SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong Eps 183


__ADS_3

Singkat cerita,, permasalahan antara Abah haji Mansur dengan ki Sobri serta ke lima temannya sudah beres tuntas, ki sobri sudah mengakui semua kesalahannya, dan meminta maaf atas perbuatannya pada Haji Mansur.


Dengan sangat lapang dada dan penuh bijaksana Abah haji Mansur telah mema'afkan semua kesalahan ki Sobri dan ke lima temannya itu.


Dan kini malam pun sudah mendekati subuh, ki Sobri beserta lima temannya akhirnya pamitan pada semua yang ada di situ.


Seluruh Santri dan segenap keluarga besar pondok Haur Koneng sangat berterima kasih pada Nandi dan para pamili gang Si'iran, karena berkat pertolongannya semua masalah yang menimpa abah haji Mansur tuntas tidak sampai berkepanjangan.


Nandi beserta para pamilinya langsung pamit menuju Ke penginapannya di Vila yang di sediakan oleh Abah haji Mansur untuk istirahat. Setibanya di Vila, Toglo, Gito dan Hasan langsung merebahkan badannya karena badan terasa lelah, sedangkan Kamal dan Astuti masuk ke kamar yang ber nomor delapan.


Kamal dan Astuti merebahkan badannya di kasur empuk, dan pentilasi udara agak sedikit terbuka sehingga semilir angin dingin masuk menyelimuti ruangan tersebut.


Astuti memeluk erat tubuh suaminya, dan kamalpun langsung membalas pelukan dari istrinya kini rasa hangat saling dirasakannya.


Perlahan-lahan kamal membelai rambut Astuti yang panjang terurai di punggung, lalu ciuman lembut di daratkannya pada sang istri, Astuti pun langsung konek dan membalas ciuman dari Kamal, gelora cinta kini telah membara menghangatkan suasana malam yang dingin, tubuh molek dan putih bersih kini telah menyatu dalam dekapan badan gempal dengan dada yang bidang saling mengisi dari segala ke kukurangan.


Desah napas lembut telah mengiringi dalam satu alunan dan irama sang dewa kamajaya, dengan tiupan angin dingin sepoi-sepoi se akan menjadi saksi pada pasangan pengantin baru yang lagi memadu kasih.


Kamal pemuda gendeng dan slenge'an, Astuti si gadis tomboy berwatak keras, ternyata dalam percinta'annya begitu romantis watak yang keras di keduanya, kini seakan hilang tak berbekas di selimuti oleh asmara cintanya.


Lima puluh menit kemudian mereka pun kini sudah tertidur dengan pulasnya setelah semua kebutuhannya saling terpenuhi.


Waktu terus berlalu hingga tidak terasa lantunan suara adzan subuh telah di perdengarkan di mana-mana, Nandi dan Sindi kini telah membuka matanya, perlahan Nandi mengerakan badan untuk bangun sambil melihat pada sebuah jam yang menempel di atas dinding kamar.


"Sayang bangun ayo kita solat subuh." Ajak Nandi.


"Iya sayang, kamu mau ke Masjid?." Tanya Sindi.


"Disini saja, kejauhan jalannya, kita berjama'ah, kan di sini juga ada tempat buat solat." Jawab Nandi.


"Ya sudah." Ujar Sindi sambil mengankat tubuhnya dari atas kasur.


Nandi pun langsung mengambil handuk yang tergantung di kastop menuju kamar mandi khusus Pria, begitu pula Sindi melangkah ke kamar mandi khusus Wanita.


Kemudian di kamar dimana Toglo, Gito dan Hasan tertidur, nampak Toglo sudah bangun, lalu ia mengangkat tubuhnya dan berdiri lalu netranya menatap turun ke arah Gito dan hasan yang masih tertidur dengan pulasnya.


"Gak tega gua banguninnya, pasti capek biarin deh." Batin Toglo.


Kemudian melangkah keluar dari kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.

__ADS_1


Pukul 06:30 menit.


Nandi beserta para pamili Gang Si'iran berpamitan pada Abah haji dan Umi hajah beserta para santri-santri untuk pulang karena urusan kerja'an jadi terbengkalai terlalu lama di tinggalin, dan berhubung Abah haji sudah nampak terlihat sehat seperti sedia kala.


Singkat cerita.


Nandi beserta para pamili Gang Si'iran sudah keluar dari pondok Haur Koneng, melaju kan kendara'annya di jalanan yang menurun.


"Sayang nanti kita berhenti dulu di rumah makan, karena tidak jauh lagi dari sini banyak pedagang kuliner, mau makan dan minum apa juga ada." Ujar Nandi.


Anggita yang sedari tadi terdiam tiba-tiba berkata sambil berdiri.


"Asiiik Nanti aku bisa beli oleh-oleh buat benek Sari, nenek Suminar, Om Rendi dan Kakek." Seru Anggita.


Nandi dan Sindi tertawa tipis, dan merasa bahagia ternyata putrinya sangat perhatian pada moyangnya.


"Hehee, wah waah kamu ternyata perhatian juga sayang." Ujar Nandi sambil mengemudi.


"Iya dong, siapa dulu ayah dan ibuknya, betul kan mah." Jawab Anggita sambil menatap datar pada Sindi.


"Iya sayaaang, anak mamh ini ternyata pintar sekali ya." Ujar Sindi sambil mencium perut Anggita yang lagi berdiri.


Nandi terus tersenyum tipis sambil netranya mentapa sepion kiri kanan, karena mobil yang di kemudinya mau berbelok ke kanan menuju jalan yang mau ke pusat kota Bandung.


Setelah Nandi pun melaju di jalan raya yang mengarah ke kota, dan jalanpun sudah mulai di padati oleh berbagai macam kendara'an.


Nandi tiba-tiba menghentikan laju kendara'annya, Kamal, Gito dan Hasan pun berhenti dan bertanya pada Nandi.


"Bang kenapa berhenti?." Tanya Kamal pada kaka iparnya.


"Kita makan dulu, kan kita belum sarapan sama sekali." Jawab Nandi.


"Ooh ya sudah." Ujar Kamal.


Kemudian Nandi pun melajukan mobilnya memasuki area parkiran di depan para pedagang kuliner, yang di ikuti oleh tiga kendara'an roda dua yaitu Kamal, Gito, dan Hasan, Kemudian merekapun berhenti, lalu Nandi, Sindi dan Anggita membuka pintu mobilnya keluar dan berjalan memasuki sebuah pedagang kuliner yang menjual aneka macam makanan dan minuman dengan bahan-bahan dasar umbi-umbian yang di racik oleh para ahli di bidangnya menjadi sebuah makanan ala modern.


Lalu Nandi dan yang lainnya mencari tempat duduk yang kebetulan pagi itu belum ada pengunjung, baru Nandi, Sindi, Anggita dan para pamili Gang Si'iran yang datang, jadi sangat leluasa mereka memilih tempat untuk bersantai sambil makan dan minum.


Kemudian seorang pelayan wanita cantik datang menghampirinya.

__ADS_1


"Selamat pagi bapak ibuk dan semuanya, Silahkan untuk memilih menu makanan dan minumannya." Sapa sang pelayan.


"Pagi juga mb, jadi di sini semua makanannya pake bahan dasar umbi-umbian?." Tanya Nandi.


"Iya betul pak." Jawabnya.


"Woww luar biasa." Ujar Nandi sambil memilih menu makanan yang akan di pesannya.


Setelah itu Nandi dan yang lainnya telah memesan makanan dan minuman sesuai seleranya masing-masing.


Tidak lama kemudian sang pelayan datang membawakan semua pesanan Nandi dan yang lainnya.


Kini semua makanan dan minuman telah mendarat di meja, mereka pun langsung mencicipinya.


Kamal dan Astuti saling suap-suapan maklum pengantin baru yang masih romantis-romantisnya.


Hasan dan Gito serta Toglo yang duduk agak jauh dari Kamal dan Astuti, tersenyum sambil berkata mencibir.


"Wualaah pengantin baru, romantis banget sih." Celetuk Gito.


"Yah sekarang aja kamaludin begitu, kalau sudah setahun dua tahun pasti gak ada tuh romantisnya." Cibir Hasan.


Lalu Toglo menggelengkan kepala dan berkata pada Hasan.


"Bang Hasan jangan begitu, mesti nya abang bersyukur melihat sahabat kita bahagia." Ujar Toglo.


"Gua cuma bercanda glo' karena gua sama Kamal sudah biasa begitu." Jawab Hasan.


"Ya sudah tidak usah di bahas lagi, mending sekarang nikmatin aja suasana pagi ini dengan minum kopi, apalagi cuaca hari ini lagi mendukung nih." Ujar Gito.


Kemudian mereka pun langsung menyeripit kopi hitam kental setelah abis sarapan dengan makan kue-kue berbahan umbi-umbian.


**********


Bersambung


Nantikan kisah lanjutannnya di episode selanjutnya, jangan lupa sertakan like, comentar, favorit, berikan vote serta hadiahnya bila suka.


Terima kasih atas dukungannya, salam sejahtera, sehat-sehat dan sukses selalu.

__ADS_1


__ADS_2