
Dalam perjalanan ke rumah Bu Rosmini. Aku masih terus bertanya apa saja yang ingin aku tanyakan. Tapi jawaban slalu sama, 'Nanti setelah nikah kamu akan tahu, Rinjani.'
"Jangan banyak menyembunyikan rahasia mas, nanti aku kaget terus gak terima gimana. Kalau pacaran, 'kan tinggal putus, kalau nikah ting..."
"Jangan sekali-kali membicarakan hal itu Rinjani! Jangan menyebut kata laknat itu."
"Laknat? Cerai \= Laknat." ucapku pelan.
"Makanya mas harus terbuka, jangan sampai Jani tahu hal-hal yang mengejutkan saat sudah nikah nanti."
Tidak ada jawaban, hening...
Berkat google maps motor kaysan berhenti tepat di depan rumah ibu Rosmini. Kami berdua turun dari motor, melepas helm dan berdiri di depan gerbang.
"Jani gak tanggung jawab ya kalau Bu Rosmini nanti marah atau pingsan."
"Kenapa berlebihan?"
"Bisa jadi dia akan syok berat, awas aja ya kalau Bu Rosmini kenapa-kenapa." ancamku sambil menajamkan mata.
Kaysan mengangguk patuh. Aku memencet bel rumahnya berkali-kali.
"Nanti juga dibuka."
"Mak, Mak. Mak'e..."
"Siapa Mak'e?"
"Mak, buka Mak." Ternyata gak berguna Bu Rosmini menaruh bel disini. Aku berjalan memutari rumah, tepat di pintu belakang, aku menggedor pintunya.
"Mak... Mak."
"Mak........" Aku berteriak sekencang mungkin.
Pintu terbuka, seseorang yang aku panggil Mak'e menutup telinganya, "Brisik!"
"Buka gerbang depan, siapkan makanan yang enak-enak, ada tamu penting. Bilang juga ibu Rosmini suruh pakai baju yang cantik."
"He-yyy, Mak'e sibuk. Kalau tamunya hanya kamu." sambil menunjukku, "Bikin minum sendiri dan ambil makanan sendiri!"
"Mak'e, bilang sama Bu Rosmini. Kakanda Kaysan datang. Jangan buat kami menunggu lama."
"Kakanda, mbahmu." Pelecehan sekali orang ini, dipecat ibu Rosmini baru tahu rasa kamu Mak, batinku menggerutu.
Akhirnya aku masuk lewat pintu belakang, membiarkan Mak'e mengoceh seenak udelnya.
Dari belakang aku melihat ibu Rosmini sedang memasak, sambil mengendap-endap dan berjingkit-jingkit, ku kejutkan dia dengan memegang bahunya. "Buk...!"
Hampir saja spatula mendarat di kepalaku, "Cah edan."
Terpingkal-pingkal aku melihat wajah Bu Rosmini yang pias.
"Ada Kaysan diluar."
"Mas, Gusti, Raden. Kaysan-Kaysan, ra sopan." Tangannya menjewer telingaku, memelintirnya.
"Ampun, ampun."
"Meskipun dia pacarmu, hormatilah dia selayaknya orang-orang menghormati tahtanya dan keluarganya."
"Iya, iya. Mas Kaysan diluar, kita mau bicara."
"Ibu siap-siap dulu, kamu buka pintunya dan buatkan dia minum."
"Aku juga tamu Bu, Mak'e aja yang buat."
"Kamu!"
__ADS_1
Dengan sebal aku berjalan membuka pintu rumah. Terlihat kaysan berdiri sambil menyesap rokok konvensional ditangannya.
"Mas, maaf lama." Ku hampiri dia, ku buka pintu gerbang dengan masalah yang sama, alot seperti kurang pelumas.
"Kamu kenapa dari dalam?" Dia heran, terlihat aku seperti punya pintu Doraemon.
"Loncat dari belakang, sudah ayo masuk. Keseringan terpapar radikal bebas membuatmu terlihat cepat tua."
"Rinjani!"
"Hehehe, ayo mas."
Ku ajak Kaysan masuk ke dalam rumah, "Mas tunggu ya, Jani buatkan minum dulu." ku tinggalkan Kaysan di ruang tamu.
Bersamaan dengan itu, Bu Rosmini keluar dari kamarnya. "Cantik banget, wangi banget. Kek mau ketemu doi."
"Doi sudah di ruang tamu?"
"Ho'oh. Sudah sana temui." Ku ibaskan tanganku, dan berlalu menuju dapur. Terlihat Mak'e sedang melanjutkan memasak.
"Doi siapa Jan, Bu Rosmini punya pacar?"
"Enak saja, pacarku ya."
"Pacarmu namanya Doi?"
"Ho'oh Doi."
Ku seduh kopi hitam, dan mengambil beberapa camilan.
"Jan, Jan. Doi beneran pacarmu?"
"Ho'oh, wes Mak'e diem! Jangan Brisik!"
Ku bawa nampan bundar ke ruang tamu, terlihat Kaysan dan Bu Rosmini sudah bercengkrama dengan akrabnya.
Aku membungkuk seperti pelayan restoran.
"Duduk sini." Di tepuknya sofa di samping Bu Rosmini.
Aku mendaratkan tubuhku dengan malas.
"Rinjani, apa benar yang dikatakan kakandamu?"
"Kakanda, kakanda, katanya mas aja cukup, yang penting sopan." Di jewer lagi telingaku, diplintir lagi. Inikah rasanya menjadi Oreo.
"Kamu yakin mau menikah?"
"Ibu..."
"Jawablah Rinjani, sejujurnya."
Ku tatap Kaysan dengan mata nanarku, "Ibu, Jani sering merepotkan ibu, Jani banyak berhutang Budi sama ibu. Ah, aku jadi sedih lagi, 'kan. Ibu adalah bagian dari hidupku yang berarti."
Mataku sudah buram dengan air mata, ku sembunyikan wajahku di Khimar milik ibu Rosmini.
"Ibu, 'kan tahu, selama dua tahun lebih aku ikut dengan ibu. Bahkan dulu waktu itu, ibu menerimaku dengan senang hati. Ibu juga yang mengajariku banyak hal. Nanti kalau Jani nikah Jani gak bisa ketemu ibu lagi, aku kehilangan sosok ibu lagi. Huuu... Jani sebenernya belum siap nikah, Bu. Tapi Jani sudah janji. Huuu... hiks, hiks." Tangisku mulai terisak.
"Jani banyak salah sama ibu. Ibu mau maafin Rinjani, 'kan, Ibu mau melepas Jani dengan ikhlas, 'kan? Ayo katakan sejujurnya ibu..." Ku usap air mataku dengan Khimar bu Rosmini.
"Cah edan , ibu mana yang gak seneng lihat anak gadisnya mau dinikahi oleh orang penting. Bejomu Rinjani, bejomu. Uripmu mentas seko kesusahan." [ Kamu beruntung Rinjani, beruntung. Hidupmu terangkat dari kesusahan ]
Dari dapur Mak'e mendengar kegaduhan yang terjadi di ruang tamu, "Ono opo Iki, ono opo?" [ Ada apa ini, ada apa? ]
"Jani akan nikah mak." Bu Rosmini yang bilang. Mak'e terkejut bukan main, "Cah ndablek iki arep rabi karo Doi?" [ Anak bandel ini mau nikah sama Doi?] Ditunjuklah Kaysan yang terperangah mendengar kata Doi.
Lalu kami bertiga tertawa mendengar kepolosan Mak'e.
__ADS_1
"Doi itu Dia Orang Istimewa Mak'e. Sini kenalan sama Doi." Ku lambaikan tanganku untuk mengajak Mak'e bergabung dengan kami.
"Mas..."
"Kaysan, Mak'e."
Mulut Mak'e melongo, sambil mengangguk-angguk, tapi kepala seperti mengingat sesuatu.
"Oooo, namanya Kaysan. KAYSAN!" Tiba-tiba mak'e duduk bersimpuh di depan Kaysan, Kaysan terkejut dengan kejadian yang mendadak tepat di depan kakinya.
"Gusti Pangeran Haryo Kaysan Adiguna Pangarep. Sembah sinuwun."
Aku dan Bu Rosmini saling menatap dan terkekeh melihat tingkah laku Mak'e yang over act.
"Mak'e punya riwayat jantung gak, Bu?
"Seperti tidak, Jan."
"Bangun Mak'e. Duduk sini." Kaysan menepuk sofa disampingnya.
"Tidak Mak'e disini saja." Hormatnya sambil menunduk.
"Mak'e, ayo duduk diatas. Duduk sama rata, berdiri sama tinggi." kataku sambil mengangkat tubuh Mak'e.
"Jadi Rinjani mau nikah sama Doi?"
"Ini rahasia, jika ada yang membocorkannya sudah ku pastikan kalian berdua penyebabnya." Ku tunjuk Bu Ros dan Mak'e secara bergantian.
"Apa hukumannya mas?"
"Hukuman?"
Mataku mengerling. Seakan paham Kaysan lalu angkat bicara, "Hukumannya adalah diasingkan."
"Jadi kita seperti makhluk asing di negeri sendiri?"
Apa ini salah satu gagasan dari kami selalu rakyat yang tersisihkan. Terasingkan dari negeri sendiri yang menjadi tanah leluhur kami berdiri.
"Sudah ah, repot bicara sama emak-emak. Pokoknya ini rahasia, dua minggu lagi datang ke rumah kakanda Kaysan dengan baju yang bagus. Dandan yang cantik, kalau perlu panggil make up artist."
"Rinjani..."
"Mas diem aja sih. Bicaralah biar mereka mengerti."
"Bu Rosmini dan Mak'e akan menjadi wakil dari keluarga Rinjani. Memang benar yang Rinjani katakan, jika pernikahan akan dilakukan secara rahasia. Jadi saya harap, kalian bisa memakluminya."
Dua emak-emak ini mengangguk, "Awas jika sampai bocor. Kalian berdua akan semakin terasingkan."
"Gaya." Celoteh Bu Rosmini.
"Ah ibu, Jani dapet uang pesangon gak nih?"
"Mbel Tut."
"Ibu..."
"Jangan panggil ibu seperti itu." Kulihat sudut matanya mulai basah oleh air mata.
"Ibu..." Kami berpelukan dalam tangis.
"Jangan lupain Rinjani ya, Bu. Jangan lupain anak bandel ini. Nanti Jani akan sering menjenguk ibu. Jani janji, Jani gak akan lupa dengan ibu." Huaaaaa, air mataku mengucur dengan derasnya.
"Cah edan, cah ndablek. Elingo suargamu ono ing bojomu. Tumindako sing apik, sing lembut lan sing paling penting katresnanan ora mandang Rupo. Mergo rupo iso tuo." [ Anak gila, anak bandel. Ingatlah surgamu ada di suamimu. Bertingkah laku lah yang bagus, yang lembut dan yang paling penting kecintaan tidak memandang rupa. Karena rupa bisa tua ]
Aku mengangguk mendengar wejangan dari Bu Rosmini. Sedangkan Kaysan hanya tersenyum melihat drama perpisahan antara juragan dan karyawannya. Kami berdua pamit setelah menuntaskan misi perpisahan.
Kini motor melaju menuju butik langganan keluarga Adiguna Pangarep.
__ADS_1