
Karena sebuah sikutan yang cukup kencang sehingga orang itu hilang keseimbangannya, sambil kedua tangannya memegang ulu hatinya, dengan tubuh membungkuk, dan akhirnya jatuh dengan mata mendelik keatas.
Lelaki bertopi yang melihat temannya terjatuh ia langsung mencabut sebuah pisau dari balik jaketnya, iapun langsung melompat dengan pisau berada digenggaman tangan kanannya, melesat ingin menghabisi nandi.
Hiuuukk.
Wet wet wet.
Sabetan-sabetan pisau begitu gencar ingin mengkoyak-koyak tubuhnya nandi.
Tapi nandi tidak merasa gentar sedikitpun, ia pun langsung memasang mata dan jurusnya dalam menghadapi lawan yang menggunakan sebuah senjata berlaras pendek.
Nandi sangat gesit dalam menghindari sabetan-sabetan pisau yang sangat tajam itu.
Lelaki bertopi terus menyerang nandi dengan sangat ganasnya.
''Orang ini benar-benar ingin membunuh gua, ini tidak bisa dianggap enteng.'' Nandi berkata dalam hatinya.
Sebruuutttt.
Lelaki bertobi menusukan pisaunya kearah perut nandi, kali ini nandi tidak mengelak, nandi hanya menggeserkan kaki kanannya kesamping dan tangan kanan nandi dengan cepat memotong tangan lelaki bertopi itu.
Duuukk..
Praaakk trenng.
Pisau yang berada digenggaman lelaki bertopi itu terlepas dan jatuh diaspal, otomatis lelaki bertopi agak tersendat dan lepas kendali, nandi tidak memberikan luang lagi, seketika itu tangan kiri nandi menyambar dari bawah menghantam dagu lelaki bertopi itu.
Duuukkk deeeaassss.
Pukulan mau nandi bersarang.
Aaaaauuuuwwww.
Lelaki bertopi itu langsung terpental kebelakang dan jatuh tersungkur diaspal.
Kini lelaki bertopi itu sudah tidak berdaya lagi.
Sementara temannya yang tadi merasakan sesak diulu hatinya, sudah bangun dan menyerang nandi dari belakang, tapi sungguh orang itu tidak kontrol dalam melakukan serangannya, karena nandi langsung memutarkan badannya, tidak bisa dihindari lagi kaki nandi melesata menyambar kepala orang itu.
Hiuuukkk deeeaassss...
Adaaawwww.
Teriakan dari orang itu terdengar dengan sempoyongan hilang keseimbangan tubuhnya, disa'at itu pula nandi langsung menyusul dengan pukulan elbo.
Buuukk duk deaaassss.
Kini orang itu langsung jatuh dan tersungkur diaspal jalanan.
Disisi lain, kamal dan astuti yang masih terus berlangsung dalam perkelahiannya.
Astuti yang kini sudah matang dalam ilmu bela dirinya, dengan sangat mudah menjatuhkan lawannya, elbo dan tendangan astuti dengan bertubi-tubi bersarang ditubuh lawannya sehingga lawan astutipun jatuh dan tidak berdaya lagi.
Melihat semua temannya sudah pada tumbang, orang yang lagi melawan kamal, langsung hilang nyalinya, seketika itu orang itupun langdung melompat kearah motornya, dengan cepatnya orang itu menyalakan motornya, dan langsung tancap gas, motorpun langsung melaju dengan kencangnya tanpa menghiraukan lagi teman-temannya.
Kamal tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku orang itu.
''Hahahaa.... Dasar pengecut lo, awas nabrak kang.'' Teriak kamal sambil tertawa lebar.
Nandi yang melihat ulahnya mereka hanya tersenyum tipis.
Tidak lama kemudian ketiga orang tersebut telah siuman dari pinsannya, sambil mengangkat tubuhnya mereka merangkak terus berjalan agak sempoyongan menuju pada motornya.
Sementara nandi pas melihat mereka telah sadar, lalu menghampiri pada mereka bertiga, sambil menakut-nakuti dengan berkata sebuah tantangan.
''Rupanya kalian sudah sadar, apa kalian masih ada nyali untuk melawan lagi kami.'' Kata nandi dengan buka mata.
''Ammpunn bang, kami menyerah, jangan hajar lagi kami bang.'' Jawabnya.
''sekarang gua mau tanya, tolong jawab dengan jujur, kalau kalian mau selamat, kenapa kalian sampai mengikuti kami, ayo jawab?.'' Tanya nandi sambil menjambah kerah jaket lelaki bertopi itu.
''Ampun bang, kami mengikuti abang, karena kami tau abang banyak pulusnya, dan kami berniat mau merampas duit abang, saya sudah berkata jujur, tapi tolong jangan bawa kami kepolisi.'' Jawab lelaki bertopi itu.
''Dari mana kamu bisa tau kalau gua banyak pulus hah.'' Bentak nandi.
''Disaat abang melakukan pembayaran disebuah kedai kopi itu, disitulah kami mulai melakukan pengejaran.'' Ucap lelaki bertopi itu.
''Ooh jadi lo semua sudah mengintai kita-kita ini dari kedai kopi itu.'' Bentak kamal pada lelaki bertopi.
''Ampun bang, kami mengaku bersapah, dan ma'apkan saya bang.'' Ucap lelaki bertopi itu.
''Oke gua ma'apin, tapi lain kali lo jangan kaya gini lagi, nati gua giring lo semua kepolisi.'' Ucap nandi.
''Gua janji bang tidak akan mengulang lagi perbuatan ini.'' Jawabnya.
Kamal yang masih menyimpan rasa penasaran dan greget, sangat kesel dengan sikap nandi yang terlalu percaya pada omongan orang itu.
''Jangan percaya omongannya di, dia bilang begitu hanya untuk melindungi dirinya aja.'' Pungkas kamal.
''Ya apa salahnya kalau kita memberi kesempatan pada orang itu untuk bertobat, dan membenahi dirinya, atas kelakuannya yang pernah dilakukannya.'' Jawab nandi.
''Oke gua paham maksud lo, maksud gua lo jangan buru-buru percaya sama orang kaya gtu.'' Ucap kamal.
__ADS_1
''Iya gua paham yang lo maksud, tapi gua yakin, insa allah orang itu akan segera sadar.'' Jawab nandi.
Sedangkan lelaki yang bertopi dan kedua temannya itu, sudah menaiki motornya masing-masing setelah motor dinyalakannya, ketiga orang itupun langsung tancap gas.
Tiiid tidid.
Klanson berbunyi pertanda pamitan pada nandi.
Nandipun menjawab dengan melambai-lambaikan tangannya.
Setelah itu nandi, kamal dan astuti kembali lagi pada posisi dimana sindi menunggu.
Setelah tiba dilokasi, nampak sindi lagi duduk dibangku disebuah kios warung kopi.
Malampun semakin terus berjalan, sindipun sudah menaiki motor nandi, kini kedua kendara'anpun sudah mulai melaju lagi menuju pusat kota.
Dinginnya angin malam dikota bandung sudah mulai dirasakan.
Sindi yang terus memeluk erat tubuh nandi, seakan mendapat kehangatan yang mengalir dan masuk melalui pori-pori kulit dari tubuh kedua insan itu.
Sementara kamal dan astuti yang berada dibelakangnya nandi, menyaksikan kedua pasangan yang asik erat saling memberi kehangatan didalam lajunya kendara'an, membuat astuti tidak sadar akan dirinya, gadis tomboy dan blak-blakan itu, perlahan-lahan tangannya meraih pinggang kamal, dan memeluk erat, kamalpun merasa kaget dan jantungnya berdebar-debar tatkala astuti bicara dengan jujur.
''Aa kamal ma'ap ya, bolehkan gue memeluk aa kamal, gue gak kuat dinginnya malam ini terasa meresap kedalam jantung.'' Uacp astuti.
''Ya boleh-boleh aja, malah gue seneng ko.'' Jawab kamal.
''Tuh kan lo malah kege'eran.'' Kata astuti.
''Iiih bercanda kali, sejujurnya gua juga malu sama abang lo, tapi gak apa kan demi kesehatanmu, nanti lo malah pinsan gara-gara kedinginan.'' Saut kamal.
''Idiiih ternyata lo genit juga.'' Celetit astuti mencubit pinggang kamal.
''Adaaawww, sakit tau.'' Teriak kamal karena merasakan sakitnya cubitan astuti.
Nandi dan sindi terkejut, sampai menurunkan speed lajunya kendara'an karena mendengar teriakan yang ada dibelakangnya.
''Waii kenapa lo sampai menjerit begitu?.'' Tanya nandi sambil menoleh kebelakang.
''Ooh kagak, ini ada yang gigit ditubuh gua, sampai sakit rasanya.'' Jawab kamal.
''Ooh gtu, ya sudah, ayo kita teruskan lagi bentar lagi sampai.'' Ucap nandi.
Kamal hanya tersenyum tipis, astutipun tertawa dikit.
Setelah itu merekapun menarik gasnya kembali, dan kedua kendara'anpun melaju dengan kecepatan maximal.
Pukul 22:15 menit nandi dan kamal sudah mulai memasuki pusat kota, mereka mengambil arah ke kanan yang menuju jalan raya delima.
Jalananpun masih ramai dipadati oleh kendara'an dari berbagai jenis.
Tidak lama kemudian nandi dan kamal sudah tiba dipertiga'an jalan delima, yang mau memasuki gang si'iran, Lampu sen kekiri sudah nampak berkedip-kedip, memberi isarat pada pengendara lainnya yang ada dibelakang bahwa kedua motor itu mau ambil belok kekiri.
Setelah beberapa menit kemudian nandi dan kamal telah tiba didepan rumahnya.
Motorpun telah dimatikannya, nandi dan sindi telah turun dari kendara'annya, begitu pula kamal dan astuti.
Nandi langsung masuk teras depan rumahnya, setelah ia bearada didepan sebuah pintu, terus nandi mengetuk pintu tersebut.
Tok tok tok.
''Assalam mualaikum.'' Nandi mengucapkan salam.
Setelah menunggu beberapa menit setelah mengucapkan salam, terdengar dari dalam menjawab.
''Wa alaikum salam waroh matullahi wabarokatuh.'' jawabnya sambil terdengar suara membuka kunci.
Setelah itu munculah seorang wanita setengah baya, yang tak lain adalah bu sari, ibunya nandi dan astuti.
''Nandi, tuti, kalian jam segini baru pulang, ibu sampai ketiduran disopa nunggu kamu pulang.'' Ucap bu sari.
''Selamat malam tante.'' Sapa sindi.
''Eeh nak sindi, kamal ma'ap ibu ya, tadi tidak menyapamu, habis tidak kelihatan sih.'' Ucap bu sari.
''Tidak apa-apa tante, sindi juga ngerti, ibu pasti bangun tidur ya.'' Ucap sindi.
''Iya nak sindi, ayo masuk, kamal lo nginep aja dimari.'' Kata bu sari.
''Iya tante, tenang aja sih, deket ini ko.'' Jawab kamal.
Setelah itu kamal dan sindi langsung masuk kedalam rumah terus duduk disopa.
Sementara nandi dan astuti telah memasuki kamarnya masing-masing.
Tidak lama kemudian nandi dan astuti datang keruang tamu.
Sementara bu sari mempersiapkan teh hangat untuk mereka berempat
''Sin nginep aja, besok berangkat bareng sama gue.'' Ucap astuti.
''Iya bener sin, sekarang dah malam banget, suka ada anak-anak berandal pada keluar jam segini.'' Saut kamal.
''Iya sih, apalagi gue tidak bisa bela diri.'' Jawab sindi.
__ADS_1
''Di gua mau tanya, masalah sidoni gimana, apa jadi ditetapkan kerja disini?.'' Tanya kamal.
''Iya jadi, dia pengalamannya pada kualitas prodak, jadi gua bisa belajar sama dia, tapi kalau kerja dioprasional kaya lo dan hasan masih nol sih, paling nanti gua taro bagian pembelanja'an jadi gua tidak terlalu repot.'' Ucap nandi.
''Iya benar, tapi masalahnya lo emang percaya sama tu orang?.'' Tanya kamal.
''Ya gua mau coba lihat dulu kinerjanya, kalau itu menguntungkan kita, ya next time bareng kita.'' Jawab nandi.
Disa'at mereka lagi ngobrol, datang bu sari membawa minuman teh hangat, bersama cemilannya.
''Ngobrolnya sambil minum dan makan cemilan nih, biar agak pokus aja pembicara'annya.'' Ucap bu sari.
''Walaah, tante tau aja disuasana begini, terima kasih tante.'' Pungkas kamal.
''Ya iyalah, tante juga tau, ayo sin diminum, kamu nginep ya disini, tapi kamu harus ijin orang tuamu dulu.'' Ucap bu sari.
''Iya tante, terima kasih.'' Jawab sindi.
''Sama-sama sin.'' Kata bu sari.
Setelah itu sindipun meraih handponnya dari dalam tas, untuk memberi tau orang tuanya, takut kuatir karena sudah larut malam belum pulang juga.
Sindi lalu melakukan panggilan pada orang tua, melaui handpon abangnya yaitu rendi.
Kini panggilanpun sudah terhubung.
.Sindi ''Halo aa, mamah mana.''
.Rendi ''Ada, ada apa emang, bentar gua panggilin dulu.''
.Sindi ''Ya udah gak usah kasihan mmh dah tidur, gue cuma mau bilangin, malam ini gue gak pulang, gue mau nginep bareng astuti, soalnya sudah malam banget.''
.Rendi ''Ya sudah gak apa-apa, gue juga gak ngijinin malam begini lo pulang, walaupun dianter sama nandi, jam-jam begini sangat tidak bersahabat dijalanannya.''
Setelah itu telpon pun ditutupnya, karena malam semakin larut, astutipun telah mengajak sindi masuk kamar untuk istirahat.
Begitun nandi telah merebahkan tubuhnya dikasur.
Sedangkan kamal pulang kerumahnya, karena rumah kamal dekat sekali sama rumahnya nandi hanya terhalang beberapa rumah saja.
Kini malam sudah sangat larut, jarum jam didinding rumah telah menunjukan pukul 01:00.
Suasana kota pun sudah sepi, hanya beberpa anak tongkrongan yang masih asik meramaikan suasana kota di beberapa titik dipusat kota itu.
Disebagian sudut kota sebelah baratpun, anak-anak masih ramai dengan bermain guitar dan nyanyi bersama, sambil bakar-bakar untuk menghangatkan tubuhnya karena dinginnya malam sangat menusuk tulang-tulang sendi.
••••••••••••••••••••
Ke esokan harinya, dipukul 07:00, yang biasanya matahari sudah bersinar terang, kini cuaca dipagi itu nampak mendung sekali, mungkinkan pertanda akan segera turun hujan.
Nandi yang sudah stembay didepan tokonya, seperti biasa ditemani secangkir kopi hitam, yang tidak pernah jauh dari dirinya.
Sementara sindi dan astuti, yang sudah siap-siap mau berangkat ketempat kerjanya, dengan memanaskan motornya terlebih dahulu.
Nandi langsung menghampiri sindi, dan membawa makanan goreng-gorengan yang baru dibelinya dari bi irah.
''Sin nih sarapan dulu, ada nasi uduknya juga lo, ayo dimakan mungpung masih angat.'' Ucap nandi.
''Iya aa terima kasih.'' Jawab sindi.
''Cieee ciee, perhatian amat sih sama pacar, sama gue ko gak nawarin.'' Pungkas astuti.
''Ini banyak lo, masa lo harus ditawarin segala, biasanya juga suka langsung nyerobot aja.'' Ucap nandi.
''Ya iyalah, nawarin itu harus kan bahasa itu tidak beli, iya gak sin.'' Kata astuti.
''Betul.'' Jawab sindi singkat.
''Kalian berdua sama aja, suka mojokin gua.'' Ucap nandi.
Selang beberapa menit munculah kamal, hasan dan doni yang langsung menstandarkan motornya didepan toko.
''Widiiiih pagi-pagi begini cocok tuh makan gorengan made in bi irah.'' Kata kamal ikut nimrung.
''Ini lagi, datang-datang sudah heboh.'' Ucap nandi.
''Ya iya atuh masa kita kagak dibagi, kita kan belum pada sarapan.'' Kata hasan memotong pembicara'an.
Setelah itu, astuti dan sindi langsung berangkat dengan menaiki motornya masing-masing.
Sedangkan kamal, hasan dan doni duduk dibangku sambil mencicipi gorengan dan kopi hitam yang masih mengepul dalam gelas.
Pukul 8:00 mereka mulai melakukan aktipitasnya dengan mengeluarkan kunci-kunci, dan membereskan bangku-bangku tempat duduk buat para pelanggan.
Sementara nandi lagi sibuk dengan leptopnya, mencatat barang-barang yang akan dipesannya hari itu.
♤♤♤♤♤♤•••••••♤♤♤♤♤♤
Bersambung.
Ikuti terus kelanjutan kisahnya, dalam epidode selanjutnya.
Bagi yang menyukai cerita ini, cukup dengan, like, comentar, saran, favorit, rat dan vote.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.
Selamat membaca.