Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Part spesial I


__ADS_3

Disini kembali orang-orang menceritakan kisah patah mereka. Menyesali, meminta maaf, mendo'akan, dan melupakan.


Sadewa membawa pulang kisah perjuangan yang cukup panjang tanpa sikap kelakarnya yang sudah menguap entah kemana. Ia menceritakan tentang meluluhkan hati orangtua Irene di negeri kangguru.


Sadewa menjadi laki-laki dewasa seutuhnya. Ia pulang membawa restu untuk menikahi Irene dikampung halamannya nanti. Satu bulan lagi saat semua persiapannya sudah siap.


Lusa kemarin aku sudah menyelesaikan pendadaran terakhir. Entah hasilnya lulus atau tidak. Aku hanya berharap, do'aku, do'a keluargaku dan anak-anakku terkabulkan.


"Di sana, aku disuruh berlatih menembak. Sungguh luar biasa keren dan aku sudah pintar sekarang memegang pistol sampai lupa aku cara pegang keris."


Sadewa tertawa kecil, "Oh... iya Mbak, aku sempat bertemu dengan Anne. Dia menanyakan kabar Mbak dan mas."


Aku menghela nafas, ku lihat Dalilah. Dia yang menemaniku berjuang saat itu. Saat keheningan dan cemas memikirkan mas Kaysan.


"Bagaimana dia? Sehat? Beneran jadi model di New York?" tanyaku.


Mas Kaysan duduk di sebelahku, "Ngobrolin apa?" tanyanya.


"Anne. Mas ingat?"


Mas Kaysan mengangguk, "Tentu. Dia anak kita paling dewasa. Anak jadi-jadian." Kelakarnya menggoda.


Sadewa tertawa, "Cantik banget sekarang, Mas. Sudah dewasa seutuhnya sebagai wanita." jelas Sadewa.


Mas Kaysan hanya tertawa, "Harus dong. Siapa dulu Bapaknya!" katanya bangga, namun ia merangkul bahuku.


"Siapa juga ibunya." kata mas Kaysan.


"Kalian ikut ya ke Australia. Mungkin ada kenangan yang ingin kalian ingat nanti disana." ujar Sadewa, tersenyum.


Aku dan mas Kaysan saling melempar pandang dan mengangguk.


"Dalilah harus tahu tempat kita memproduksinya." kata mas Kaysan.


Aku tersenyum, "Rumahnya juga udah dijual. Mau lihat apa, Mas?" tanyaku.


Mas Kaysan tersenyum, "Melihat saja. Aku hanya ingin tahu sekarang rumah kita menjadi apa."


Sadewa terkekeh kecil, "Rumah kalian jadi tempat penampungan hewan liar."


"Benarkah?" tanyaku dan mas Kaysan berbarengan.

__ADS_1


Sadewa mengangguk, "Aku harus mencari saudara kembarku. Dimana dia sekarang?"


Aku dan mas Kaysan menggeleng, "Nakula dan kak Rahma baru mudik di rumah ibunya kak Rahma. Keponakanmu kembar, Wa. Namanya Shenina dan Sherina." jelasku.


Sadewa tersenyum senang, "Bagaimana dia. Apa masih manja?"


Aku menggeleng, Nakula sudah menjadi seorang ayah yang lembut dan penyayang. Apalagi kedua putrinya sangat mirip dengannya. Butuh waktu lama mereka untuk memiliki seorang bayi. Dan Tuhan, memberinya dua sekaligus. Kak Rahma senang bukan main, mengingat usianya sudah benar-benar layak untuk menjadi ibu.


Sekarang mereka benar-benar menikmati masa-masa awal menjadi orangtua.


"Tunggu apalagi Mbak. Ayo kita kesana. Aku merindukan mereka." sahut Sadewa.


"Gak kangen sama keponakanmu yang lain? Dalilah always waiting Om Wawa to playing with her again."


Sadewa tersenyum lebar, "Tumbuh kembangnya luar biasa, Mbak, Mas. Dalilah benar-benar akan mengguncang istana. Kalian sabar ya." Matanya mengerling sebelah.


Mas Kaysan mengangguk, "Istirahat dulu, Wa. Ayahanda baru di rumah sakit menunggu Ibunda. Kalau Bunda Sasmita sedang tugas. Jadi maaf tidak ada sambutan yang meriah untuk menyambut kepulanganmu." jelas mas Kaysan.


Sadewa mengangguk, ia memang pulang lebih cepat dari Nanang. Dan, keadaan di rumah sedang tidak baik-baik saja. Alhasil, di rumah utama hanya ada aku dan mas Kaysan.


Istri Ayahanda yang lain bergantian menunggu Ibunda di rumah sakit. Anak-anak Ayahanda juga sudah memiliki kehidupan sendiri di rumah masing-masing.


Kami hanya berkumpul di istana untuk acara-acara penting dan sakral lainnya. Selebihnya kami sibuk mengarungi bahtera rumah tangga dengan kapal masing-masing.


Nina sudah memiliki tambatan hati, ia akan menikah dengan seorang dokter. Cinta lokasi membuatnya melupakan Nanang yang hanya memberi kepastian untuk menunggu tanpa memberikan kasih sayang yang tulus.


Nanang... Aku menyandarkan kepalaku di lengan mas Kaysan.


"Kenapa, Dik?" tanya mas Kaysan.


"Bagaimana dengan Nanang setelah ia tahu jika Nina tidak menunggunya, Mas? Bagaimana nasib Nanang setelah ini."


Getir yang aku rasakan sangat besar. Mengingat kisah cinta Nanang yang amat pelik dan itu semua gara-gara aku.


"Nanang sudah dewasa, Dik. Usianya sudah 34 tahun. Dia... pasti sudah tahu keputusannya. Lagian, kamu juga tahu kan. Cinta dan citanya ada pada dirimu. Dia bahagia kalau kamu bahagia."


Aku menggeleng, "Itu tidak adil, Mas. Aku juga mau Nanang bahagia!"


Sadewa masih yang di depan kami hanya menggelengkan kepalanya.


"Mas Nanang sudah punya pacar. Gadis bangsawan dari Jerman. Namanya Elizabeth Islan."

__ADS_1


Aku dan mas Kaysan saling menoleh, menempelkan dahi.


"Kenapa anak Bunda Sasmita pacarannya sama bule semua, Mas. Apa nanti Istana akan diisi dengan cucu-cucu Ayahanda yang blesteran. Rasanya sulit ini mas ditahun-tahun yang akan kita lewati."


"Sepertinya, Dik. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada yang bisa memaksakan jodoh, lokal atau bule. Tapi yang jelas besok kita harus membentengi budaya dengan kuat."


Aku dan mas Kaysan mengangguk, menguatkannya.


"Kalian gak berubah, masih suka mengumbar kemesraan. Lihatlah. Ketiga anak kalian melihatnya." kata Sadewa.


Aku dan mas Kaysan menoleh.


Suryawijaya melihat ayahnya penuh kecemburuan, Dalilah melihatku penuh ancaman. Hanya Pandu yang melihat kami berdua dengan cuek seolah tidak peduli, ayah dan ibunya berbuat apa.


"Kemarilah." ujarku sembari melambaikan tangan.


Surya mengangguk, ia senang saat aku menepuk pahaku. Aku memintanya untuk duduk di pangkuanku.


"Bubu, siapa Om? Sepelti Om Lala." tanya Suryawijaya. Matanya menatap ragu Sadewa yang tersenyum kepadanya.


"Dia Om Wawa, kembaran Om Nakula. Adiknya Om Nanang!" sahut Dalilah, sudah duduk di pangkuan mas Kaysan. Mas Kaysan membelai rambutnya.


Sadewa dengan cepat menangkap Pandu saat bocah itu hanya seliweran dihadapan kami.


"Kenapa bisa begini, Mbak?" tanya Sadewa, menahan tawa.


Aku menahan tawa, mas Kaysan menggeleng.


"Sisa terakhir jadi ya begitu."


"Sembarang!" sergahku.


"Gimana lagi, Dik. Raden Mas Pandu Mahendra Putra Adiguna Pangarep memang sedikit over. Kita harus banyak-banyak bersabar menghadapinya."


Sadewa terkekeh melihat Pandu yang banyak bertanya tentang dirinya.


"Aku yakin ini gen mu, Mbak. Aku jadi ingat waktu pertama kali Mbak bertemu kami. Seperti orang kesasar dan terpaksa hidup bersama kami dengan segala kepenatan, keseriusan dan ambisi untuk mempertahankan adat dan budaya yang ada."


Aku memikirkan, slalu memikirkan, segala sesuatu yang bahkan membuatku hampir gila. Sekarang pun aku masih khusyuk menyusun masa depan.


Ah... tapi kalau aku benar-benar gila, aku lupa pada rencana yang terus berulang-ulang dimatangkan dengan waktu yang aku lewati selama sepuluh tahun ini.

__ADS_1


Aku memeluk Suryawijaya, "Jaga adik dan Mbak Lilah ya, Mas." Suryawijaya mengangguk, "Baik, Bubu."


...Happy reading ๐Ÿ’š...


__ADS_2