Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 37. [ Menuju tak terbatas ]


__ADS_3

Menuju Tak Terbatas


Seorang gadis berjalan menyusuri sebuah titian tanpa ujung


Tanpa sanak maupun kawan


Sejenak ia berhenti sekedar menyapa di setiap relung


Sedikit senyum ia sunggingkan


Semakin jauh ia melangkah ke dalam dekapan elegi tak bertepi


Pesona canda dunia mencoba menyapa


Tak bergeming ia melangkah dalam balutan sepi


Sunyi


Sapaan pandora pun ia tak acuhkan


Hingga ia menapaki satu titik titian


Setitik cahaya dan kehangatan mulai menembus ceruk kesunyian


Nyaman..


Begitu nyaman ia rasakan


Sang gadis pun melanjutkan perjalanan


Membawa elegi yang kini mulai satu persatu terbang menuju awan


bak sekawanan burung mungil merindukan dahan


terbanglah..


lepaslah..


Satu persatu dogma usang itu mulai terangkat perlahan


Bersama burung hitam sekawan


Hingga nampak segaris senyuman


Kini tak ada lagi kesunyian


Menyisakan kebahagiaan dan kebebasan


Entah waktu yang memulainya


Atau ada sentuhan lainnya


Hanya Ia yang tahu..


[©2019, A.Rico]


*


Sepenggal kepergian ibu. Aku memilih untuk pulang ke rumah. Ibu Rosmini memberiku cuti untuk beristirahat sejenak.


Malam ini aku tak bisa tidur, aku memilih membongkar semua baju peninggalan ibu. Beberapa baju vintage yang aku pilih ku masukan semuanya dalam satu kardus besar. Begitu juga foto-foto waktu aku kecil dulu, tak lupa semua dokumen penting keluargaku.


Kaysan tadi melampirkan beberapa surat penting kematian ibu. Besok aku akan mengurus surat-surat penting lainnya ke pihak pemerintah.

__ADS_1


Aku tak mengira jika takdir begitu mudah membolak-balik keadaan. Aku kehilangan sosok sandaran hidupku, satu pilar penjagaku pergi. Satu pilar lainnya entah kemana. Hanya pilar berlabel calon tulang punggung itu yang aku miliki sekarang.


Pernikahan benar-benar sudah ada di depan mataku. Mau tidak mau, aku adalah gadis yang harus memilih. Semoga pilihanku adalah pilihan tepat, bukan pilihan yang menjatuhkan ku pada lubang nestapa.


*


Hari-hari kulalui lagi seperti biasa. Hanya Do'a yang bisa ku rapalkan untuk ibuku, Lastri. Aku mulai paham dengan arti mawar putih yang dua minggu lalu sering Kaysan kirimkan.


Mawar putih itu berarti sebuah perpisahan.


*


Hari-hari menuju konser metal tahunan yang komunitasku adakan mulai terlihat di depan mata. Kondisi fisik ku sudah kembali seperti semula, tapi hatiku tidak. Masih banyak lubang kekosongan di dalamnya.


Kaysan seperti biasa, hanya kiriman barang-barang yang datang setiap harinya. Kini isinya berbeda, banyak jenis buah-buahan dan salad sayur, begitu juga vitamin dan nutrisi lainnya.


Tapi keberadaannya tak pernah aku temui, sekali dua kali ia mengirim pesan lalu menghilang. Apa begitu caranya berpacaran, kadang menyebalkan. Jika bertemu ia akan menuntut banyak hal, jika tidak dia akan mengulurku seperti layangan.


Aku tak mengerti, apa kami bisa bersama seterusnya? Percayalah dalam benakku ada banyak keraguan yang masih tersimpan.


*


Hari Sabtu, pukul 10 pagi. Aku sudah berada di Auditorium RRI. Semua panitia sudah berkumpul. Semua sudah kami siapkan sejak semalam, bahkan tadi malam aku pulang jam 2 pagi. Bisa dibayangkan mataku sangat berat untuk dibuka, sedangkan acara konser metal nanti sampai tengah malam.


Kematian ibuku hanya Nina yang tahu, Nina berkali-kali menyemangatiku. Menawariku banyak hal, hingga menawariku untuk menghapus semua hutang-hutangku pada keluarganya. Aku tersenyum kecut, segitu menyedihkan diriku.


"Jani, ayo makan dulu." ajak Nina sambil menaruh nasi kotak di depanku.


"Sudah berapa kali kamu makan, Nin? Ingat makanan panitia jangan kamu habisin." kataku sambil terkekeh, "Nin, pacarmu mana? Kasih ultimatum dulu sebelum dia teler."


"Yang harus dipertanyakan itu pacarmu!" cecar Nina dengan cepat, seperti tak terima pacarnya aku ceramahin.


"Dia sibuk kali, Nin. Udah dua minggu gak ketemu. Dua minggu juga aku libur kerja. Kortingan gajiku banyak ini." keluhku sambil membuka nasi kotak.


Satu suapan nasi akhirnya membuatku tersedak, "Sudahlah, Nin."


"Habis ini beli es krim yuk, Jani. Kamu, 'kan pembawa acara jadi harus ceria." bujuk Nina saat aku sudah tak berselera.


"Nin, jika aku nikah nanti bagaimana. Aku belum yakin dengan diriku, Nin. Banyak kekurangan yang aku miliki." Aku menengadahkan menatap langit-langit auditorium.


"Aku sudah sering bilang ke kamu, jika tidak yakin ya harus diyakinkan. Katakan yang menjadi keraguanmu pada kakandamu."


"Kakanda opo, wes ah. Ayamku kasian minta dimakan." Ku buka lagi nasi kotak itu dan melahapnya.


*


Hari ini aku memakai kaos hitam bertuliskan Death Squad, karena super star nanti adalah band itu sebagai band penutup. Seperti biasa memakai cargo pendek dan sneaker. Tak lupa tas ransel hitamku yang berisi baju ganti, mukena parasut dan HPku. Kami disibukkan dengan banyak hal, terlebih acara kali ini adalah free for ladies. Sudah ku pastikan banyak sekali gerangan yang membawa kekasihnya.


Waktu terus berputar hingga jarum jam tepat di pukul empat sore. Aku duduk di belakang stage panggung. Membaca beberapa script yang akan dibacakan nanti.


Om Seno menghampiriku, "Gimana siap belum, Jan?"


Aku berdehem.


"Nanang diluar, Jan. Nungguin kamu."


"Pret, om."


"Hahaha, butuh enak-enak gak, Jan. Mantab loh ini." Om Seno menyerahkan satu botol berisi anggur merah.


"Pret, om. Aku mah di beri kepastian aja udah seneng."


Om Seno terkekeh, "Jani, Jani. Wes ayo saatnya kita beraksi."

__ADS_1


Aku dan om Seno naik ke atas panggung. Belum banyak penonton yang hadir, hanya beberapa laki-laki yang asik bergerombol dengan kelompoknya dan supporter yang dibawa band-band pengisi. Jika masih sore seperti ini, band pengisinya adalah band-band yang masih dalam tahap pengenalan diri. Ya! band yang baru merintis.


"Selamat sore, selamat datang di acara kami yang sudah biasa kami adakan setiap tahunnya. Piye kabare, wes siap? Kali ini beda, kalian pasti paham siapa gadis di sampingku ini. Jomblo, 'loh jomblo. Butuh kepastian."


Aku terkekeh, "Hallo piye kabare, sae mboten? [ gimana kabarnya, baik tidak? ]"


"Sae, sae. Saestu kalih sliramu." [ Baik, baik, setuju dengan dirimu ] Ocehan dari salah satu penonton yang membuat om Seno terkekeh.


"Ketemu sama aku lagi, 'kan? Biasanya kalau aku yang kasih tanda cinta ditanganmu. Kini aku yang akan membuatmu mengingat kata-kata ku. Ea..." (Tanda cinta alias stempel tinta tanda masuk ke venue acara)


"Nang... Nanang. Mantanmu, Nang."


Ku lihat Nanang berdiri di pintu masuk. Menatapku sambil mengacungkan jempolnya.


"Cie, cie... Bumbu cinta masih merajalela, cie


..."


"Definisi cie cie itu apa om, Cie cemburu opo


Cientaku padamu tak pernah padam."


Aku dan om Seno terkekeh, ini sungguh candaan diluar script yang aku baca tadi. Entah kenapa jika di atas panggung Om Seno suka sekali nglantur bicaranya.


"Wes... wes... Iki arep konser metal opo arep bahas termehek-mehek. Mesakke band pembuka wes siap-siap. Wes siap keringetan, wes siap ngalaleke mantan. Yowes, please welcome Detritivor." [ Udah... udah, ini mau konser metal atau mau bahas termehek-mehek. Kasian band pembuka sudah siap-siap. Sudah siap keringetan! Sudah siap melupakan mantan! Yasudah, selamat datang Detritivor. ]


*


Satu persatu band pembuka sudah menyelesaikan aksinya diatas panggung. Auditorium kini berubah menjadi arena moshing dan headbang para penonton.


Waktu merambat begitu cepat, hingga tak terasa terdengar kumandang adzan.


"Para penonton kita memasuki jam-jam istirahat sejenak. Silahkan yang mau sholat, makan, atau hanya sekedar minum-minuman jahat. Aku persilahkan, acara diteruskan nanti setelah sholat Isya."


"Air, air, air."


Sorak dari para penonton yang sudah kehabisan tenaga dan mengeluarkan peluh yang bercucuran.


Aku turun dari atas panggung dan menghampiri penonton yang masih berdiri dibalik pagar barikade. Pagar pembatas antara bibir panggung dan barisan penonton.


"Haus mana, haus akan dosa apa haus karena cinta." Aku tertawa dan menyerahkan beberapa air mineral.


"MC edan." celetuk dari salah satu penonton.


"Hahaha, sholat gays. Sebelum kalian disholatkan!" Nada suaraku lirih sekaligus penuh tuntutan.


"Tak imami mau?" celetuknya lagi.


"Prei kenceng!" Aku tergelak dan meninggalkan kerumunan itu.


Kakiku melangkah ke belakang stage, Nina menghampiriku."Jani, ayo sholat dulu."


"Iya sebentar." kataku sambil membuka tas ranselku, ku hidupkan HPku dan menunggu.


"Masih gak kasih kabar pacarmu?"


"Iya." jawabku lesu.


"Yasudah, ayo sholat dulu. Siapa tahu habis itu bisa bertemu dengan kekasihmu."


Waktu istirahat satu jam hanya aku habiskan di mushola yang tak jauh dari auditorium. Banyak Metalhead lainnya yang menjalankan tugas ibadahnya, tak terkecuali saat mereka sedang melihat konser metal yang identik dengan musik bawah tanah. Musik-musik tentang pemberontak, cacian, kematian, atau musik-musik yang berunsur tentang kebebasan berekspresi.


Musik underground sendiri adalah musik yang berkembang di luar ranah industri-label, yang bisa dibilang musik Independen/Indie.

__ADS_1


Lanjut, like dulu ✌️😁


__ADS_2