
Rasa paenasaran yang ada pada diri Nandi, Hasan, Gito dan Kamal membuat mereka menunggu langkah apa yang akan Toglo lakukan pada mereka, yang masih nampak seperti ke takutan.
Kemudian Toglo memanggil kamal, Hasan dan Gito dengan sebuah kode isarat.
Kamal, Hasan dan Gito pun maju melangkah mendekati Toglo, lalu Kamal berbisik pada Toglo.
"Lo' apain mereka sampai ciut gitu, kaya rumput putri malu yang tersentuh." Bisik Kamal.
Sebelum menjawab bisikannya Kamal, Toglo hanya tersenyum tipis sambil mengerlingkan alis kanannya, lalu berbisik halus di kuping kanannya Kamal.
"Ku cuma ngancam aja pake bahasa yang bikin dia menderita se umur hidup, sekarang abang, bang Hasan dan bang Gito ambil tuh tambang yang melingkar di bale gubuk lalu ikat mereka, nanti biar gua yang exekusi." Bisik Toglo.
Sambil manggut-manggut kamal mengerti, lalu tersenyum melebar, sepertinya idenya Toglo sangat cocok dengan kepribadiannya yang slengean dan suka ngerjain orang.
Kemudian Kamal memanggil Hasan dan Gito, yang di panggil langsung menghampiri Kamal, dan kamal pun langsung berbisik pada Hasan dan Gito.
Sementara ke empat lelaki yang sudah berdiri seperti mau pergi meninggalkan Nandi dan kawan-kawan, spontan Toglo melompat menghalangi mereka.
"Aeet mau kemana kalian, enak saja main pergi begitu saja, apa kalian tidak sadar atas perbuatanmu yang telah mendzolimi orang, lalu tanggung jawab kalian di mana?." Ujar Toglo.
"Iya kami minta ma'ap, kami tidak tau apa-apa, karena kami di bujuk sama ki sobri." Ujarnya.
"Ney ney ney, itu alasan yang tidak akurat, tetap saja kalian mesti bertanggung jawab dan harus meminta maap pada korban yang telah didzolimi kalian." Ujar Toglo sambil mengulang-ngulang jari telunjuknya.
Mereka tidak berkata apa-apa, cuma dari kaki mereka yang nampak seperti mau melakukan jurus langkah seribu, tapi Toglo cukup waspada dan melihat pergerakan kaki dari mereka yang seperti lagi menyiapkan sebuah tenaga untuk berlari.
Lalu Toglo mengisyaratkan pada Kamal, Gito dan Hasan supaya cepat beraksi.
Ketika ke empat lelaki paru baya itu mau menggunakan jurus langkah seribu, tiba-tiba sekelebatan tali tambang yang sudah di seting untuk menjerat mereka dengan tepat masuk pada mereka berempat, kemudian kamal menarik tambang itu, dan tali tambang itu telah melingkar di tubuh ke empat lelaki itu, lalu kamal mengikat dengan kencang di tiang penyanggah gubuk itu.
"Hahahaha mau lari kemana bapak-bapak, tenang aja rileks, kita ngobrol dulu oke." Ujar Kamal sambil mengelus-ngelus muka mereka.
Mendapat perlakuan begitu dari Kamal, mereka serasa di injak-injak harga dirinya, ke empat lelaki itu mendonggakan wajahnya, dengan netra menatap liar pada kamal sambil berontak pingin lepas dari ikatan itu.
"Bedebah, anak bau kencur sudah berani menghina kami, lepaskan ikatan ini kurang ajar." Bentaknya.
Ke empat lelaki itu berontak ingin melepaskan tali tambang yang menjeratnya dengan kencang. Kemudian Toglo berjalan mendekati mereka dan menurunkan tubuhnya setengah jongkok, lalu Toglo membuka kancing jaket Lev'is nya, dan tangan kanannya masuk kebalik jaket tersebut, dan apa yang di dapat oleh Toglo di balik jaketnya itu, Sebuah benda sebesar daun ilalang dengan panjang sepuluh centi meter, lalu Toglo mencabut benda tersebut dari warangkanya sambil berkata kepada mereka yang lagi berontak ingin lepas dari ikatan itu.
"Kalian pingin tau ini pisau buat apa." Bisik Toglo pada mereka.
Mereka terdiam hanya netranya memandang penuh kebencian pada Toglo.
__ADS_1
"Kenapa kalian pada diam sih, ooh jadi kalian sudah tidak sabar lagi ya pingin segera gua sunatin." Ujar Toglo.
Nandi yang melihat tingkah lakunya Toglo, ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Lalu Nandi melangkah menghampiri Toglo dan bertanya?.
"Emang mau kau apakan ke empat orang ini Glo?." Tanya Nandi.
"Ma'ap pak Bos, seperti nya bapak-bapak ini belum pada di sunat, dan perlu di kasih Vaksinasi agar lebih manusiawi." Jawab Toglo.
Nandi tersenyum tipis lalu berkata.
"Ko mau di Vaksin pake pisau raut, nanti yang ada malah mati glo." Ujar Nandi tertawa sedikit.
"Ya kagak pak Bos, biar tidak terlalu tegang, ku mau motong urang ketegangannya." Ujar Toglo menakut-nakuti.
Sementara ke empat dukun itu nampak was-was dengan sikap pemuda yang bernama Toglo, karena melihat dari karakternya yang berdarah dingin biasanya tidak pernah main-main dengan apa yang sudah terlintas di benaknya.
"Hai cepat lepasin kami, kami berjanji tidak akan mengulang lagi perbuatan begini." Teriaknya.
Kamal dan Gito serta Hasan mendekati pada ke empat dukun itu.
"Ooh jadi bapa-bapak ini pingin lepas, dan janji tidak akan mengulang perbuatan keji seperti yang telah di lakukan pada Pimpinan pondok Haur Koneng." Pungkas kamal ikut bicara.
"Tapi ma'ap ya bapak-bapak semua, sayang nya kami bukan orang bodoh yang gampang tertipu dengan bujuk rayumu yang manis." Pungkas Hasan.
"Pokonya kalian harus ikut bersama kami menghadap Abah haji, kalau tidak mau terpaksa saya akan memutuskan urat sarap si jordan kalian." Gertak Toglo.
Ke empat dukun itu langsung terperanjat kaget bercampur takut, kesel, marah dan benci mendengar perkata'annya Toglo.
"Sekarang bagaimana menurut kalian, apa kalian mau ikut bersama kami menghadap Abah haji, atau kalian memilih untuk di kebiri, hahaha." Ujar Kamal memberi gertakan.
"Baiklah kami ikut bersama kalian." Ujarnya.
"Bagus kalau begitu, ternyata kalian masih sayang ya pada si jordan, hehee." Kamal tersenyum melebar.
Setelah itu mereka pun beranjak dari gubuk tua tersebut, dengan menggiring mereka yang masih di ikat, cuma ikatannya di ganti di bagian kedua tangannya di tatik kebelakang, sedang Ki Runta yang tadinya pinsan terkena pukulan Nandi sekarang sudah siuman, dan ikut di giring menuju pondok Haur Koneng.
Kini malam pun semakin larut, udara di sekitar Bukit Haur Koneng sudah terasa sangat dingin sekali.
Nandi dan kawan-kawan kini lagi berjalan menaiki lereng bukit untuk cepat sampai di kediamannya Abah haji Mansur.
Tidak lama kemudian Nandi dan kawan-lawan beserta ke lima dukun sudah sampai di depan pekarangan rumahnya Abah haji Mansur.
__ADS_1
"Sekarang kalian tunggu dulu di sini, saya akan masuk dulu ke dalam, untuk memberi laporan dulu pada Abah haji." Tutur Nandi.
"Oke siap pak Bos, kami akan menjaga ke lima orang ini." Uajr Gito.
Setelah Nandi mulai memasuki ke dalam rumahnya Haji Mansur.
Entah apa yang kini lagi di rasakan oleh ke lima dukun tersebut, nampak terlihat di raut wajahnya yang tertunduk malu, sebuah perasa'an rasa bersalah dan merasa malu atas apa yang telah di lakukannya.
Tidak lama kemudian Nandi keluar bersama mang Usman, menyuruh pada Kamal, Gito, Hasan dan Toglo untuk membawa masuk ke lima dukun tersebut.
Kamal dan yang lainnya langsung membawa mereka memasuki rumahnya Abah haji, dan setibanya di dalam, mereka di sambut dengan begitu hormat dan bijaksana oleh sang pemimpin pondok.
"Ayo silahkan duduk bapak-bapak semua, gimana kalian pada sehat?." Tanya Abah haji Mansur.
Kelima dukun itu dengan sangat gugupnya ia menjawab.
"Ba ba ba baaaik pak kiayi." Ujarnya.
"Syukur Alhamdulillah kalau kalian baik-baik mah, itu yang kita semua harapkan, dan saya minta ma'ap bila saya banyak salah. Ee'eh saya tidak melihat ki Sobri di mana dia?." Tanya Abah haji Mansur sambil celingukan kesana kemari.
Nandi dan dan kawan-kawan saling pandang dengan seksama, lalu Toglo berkata dengan nada yang begitu santainya.
"Ki Sobri bertarung melawan saya Bah Haji, dia terperosok jatuh kedalam jurang." Jawab Toglo.
Abah haji Mansur kini memejamkan netranya, seperti lagi menerawang keberada'annya ki Sobri apa dia masih hidup atau sebaliknya, dan kemudian terdengar oleh smua orang yang ada di situ Abah haji Mansur berkata "Alhamdulillah." Sambil mengusap mukanya dengan ke dua telapak tangannya.
Sungguh mulianya hati sang pimpinan pondok, biarpun sudah di Dzolimi oleh ki Sobri dan kelima temannya yang sekarang lagi berada dan berhadapan langsung dengan pemimpin pondok itu.
"Ma'ap Bah, apa ki sobri itu masih hidup?." Tanya Nandi.
"Insa Allah dengan pertolongan Allah Swt ki Sobri di beri keselamatan." Jawab Bah haji Mansur.
Kelima dukun itu hanya tertunduk malu, karena orang yang di jahatinnya malah menyambutnya dengan sangat bijak sana, dan keringat nampak membasahi kelima dukun tersebut, padahal udara malam itu sangat dingin sekali, lalu apa yang membuat ke lima dukun itu sampai bermandikan keringat, apakah aura yang ada pada diri mereka saling bertolak belakang dengan suasana di tempat haji Mansur, yang sudah barang tentu adanya ke kuatan putih.
Dan di sa'at mereka lagi membicarakan masalh yang sedang di alami antara Abah haji Mansur dengan ki Sobri, Tiba-tiba ki sobri datang dengan di boyong oleh sesepuh para santri (Lurahnya santri) dengan muka lebam membiru dan kaki tangan semua terkilir akibat dari pertarungan itu dengan Toglo ditambah jatuhnya tubuh ki sobri kedasar jurang yang tentunya akan banyak luka yang di alaminya.
**********
Bersambung.
Salam sejahtera dan sehat selalu, terima kasih banyak atas dukungannya, semoga Allah Swt membalasnya berlipat-lipat.
__ADS_1