SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 149


__ADS_3

Toglo(wanda) dan kedua adiknya berjalan menyusuri gang kecil, menuju kampung jati, tempat di mana mereka dilahirkan, Wawan yang berjalan paling depan sebagai petunjuk arah, sedangkan Wanda menggendong Wiwin yang kecapean berjalan kaki.


Setelah sekian lamanya mereka berjalan, akhirnya Wawan telah sampai di tempat ia di lahirkannya, betapa kagetnya Wawan sa'at melihat rumah peninggalan orang tuanya yang sudah rata dengan tanah, berganti dengan sebuah pondasi rangka bangunan.


''Lha ko rumah peninggalan orang tua kita gak ada bang.'' Ujar Wawan sambil berlari ke arah Toglo.


Toglo alias Wanda lupa-lupa ingat dengan tempat itu, mungkin memorinya agak sedikit tergannggu waktu kejadian banjir bandang itu.


''Emang benar di sini dek?.'' Tanya Wanda.


''Iya bener bang, aku juga masih ingat, tuh ada pohon pete cina tempat aku dan ka Wawan bermain.'' Pungkas Wiwin yang masih berada dalam gendongannya Wanda.


''Lalu ini pondasi bangunan siapa?.'' Tanya Wanda pada Wawan.


''Entahlah bang aku juga tidak tau, lalu bagai mana bang, masa peninggalan orang tua kita yang sudah menjadi hak kita mau di ambil orang.'' Ujar Wawan.


''Tenanglah dek, abang juga tidak akan tinggal diam, apakah ibuk pernah berwasiat sebelum meninggalnya, atau memberikan sesuatu gitu?.'' Tanya Wanda.


Sejenak Wawan terdiam sambil menggaruk-garuk alis sebelah kanan.


''Haaahh...Aku ingat bang, ibuk pernah memberikan selembar kertas yang di bungkus pakai bambu kecil.'' Jawab Wawan.


''Lalu sekarang kamu simpan di mana?.'' Tanya Wanda.


''Ada! kemanapun ku pergi, barang itu selalu ku bawa.'' Jawab Wawan sambil membuka sleting tasnya yang sudah lusuh dan dekil.


''Ini bang, yang ibuk berikan padaku waktu itu.'' Ucap Wawan sambil memberikan sepotong bambu berukuran sebesar jempol tangan dengan panjang dua puluh sentian.


Kemudian Toglo alias Wanda menerima barang itu dari tangannya Wawan, dan dilihatnya apa yang terselip di dalam lingkaran bambu kecil itu, lalu toglo mengeluarkan isi bambu tersebut, sebuah gulungan kertas.


Perlahan Toglo membuka gulungan kertas tersebut, lalu di bacanya, jelas tertulis di kertas tersebut, Akta tanah pekarangan dengan luas lima ratus meter. atas nama Wati bin Sutarman.


''Nah sekarang kita kuat kalau sudah punya pegangan ini, berarti ini tanah milik ibu warisan dari kakek, antarkan abang ke rumah paman.'' Ucap Toglo.


''Tapi abang jangan bikin keributan ya, aku takut bang, dan teringat kejadian ayah yang pernah ibu dan pak Wantas/tukang gali kubur ceritain itu.


''Tenang dek, abang juga tau itu, karena sekarang abang sering di ajarkan oleh pak Nandi, terkecuali dari pihak paman menjual baru abang beli.'' Ujar Toglo.


Setelah itu Wawan berjalan yang di ikuti oleh Toglo(Wanda), menuju rumah paman suami dari bibinya adik dari ibuk Wati.


Ternyata kehadirannya Wawan dan Wiwin serta Wanda, lagi ada yang mengintai dari balik pepohonan, sepasang bola mata memperhatikan Wanda dan kedua adiknya.


''Bukankah itu Wawan dan Wiwin anaknya pak Danu dan buk Wati, lalu yang satunya lagi siapa?.'' Gumamnya dalam hati.


Kemudian sang pengintai itu terus mengikutinya dari jarak yang tidak terlalu jauh sambil ngumpet-ngumpet.


Sementara Toglo yang sudah banyak berlatih dari Nandi, panca indra Toglo yang tajam seperti merasakan ada sesuatu yang lagi mengintai dirinya.


Lalu Toglo menurunkan Wiwin dari gendongannya dan berkata.


''Sebentar ya sepertinya ada tamu tak di undang di sini.'' Ujar Toglo sambil melesat melompat-lompat dengan kepandaian parkurnya.


Sementara orang yang lagi mrngintai ketiga bersaudara itu, bengong melihat kepandaiannya Toglo, tanpa ia ketahui tiba-tiba Toglo sudah ada di belakangnya.


''Hai bang, abang lagi ngapain?.'' Tanya Toglo.


Orang itu langsung terperanjat kaget begitu mendengar suara di belakangnya, perlahan orang itu menoleh ke arah suara yang menegurnya itu.


Orang itu tambah heran dan terkesima begitu melihat orang yang di perhatikannya itu sudah berdiri gagah dibelakangnya.

__ADS_1


''Nggak ko ku tidak lagi ngapa-ngapain.'' Jawabnya.


''Lantas apa maksud abang memperhatikan kami terus?.'' Tanya Toglo.


''Ma'ap bang saya tidak bermaksud jahat, saya tadi kebetulan lagi lewat, melihat kedua anak itu yang seperti ku kenal, setelah ku perhatikan ternyata itu Wawan dan Wiwin.'' Ujarnya.


''Ooh begitu, kalau begitu abang orang sini asli dong?.'' Tanya Toglo(Wanda).


''Iya bang aku orang sini asli, itu rumah orang tuaku.'' Ujarnya sambil menunjuk ke arah rumah yang tidak jauh dari tempat itu.


''Kalau begitu, abang tentu tau siapa yang bangun pondasi di tempat orang tuanya Wawan dan Wiwin.''


''Iya itu maksud saya mengikuti Wawan mau memberi tau, kenapa tanah haknya Wawan dan Wiwin ko bisa di ambil oleh pamannya, dan yang bangun pondasi itu anaknya buk warni atas perintah dari pak Sukandar suaminya buk Warni.'' Jelasnya orang itu.


''Ooh begitu, terima kasih ya bang atas impormasinya, ma'ap saya tinggal dulu ya.'' Ucap Toglo sambil berjalan dengan hati yang sudah diliputi rasa kekesalan dan ingin cepat berjumpa dengan pamannya itu.


''Ayo dek kita harus cepat ketemu dengan paman.'' Ajak Toglo sambil menggendong lagi Wiwin.


Kemudian Wawan pun langsung berjalan di depan menuju rumahnya bibinya yaitu bibi Warni.


Tidak lama kemudian Wawan dan Wanda telah tiba di depan halaman pekarangan rumah yang cukup bagus dan permanen, dengan pagar halamannya pun cukup permanen, itu suatu tanda bahwa bibinya termasuk orang berada.


Lalu Wawan mengetuk pintu pagar yang terbuat dari besi galvanis sebanyak tiga kali.


Tak lama kemudian, nampak terlihat oleh ke tiga bersaudara itu, sebuah pintu panel yang terbuat dari papan kayu jati terbuka bersama'an dengan munculnya se orang lelaki tua berusia kurang lebih enam puluh tahunan sambil memandang tajam pada ketiga anak bersaudara itu.


Lalu lelaki itu berjalan mendekari Wawan dan Wanda yang lagi menggendong Wiwin.


''Paman apa kabar.'' Sapa Wawan.


''Wawan, mau ngapain kamu kesini?.'' Tanya lelaki itu yang tak lain adalah Sukandar suami dari bibi Warni.


''Boleh tapi kamu cukup di teras aja ya jangan masuk ke dalam.'' Ujarnya Sukandar.


''Iya tidak apa-apa paman, lagian kami cuma orang tidak punya sangatlah tidak pantas untuk masuk ke rumah yang bagus ini.'' Ujar Wawan.


Mendengar perkata'an dari paman Sukandar, Nampak terlihat raut wajah Toglo alias Wanda, merah seperti lagi memendam suatau amarah yang amat sangat.


''Ya Allah kuatkanlah hati ini untuk menahan semua amarah, dan berilah petunjuk agar apa yang menjadi hak kami bisa kembali tanpa harus ada pertengkaran.'' Gumam Toglo dalan hati sambil menggigit giginya menahan amarah.


Kemudian Wawan dan Wanda masuk ke halaman dan berjalan menuju teras, lalu duduk di atas ubin keramik yang nampak mengkilap, dan Wiwin pun turun dari gendongannya Wanda.


Ketika wanda, wawan dan Wiwin lagi duduk di teras rumahnya Sukandar, munculah seorang wanita paru baya membuka pintu pagar halaman rumah, dan berjalan mendekati mereka bertiga.


Wanita itu sangat terkejut, ketika melihat Wawan, Wiwin dan Wanda.


''Massa Allah, Wawan, Wiwin, kenapa kalian tidak masuk aja.'' Sapa wanita itu yang tak lain bibinya Yaitu warni.


''Tidak bi, biar kami di sini aja, aku tadinya mau melihat rumah, eh taunya sudah rata dengan tanah, malahan ada bangunan pondasi, itu bangunan siapa? bibi, itu kan tanah peninggalan mendiang ibuk, bibi juga tau itu.'' Ucap Wawan


Sejenak warni terdiam, sambil menunduk malu tanpak terasa dua butir air bening menetes dan jatuh terpecah menimpa ubin keramik.


''Ma'apkan bibi Wawan, Wiwin, bibi tidak bisa berbuat apa-apa, terus ini siapa? pandangannya sangatlah tidak asing bagi bibi?.'' Tanya Warni sambil menunjuk pada Toglo alias Wanda.


''Coba bibi perhatikan dengan seksama, siapa? kaka ini.'' Jawab Wawan.


Kemudian Warni menatap wajah Toglo dengan intens sekali, di mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu kembali lagi ke atas, pas melihat di dadanya ada sebuah benda yang tidak asing di mata Warni, lalu mengalihkan pandangannya pada Wawan dan Wiwin sama menatap pada bagian dada, tapi gantungan kalung milik Wawan dan Wiwin, tertutup oleh pakaian.


''Wawan, Wiwin apakah kalian masih menyimpan kalung pemberian orang tuamu?.'' Tanya Warni.

__ADS_1


''Masih bibi.'' Jawabnya serempak.


''Bolehkah bibi melihatnya.'' Pinta Warni.


''Tentu saja boleh.'' Ujar Wawan sambil mengeluarkan gantungan kalungnya yang terselip di balik baju yang di pakainya, dan Wiwin pun mengikutinya.


Setelah Warni memperhatikan dua gantungan milik Wawan dan Wiwin, lalu Ia menoleh pada kalung yang di pakai oleh Wanda.


''Kalian masih mempunyai ciri dari keturunan kakang Danu, lalu ini siapa kenapa kalungnya bisa Sama?.'' Tanya Warni.


Kali ini Toglo alias Wanda langsung memperkenalkan dirinya.


''Ini yang lagi berada di hadapan bibi, anaknya pak Danu yang nomor satu, yang dulu di kabarkan hilang terbawa arus banjir itu.'' Ujar Wanda.


Warni tercengang dengan pandangan yang masih terus menatap intens.


''Jadi kamu itu.......Tidak di teruskan karena keburu terpotong.


''Aku lah Wanda, semenjak kejadian banjir itu, aku sempat mengalami tidak ingat sama sekali pada keluarga, dan aku di rawat dan di besarkan oleh seorang nenek pemulung barang bekas.'' Ujar Wanda.


''Massa Allah. Wanda.'' Teriak Warni sambil merangkul pada Wanda.


Ketika Warni lagi merangkul karena kangen pada ponakan yang telah di kabarkan holang itu, kemudian muncul Sukandar.


''Ibuk apa yang kau lakukan.'' Bentak sukandar.


Lalu Warni pun melepaskan rangkulannya pada Wanda.


''Emang tidak bileh gitu seorang bibi melepaskan rindu pada ponakan yang telah dikabarkan bertahun-tahun hilang, kini datang sudah menjadi dewasa, apakah itu salah, lantas dimanakah akal sehatmu pak.'' Ujar Warni.


Wandapun lalu meleraikannya.


''Ya sudah, kalian tidak usah berantem hanya karena gara-gara orang miskin seperti kami, dan asal paman tau saya wanda yang jatuh dari gendongan ayah Danu ketika lagi naik mobil paman, dan saya hanyut tebawa oleh air itu.'' Jelasnya Wanda.


''Ooh gitu, di kira paman kamu sudah mati, Terus kalian kesi mau ngapain.'' Ujar Sukandar.


Wanda bergetar, darahnya yang di pompa oleh jantung terasa bergerak kencang, dan kali ini amarahnya tidak bisa dutahan lagi, sambil mengepalkan jari-jari tangan membentuk sebuah tunju, dan di layangkannya ke atas lalu melunjur menghajar ubin keramik yang keras.


Buk...


Preeekkk.


Suara pecahan keramik dan berserakan, Sukandar dan Warni mendadak pucat mukanya melihat wajah Wanda yang memerah seperti bara api yang siap untuk membakar.


''Asal Paman tau saya kesini mau mengambil hak kami, dan kenapa paman sampai berani bikin pondasi bangunan di tanah peninggalan orang tua kami.'' Ujar Wanda naik pitam.


Wawan dan Wiwinpun langsung memburu dan merangkul pada kakanya itu, sambil menangis melas, untuk mengingatkan kakanya supaya tidak emosi.


Karena rasa sayangnya pada kedua adiknya, kini bara api yang sudah membara di dada Wanda mendadak padam, ketika butiran-butiran air jatuh dari kedua bola mata Wawan dan Wiwin yang membasahi wanda.


**********


Bersambung.


Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.


Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.


''Assalam mu'alaikum''

__ADS_1


__ADS_2