
...Hujan reda....
Sekonyong-konyong aku berlari menuju parkiran motor. Bisa gawat jika terlambat, diunyeng-unyeng kepalaku oleh Ibunda dan Tuniang Dewi. Tidak mungkin hari pertama latihan menari sudah telat, nanti dibilang tidak disiplin.
Kaysan masih dikampus, kulihat mobilnya masih diparkiran khusus dosen dan rektor. Mobilnya basah, masih banyak buliran air yang menempel di badan mobil, sebanyak buliran rindu yang menetes dari tubuhku, tak berjumlah nyaris tak terhitung.
Motor melesat keluar dari area perkampusan, pikiranku melayang kepada Nakula. Apa adik ipar sudah mencari kost untukku, begitu juga dengan perabotannya. Nanti jika dirumah aku tanya saja. Yang penting latihan menari dulu, melenggak-lenggokkan tubuhku yang kaku seperti kanebo kering. Jika aku harus berlatih menari, itu artinya waktuku semakin terbagi. Mungkin juga waktu dengan Kaysan semakin terkikis.
Motor berhenti tepat di perempatan jalan, disampingku ada motor seperti Vespa milik Nanang. Ku lihat dia, dia hanya menunjukkan wajah datarnya.
"Mau pulang?" tanyaku.
"Iya."
"Hati-hati."
"Kamu juga. Jalanan licin."
Aku hanya mengangguk, lampu berganti menjadi hijau. Aku mengegas motorku ke arah rumah besar. Namun, terpantul dari kaca spion, arah motor Nanang juga terlihat masih dibelakangku.
Setahuku ini bukan jalan menuju rumahnya. Lalu mau kemana dia, kalau seperti ini aku tidak mungkin berhenti di gerbang depan rumah utama. Aku memilih untuk lewat pintu belakang, lebih memutar dari biasanya.
Terlihat Nanang masih mengikuti arah jalan yang tadi. Aku menghela nafas, aman batinku.
Pintu belakang ini slalu ada seseorang yang menjaga, namanya pak Somat. Tak seperti penjaga pintu depan yang agak senewen denganku. Pak Somat ini lebih santai. Karena terlalu santai, terlihat perutnya yang tambun, kerjaannya hanya ngopi, ngemil sama buka tutup pintu gerbang. Karena pintu belakang diperuntukkan untuk keluar masuk para abdi dalem dan para pekerja lain dirumah ini.
"Loh, cah ayu. Kenapa lewat sini?" Pak Somat membuka pintu gerbang setelah aku mengetuk pintunya.
"Sekali-kali, Pak. Tolong motor bawa masuk ke dalam ya, Pak. Terimakasih." ucapku sambil menyerahkan kunci motor dan berjalan menuju rumah belakang.
Terlihat Mbok Darmi yang sedang mengunyah sirih dan pinang, namun tangannya sibuk membuat ramuan.
"Lagi apa, Mbok?" tanyaku.
"Jamu, cah ayu. Buat bapak dan suamimu." Dahiku mengernyit, ku lihat satu persatu ramuan yang di siapkan Mbok Darmi, 40 lembar daun sirih, 40 butir merica, 40 butir bawang lanang.
"Banyak banget, Mbok. Rasanya bagaimana?"
"Harusnya simbok yang tanya, rasanya bagaimana setelah suamimu minum ramuan ini?"
"Pantes, manteb Mbok." Aku mengacungkan jempol, tersenyum sumringah, sekaligus ngenes.
__ADS_1
Mbok Darmi terkekeh, dijentikan jarinya di dahiku, "Kamu juga harus minum jamu, nanti Mbok buatkan."
"Baik, Mbok. Tapi aku tidak mau yang seperti ini. Pasti pedes dan getir."
"Setelah ramuan ini direbus, nanti disaring, lalu dihaluskan. Diembunkan semalaman, esoknya baru bapak dan suamimu minum."
Aku mengangguk, ku pikir setiap pagi sebelum berangkat kerja Kaysan minum teh Ocha, ternyata jamu ramuan kuat. Setelahnya setiap malam aku digempur habis-habisan. Menyeramkan.
"Baik, Mbok. Jani mau latihan menari dulu."
"Hati-hati dengan Dewi Sekartaji."
"Kenapa, Mbok?" Tiba-tiba aku sudah dirundung ketakutan.
"Kalau sudah menari dia galak."
Aku tersenyum, berada dilingkungan ini di galak'i sepertinya hal yang lumrah.
"Galak seperti Mbok Darmi, iya?"
Mbok Darmi mengangguk, lantas membawa satu besek ramuan jamu tadi ke kuali. [ besek ; wadah yang terbuat dari anyaman bambu, dipakai untuk kenduri atau bancaan ]
"Mandi dulu, mandi besar! Kerjakan kewajibanmu." Benar sekali kata Mbok Darmi, belum apa-apa Tuniang Dewi sudah galak.
Aku mengangguk. Akhirnya aku pergi ke kamar, menunaikan kewajibanku. Termasuk mandi besar. Setelahnya aku keluar kamar hanya menggunakan celana pendek dan kaos hitam.
Tiba di pendopo belakang bau dupa menyeruak masuk ke hidungku. Terdapat juga bunga setaman yang di taruh bersama dengan dupa yang menyala.
Tuniang Dewi menggunakan kain jarik beserta baju kebaya. Terlihat seperti mau pergi kondangan. Rambutnya yang tadi pagi tergerai panjang, kini sudah ia sanggul polos.
Tuniang Dewi melihatku dan menggeleng, "Kamu ini mau latihan menari atau mau santai. Kemarilah."
Tuniang Dewi membuka tasnya, mengeluarkan kain jarik dengan motif yang berbeda dengan motif yang ia kenakan.
"Dengarkan baik-baik nasihat Tuniang. Ini untukmu, pakailah seperti ini jika mau latihan menari." Tuniang Dewi membelitkan kain jarik ke pinggangku, begitu erat sampai perutku rasanya semakin mengecil.
"Jangan lupa mandi besar sesuai agamamu, apalagi setelah kalian bersenggama. Harus bersih dan wangi."
Aku mengangguk, ku cium aroma tubuhnya yang begitu dekat denganku. Aromanya khas orang Bali, ditambah bunga kamboja berwarna kuning yang terselip ditelinganya.
Matanya terpejam, bibirnya yang mengatup kecil seperti merapal mantra. Lalu tangannya memercikan air ke wajahku, aku terkejut sesaat.
__ADS_1
"Sudah." katanya, "Belajarlah berjalan." Perintahnya.
"Jalan?" tanyaku kebingungan.
"Ya."
Baru satu langkah aku sudah terjerembab ke lantai. Ternyata jarik ini mempersulit langkahku. Dengan bersusah payah aku berusaha untuk berdiri.
"Coba lagi." Titahnya, sedangkan Tuniang Dewi duduk bersimpuh. Tangannya membentuk gerak-gerakkan dalam menari.
Aku ingat dengan Ibunda. Dulu beliau suka tertatih jika menggunakan kain jarik. Untuk berjalan aja susah, lalu bagaimana saat menari nanti. Pikiranku runyam. Lagi-lagi aku terjatuh, tapi sebisa mungkin aku mengulas senyum, senyum perih menahan telapak tangan yang memerah.
"Seorang penari di istana harus terlihat anggun, manja, lemah gemulai, dan memikat. Setiap gerak tubuhnya harus seirama, yang luwes."
Aku berusaha berdiri lagi.
"Terus latihan berjalan, sesekali tekuk lututmu, jinjitkan kakimu. Jika perlu sambil berputar."
Aku mengangguk sambil terus berlatih berjalan. Gusti, jika bukan karena titah seluruh pemilik kekuasaan dirumah ini. Aku lebih memilih menari diatas awan, atau berdansa Poco-Poco dengan Kaysan.
Di pendopo belakang ini tidak ada Gending Jawa yang mengiringi tarian kami, hanya suara dari Tuniang Dewi yang sesekali membentakku atau malah menari sendiri.
Aku terpukau, dengan gerak tubuhnya yang lemah gemulai. Apalagi saat beliau sedang melakukan gerakan pacak gulu, sedangkan pupil matanya bergerak sendiri. Aku begitu ingin lari.
"Berjalan menggunakan kain jarik adalah latihan dasar. Masih ada gerak-gerak tubuh lainnya. Hari ini hanya ini saja yang Tuniang ajarkan, ingat. Semakin cepat kamu bisa berjalan tanpa terjatuh, kamu semakin cepat mempelajari gerak tubuh lainnya."
Aku duduk bersimpuh di depan Tuniang Dewi.
"Terimakasih, Tuniang. Jani akan berlatih lebih giat lagi." Aku menunduk hormat.
Tuniang Dewi mengulas senyum, "Kamu tahu cah ayu. Cucu pertama Tuniang beberapa hari yang lalu baru saja terlahir. Perempuan, putih sepertimu. Namanya Kencana Sari. Cucuku juga akan belajar menari sepertimu, bahkan dikalangan keluarga kami menari adalah hal penting yang harus dilakukan. Setelah Tuniang berhasil melatihmu menari, Tuniang akan kembali ke griya untuk melatih cucu menari sejak dini."
Aku mengangguk. Karena hanya inilah yang aku bisa.
"Hidup dikerajaan memang keras, jadi bersabarlah."
"Baik Tuniang, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk mengajari Rinjani menari."
Tuniang Dewi mengangguk, "Matur Suksma Semesta."
[ Ramuan tadi adalah ramuan jamu kuat ala Raja Paku Buwono X, dari kasunanan Surakarta Hadiningrat. Salah satu Raja yang memiliki selir paling banyak pada masa kekuasaannya. ]
__ADS_1