SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 121


__ADS_3

Kini hari telah senja, suasana dijalanpun masih terlihat padat oleh berbagai macam kendara'an, angin dingin pun kini mulai menyelimuti kota itu dan sekitarnya.


Nandi dan Sindi lagi duduk bersantai ditaman samping rumah sambil menikmati udara senja yang dingin menerpa, Sungguh pasangan yang serasi yang saling melengkapi dari segala kekurangannya masing-masing.


''Sayang, gita mana?.'' Tanya Nandi.


''Tadi ku anterin pingin ke tempat omah.'' Jawab Sindi.


''Ooh gitu, Anggita memang sangat dekat sama omahnya, apalagi ibuk suka memanjakannya.'' Ucap Nandi.


''Iya sih, ibuk sangat sayang sama gita melebihi pada anaknya.'' Ujar Sindi.


Di sa'at Nandi dan Sindi lagi asik berbicara, muncul Astuti bersama'an dengan terbukanya sebuah pintu gerbang rumahnya Nandi.


''Assalam mualaikum, aa, teh Sindi, waduh ganggu gak nih.'' Ucap Astuti.


''Wa alaikum salam, ganggu apa'an sih dek.'' Ujar Nandi.


''Ya bukan begitu sih aa, soalnya ku lihat aa Nandi dan teh Sindi seperti lagi serius, emang lagi membicarakan apa sih?.'' Tanya Astuti.


''Pingin tau aja sih, ini mah urusan dalam negri.'' Jawab Nandi.


''Emangnya dek Tuti baru pulang?.'' Sindi bertanya.


''Ya enggak juga sih, pulang tadi jam setengah lima, ooh iya aa, tadi aa Kamal nelpon masalah sapitri.'' Ucap Astuti.


''Ya terus gimana katanya?.'' Tanya Nandi.


''Kata aa Kamal mau, tadinya juga sapitri mau datang sama aa malam ini, mau minta kerja barang kali ada lowongan.'' Jelasnya Astuti.


''Bilangin sama Kamal, Besok sebelum jam kerja masuk sudah ada disini, ada yang mesti ku jelaskan dulu sama Sapitri.'' Ujar Nandi.


''Baik aa, nanti saya sampaikan, ya sudah, sebentar lagi maghrib ku pulang dulu.'' Ujar Astuti.


Kemudian setelah Astuti keluar dari halaman rumahnya Nandi, terdengar suara adzan berkumandang dimana-mana, Nandi dan sindi bergegas masuk kedalam rumah untuk segera mengambil air wudhu.


Sedangkan Nandi setelah berwudhu ia langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan solat maghrib berjama'ah.


Dua puluh menit kemudian Nandi sudah nampak keluar dari dalam masjid berjalan ber'iringan dengan bapaknya yaitu pak Dirman.


''Anggita masih di sana pak?.'' Tanya Nandi pada bapaknya.


''Iya masih, tadi mau di anterin pulang juga gak mau, katanya pingin sama omah.'' Ujar pak Dirman.


''Biarin gak usah pak, nanti aku sama Sindi ke rumah.'' Ucap Nandi.


Setelah itu Nandi dan pak Dirman berpisah menuju pada rumahnya masing-masing, Nandi membuka pintu gerbang lalu di tutup rapat kembali sembari dikancingkan selot pengancing pintu gerbang tersebut.


Kemudian Nandi berjalan memasuki teras depan rumahnya, setelah Nandi berdiri di depan pintu ia pun mengetuk pintu tersebut.


Tok tok tok


''Assalam mualaikum.'' Sapa Nandi.


Kemudian selang beberapa menit, terdengar suara wanita menjawab bersama'an dengan terbukanya sebuah pintu.


''Wa alaikum salam.'' Jawab Sindi sambil mencium tangannya Nandi.

__ADS_1


Kemudian Nandi mencium keningnya Sindi, rasa bahagia yang kini telah di rasakan oleh Sindi, dikaruniai suami yang baik dan perhatian yang bisa melindungi keluarga dari rong rongan orang-orang jahat.


Kemudian Nandi menggandeng istrinya berjalan menuju kamar, setibanya di dalam kamar Nandi dan Sindi lalu duduk berhadapan di atas kasur dengan kedua bola matanya saling pandang seperti ada sesuatu yang akan mereka ucapkan atau kerjakan, dengan wajah yang cantik anggun dan menawan tersenyum manis, nampak lesung pipit di kedua pipinya Sindi semakin menambah aura kecantikannya.


''Aa kebiasa'an deh kalau sudah menatapku seperti itu.'' Ucap Sindi.


''Emang gak boleh, seorang suami menatap wajah cantik istrinya?.'' Tanya Nandi.


''Ya tentu boleh atuh, tapi tatapan aa Nandi suryaman yang begitu biasanya ada maunya.'' Ujar Sindi.


''Ternyata istriku ini sangat peka dengan ke inginan suaminya.'' Ucap Nandi.


''Se orang istri harus bisa membaca dan mengerti apa ke inginan suaminya, insa allah aku akan selalu melayani suamiku kapan aja dan di mana aja.'' Ucap Sindi sambil memegang ke dua pipinya Nandi.


''Istriku tambah cantik aja, gemes deh bila sudah melihat lesung pipit kedua pipimu.'' Ujar Nandi sambil membalas pegang pipinya Sindi.


Sindipun kini terlena dengan belaian tangannya Nandi, dengan perlahan Sindi merebahkan tubuhnya di dada Nandi di barengi dengan napas yang sedikit turun naik.


Kini Nandipun terbawa oleh asmara cintanya yang semakin memanas, ciuman lembut Nandi yang terus mendarat dengan sentuhan-sentuhan yang membangkitkan gairah cinta di keduanya.


Suasana malam yang dingin, kini seperti ikut terbawa dalam kemesra'an dua insan yang lagi memadu kasih.


Karena asmara cinta Sindi yang semakin bangkit, Sindi pun merengkuh Nandi sambil menarik tubuh Nandi turun dan merebahkannya di atas kasur empuk dengan di tutupi oleh kain selimut tebal.


Di malam jum'at yang penuh berkah, di mana pasangan suami istri yang selalu berbuat kebaikan, seperti di taburi doa dan keberkahan oleh para malaikat, sehingga di malam jum'at itu Nandi dan Sindi merasakan sesuatu yang sangat indah dan penuh kebahagia'an atas nikmat yang telah semesta berikan.


Tepat pukul 20:30 menit.


Nandi dan sindi pun sudah membersihkan badannya dari hadas besar(mandi wajib), dan sekalian ambil air wudhu untuk melaksanakan solat isa.


Selepas mengerjakan solat isa, Sindi lalu duduk di kursi sambil menatap kaca di meja tualet.


Tanpa di sengaja sebelah pandangan Sindi melirik ke arah Nandi yang lagi memandanginya.


''Kenapa sih aa memandangiku seperti itu terus, mau lagi ya?.'' Tanya Sindi.


Nandi langsung memalingkan pandangannya ke langit-langit rumah, dan pura-pura seperti tidak tau.


''Ko cat plaponnya kaya belang-belang begitu sih.'' Ujar Nandi mengalihkan pembicara'an.


Sindi pun tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, yang tidak terarah, padahal cat plapon baik-baik aja malahan cukup rapi dan bagus begitu gumam Sindi dalam hati.


''Sayang, ayo kita jemput gita, ketempat bapak.'' Ajak Nandi.


''Iya aa.'' Saut Sindi.


Kemudian mereka pun melangkah keluar rumah menuju ketempat kedua orang tuanya Nandi, yang berdampingan dengan rumahnya.


Setibanya di depan pintu Nandi mengetuknya sambil mengucapkan salam.


Tok tok tok


''Assalam mualaikum.'' Sapa Nandi.


Tidak lama kemudian dari dalam terdengar menjawab.


''Wa alaikum salam,, buka aja Nandi gak di kunci ko, tuh ayah sama mamah datang.'' Jawab Buk Sari yang lagi bermain-main sama cucunya.

__ADS_1


Kemudian Nandi dan Sindi melangkah masuk menuju ke ruang keluarga, nampak Anggita lagi bermain-main sama buk sari dan pak Dirman (kake dan omahnya).


''Tuh ayah sama mamah udah mau jemput gita, dek gita jangan nakal yaa.'' Ucap Pak Dirman.


''Iya kek.'' Saut Anggita.


Kemudian Anggita dengan lucunya ia bertanya pada ayah dan ibuknya.


''Ayah sama mamah abis ngapain sih, ko lama amat kesininya?.'' Tanya Anggita dengan lucunya.


Nandi dan Sindi hanya saling pandang, ketika Anggita bertanya kepadanya sambil tersenyum tipis.


''Kan ayah sama mamah abis solat isa dulu sayang, mmuuaacch, anak ayah bawel juga.'' Ujar Nandi sambil mencium pipi Anggita.


''Siapa dulu dong bapaknya.'' Saut Anggita.


Buk sari tersenyum sambil menggrleng-gelengkan kepalanya.


''Cucu omah ternyata pintar ya.'' Ucap Buk sari ikut nimrung.


''Iya dong omah.'' Ujar Anggita.


Kemudian setelah itu Nandi dan Sindi duduk di sopa dan Anggita pun duduk di pangkuannya Nandi sambil mengelus boneka kesayangannya.


Sedangkan buk Sari beranjak dari tempat duduk menuju kedapur untuk mengambilkan minuman buat Nandi dan Sindi.


Tak lama kemudian buk sari datang dengan membawa nampan berisikan minuman dan makanan cemilan.


''Nah ini buat kamu Nandi kopi yang baru ibuk olah, asli lho tanpa bahan pengawet, dan ini buat Sindi capucino ditambah susu, ayo di minum pasti enak.'' Ujar Buk Sari.


''Ibuk emang tau selera aku.'' Ujar Nandi.


''Ya tau atuh, kan ibuk merwatmu dari kecil, dan kamu selagi masih sekolah dasar juga doyan banget minum kopi buatan ibuk.'' Saut buk Sari.


''Masa iya sih buk, aa Nandi ngopinya dari sejak kecil.'' Ujar Sindi agak keheranan.


Sebelum buk sari menjawab, Nandi lebih dulu memotong pembicara'an.


''Iya sayang, dari sejak kecil ku suka banget minum kopi.'' Pungkas Nandi.


''Wuaalaaaahh, pantesan aja, sehari kadang lima kali bikin kopi.'' Ujar Sindi


''Ya itulah ciri khas Nandi, minuman yang lain diamah gak begitu suka, tapi kalau masalah kopi jangan tanya.'' Ujar buk sari.


Kemudian Nandi dan sindi menyeripit minumannya, tanpa di sadari orang yang duduk di sampingnya buk sari yaitu pak dirman berbisik pada buk sari.


''Ko bapak gak di bikinin sih buk.'' Bisik pak Dirman.


''Wualaaaah, lalih pak, duh puntn, bukannya ibu gak bikinin, lupa gak ke bawa, bentar ya ibuk ambil dulu.'' Ujar buk Sari.


''Ibuk sih, bapak kan gak tahan kalau melihat yang lagi minum kopi.'' Celoteh Nandi.


Tidak lama kenudian buk sari dtang dengan membawakan se gelas kopi yang masih mengepul.


''Ini kopinya pak, maaf ya pak ibuk tadi lupa bawa.'' Ucap buk sari.


''Tidak apa buk, kirain ibuk lupa sama suamimu.'' Ujar pak Dirman.

__ADS_1


''Kake ngopinya kaya ayah.'' Celoteh Anggita.


__ADS_2