
Ke esokan harinya, Pandi nampak sudah berpakaian rapi, baju kemeja warna grey dengan celana warna hitam pekat, Pandi duduk di teras sambil menikmati kopi dan sebatang roko.
Lalu Pandi meraih handpon nya yang tergeletak di meja, kemudian dipijitnya tombol untuk menyalakan handpon tersebut dan di bukanya aplikasi whatssap, setelah itu Pandi mengetik sebuah chat pada seseorang yang ia sayang, yang tak lain adalah Nina Yunita.
π±.Pandi "Halo sayang sudah sarapan belum?."
Satu menit kemudian nada notifikasi berbunyi.
π±.Nina "Ini baru aja selesai sarapan, sebaliknya Aa."
π±.Pandi "Alhamdulilah ku sudah dari tadi, ini lagi ngopi."
π±.Nina "Syukur deh, gimana semalam pulang lancar."
π±.Pandi "Alhamdulilah, sori ya malam ku gak ngasih kabar, soalnya pas nyampe rumah ku langsung tidur, malahan motor juga minta di masukin sama Sandi."
π±.Nina "Iya gak apa-apa Aa, ku juga ngerti, ya sudah ku jalan dulu ya, see you."
π±.Pandi "Is oke, hati-hati di jalan, see you too."
Handpon pun telah di tutupnya kembali, Pandi langsung beranjak dari tempat duduknya, memasuki ke dalam rumah untuk berpamitan pada ke dua orang tuanya. "Buk, Beh ku berangkat kerja dulu ya." Ucap Pandi sembari mencium punggung telapak tangan kedua orang tuanya.
"Iya nak, hati-hati kamu kerjanya ya." Ucap kedua orang tuanya.
"Iya, Assalam mu'alaikum." Ujar Pandi.
"Wa'alaikum salam."
Setelah itu Pandi pun langsung menaiki motornya yang sudah terparkir di halaman.
Treng teng teng
Motor pun telah di nyalakannya, lalu Pandi mengendalikan kendara'an melaju menelusuri jalan gang kecil.
............
Pagi itu langit nampak cerah, matahari sudah mulai menampakan dengan sorot matanya yang begitu tajam dan menyilaukan bila kita pandangi.
Hiruk pikuknya kendara'an yang lalu lalang di jalanan sudah mulai lagi memadati arus jalan, sedangkan di bahu jalan dan trotoar jalanan banyak di penuhi oleh para pejalan kaki yang mau memulai lagi dengan aktip vitasnya, yang jarak tempuhnya mungkin sangatlah dekat, jadi untuk menghemat biaya mereka memilih untuk jalan kaki saja.
Di tengah-tengah kepadatan kendara'an yang melaju, satu kendara'an roda dua lagi melaju dengan cepat membelah di tengah jalan dengan berboncengan, kalau di lihat dari segi pisik dan postur tubuh yang di bonceng nampaknya seorang wanita, lagi memeluk erat sang pengendali kendara'an tersebut, karena liukan-liukan kendara'an tersebut begitu memukau dan mendebarkan orang yang melihatnya, mereka yang melihatnya tidak sedikit dari pengguna jalan yang mengacungkan jempolnya pada sang pengendara kendara'an roda dua tersebut.
Sebuah motor Yamaha Rx king cobra, yang melaju dari jalan mengkudu raya, kini motor tersebut sudah berada di jalan raya Delima, kedap-kedip yang menyala dari sebuah lampu sen motor Yamaha Rx king cobra yang kiri, memberi tanda bahwa motor tersebut akan berbelok memasuki jalan Gang Si'iran, laju kendara'an nya itu kini di turunin speednya menjadi lambat, yang di bonceng kini terasa lega dan terbebas dari ketakutan jatuh atau celaka.
"Wah lega nih gue, kamu itu pingin bunuh diri ya mas, ngejalanin motor kaya ke setanan, lo' tidak memikirkan nasib gue apa." Celetuk wanita tersebut yang tak lain adalah Mira.
"Masa lo' takut, kaya bukan anak The pamili Gang Si'ian aja sih." Ujar sang pemegang kendali yang tak lain adalah Gito santoso, pemuda dengan dua keturunan antara Sunda dan Jawa, Ayahnya Gito asli suku Sunda sedangkan ibuknya asli dari suku Jawa.
Gito mempunyai satu adik lelaki bernama Gilang santoso.
Betapa riang dan bahagianya mereka berdua selama melaju kan motornya menuju kedai, yang sengaja pelan-pelan.
__ADS_1
"Jangan terlalu pelan juga kali mas, cepetan dikit, kan gue mesti persiapkan makanan dan minuman, belum menata tempat duduk buat para pembeli." Ujar Mira.
"Iya iya, kan nanti juga akan gua bantuin, tenang aja sih." Ujar Gito
Tidak lama kemudian Gito telah sampai di depan kedai, lalu Gito dan Mira turun dari motornya, menuju pada pintu rolling door untuk membuka kunci, setelah kunci di bukanya Gito membantu meringankan pekerja'an Mira menata meja dan kursi buat tempat duduk para pelanggan, sedangkan Mira mempersiapkan segala sajian makanan dan minuman.
Pukul 07:00
Satu persatu karyawan PT Anggita Surya Mandiri, telah datang, seperti yang lagi menggoes sepedanya yaitu Toglo dan adiknya Wawan yang bekerja di lapak nya pak Dirman.
"Dek mau ngopi dulu gak?." Tanya Toglo
"Iya bang, kemarin ku di kasih sama pak Dirman kopi dan sebatang roko, sekarang jadi ketagihan, gak apa-apa kan bang?." Wawan balik bertanya.
"Iya tidak apa-apa, itu hak mu untuk menentukan cara mu, lagian lo' juga sudah gede dan sudah kerja, terkecuali kamu berbelok jalan yang gak bener, baru di situ abang akan bertindak." Ujar Toglo.
"Oke bang."
Kemudian Wawan pun ikut sama abangnya untuk minum kopi dulu di kedainya Nandi, setibanya di depan kedai Toglo dan Wawan berhenti, dan turun dari sepedanya.
"Assalam mu'alaikum." Sapa Toglo. "Mba Mir Kopi dua ya sama Rokonya."
"Oke Wanda, bentar ya gue bikin dulu." Ujar Mira.
"Eeh Bang Gito, sudah lama abang di sini?." Tanya Toglo.
"Belum juga sih, beda tipis sama lo'." Jawab Gito.
"Kalian kaka beradik tapi gue lihat di muka kalian banyak perbeda'annya, Wanda bertubuh tinggi gempal padat dan berisi, sedangkan Wawan mukanya lonjong dan postur tubuhnya tinggi agak langsingan." Ujar Mira.
Wawan pun tersenyum dan memberi penjelasan pada Mira. "Kalau aku lebih mendekati pada ibuk, sedangkan bang Wanda dan dek Wiwin lebih mirip sama Ayah." Jelas Wawan.
"Ooh begitu toh." Jawab Mira.
Setelah itu Toglo, Wawan dan Gito duduk satu meja dalam menikmati pagi itu dengan secangkir kopi sambil menunggu jam masuk kerja.
Ketika Mereka lagi menikmati kopinya, dari arah samping kedai telah berjalan wanita cantik yang merupakan salah satu karyawan Nandi, masuk keruangan tempat di mana Gito dan Toglo berada.
"Hai Bang wanda, tumben adikmu ikut ngopi sini." Sapanya.
"Hai, Wuuulan ape pangling nih gua melihatnya." Jawab Toglo.
"Ah bang Wanda bisa aja, pangling gimana maksud abang?." Tanya gadis itu yang bernama Wulan.
"Pagi ini lo' tambah cantik aja." Ujar Toglo.
"Perasa'an gue biasa-biasa aja gak ada yang berubah ko." Jawab Wulan dengan polosnya.
Gito dan Wawan saling pandang sambil mengkerutkan kening nya dengan netra mendelik ke atas sedikit. "Heh Wan coba lo' lihat abang lo' sudah mulai nih demen sama cewe." Bisik Gito.
"Iya bang Alhamdulilah, ku senang melihat bang Wanda, mulai suka sama wanita." Ujar Wawan.
__ADS_1
........................................
Wulan dan Toglo saling melemparkan senyuman dan kata-kata seperti ada perasa'an saling menyukai. Toglo pemuda yang baru mulai menginjak dewasa kalau di lihat dari usianya, tapi sipat dan sikap Toglo dari semenjak hidup dengan nenek Jumi sudah berpikiran dewasa karena nenek Jumi yang selalu mengajarkan pada Toglo, maka dari itulah Toglo berpikirnya lebih dewasa di banding dengan anak-anak se usianya.
Begitu juga Wulan mungkin usianya tidak jauh beda dengan Toglo/Wanda, karena semenjak dirinya masuk dan menjadi karyawannya Nandi ia baru saja lulus sekolah menengah atas.
Kemudian Toglo menawarkan pada Wulan untuk duduk bareng satu meja." Wulan gabung sini, ini ada satu lagi kursi yang kosong." Ajak Toglo.
"Malu bang Wan, masa cowo tiga cewenya satu." Ujar Wulan.
"Iya gak apa-apa sih, kan cuma Bang Gito dan adik gua." Jawab Toglo.
"Gue sini aja, bareng sama teman gue kan sini cewe semua." Ucap Wulan.
Kemudian rekan kerjanya Wulan yang duduk satu meja dengannya berkata saling buli dan saling ejek.
"Cie-cie, cepetan dong bang Wanda tembak tuh Wulan, nanti keburu di sambar orang." Ujarnya.
Toglo/Wanda ada sedikit malu di ledekin sama rekan kerjanya Wulan, lalu Toglo menyeripit kopi dari gelas kaca, dan di ikuti dengan isapan sebatang roko "sepppuuiihh" Hembusan asap putih keluar dari mulutnya Toglo menari-nari di depan mukanya.
Kemudian Mira datang menghampiri lalu ikut duduk di sampingnya Gito.
"Wah waah, lagi ada yang kasmaran rupanya." Ujar Mira sambil mengedipkan dua kelopak matanya pada Gito, Gito membalasnya dengan tersenyum tipis.
"Wah mbak Mira ini, siapa pula yang kasmaran, emang salah kalau gua nanya, iya gak wulan." Ujar Wanda sambil menoleh ke arah Wulan.
Wulan pun tersenyum manis dengan barisan putih di bibirnya nampak terlihat sedikit.
"Iya dong."
Suasana yang tadinya ramai dèngan ketawa, kini tiba-tiba menjadi sepi ketika Kamal, Hasan dan Doni muncul
"Buset dah, kenapa kalian pada diam sih, tadi gua dengar ketawa-ketawa, jangan-jangan kalian ngomongin gua ya." Celetuk Kamal.
"Ya kagak lah Bang." Ujar Toglo.
Kemudian Hasan dan Doni serta kamal duduk di satu meja, Sampingnya Tempat yang lagi Toglo, Wawan dan Gito dudukin.
"Mir bikin kopi tiga." Pinta Kamal.
"Oke siap Bos." Jawab Mira.
Selepas itu Mira datang membawa tiga pesanan Kamal.
Kini semua karyawan pun sudah pada berdatangan memenuhi kedai, suasana pagi pukul 7:30 menit sangat ramai sekali dengan orang-orang yang lagi pada ngopi dan lain sebagainya.
*******
Bersambung
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote nya serta hadiahnya.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat sejahtera dan sukses selalu.