Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 30. [ Pacar pertamaku ]


__ADS_3

Malam harinya, suasana yang biasa hening dan hanya terdengar suara dari headset yang ku dengar. Kini digantikan suara laki-laki yang tadi pagi aku jumpai. Dia benar-benar old school, dia meneleponku melalui sambungan seluler. Tidak Videocall atau lewat sambungan WhatsApp.


Kami saling membicarakan hal sepele, hingga mataku larut dalam suaranya. Suara yang mengahanyutkan ku menuju mimpi-mimpi baru.


*


Alam kembali cerah seperti biasanya, ragaku kembali lagi ke rutinitas sehari-hari. Aku berkutat dengan baju-baju milik pelanggan. Kaysan berkutat dengan urusannya. Aku hanya memastikannya pada rasa percaya. Tidak lebih, tidak banyak yang aku tuntut. Selain rasa percaya yang aku tumbuhkan.


Seperti biasanya, dia tidak ada kabar. Aku tak mengapa, biarkan saja. Hari-hariku harus terbiasa tanpa hadirnya pemilik tubuh kaku dan pendiam itu.


Jum'at ini aku habiskan dengan kebisuan. Hanya beberapa kali bercakap-cakap dengan pelanggan toko dan pembeli pulsa. Selebihnya, lamunanku yang berkeliaran bebas menuju awang-awang.


Malam akhirnya datang, ku bereskan semua pakaian yang sudah aku setrika. Membuat list barang yang sudah habis di toko, karena besok pagi rencananya aku mau pergi ke pasar.


Ku pejamkan mataku, setelah sebuah pesan aku kirimkan, 'Met istirahat mas.'


*


Sabtu datang membawa kegelisahan, pesanku tidak dibalas, bahkan tidak dibaca, kemana perginya mangga tuaku. Aku mencarimu...


Sebisa mungkin ku ukir senyum di wajahku, karena tak mungkin wajahku mecucu saat bertemu dengan pembeli. Rencanaku masih sama, pergi ke pasar dan hanya mengambil jam kerja biasa.


Akhirnya nanti malam yang ku tunggu-tunggu datang. Bukan karena malam Minggu dan bertemu Nanang mantan kekasihku. Aku hanya ingin merasakan udara dingin malam, yang kadang terlalu jahat untuk seorang jomblowan.


Sepuluh jam berlalu dengan cepat, aku sudah menyiapkan diri dan memesan ojek online. Nina, sahabatku pasti sudah ada di tongkrongan bersama Aswin kekasihnya.


Mereka adalah pasangan yang rumit. Aku sendiri tidak yakin, apa hubungan mereka akan langgeng. Bahkan, Nina, ukthi metal itu sudah aku pastikan dia sudah melakukan sholat istikharah berkali-kali untuk memutuskan hubungannya dengan Aswin akan berlanjut atau tidak.


*


Aku berdiri, menatap pemandangan sekitar. Siluet senja mulai digantikan cahaya lampu malam, temaram.


Jika biasanya dulu, Nanang akan menjemputku. Kini aku akan datang ke scene itu sendirian.


Aku melirik jam di HPku. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.


Aku sudah membonceng ojek sambil menikmati riuhnya jalanan perkotaan, aku juga melewati kediaman keluarga Adiguna Pangarep.


'Hey, apa kabarmu gerangan.'


Aku menatap gerbang itu sekilas, ku tatap Parto yang sibuk mengepulkan asap rokok di mulutnya. Bibirnya sudah menghitam, terlihat kasian seperti sedang memakai gincu berwarna hitam.


Aku tiba ditongkrongan. Menghela nafas panjang sambil memandangi semua orang yang sudah duduk berdampingan. Mereka adalah saksi dimana aku dan Nanang pernah bersama. Aku menyalami satu persatu temanku, termasuk mantanku.


"Sendiri, Nang?" tanyaku basa-basi. Jelas bukan tujuanku untuk berbincang-bincang dengannya.


"Tidak, ada teman-teman." Dia menjawab datar sambil menunjuk teman-teman kami.


"Nina sama Aswin mana, om Seno juga?"


"Belum datang."


"Oh..."


Aku mengambil HPku, untuk mengalihkan rasa canggungku terhadap Nanang. Mataku seketika membulat saat melihat pesan dari Kaysan, 'Dimana?'


Hanya kata 'Dimana' mampu membuatku kalang kabut, dia tidak sedang ingin mencariku atau menguntitku, 'kan. Yang benar saja, dua hari tidak ada kabar tahu-tahu menanyakan keberadaanku. Tanpa bilang, 'Jani, apa kabar. Kangen sama mas tidak?' Huft... halusinasiku memang berlebihan. Aku mulai membalas pesan Kaysan, 'Aku di dekat tugu.' Tidak ada balasan, hanya ada tanda centang biru.


Aku mengernyitkan dahi, suka sekali dia bermain-main drama rahasia-rahasia'an.


Tiga puluh menit kemudian, teman-teman yang lain sudah datang. Itu tandanya rapat akan segera dimulai.


Ku rangkul lengan Nina, sambil menyenderkan kepala.


"Nin, mau curhat."


"Rapat, Jani. Nanti kalau sudah selesai."


"Nin..."


"Hmm..."

__ADS_1


"Gak asik."


"Rinjani!"


Om Seno melirik ke arahku. Senior paling tua ini seperti sedang ingin tersungut-sungut nada bicaranya.


"Iya, om?" jawabku tak berselera.


"Mau rapat apa mau curhat! Sek to sabar sek, ikhlaske."


"Opo om, ngawur! Wes move on aku."


"Pantes, deloken raine Nanang."


"Pret."


Aku memilih untuk melihat HPku lagi, ada kiriman foto dari Kaysan. Aku mencermati baik-baik foto ini, mataku membulat, dengan cepat aku membalas pesan yang Kaysan berikan,


'Mas, jangan jadi satpam.'


'Aku tunggu sampai selesai.'


'Mas kurang kerjaan, pulang saja istirahat. Jani masih lama.'


'Aku mau malam Minggu sama kamu.'


'Terserah mas saja!'


Aku menaruh HPku dan mencari dimana gerangan itu. Mataku mengedar, mengamati satu persatu pengunjung cafe malam ini. Riuh, sulit aku temukan satpam dadakan itu.


Akhirnya aku memilih untuk melanjutkan rapat malam ini.


Jika biasanya aku menjadi panitia bagian pintu masuk bersama Nanang. Kini aku memilih untuk menjadi panitia di belakang panggung.


"Rinjani, jadi MC aja yuk sama, Om."


"Wegah." sergahku cepat.


Aku memikirkan matang-matang tawaran Om Seno. Acara ini adalah acara mandiri komunitas, memang harus kolektifan dan mencari sponsor utama.


Setelah bisik-bisik berunding dengan Nina, aku memutuskan untuk menerima tawaran Om Seno.


"Oke, sip." Aku mengacungkan jempolku.


"Yeiz, Rinjani jadi MC."


"Hmm..." Aku sudah tidak berselera berada dilingkungan ini, rasanya tubuhku seperti ada yang mengamati diam-diam dan terasa kaku.


Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Banyak pengunjung cafe yang sudah membleyer motornya kembali ke rumah masing-masing.


"Jani, pulang sama siapa?" Nina menghampiriku setalah membayar kolektifan rutin atau iuran keanggotaan.


"Satpam baru." kataku sambil membereskan barang bawaanku.


"Siapa?"


Diam-diam ku lihat Nanang yang mendengar pembicaraanku dan Nina.


"Di parkiran, sudah sana. Anter pacarmu pulang."


"Jani, langsung pulang ke rumah. Jangan kelayapan."


"Iya ukthi." Aku mengangguk patuh.


Dilahan parkiran aku mengedarkan pandanganku, mencari dimana mobil Kaysan. Ku lihat Nanang juga masih disana memperhatikanku.


Aku merogoh ranselku, mengirim pesan ke Kaysan.


'Mas, dimana?'


'Aku di ujung jalan dekat toko emas semar mendem.'

__ADS_1


'Jauh banget mas, Jani jalan dulu kesana.'


Aku menghela nafas, dengan langkah panjang aku menghampiri Kaysan. Mataku berkeliaran mengamati pemandangan sekitar. Hingga terlihat seorang laki-laki berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di pintu mobil.


"Jauh sekali mas." Nafasku ngos-ngosan.


"Ada yang mengikuimu selain aku, siapa laki-laki itu?"


"Laki-laki?" Dahiku berkerut.


"Laki-laki yang memakai motor Vespa!"


Aku memijit keningku, jadi Kaysan mengamatiku sedaritadi termasuk mengamati orang-orang disekitarku. Sebelum menjawab pertanyaan itu. Aku menyandarkan tubuhku di pintu mobil, tepat disebelah Kaysan.


"Dia Nanang, pacar pertamaku."


Kulihat matanya sudah ingin menerkamku bulat-bulat. Memang ada yang salah dari ucapanku? Bukannya aku hanya mau berkata jujur saja, apa salahnya. Apa perlu aku menyelipkan bumbu-bumbu kebohongan.


"Berapa lama kalian pacaran, sejauh mana kalian berdua?"


Dia mengintrogasiku, lebih-lebih di malah seperti orangtua yang sedang memergoki anaknya berpacaran. Dosakah aku jika menceritakan kejujuran ini, dosakah aku jika akan membuatnya cemburu. Hatiku tergelitik.


"Dua tahun mas. Sejak aku SMA."


"Dua tahun?" Nadanya suaranya meninggi.


"Tanyakan lagi apa yang membuat hatimu mengganjal, Mas."


"Sejauh mana kalian berdua pacaran! Dua tahun bukan waktu yang singkat Rinjani!"


Sepertinya kami akan berdebat di pinggir jalan, entah kenapa momentumnya slalu di tempat-tempat diluar nalar. Kalau tidak diatas bukit ya dipinggir jalan, jika dilihat aku seperti penjaga parkiran, tanganku ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, memperagakan cara memarkir kendaraan.


"Mas yakin mau mendengarkan jawabanku, mas sudah menyiapkan hati mas untuk legowo. Aku jujur loh mas, tapi mas juga harus jujur dengan pertanyaanku. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Mas paham?"


Kaysan mengangguk, "Katakan sejujurnya!"


Dia tak mengubah air wajahnya, masih terlihat datar dan serius. Laki-laki kaku itu kalau marah akan mengamuk seperti banteng atau malah semakin menjadi pendiam seperti batu.


"Hanya sampai ciuman saja." kataku lirih, tak berani menatap sorot matanya.


"Ciuman?"


"Bibir."


Kaysan memegang daguku.


"Berapa kali kamu berciuman dengannya Rinjani!"


"Jika mas mau menerimaku, terima juga kisah masa laluku. Mas marah?" tanyaku.


"Tidak!"


"Lalu kenapa daritadi mas membentakku? Apa mas sendiri belum pernah berciuman?"


"Cukup Rinjani!"


"Mas cemburu? Katakan juga siapa R.A Nurmala Sari Tirtodiningratan?"


Kaysan cukup tercengang dengan ucapanku.


"Darimana kamu tahu nama itu, Rinjani. Sejauh mana kamu mencari informasi nama itu?"


"Mas cukup jawab saja." Aku kembali menyandarkan tubuhku di pintu mobil. Merogoh HP dari dalam tasku.


"Sudah lebih dari jam sebelas malam, jika mas tidak mau menjawabnya tidak apa-apa. Ayo antar Rinjani pulang." Senyumku menyeringai datar, ketika tak ku dapati jawaban dari mulut Kaysan.


Wajahnya menegang, "Jika mas masih memikirkan berapa kali aku berciuman dengan Nanang. Jawabannya hanya sekali."


Aku melangkah menjauhi Kaysan, saat ia tak bergeming dari tempatnya dan mengejarku.


Like n Love ya reader πŸ™πŸ’š

__ADS_1


__ADS_2