
Kini malam. telah berganti subuh, Toglo sudah bangun lebih awal, lalu Toglo(Wanda) pergi ke sumur, kemudian ia mengerek air dari dalam sumur sampai berkali-kali untuk mengisi tong, dan bak buat ambil air wudhu, Setelah itu Wanda langsung mandi, selepas itu Terdengarlah suara adzan berkumandang, Wanda pun langsung membuka kran dan di ambilnya air wudhu, guna melaksanakan ibadah solat subuh.
Sekembalinya Wanda dari sumur, ia pun membangunkan Wawan dan Wiwin, untuk solat.
''Dek, dek, dek bangun, lekas mandi sana sudah adzan.'' Ucap Toglo(Wanda).
Wawan dan Wiwin pun langsung bangun, begitupun nenek Jumi yang sudah ada di sumur sebelum Wawan dan Wiwin keluar rumah.
''Wawan, Wiwin, baru bangun rupanya ya?.'' Tanya nenek Jumi.
''Iya nek.'' Jawabnya singkat.
Setelah itu nenek Jumi langsung masuk lagi kedalam rumah, lalu di ambilnya sebuah mukena dan sejadah dan dipakainya untuk menutupi seluruh aurat dari kepala sampai ujung kaki, karena sarat sahnya solat untuk kaum hawa umat muslim, harus tertutup seluruh auratnya hanya muka saja yang terlihat.
Nenek Jumi berdiri untuk melakukan solat dua roka'at.
Sedangkan Toglo alias Wanda sudah selesai solatnya, lalu toglo pergi ke dapur untuk memasak nasi dan masak air buat menyeduh kopi dan teh hangat, di sebuah tungku yang terbuat dari tanah liat dengan bahan bakarnya beberapa potong kayu yang sudah kering.
Selepas itu Wawan dan Wiwinpun sudah selesai melaksanakan solatnya, kemudian menyusul kakanya (Wanda) ke dapur.
Wawan dan Wiwin melihat kakanya yang begitu rajin memasak ''Sungguh kaka Wanda telah memberikan contoh untuk adik-adiknya yang begitu mulya, bahagia rasanya ya dek kita serasa di ingatkan sama ayah dan ibu yang selalu rajin bangun pagi.'' Bisik Wawan pada Wiwin.
''Iya benar ka, kak Wanda sangat rajin, semoga aja ka Wanda selalu di beri kesehatan ya Allah, dipanjangkan umurnya ya Allah, dan dilancarkan rijkinya.'' Ucap Wiwin sambil mengangkat ke dua telapak tangannya ke atas.
''Amiin.'' Jawab Wawan.
Ketika itu pula Toglo/Wanda langsung menoleh ke arah Wawan dan Wiwin.
''E'eeh dek kalian lagi ngapain di situ, sudah solat belum?.'' Tanya Wanda.
''Udah bang, kita boleh bantuin gak.'' Ujar Wawan.
''Gak usah kalian masih kecil, sana temenin nenek.'' Ucap Wanda.
''Iih abang ko kita gak boleh bantuin sih, kata ibu dan ayah dulu, berkata, sama saudara kita harus saling bantu.'' Ucap Wawan.
''Iya itu harus, jangan memutuskan silaturahmi sama saudara, tapi maksud abang bukan tidak mau di bantu, sebaiknya kalian belajar ya, itu ada buku bekas abang bacalah supaya kalian pintar, walaupun cuma menginjak bangku sekolah dasar, kalau banyak membaca, niscaya ilmu kita akan bertambah.'' Ujar Wanda.
''Kan aku belum bisa baca bang.'' Celoteh Wiwin.
''Iya Nanti abang ajarin ya, mulanya abang juga tidak bisa baca, tapi karena jerih payah nenek akhirnya abang bisa baca, apalagi sekolah dasar juga tidak sampai tamat, karena tidak ada biaya, dan kalian harus menyayangi nenek ya sebagai mana menyayangi ibu dan ayah.'' Ucap Toglo(Wanda).
''Iya bang, makasih bang.'' Ujar Wawan.
Setelah itu Wawan dan Wiwin masuk lagi ke ruangan dimana nenek Jumi berada, sambil mengambil buku-buku ilmu pengetahuan, dan buku buat belajar membaca untuk Wiwin, yang pernah di baca oleh Wanda.
''Nek, aku mau belajar membaca.'' Ucap Wiwin pada nenek Jumi.
''Ooh bagus itu, sini cucuku nenek ajarin ya.'' Jawab nenek Jumi.
Wiwin pun lalu duduk di sampingnya nenek Jumi, kemudian di buka nya buku tata cara membaca, di mulai dari mengenal hurup demi hurup.
__ADS_1
Dengan sangat telatennya nenek Jumi mengajarkan Wiwin membaca, sebagai mana telah nenek Jumi ajarkan dulu pada Toglo(Wanda) sebelum menginjak bangku sekolah dasar.
Sedangkan Wawan membaca buku ilmu pengetahuan, dari pengetahuan sosil, budaya dan masih banyak lagi yang Wawan baca.
Setelah Wawan membaca empat lembar buku itu, kemudian di simpan lagi di rak buku, lalu Wawan memilih buku yang membuat ia seperti tertarik, nampak disampul buku itu tertulis ''Tata cara untuk belajar parkur''
''Apa itu parkur ku belum paham.'' Gerutu Wawan.
Kemudian Wawan membuka jilid pertama, dari cara-cara melatih otot tangan dan otot kaki, lalu Wawan terperanjat ketika Wanda memanggilnya dan di simpan lagi buku itu dirak.
''Wan, sini bantuin abang nih.'' Panggil Wanda.
Setelah buku di simpannya Wawan langsung bergegas pergi menemui Wanda.
''Iya bang ada apa?.'' Tanya Wawan.
''Ini kasih ke nenek teh hangat, dan ini dua gelas susu buat Wiwin dan kamu.'' Ucap Wanda.
''Iya bang terima kasih.'' Jawab Wawan sambil meraih nampan yang sudah terisi tiga gelas minuman hangat.
Sementara, Toglo alias Wanda, keluar dari dapur menuju ke luar rumah, Wawan dan Wiwin pun bertanya pada nenek Jumi yang belum tau kebiasa'an Wanda di pagi hari, sebelum berangkat kerja.
''Nek bang Wanda mau kemana sih, ko keluar rumah?.'' Tanya Wawan.
''Biasa dia mah, kalau pagi-pagi suka olah raga.'' Jawab nenek Jumi.
''Olah raga apa gitu yang bang Wanda lakukan?.'' Tanya Wawan.
''Olah raga begini nih, ciat ciat ciat.'' Ucap nenek Jumi sambil memperagakan gerakan tangan memukul.
''Ooh bang Wanda, berlatih bela diri ya nek.''
''Iya semacam itu.'' Jawab nenek Jumi.
Wawan dan Wiwin merasa bahagia punya kaka yang pandai bela diri serasa diri terlindungi oleh seorang kaka.
******
Menjelang pukul 06:20 menit Toglo alias Wanda telah kembali dengan seluruh tubuh telah di basahi oleh keringat, lalu Wiwin bertanya.
''Bang wanda abis ngapain, ko keringetan begitu?.''
''Abang abis berolah raga, biar tubuh kita tetap sehat dan kuat, kan ada sebuah pepatah, men sana in corporesano.'' Jawab Wanda.
''Apa itu artinya bang?.'' Celoteh Wawan bertanya.
''Artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, paham kan.'' Ujar Wanda.
''Iya bang aku paham.'' Ucap Wawan.
''Ya sudah abang mau bersihin badan dulu ya, selepas itu kita sarapan bareng, terus kita berangkat kerja.'' Ucap Wanda.
__ADS_1
''Iya bang.'' Jawabnya singkat.
Toglo(Wanda) lalu bergegas pergi ke sumur, untuk membersihkan badannya dari bau keringat.
Selepas Wanda mandi lalu mereka berkumpul untuk makan bareng, begitu bahagianya nampak terlihat, ketiga bersaudara itu, begitupun nenek Jumi merasa sangat terhibur semenjak adanya Wawan dan Wiwin.
Singkatnya.
Mereka pun berangkat kerja, satu sepeda bertiga, wawan di belakang Wanda sedangkan Wiwin di depan yang sudah dipasang jok oleh Hasan.
Toglo alias Wanda terus mengayuh sepedanya, membawa adik-adiknya ke tempat lokasi ia bekerja.
Terpancar di wajah ke tiga bersaudara itu, suatu ke ceriaan dan penuh warna, cekakak cekikik mereka tertawa sambil tak berhenti bergurau.
Tanpa merasa lelah Wanda terus mengoes sepedanya, sehingga akhirnya mereka pun sampai di gang Si'iran, ketika Toglo sampai di depan rumahnya Nandi, toglo membelokan setangnya ke kanan, menuju lapaknya pak Dirman.
''Sudah sampai.'' Ucap Wanda.
Lalu Wawan pun turun, kemudian Wiwin di bantu oleh Wanda untuk turun dari sepeda.
''Nah sekarang kalian masuk, abang mau buka dulu kunci.'' Ujar Toglo.
Setelah itu Wawan dan Wiwin mencium tangannya Wanda sebagai bentuk rasa hormatnya pada seorang kaka.
''Hati-hati kerjanya, dan dek Wiwin mainnya jangan nakal ya.'' Ucap Wanda.
''Iya bang, abang juga hati-hati ya.'' Jawabnya serempak.
Wanda lalu menaiki sepedanya lagi menuju tempat kerjanya.
Setibanya di lokasi Wanda langsung membuka kunci pintu rolling dor sebuah kedai, kemudian mengeluarkan kursi-kursi dan di tatanya serapi mungkin.
Ketika itu pula, muncul tiga sepeda motor yang berusia sudah lawas, yang sudah di ubah dari setandar pabrik menjadi motor yang antik.
Honda bebek tujuh puluh kepunya'an Gio pahmi, Asep suryadi dan Peri heryawan, melaju ketempat parkiran yang sudah di sediakan.
Kemudian mereka berjalan ke tempat di mana Toglo berada ''Assalam mualaikum bang.'' Sapa Asep yang berjalan paling depan.
''Wa alaikum salam, tumben kalian datang lebih awal dari biasanya?.'' Toglo.
''Ya lagi pingin aja sih bang, karena sekarang kan tanggal tua, persedia'an kopi di rumah sudah menipis, ya kita sepakat mending berangkat aja lebih pagi, disini kan kita bisa ngopi, walau harus memenuhi buku catatan hutang, iya gak bro.'' Ucap Asep sambil beradu pandangan dengan Gio dan Peri.
''Yo'ii.'' Jawabnya singkat.
''Ah dasar kalian itu, hutang aja di gede'in, mungpung kalian masih bisa bekerja, sisihin uang gaji kalian dengan menabung untuk hari tua kalian nanti.'' Tutur Toglo(Wanda).
''Iya sih bang, kita juga pinginnya begitu, bisa nabung, tapi uang gajian kita selalu habis buat si denok.'' Pingkas Gio.
''Maksud kalian si denok itu pacar?.'' Tanya Wanda.
''Iya pacar, tapi bukan manusia.'' Jawab Peri.
__ADS_1
''Lantas, kalau bukan manusia apa?.'' Tanya Wanda.
''Itu tuh yang lagi terparkir di area parkiran, hehee.'' Jawab asep tersenyum sedikit.