SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 140


__ADS_3

Dalam pergantian bulan, di mana di bulan itu, cuaca pun agak mendung, matahati pun tidak nampak, karena tertutup oleh awan hitam, mungkin kah pertanda akan segera turun hujan.


Para pedagang yang biasa suka mangkal di pinggiran trotoar jalan kini tidak terlihat sama sekali, karena rintik-rintik air yang turun dari langit sudah mulai mengguyur kota itu.


Saluran air di kiri kanan pinggiran bahu jalan, yang biasa mengering kini sudah di penuhi oleh air, jalan-jalan yang agak rendah sudah mulai di genangi oleh air.


Kendara'an yang lalu lalang dijalan pun jadi terhambat oleh genangan air yang terus naik, karena curah hujan semakin deras turun dari langit.


Ada beberapa titik ruas jalan yang rawan, yang selalu terendam bila sudah musim hujan tiba, maka dari itu banyak pengendara kendara'an yang melewati jalan delima, karena kondisi jalan delima berada di dataran tinggi sehingga setiap musim hujanpun jalan delima selalu aman dari genangan air.


Pukul 07:30 menit.


Pabrik-pabrik dan perusahan industri, yang biasanya sudah di penuhi olrh ribuan karyawannya kini nampak masih sepi, karena para karyawannya banyak yang terjebak oleh kemacetan, karena membludagnya para kendara'an di satu jalan, seperti di jalan delima yang lagi di padati oleh ribuan bahkan juta'an kendara'an, karena jalan yang lain banyak yang tergenang oleh air yang semakin terus naik.


Sementara di gang Si'iran para pekerja Nandi yang lain masih belum pada datang, kemungkinan mereka lagi terjebak macet.


Baru Toglo, Kamal, Hasan dan Doni yang sudah hadir, lagi pada duduk di bangku di ruangan di sebuah kedai.


Sementara di lapaknya pak Dirman, hari itu wawan pertama mulai masuk kerjanya, karena usianya yang masih dibawa tujuh belas tahun, jadi untuk sementara Wawan di suruh kerja dulu di lapaknya pak Dirman membantu merapikan barang-barang bekas yang akan ditarik oleh perusaha'an pendaur ulang, Wawanpun sangat senang bisa bekerja tetap dan tidak memikirkan masah upah besar kecilnya, yang terpenting bagi wawan bisa menyenangkan adiknya.


''Wan, Wawan.'' Panggil pak Dirman.


''Iya pak.'' Jawab Wawan.


''Kamu pilih dulu barang yang dari plastik, masukin kedalam karung dan langsung di bal, tapi ada beberapa jenis bahan dari plastik, contoh kaya bekas minuman, dan banyak lagi bahan dari plastik lainnya, nanti mang udin yang akan memberi tahu caranya.'' Ucap pak Dirman.


''Baik pak.'' Jawab Wawan.


''Ya sudah, selamat bekerja ya, jangan lupa pake masker dan sarung tangan, untuk menjaga kesehatan.'' Ujar pak Dirman.


''Iya pak.'' Jawab Wawan.


Setelah itu wawanpun melangkah pergi menuju tempat kerjanya, yang telah di tugaskan oleh pak Dirman, sedangkan di luar sana hujan masih terus mengguyur kota itu.


Sementara Wiwin yang lagi asik main bersama Anggita di rumahnya pak Dirman, di temani oleh buk sari. berhubung sekarang ada Wawan buk sari yang biasa sudah membereskan barang-barang bekas, sekarang jadi nyantai ngasuh cucunya.


''Wiwin kamu sudah makan nak?.'' Tanya buk sari pada Wiwin.


''Sudah buk, tadi di kasih sama pak Nandi.'' Jawab Wiwin.


''Alhamdulilah atuh, ya sudah nenek mau masak dulu ya buat nanti siang, kalian main dulu tapi jangan jauh-jauh disini saja.'' Ucap Buk sari.


''Iya nek.'' Jawab Anggita dan Wiwin serempak.


Kemudian buk sari masuk ke ruangan dapur, untuk memasak menyiapkan makanan untuk siang hari, karena hanya tinggal dua jam lagi waktu istirahat akan segera tiba.


Sementara hujan pun sudah reda, dan matahari pun sudah nampak terlihat menyinari bumi persada.


Bersama dengan itu bengkel Nandi yang dipimpin oleh Toglo lagi di banjiri oleh kendara'an roda dua, karena banyak yang terendam oleh air, yang mengakibatkan air masuk kedalam bagian mesin sehingga motorpun jadi tidak berpungsi sama sekali.


Hasan dan Doni pun ikut ambil bagian karena Toglo beserta tiga anak buahnya sangatlah kewalahan, dalam menangani kendara'an yang terus masuk memenuhi halaman bengkel.


Dimusim hujan yang identik dengan musim banjir di kota itu, sangatlah menguntungkan bagi para pengusaha otomotip khususnya para bengkel, karena tidak sedikit kendara'an yang langsung dirawat, mungkin bagi kendara'an bengkel adalah rumah sakitnya.


Makanya para pengusaha bengkel kendara'an roda dua, panen duit di musim itu.


Apalagi bengkel Nandi yang ditangani oleh tangan-tangan yang sudah ahli di bidang kendara'an roda dua, dan kinerjanya yang sangat apik dan bagus dan tidak mengecewakan bagi para pelanggan membuat para pelanggannya bertambah banyak apalagi habis banjir begitu, membuat Hasan, Doni, Toglo dan ketiga anak buahnya kewalahan.

__ADS_1


Kemudian Kamal muncul karena di perintahkan oleh Nandi untuk membantu.


''Buseeet dah, ini kendara'an banyak amat.'' Ujar Kamal.


''Cepetan bantuin kita nih, bukannya dari tadi lo' ah.'' Ucap Hasan.


''Hahaha, Hasan bin maun, keok juga di kerubunin kendara'an yang banyak mah.'' Ujar kamal tertawa lebar.


''Malah ketawa lo' cepet ganti pakaiannya, gua cape nih, mana pingin ngopi lagi.'' Saut Hasan.


Kamal pun lalu masuk ke ruangan khusus untuk ganti salin dengan pakain seragam bengkel, selang beberapa menit kamal pun kembali.


''Waah, sudah lama nih gua tidak mengenakan pakaian seragam ini, rasa kangen dengan seragam ini yang banyak momennya.'' Ujar Kamal, sambil mendorong motor pelanggan ke ruangan oprasional.


Lalu Hasan mencoba menghidupkan motor tersebut, tapi motorpun tidak bisa bekerja sebagimana mestinya.


''Waah ini mah, air sudah masuk semua.'' Celoteh Kamal.


Kemudian Kamalpun membuka semua caver body motor tersebut, Setelah itu Kamal membuka baut penutup oli, untuk dikeluarkan semua kotoran yang masuk yang kemungkinan sudah bercampur dengan oli.


''Buseet dah, ini kotorannya banyak amat.'' Celoteh Kamal, sambil memerika beberapa bagian onderdeil yang tidak berpungsi.


Pukul 11:50 menit.


Kendara'an pun sudah agak berkurang, para pekerja nandi pun istirahat dulu sejenak.


''Abang-abang, mas-mas, bentar ya kita istirahat dulu.'' Ucap Toglo.


Lalu salah satu dari merekapun menjawab ''Oke bang Toglo, nyantai aja sih, jangan di paksain nanti hasilnya gak bagus.''


''Terima kasih, atas pengertian dari semuanya, kalian istirahat aja dulu, mau bikin kopi tinggal pesen aja, gratis ko.'' Ucap Toglo.


''Iya kan saya di suruh pak bos, mana mungkin ku berani kalau tidak ada perintah.'' Saut Toglo.


''Ohh begono toh, di kira lo' mau jadi dermawan, hehe.'' Ujar Kamal.


''Makanya kamaludin kalau gak tau jangan sotoy.'' Celoteh Hasan.


''Diam lo' ah, Hasan bin maun.'' Jawab Kamal.


''Wak wak wak,, malu nieee.'' Ujar Hasan cengengesan.


Kamal dan Hasan sudah biasa saling ejek, maka tak heran bila ada mereka pasti suasanapun jadi hidup.


Sementara Toglo keluar dan memburu pada sepedanya, lalu dikayuhnya, dan sepedapun melaju dengan cepat.


''Mau kemana tuh bocah.'' Ujar Kamal


Hasan lalu menjawab ''Kepo aja lo' urusan orang.'' Celoteh Hasan.


''Gua bukan kepo tapi bertanya?.'' Ujar Kamal.


''Ya itu sama saja kepo' Kamaludin.'' Ucap Hasan.


Setelah itu Toglo sudah kembali dengan membawa dua bungkusan, lalu sepedanya belok ke arah lapaknya pak Dirman.


''Lha mau kemana tuh si Toglo.'' Celoteh Doni.

__ADS_1


Sedangkan yang lagi di omonginnya sudah sampai dilapaknya pak Dirman, lalu Toglo memanggil seseorang.


''Wawan, Wiwin, sini geh.'' Panggil Toglo.


Kemudian Wawan pun bergegas dari tempat duduknya setelah mendengar panggilan dari Toglo.


''Iya bang Toglo ada apa?.'' Tanya Wawan.


''Ini buat kamu dan Wiwin makan siang, makan ya abang beli'in di warteg barusan.'' Ujar Toglo.


Entah kenapa wawan merasa ada perasa'an sentuhan batin, ketika Toglo memberikan dua bungkus nasi dan merasa diperhatikan oleh seorang kaka, apalagi melihat bentuk badan rupa wajahnya sama persisis dengan adinya Wiwin.


''Lha Wiwin kemana Wan?.'' Tanya Toglo pada Wawan.


''Ada tuh lagi main ama Anggita, bentar ku panggil, Win, Wiwin.'' Panggil Wawan.


Kemudian Wiwin pun bergerak melangkah memenuhi panggilan Wawan.


''Iya Ka Wawan ada apa?.'' Tanya Wiwin.


''Ini Nasi buat makan siang kamu, dari bang Toglo.'' Ucap Wawam.


''Terus bang Toglonya kemana kak?.'' Tanya Wiwin.


''Tuh bang Toglo dekat pintu gudang.'' Ujar Wawan sambil menunjuk ke arah Toglo.


Wiwin pun lalu bergegas menghampiri Toglo yang lagi berdiri menghadap keluar ''Bang Toglo makasih ya nasinya.'' Ucap Wiwin.


Toglo lalu membalikan badan menghadap pada Wiwin, lalu Toglo menurunkan tubuhnya dalam posisi jongkok, sambil kedua tangannya memegang kedua bahunya Wiwin.


''Iya sama-sama dek Wiwin, gimana betah gak disini, gimana kalau nanti malam tidurnya di rumah abang aja ya.' Ucap Toglo.


''Betah bang, ya aku gimana kak Wawan aja, terus kalau ka Wawan dan bang Toglo kerja aku sendiri dong di rumah.'' Jawab Wiwin.


''Kan ada nenek dirumah, tapi kalau dek Wiwin suntuk bisa ikut naik sepeda bersama kak Wawan.'' Ucap Toglo.


''Kan kak Wawan tidak punya sepedanya bang.'' Ijar Wiwin.


''Gampang nanti abang Toglo beli'in.'' Ucap Toglo.


''Asiiik, aku bisa belajar dong.'' Ucap Wiwin dengan senangnya.


''Ya sudah abang Toglo mau ke kedai lagi ya, dek Wiwin jangan nakal ya.'' Ucap Toglo sambil berdiri.


''Iya bang, abang Toglo hati-hati ya kerjanya.'' Ucap Wiwin sambil menatap dalam pada Toglo.


''Iya dek Wiwin, makasih ya.'' Ujar Toglo sambil melangkah pergi menuju pada sepedanya yang di parkir di pinggir jalan.


Sambil menaiki sepedanya Toglo menoleh pada Wiwin yang berdiri sambil memegang nasi bungkus pemberiannya, rasa bahagia yang kini Toglo rasakan karena sudah bisa berbagi dari hasil kerja kerasnya, pada Wawan dan Wiwin yang merasa seperti adiknya sendiri.


Toglo melakukan itu karena merasakan apa yang pernah ia alami, sewaktu masih ikut jadi pemulung bersama nenek Jumi, sewaktu dikasih nasi dan uang oleh Nandi, waktu itu Toglo merasakan sebungkus nasi yang nandi kasih telah menjadi obat dari rasa lapar dan dahaganya.


*********


Bersambung.


Terima kasih pada kaka author dan para reader yang sudah memberi dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.

__ADS_1


''Assalam mualaikum''


__ADS_2