersenjatakan lengkap dari beragam jenis senjata.


"Heh apa-apaan ini, gua sudah penuhi ke inginan kalian, mana anak dan istri gua." Bentak Nandi.


Sedangkan para famili Gang si'iran yang sebelumnya sudah melacak data-data mereka, dan sudah mengetahuinya titik yang paling rawan, mereka berpencar di bagi empat penjuru angin, Toglo sama Gito di sebelah barat, pandi sama Doni di sebelah utara, kamal sama Hasan di selatan dan Astuti sama Mira di timur mendekati lokasi tempat penyandraan datang tepat waktu.


Para Anggota Jendra cobert berdiri siap untuk menghabisi Nandi, kemudian Handoko, Ricad dan Aldi muncul sambil tersenyum menyeringai pada Nandi penuh dendam.


"Hahaaha...Nandi Suryaman apa kabar, masih ingatkah sama gue, orang yang dulu kamu hajar di pesisir pantai selatan, dan karena kamu gue masuk penjara bangsat." Ujar Handoko.


Sejenak Nandi menatap Handoko dengan intens, lalu menyunggingkan senyumannya dan berkata.


"Ooh jadi elo' yang ada di balik ini semua, dasar pengecut kalau memang lo dendam sama gua kenapa harus melibatkan anak dan istri gua yang tidak tau apa-apa." Bentak Nandi.


"Hehee, karena gue pingin lo hancur sehancur-hancurnya Nandi Suryaman." Dengus Handoko.


"Jadi mau lo' sekarang apa?." Tantang Nandi.


"Gue pingin lo dan anak bini lo' mampus, Jendra Cobert habisi orang itu." Teriak Handoko.


Puluhan anggota Jendra cobert langsung berlari memburu Nandi.


Lalu Nandi melemparkan Cooper bag itu kedasar telaga, sembari siap siaga.


"Ya Allah bila hamba harus mati dengan jalan begini, hamba iklas, tapi selamatkanlah anak dan istri hamba." Gumam Nandi dalam hati.


Kelebatan senjata dari segala arah begitu mengerikan yang depert ingin membunuh Nandi, yang sebelumnya Para Anggota Jendra Cobert sudah di racuni pikirannya oleh Handoko dengan obat buas.


Nandi pun melompat salto ke belakang mencari tempat yang leluasa.


Di sa'at itu pula kelebatan enam bayangan begitu cepat melesat memasuki arena pertempuran.


Toglo yang sudah punya ilmu dari ki parta berkelebat seperti angin, dengan sebilah dahan kayu di genggamannya yang ia bawa di perkebunan teh, begitu pula yang lainnya karena melihat musuhnya bersenjatakan lengkap para famili Gang Si'iran anti sipasi untuk mengimbanginya.


Pertempuran yang paling menegangkan, di malam yang gelap gulita, suara-suara sabetan senjata dari kedua belah pihak begitu menggidikan bulu kuduk.


Toglo dengan agresip dan bringas tanpak mengenal takut, berkelebat kesana kemari memutarkan batang kayu menghajar beberapa anggota Jendra Cobert dengan batang kayu yang sudah mulai di warnai oleh darah.


Tak


Tak


Tak Duus


Jroot


Begitu Suara yang terdengar dari batang kayu yang mengenai tubuh dari anggota Jendra cobert.

__ADS_1


Pertempuran hidup dan mati, karena lawannya pun bukan lawan sembarangan, Sebuah Geng mavia terkuat di kota itu, yang namanya sudah tersohor sampai ke peloksok negri.


Sementara Handoko, Ricad dan Aldi yang bertempur melawan Nandi, begitu brutal karena di hatinya ingin melenyapkan Nandi.


__ADS_2