SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 210


__ADS_3

Pukul 03:00


Suasana malam semakin mencekam, Nandi dan seluruh keluarga, terus berdoa pada sang pemilik alam smesta, meminta perlindungan dari segala mara bahaya, dan dari orang-orang yang dzolim padanya.


Dalam doanya Nandi, dengan keadaan posisi duduk bersila, terngiang suara lirih di telinganya Nandi, suara tanpak wujud yang biasa selalu datang bila Nandi berada dalam kesusahan.


"Cucuku kamu harus kuat, dan jangan panik, penyakit istrimu datang dari saingan bisnismu, yang iri dengan kesuksesanmu, hati-hatilah, sekarang rendem kalung itu di hadapanmu, sambil meminta petunjuk pada yang kuasa, nanti juga kamu akan menemukannya orang itu, tapi kamu jangan banyak omong pada orang lain, cukup suruh anak yang bernama Toglo, karena hanya anak itulah yang bisa menuntaskan persoalanmu." Jelas suara tanpak wujud tersebut lalu menghilang.


Nandi pun sampai kaget dengan bisikan itu, knp selalu Toglo yang bisa menuntaskan persoalannya, apakah Toglo masih ada hubungan kerabat dari nenek moyangnya Nandi.


Sementara suasana di luar rumah Nandi nampak sepi dan suara lolongan anjing malam masih terus terdengar di kejauhan.


Di sebelah selatan di atas angkasa, nampak terlihat ada sebuah benda bulat bersinar kuning kemerahan meluncur menuju arah rumahnya Nandi


Ketika Benda tersebut mau menembus masuk rumahnya Nandi, sosok cahaya putih telah menghadangnya, nampak kilatan cahaya putih dan benda seperti api saling terjang, mungkin lagi mengadakan pertempuran, cahaya putih terus mendesak dan menerjang bola api itu, yang akhirnya cahaya api itu pecah dan berubah menjadi sosok makhluk tinggi besar dan bertanduk dengan paras wajahnya yang seram dan di penuhi oleh bulu-bulu gimbal di seluruh tubuhnya.


Sedangkan cahaya putih itu Sendiri berubah menjadi sepasang manusia berjubah putih, lelaki dan perempuan, terus berkelebat menerjang mahluk raksasa itu dengan sebuah pedang dan kujang.


Pertempuran para makhluk astral terus berlangsung sengit, kelebatan dua sosok berjubah putih, dengan gencarnya menerjang, sehingga pada akhirnya.


Sosok makhluk raksasa dengan suara yang menggema berteriak kesakitan tidak mampu menghadapi kedua sosok satria yang menjaga dan melindungi Nandi dan keluarganya.


Hingga akhirnya makluk tinggi besar itu hancur ketika mendapat tusukan kujang dan tebasan sebuah pedang, lalu berubah menjadi segumpal asap hitam dan berkelebat cepat kembali ke tempatnya semula.


Sementara Nandi dan pak Dirman masih dalam posisi duduk bersila sambil terus membaca ayat-ayat suci, yang pernah di pelajarinya sewaktu di pondok haur koneng, dengan di iringi baca'an surat albaqoroh dari Astuti, Kamal dan buk Sari.


Satu jam kemudian.


Suasana pun kini terasa hangat, yang sebelumnya membuat semua bulu kuduk merinding, kini terasa tenang kembali apalagi, di luar sana terdengar ada suara ayam jantn berkokok dari sebagian warga Gang Si'iran yang pelihara ayam.


Nandi dan pak Dirman telah membuka matanya dan menyudahi meditasinya, serta buk Sari, kamal dan Astuti telah selesai membaca ayat suci alqur'an, lalu mereka mengusap kan kedua telapak tangannya pada wajah.


"Alhamdulilah Allah telah memberi pertolongan pada kita semua." Tutur pak Dirman.


"Amiin ya Allah." Semuanya menjawab serempak.


"Semoga Allah menyadarkan orang yang sudah berlaku Dzolim pada keluarga kita." Ujar pak Dirman.


"Iya Amiin, apapun yang telah menimpa Sindi mungkin itu juga sebagian dari jalan hidupnya harus di uji dengan cara begini." Cetus Nandi.


"Iya aa, biar nanti ku telusuri di antara partner bisnis kita siapa kiranya yang sudah berlaku pengecut itu, emang apa sih maunya." Ujar Astuti ikut emosi.


"Sudah dek gak usah, kamu pokus saja pada kerja'an, biar nanti abang suruh Toglo untuk menyelidik, soalnya ada di antara saingan bisnis yang kurang begitu bersahabat dengan kemajuan bisnis kita." Ujar Nandi.


"Maksud abang, bergerak dalam bisnis supplier?." Tanya Astuti.


"Iya seperti itu, orang nya agak belagu dan sombong, abang pernah bertemu waktu miting, di PT Tirta cahaya abadi, kata-katanya suka menjatuhkan, dan selalu menganggap remeh pengusaha yang masih pemula." Jelas Nandi.


"Ko Bang Nandi bisa kepikiran pada dia, apa ada masalh sebelumnya?." Tanya Kamal ikut bicara.


"Masalahnya sih, PT Tirta cahaya abadi selalu mempercayakan pada perusaha'an kita, karena lewat perusahaan kita, produk nya aman dan terkendali gak pernah ada kendala, ya abang juga gak su'udzon sih, ini baru perkira'an." Ujar Nandi.


"Emang siapa sih orang yang abang curigai itu?." Tanya Astuti.


"Namanya Handoko, ia bergerak dalam bisnis supplier, dan sudah lama perusaha'an itu bergerak, sebelum abang membuka Disttibutor." Jelasnya Nandi.


"Ooh begitu, bisa jadi dia yang sudah berlaku pengecut." Cetus Astuti.


Pak Dirman yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan obrolan anak-anaknya, lalu pak Dirman berkata.


"Kamu jangan dulu berprasangka jelek sama orang Nandi gak baik." Ujar Pak Dirman.


"Ku bukan berprasangka pak, tapi baru praduga aja." Jawab Nandi.


"Ya sudah, sebentar lagi waktu adzan subuh akan segera berkumandang, ibuk dan bapakmu mau pulang dulu ya, kamu hati-hati Nandi bila berucap." Tutur buk Sari memberi petuah.


"Insa allah buk, ku selalu hormat dan menghargai pada siapa saja." Jawab Nandi.

__ADS_1


Setelah itu pak Dirman dan buk sari pulang, sedangkan Astuti dan Kamal masih tetap menemani Nandi.


Tidak lama kemudian terdengar suara adzan subuh, Nandi, Kamal dan Astuti pun langsung bergegas pergi mengambil air wudhu, untuk melaksanakan ibadah solat subuh berjama'ah.


Selepas solat subuh, Astuti pamit untuk pulang ke rumah.


"Aa ku pulang dulu ya, mau bantuin ibuk masak." Ujar Astuti sambil menoleh pada Kamal.


"Iya dek makasih ya." Jawab Nandi


"Sama-sama Aa."


Lalu Kamal duduk di sopa sambil melentangkan kedua tangannya pada sandaran sopa dan berkata.


"Ku disini dulu ya sayang temani dulu Bang Nandi." Cetus Kamal.


"Iya sudah kalau begitu." Jawab Astuti sambil melangkah pergi melewati pintu belakang untuk keluar dari dalam rumahnya Nandi.


Kemudian setelah itu Sindi bangun dan keluar dari dalam kamarnya, seperti bengong ketika melihat Anggita tidur di sopa dan ada kamal di rumahnya.


"Lho ko dek Gita tidur di sini, dan om Kamal jam segini udah ada di sini." Ujar Sindi, rupanya dia tidak ingat dengan kejadian semalam, karena yang Sindi tau hanya Dokter Ridwan yang datang memeriksa sakit yang di alaminya.


"Nanti ku ceritain, sekarang kamu mandi dulu, lalu pakai air yang di ember, dan campurin pakai air hangat." Ucap Nandi.


"Air apa emang Aa?." Tanya Sindi.


"Ya sudah turuti aja apa kataku, nanti ku cerita'in." Jawab Nandi.


Sindipun tidak banyak bertanya lagi, ia segera masuk lagi ke kamar untuk mandi, karena kamar mandinya bersekatan dengan kamar tidur.


...............


Pukul 06:00


Sindi sudah nampak pulih, ia sudah mulai melakukan aktipitasnya sebagi ibuk rumah tangga, memasak dan membuat dua gelas kopi hitam untuk suaminya dan Kamal, setelah itu Sindi langsung membawa dua gelas kopi tersebut dalam sebuah nampan ke depan halaman rumah di mana Nandi dan Kamal lagi duduk di bangku besi.


"Wah mantap nih, makasih teh." Ucap Kamal.


"Iya sama-sama, cepetan di minum nanti keburu dingin gak enak lho." Ucap Sindi.


"Gita belum bangun sayang?." Tanya Nandi.


"Belum Aa." Jawab Sindi sambil menurunkan tubuhnya duduk di bangku berdekatan dengan Nandi.


Nandi dan Kamal langsung meraih gelas kopinya, dengan seripitan pertama cukup bagi mereka untuk menghangatkan tubuhnya dari udara pagi yang terasa dingin.


Ceklek


Ceklek


Perepet


Sebuah korek gas di nyalakan untuk membakar ujung dari sebatang roko yang terjepit kedua bibirnya.


Seaapuuuhhh..


Hembusan asap putih di keluarkan dari dalam mulutnya, nampak nikmat sekali rasanya.


Sindi hanya menatap dengan tatapan yang penuh cinta pada Nandi ketika lelaki yang sangat ia cintai begitu nikmatnya dalam menghisap sebatang roko, bahagia rasa hati Sindi.


"Ooh iya Aa, ku mau nagih pertanya'an yang belum sempat di ceritain." Ujar Sindi.


"Hehee, iya sayang begini ceritanya." Ujar Nandi, langsung menceritakan semua ke jadian yang menimpa pada Sindi, dan suara ledakan di atas genteng sebelum Sindi meraung-raung kesakitan, sampai kedua orang tuanya, Astuti dan Kamal datang karena Nandi yang minta.


"Berarti ada yang mau mencoba kita supaya terjatuh." Lirih Sindi.


"Iya seperti itulah kiranya, namanya manusia tidak semua punya pikiran seperti kita, kalau hatinya sudah di liputi oleh rasa dengki apapun akan di lakukannya, makanya dari mulai sekarang kita harus lebih waspada." Cetus Nandi.

__ADS_1


"Iya bang, apalagi akhir-akhir ini, banyak orang-orang yang ingin sekali melihat kehancuran kita, dari berbagai macam cara dan modus mereka lakukan, tapi Alhamdulilah kita selalu di lindungi." Cetus Kamal.


Ketika Nandi, Kamal dan Sindi lagi duduk asik ngobrol sambil ngopi, nampak terlihat di luar gerbang Toglo lagi meluncur menuju ke bengkel.


"Lha itu Toglo." Ujar Kamal.


Kemudian Nandi berdiri dari tempat duduknya, dan berteriak memanggil Toglo.


"Glo Glo..." Panggil Nandi.


Sambil mengayuh sepedanya menuju bengkel Toglo pun langsung menoleh pada arah suara itu.


"Oh pak bos, met pagi pak bos." Sapa Toglo.


"Iya pagi juga, ya sudah kamu simpan dulu sepedanya, nanti kesini ya." Ujar Nandi.


"Baik pak bos." Jawab Toglo, sambil melanjutkan menggoes sepdanya untuk di parkir di samping bengkel, setelah sepedanya di parkir, Toglo langsung bergegas menuju rumahnya Nandi.


"Assalam mualaikum." Toglo memberi salam.


"Wa alaikum salam." Jawabnya serempak.


"Sayang bikinin kopi buat Toglo." Perintah Nandi pada Sindi.


"Iya sayang, bentar ya glo." Ujar Sindi.


"Biarin buk bos, tidak usah ngerepotin." Saut Toglo.


"Tidak ko, nyantai aja." Ujar Sindi, sembari melangkah memasuki rumah.


"Duduk glo, ko gak bareng sama Wawan?." Tanya Nandi.


"Iya pak bos terima kasih, Wawan ijin agak kurang enak badan." Jawab Toglo.


"Ooh begitu, sudah di bawa berobat belum." Ujar Nandi.


"Sudah pak bos, semalam ku bawa berobat ke klinik, cuma demam biasa, mungkin pengaruh dari perubahan cuaca kali." Ujar Toglo.


"Ya semoga lekas sembuh." Ujar Nandi.


"Amiin."


Kemudian Nandi berbicara pada Toglo, tentang masalah yang di alami oleh Sindi semalam, yang hampir-hampiran kehilangan nyawanya, karena rasa sakit di perutnya seperti di tusuk-tusuk oleh pisau.


Toglo pun termenung seperti lagi berpikir dan menimbang-nimbang masalah yang di alami oleh Sindi.


"Sepertinya itu penyakit bikinan orang pak bos, biasanya kalau ada orang yang iri pada kita, sebelumnya suka ada pertanda." Ujar Toglo.


"Pertanda bagaimana maksudmu Glo?." Tanya Kamal.


"Ya suka mimpi, yang serem-serem, atau di datangi binatang seperti ular hitam dan lain sebagainya." Cetus Toglo.


"Ooh begitu ya Glo, tapi kamu ko bisa tau?." Tanya Nandi.


"Ya nenek suka cerita, di tambah suka baca juga sih di buku primbon." Saut Toglo.


"Wah, ternyata wawasanmu luas juga, lama-lama lo' bisa jadi dukun juga Glo." Pungkas Kamal.


"Ya enggak lah bang, masa jadi dukun." Ujar Toglo.


Ketika itu pula datang Sindi membawa segelas kopi hitam untuk Toglo.


Lalu Sindi mendaratkan kopi tersebut di atas meja dan mempersilahkan pada Toglo, untuk segera meminum kopi tersebut.


**********


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2