
Minggu pagi, semua keluarga berkumpul di pendopo belakang. Setelah sarapan, kami masih berkumpul bersama. Karena hanya di hari minggu lah semua keluarga bisa bercengkrama bersama tanpa mencampur adukkan urusan pekerjaan. Tapi ada-ada saja pembahasan tentangku yang tak segera usai.
Apalagi setelah kemarin aku membawa pulang Dalilah ke rumah. Mbak Jani dan Mas Kaysan pangling melihat anak perempuannya sudah seperti badut, bahkan bajunya terpaksa di buang karena di cuci pun tidak akan bersih.
Aku menyengir kuda, tapi Dalilah bahagia kok. Aku yakin, ibunya saja yang senewen dan tidak rela membuang baju anaknya yang katanya mahal. Padahal belinya saja waktu diskon beli 1 gratis 2. Katanya ibu-ibu suka barang bagus dengan harga diskon, tampil keren tanpa menguras dompet.
Mas Kaysan dan Mbak Jani memilih untuk memberi makan ikan-ikan peliharaan Dalilah, ikan koi peninggalan Mbak Nurmala sudah lama di lepaskan di sungai. Sedangkan Dalilah dan Suryawijaya sedang bersama Ayahanda dan Ibunda, bermain ayunan.
Di dekatku masih ada Nakula dan kak Rahma. Kembaran ku sudah ketularan penyakitnya mas Kaysan, kalau habis makan malam buru-buru masuk ke dalam kamar, mengunci pintu dan memberi tanda 'Jangan ganggu!'
"Wa, kamu jadi ke panti hari ini?" tanya Nakula.
"Jadilah, aku masih nunggu orang lain." jawabku.
"Siapa?" tanyanya lagi.
"Irene dan Isabelle."
Nakula dan kak Rahma terlihat beradu pandang, sebelum keduanya menatap ke arahku. Mungkin mereka merasa tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
Seorang abdi dalem menghampiriku, mengatakan bahwa di pelataran parkir sudah ada Isabelle.
"Wa, aku ikut. Kak Rahma juga. Kita gak mau ada pertengkaran antara mereka berdua." seloroh Nakula sambil membantu kak Rahma berdiri.
"Baguslah, kalian bisa jadi pelayan nanti. Soalnya hari ini aku janji traktir anak-anak panti makan bakso. Kebetulan banget." ujarku riang.
Kami berjalan bersama menuju rumah,
Mas Kaysan dan Mbak Jani menghampiri kami bertiga.
"Mau kemana?" tanya Mbak Jani.
"Gak usah ikut!" tandas ku.
"Mas..."
Mas Kaysan menghela nafas, ia menatapku. Seakan-akan aku harus menjawab tanpa perlu mas Kaysan bertanya lagi.
"Ke panti." jawabku pasrah.
"Ngapain? Irene kemarin bilang kamu juga mengajaknya? Mbak ikut!"
"Ribet... Mbak pasti bakal mengadu domba Irene dan Isabelle!"
"Isabelle juga ada? Bakal seru ini." ucapnya girang, "Mas, bubu boleh ikut ke panti? Bubu bosan di rumah terus." ujarnya pada mas Kaysan.
Mas Kaysan mengangguk. "Ajak Dalilah dan Suryawijaya juga, mereka pasti senang bertemu dengan banyak teman baru."
"Alah..." keluh Mbak Jani.
"Tidak usah pergi jika hanya membuat Suryawijaya rewel!"
__ADS_1
"Iya, iya. Tapi baba juga ikut!"
Sebelum mendengar mereka berdua bertengkar lebih lanjut, kami bertiga memutuskan pergi ke kamar masing-masing. Aku menyiapkan diri dan menemui Isabelle di pelataran parkir.
Senyumku seketika menghilang, saat menatap matanya yang begitu penuh pengharapan. Aku tidak ingin mengecewakannya untuk kedua kalinya.
"Hai." sapa ku.
Isabelle menghadapku, tangannya memelukku dengan erat. Membuatku terharu. Entah perasaan apa ini, aku menjadi seorang yang di butuhkan. Tapi
gadis ini begitu terlihat kusut, pucat dan matanya bengkak. Apa dia tidak tidur?
"Sudah, tidak enak di lihat yang lain." Aku mengurai pelukannya.
"Kita berangkat satu mobil saja. Aku bawa makanan ringan buat anak-anak panti."
Aku mengangguk, "Tapi kita tidak berdua, Belle. Irene ikut... Mbak Jani, mas Kaysan, Nakula dan kak Irene, Dalilah dan Suryawijaya juga."
Mendadak wajah Isabelle semakin di tekuk. Aku tertawa garing, "Maaf ya, Belle. Aku butuh bantuan mereka, karena anak-anak yang lain tidak ada yang ikut."
"Irene mana?" tanya Isabelle.
"Nanti kita jemput dia di hotel."
Isabelle hanya berdehem, laku rombongan pengacau datang sembari membawa keruwetan mereka sendiri-sendiri. Kak Rahma memang sering mengadakan dongeng anak untuk anak-anak yang berada di dinas sosial, tak kalah reportnya Nakula membawa boneka hello Kitty yang ia beli untuk mengisi kamar kost Mbak Jani dulu.
Selain itu, mas Kaysan dan keluarganya sibuk mengatur anak-anaknya.
"Kalian kenapa ribet banget!"
"Ayo iuran anggota, aku gak sanggup bayar satu gerobak penuh!" kataku
"Dasar, kalau gini pahalanya bagi-bagi!" cetus Mbak Jani.
Satu persatu orang mengeluarkan uang cash. Aku menerimanya dengan senang hati, paling tidak uang tabunganku tidak berkurang banyak. Ini keuntungannya memiliki saudara banyak, patungan akan memudahkan kita dalam berbuat baik.
Aku dan Isabelle berada dalam mobil yang sama. Sedang Nakula dan mas Kaysan membawa mobil sendiri-sendiri. Nakula aku suruh untuk menjemput Irene di bakery Shop milik Laura, karena Keenan juga ikut. Kabar ini aku dapat setelah Mbak Jani sudah menyebarkan informasi jika Isabelle ikut. Pikirku semakin banyak orang yang ikut semakin bagus, biar kalau Isabelle dan Irene bertengkar ada yang melerai. Kalau aku sendiri, pasti kewalahan dan bakal kalah. Isabelle ngomong pakai bahasa Belanda, Irene pakai bahasa Inggris, aku pakai bahasa Jawa alus. Cocok! Tidak ada yang paham dengan gerutuan ku. Haha
Tiba di panti asuhan, kami di sambut penuh suka cita oleh anak-anak dan ibu pengasuh panti.
Aku dan Isabelle membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan camilan ringan, di mobil Nakula mereka mengeluarkan boneka dan roti unyil yang sengaja Laura buat untuk anak-anak panti.
Tapi dari semua yang kami bawa dan kami berikan, Mas Kaysan adalah primadonanya, dimana saja, sekalipun itu di panti asuhan. Daya tariknya sudah menyedot perhatian.
Kami berjalan ke ruang makan, karena disinilah tempat yang paling luas.
Sudah terlihat mangkuk-mangkuk yang berisi bakso dan kuah yang mengepulkan asap panas. Ibu pengasuh mengisyaratkan untuk segera membagikan untuk anak-anak panti yang sudah tidak sabar.
Isabelle dan Irene jangan di tanya, mereka berdua terbagi menjadi dua kubu. Irene dengan Mas Kaysan dan Mbak Jani. Nakula dan kak Rahma sudah berbaur dengan anak panti. Isabelle dengan Keenan? Mereka tampak akrab, walaupun jarang sekali bertemu. Itupun saat Isabelle masih berstatus pacarku.
Keenan memang sedang belajar bahasa Indonesia, ia kuliah di fakultas bahasa di universitas yang sama denganku. Ayahanda yang memintanya, agar nantinya Keenan fasih berbahasa Indonesia.
__ADS_1
Seperti Isabelle dulu, ia juga belajar bahasa Indonesia denganku. Jadi, aku rasa kedua bule itu cocok, dan aku bisa melepas Isabelle dengan tenang.
Aku memutuskan bergabung di meja mas Kaysan dan Mbak Jani, karena aku tahu, kedua manusia itu pasti kelabakan mengurus anak-anaknya. Suryawijaya tidak mau lepas dari pangkuan Mbak Jani, mas Kaysan menyuapi Mbak Jani.
"Butuh bantuan?" tanyaku pada mereka.
"Jagain Dalilah, dia ada di luar dengan Irene. Kami tidak tahu daerah sini. Mbak takut kedua perempuan itu hilang." ucap Mbak Jani, "Bawa baksonya Irene, dia belum makan!" lanjutnya lagi.
Aku berdehem, sembari membawa mangkok milik Irene. Dia tidak suka pedas jadi aku hanya memberinya kecap dan sedikit saos.
Di panti memang ada taman bermain, dan aku pastikan mereka ada disana.
"Irene." panggilku.
"Ya." dia menoleh, tanpa senyuman.
"Om Wawa, ayo main ayunan." imbuh Dalilah.
"Habiskan makannya dulu, setelah itu kita main bertiga. Oke." kataku.
"Tante ilen, suapin om Wawa. Dalilah sudah kenyang." bocah itu lalu pergi bermain jungkat-jungkit.
Irene menatapku, ia menaruh mangkuk bakso jatah Dalilah. "Makan sendiri!" ujarnya.
"Ini aku bawa bakso untukmu. Makanlah."
"Kamu sengaja membawa Isabelle juga? Apa belum cukup kamu membuatku kecewa?" kata Isabelle.
"Kalau mau bertengkar lebih baik Dalilah kita pulangkan dulu ke orangtuanya. Tidak baik beradu mulut saat ada anak kecil "
"Om Wawa, suapin Tante ilen bial sepelti bubu, baba."
"Mau aku suapin?" tanyaku pada Irene.
"Jawablah, aku tidak suka basa-basi." lanjut ku saat Irene buang muka.
"Aku bisa makan sendiri!" cetusnya.
"Baguslah. Mikirin kalian berdua bikin aku pusing dan lapar."
"Saat kamu berusaha untuk selingkuh, apa kamu tidak memikirkan akibatnya! Setelah aku pikir-pikir lagi, banyak laki-laki tampan yang lebih baik dari kamu." cetus Irene lagi.
"Bagus, itu artinya aku tidak perlu menyesal karena kamu sudah move on dariku. Melupakan kesalahanku dan aku!"
Dalilah menghampiri kami berdua, ia melihatku dan Irene secara bergantian.
"Kata baba kalau malahan nanti di sayang setan. Jadi bubu lebih suka di sayang baba dalipada disayang setan."
Perumpaman macam apa itu Mas!
Happy Reading ππ
__ADS_1
Info Karya baru, yang mau baca Kuyy lah, bikin ngakak dengan tingkah laku Andina dan Daniel. Novel dewasa 18+