
Aku sadari, kau tercipta bukan untuk aku.
Aku kan menunggu, sampai nanti.
Takkan terganti, dirimu di dalam hati ini
'kan terus semayam sampai mati.
Izinkanlah aku, untuk mencintai, kamu....
tak terbalaskan cintaku ini
Rasaku ini, tak kan berubah.... pasti.
๐ถ Once Mekel - Takkan terganti.
Sebenarnya ini masih terlalu sore untuk berkencan, meski jam tangan sudah menunjukkan pukul 18.30, Sydney di bulan Desember - February memiliki waktu siang yang cukup panjang.
Di hari yang masih terlihat semburat jingga. Aku sudah cantik, aku sudah mengenakan dress hitam selutut dan sepatu sneaker. Kaysan sudah rapi dengan sweater rajut berwarna senada dengan dress yang aku kenakan. Rambutnya sudah aku sisir dengan baik, tak lupa pomade biar semakin rapi dan klimis. Parfumnya maskulin, dari sweater rajut yang ia kenakan, sungguh menonjolkan dadanya yang bidang. Lengannya yang kekar, jakunnya yang naik turun bukan lagi. Sungguh ingin mengacaukan hari-hariku yang sudah aku tata sedemikian rupa agar terlihat elegan dan berkelas.
Tak seperti biasanya Kaysan memujiku. Dia hanya terus diam, hanya sesekali mengecup keningku dan merapikan rambutku.
"Apakah mas juga masuk angin?" tanyaku sambil duduk di sisinya.
"Tidak, aku baik-baik saja." katanya sambil merangkul bahuku, "Bagaimana denganmu, apa sudah baikan?"
Aku memegang tangannya dan mengecup punggung tangannya, "Ada yang membuatmu gelisah mas?"
"Kamu."
"Rinjani?"
"Iya. Aku rindu Rinjani yang dulu, saat Rinjani dengan rasa cemburunya mampu membuatku yakin jika hanya aku yang menjadi milikmu."
"Memang hanya mas yang Rinjani miliki, tidak ada siapa-siapa lagi di dalam sini." Aku menunjuk hatiku.
__ADS_1
"Yakin? Jika kebenaran terungkap, maukah kamu menerimanya? Jika kamu tahu kejujuran yang ingin aku katakan, bencilah kamu denganku?"
"Tak semua yang terlihat akan indah, mas. Seperti sebuah kejujuran."
"Baiklah. Mau makan malam dulu atau mau jalan-jalan?" tanya Kaysan setelahnya ia mengecup lagi keningku. Ada rasa aneh saat Kaysan mengecup keningku cukup lama. Seakan tersirat rasa ketakutan di dalamnya, tanganku memeluk tubuhnya.
Hening, hingga bunyi bel berbunyi.
"Mungkin itu si kembar, sebaiknya kita temui mereka."
Aku menghela nafas, Kaysan semakin tertekuk wajahnya. Apa dengan suamiku, kenapa hari ini dia begitu gelisah. Tidak maukah ia membaginya denganku, aku sudah cukup dewasa, meski umurku baru akan menginjak usia 21 tahun ini.
Kami berjalan beriringan, tepat di depan kamar, sungguh pemandangan yang menakjubkan. Kedua kembar sialan ini sudah segar, dengan penampilan yang sempurna. Celana cargo pendek dan kaos oblong, kacamata hitam sudah bertengger diatas hidung, rambutnya dibiarkan acak-acakan, kakinya hanya menggunakan sendal jepit. Liburan musim panas ini sepertinya mereka akan menghitamkan kulit, agar semakin terlihat eksotis dimata bule.
Jika bukan adik Kaysan, aku akan menaksir salah satunya.
"Cantik banget, Mbak. Cari suami bule saja yuk, disini banyak yang muda-muda dan besar."
Aku melotot ke arah Sadewa, dia sudah menyiram bensin yang semakin menyulut emosi Kaysan.
"Mas Kaysan lagi mlempem, jangan di ganggu." Aku melebarkan kaki untuk menyusul Kaysan.
Langkahnya terhenti di depan lift. Kepalanya menoleh ke arahku, wajahnya mengeras.
"Punya mas besar, Rinjani tidak akan mencari suami bule." Aku memegang kedua lututku dengan nafas ngos-ngosan. Entah kenapa akhir-akhir ini aku mudah lelah.
"Yakin?"
Aku mengangguk pasrah, barangnya yang sebesar pisang Ambon saja sudah membuatku pingsan, apalagi punya bule. Ah! membayangkan saja sudah membuat perutku ngilu.
"Bagus, nanti aku rajin nge-gym, biar otot-ototku semakin besar."
Sadewa datang dengan mulut yang mencibir, Nakula jangan ditanya, dia sudah dengan gaya andalannya. Memasukan tangannya dikantong celana, dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Kami berempat masuk ke dalam lift dan turun di lantai dasar, mobil jip putih sudah terparkir di depan pintu lobby hotel.
__ADS_1
Tujuan hari ini adalah iconic benua Australia yaitu Sydney Opera House, letaknya berada di pinggir pelabuhan yang terbentuk secara alami. Mungkin inilah kenapa Sydney disebut sebagai kota pelabuhan. [ Harbour : Pelabuhan ]
Sepanjang perjalanan mataku hanya terus mengedar melihat pemandangan sekitar, aku takjub dengan ciptakan Tuhan. Hingga tanganku tak berhenti menjepret keindahan itu dengan kamera analog yang talinya sudah aku gantung di leherku. Kaysan hanya diam tak memprotes ku yang mengacuhkannya. Sadewa dan Nakula sudah sibuk dengan ponselnya masing-masing. Maka di dalam mobil ini hanya ada keheningan. Hanya deru mesin kendaraan yang berpacu dengan cepat.
Tak sampai 10 menit, kami tiba di Sydney Opera House, banyak sekali wisatawan dan warga lokal yang menghabiskan waktu di sini, sekedar menikmati malam serasa senja.
Semburat jingga mulai tenggelam di atas laut menyisakan hal terindah untuk sore ini.
Aku meminta Nakula untuk memotretku dan Kaysan dengan latar belakang Sydney Opera House ditambah cahaya senja yang sungguh apik, namun wajahnya yang mendung membuatku membatalkan niatku.
Nakula dan Sadewa saling menatap, lalu berpamitan meninggalkan kami berdua.
Tanganku memeriksa suhu badannya, normal. "Apa yang membuat wajahmu mendung mas? Itu membuatku tidak berselera untuk jalan-jalan hari ini."
Kaysan merapikan rambutku yang tersibak angin pantai, "Kamu tidak cantik hari ini."
Mulutku melongo, dengan cepat aku mengambil HPku dan melihat pantulan wajahku dari kamera depan. Riasan wajahku masih terlihat sama, tidak luntur sama sekali meski terkena air hujan, karena wajahku memang tak dihiasi makeup apapun. Natural seadanya.
"Apa wajahku sudah membosankan, atau Rinjani perlu operasi plastik seperti artis Korea?"
"Pakailah bedak dan lipstiknya." titah Kaysan yang membuat dahiku berkerut, "Kata mas, Rinjani cantik apa adanya."
"Cantik itu dari dalam hati, jika hatimu cantik semua akan terlihat cantik, tapi hatimu kini aku tidak tahu."
"Apa maksudnya mas?"
"Kamu cemburu saat Nurmala Sari menemuiku?" Pertanyaan Kaysan aku angguki, "Bagaimana jika nanti aku memiliki selir?"
Aku mendongak, sekelebat pertanyaan itu terngiang dikepalaku. "Jika mas sanggup untuk melakukannya, maka lakukanlah. Sudah sejak jaman dahulu bukankah selir sudah melekat erat menjadi bagian dari para Raja. Rinjani tidak ada wewenang untuk melarang mas Kaysan."
"Apa itu tandanya cintamu sudah memudar?" Kaysan menengadah menatap langit yang sudah berhias rembulan.
Aku tak menjawab pertanyaan Kaysan. Aku lebih memilih melangkahkan kakiku menuju pagar pembatas antara daratan dan perairan. Hilir mudik kapal-kapal pesiar yang menyajikan kemewahan diatas perairan, dan banyaknya kapal-kapal yang berlabuh di dermaga, ini adalah pemandangan pertama kalinya yang aku rekam dalam ingatanku, hinggap dari kejauhan telingaku mendengar alunan musik yang turut di hembuskan angin. Semakin ku dengar suara itu semakin mendekat. Suara gitar akustik mengalun merdu dan menyayat kalbu, suara yang terdengar dari rumpun bahasa yang sama membuat ku berbalik.
Lelehan air mata meluncurr dengan derasnya di pipiku, ada kerinduan, ada keakraban yang pernah terjalin bersamanya. Laki-laki itu menghentikan petikan gitar akustiknya. Tangannya mengulur, ingin menggapai. Hingga Kaysan datang menjadi penengah di antara kami. Begitu pula Nakula dan Sadewa ikut turut berdiri di belakang laki-laki yang ku sebut mantan kekasih.
__ADS_1
Next, happy Reading ๐