
Suatu waktu aku memberikan kesempatan kepada Anne untuk berbicara. Berbicara mengenai perasaannya. Entah ini akan memperbaiki keadaan ataupun semakin memperkeruh suasana. Aku hanya akan menganggapnya sebagai anak murid ku yang butuh jalan terang.
Karena bukan tidak mungkin, semakin kesini Anne akan semakin mencintaiku dalam diam dan dendam. Dan, itu semua akan sulit terurai.
"Mencintai seseorang laki-laki beristri adalah sebuah kesalahan, Anne. Di negeraku mereka menganggapnya sebagai 'Pelakor', perebut laki orang."
Aku tersenyum getir. Anne mengerenyit dahi, seperti bingung tapi tak peduli dengan kalimat itu.
"Perebut laki orang, itu bukan urusanku." sergahnya cepat.
"Itu akan menjadi urusanmu jika kamu merebut ku dari Rinjani, istriku." Aku harus berhati-hati dalam bertindak dan memilih kata-kata yang tepat untuk tidak menyakitinya. Meski sebenarnya aku sendiri yang sakit menghadapi situasi ini. Situasi yang membuatku seperti berkhianat kepada Rinjani.
"Rinjani bukan tandingan ku!" tukas Anne.
"Rinjani memang bukan tandinganmu, tapi apa kamu yakin sanggup menandingi kesabaran Rinjani menghadapi orangtuaku dan semua aturan di kerajaan."
Anne menggigit bibirnya, bingung sendiri menjawabnya. Karena dia pasti sudah tahu risiko menjadi istri calon raja dan semua hal mengenai menjadi istri seorang Ningrat. Tidak mungkin diusianya yang masih tujuh belas tahun berpikir untuk menjatuhkan dirinya sendiri pada benang merah yang akan menjeratnya dengan erat.
Anne terlihat gemas, aku akui. Tapi tidak setelah aku tahu siapa Anne sebenarnya. Bisa jadi, karena kesepian yang mendera Anne membuatnya menginginkan perhatian lebih untuk menggantikan peran ayahnya yang seorang nakhoda kapal pesiar. Kemewahan ia dapatkan tapi tidak untuk kasih sayang. Seakan menjadikan aku pelarian sesaat dan ia menyangka jika aku bisa memberikan kasih sayang 'lain' yang tak papanya berikan.
Well..., Aku sudah membicarakan hal ini dengan komite sekolah dan wali kelas Anne. Mereka menganggap Anne hanya terkagum-kagum melihat laki-laki sepertiku. Baginya ada jiwa 'kebapak-bapakan' dari sikap dan tindakan yang selama ini aku tunjukkan. Sungguh, pikiran remaja sekarang memang tambah absurd. Tak seperti waktu aku remaja dulu---seorang gadis akan segan untuk mengungkapkan perasaannya pada lawan jenisnya--- Metamorfosa dunia memang begitu adanya, laki-laki dan perempuan sekarang sama saja, mungkin inilah yang disebut emansipasi wanita dalam dunia percintaan.
Aku mengulurkan kembali kado yang berisi bandana dan cardigan rajut berwarna pink. Semenjak kehadiran Dalilah di hidupku, warna merah muda seakan lebih indah dari warna lainnya.
"Pakailah besok, aku akan mengajakmu jalan-jalan." Anne melihatku sekilas, seperti bingung dengan maksudku yang tiba-tiba berubah pikiran.
"Mr. Kays yakin?"
"Hmm...,"
Ia membukanya, "Ini bukan hadiah mahal yang biasanya orangtuaku berikan. Tapi..., aku akan menyimpannya." Gadis itu tak menyadari senyum puas yang melengkung di bibirnya.
"Kita mau kemana?"
"Jalan-jalan, terserah kamu mau kemana. Tapi tidak yang mahal, karena uangku tidak cukup untuk membayarnya."
Anne menjentikkan jarinya, berangkali jika urusan biaya itu hal mudah untuknya.
"Berdua?"
Aku menggeleng cepat.
"Tidak, aku akan mengajak teman. Laki-laki muda, seusiamu."
Sekuat apapun Anne menjinakkan egonya, akhirnya ia pun pasrah dan mengangguk juga.
"Baiklah kencan bertiga tidak apa-apa."
"Tidak ada kontak fisik itu syaratnya."
Aku sendiri tak menyangka ternyata kehadiranku memberi efek sengatan rasa yang tak pernah aku duga sebelumnya. Aku harus menuntaskan ini, sebelum aku benar-benar kembali. Karena pada dasarnya wanita yang sedang jatuh cinta akan sulit membedakan rasio dan ambisi.
Bayangkan saja aku yang hampir menginjak usia 36 tahun, berkencan dengan anak usia 17 tahun. Benar-benar akan di ciduk petugas KPAI dengan pasal pedofil.
*
Aku membuka perjanjian dengan Anne, dalam waktu seminggu aku memberinya kesempatan untuk bersamaku. Tapi, setelahnya. Jangan harap ada kesepakatan lain yang akan membuatku semakin bersalah. Aku bahkan sama sekali tidak bisa menghubungi Rinjani, karena saat aku terjaga ia pasti sedang tidur, saat aku tidur ia pasti sedang terjaga. Begitu terus hingga semua rindu semakin besar dan lebar.
"Keen? Pastikan jika Anne tidak menyentuhku."
__ADS_1
Kala itu aku memohon kepada Keenan untuk menemaniku selama seminggu. Dan, dia setuju saja karena mendapat paksaan dari Bapak dan Laura. Mereka semua tahu tentang kejadian ini dan aku menyuruh mereka untuk bungkam.
"Mas takut?" Keenan tertawa terbahak-bahak.
"Bukannya aku takut, tapi kamu tahu Mbakmu Rinjani kalau sudah marah itu cerewet dan suaranya terdengar berdenging di telinga sepanjang hari."
Aku jujur, entah waktu itu aku berbuat kesalahan apa. Rinjani tiba-tiba marah, meledak, menuduhku yang tidak-tidak. Sehari suntuk aku disuruh untuk menjelaskan kesalahanku dan memperbaikinya. Sedangkan aku tidak tahu dimana titik awal kesalahanku. Akhirnya, aku memilih pura-pura pingsan. Cukup lama... hingga Rinjani mulai terisak-isak. Ia menciumku, memberi nafas buatan hingga aku tak kuasa menahan senyum. Bibirnya meracau, sambil meminta maaf. Tangannya memukul dadaku karena kesal sudah aku kerjai. Akhirnya, karena kebodohanku sendiri. Rinjani memintaku untuk menjadi pasien dan dia adalah dokter jadi-jadian. Dokter nakal yang menciumku dan meraba-raba tubuhku dengan dalih pemeriksaan organ vital.
Mobil berhenti di depan kediaman Anne, ia sendiri membawa mobil sport yang di berikan oleh orangtuanya.
Dengan arahan dari telunjuknya. Aku mengikuti laju mobilnya.
Selama di dalam mobil Keenan terus membicarakan tentang kesan pertama ia melihat seorang Anne.
"Mas beruntung, selebgram sekelas Anne sampai bertekuk lutut di hadapan mas." kata Keenan, ia meneliti wajahku dengan seksama.
"Padahal kalau dilihat-lihat, mas ini sudah tua, sudah ada kerutan, bibir hitam, dan terlihat galak. Apa yang membuat Anne suka!?" Keenan menggeleng tak sanggup menemukan jawabannya.
"Keen, usiamu sama dengan Anne. Apa kamu tidak tertarik dengannya."
Keenan menggeleng, "Kata Nakula gadis Jawa lebih manis, kulitnya eksotis seperti mas." Keenan mengangguk-angguk mengerti, seakan telah menemukan jawaban atas pertanyaan tadi.
Gemerlap lampu menyusup diantara kabut tebal saat mobil melesat di jalanan kota. Meskipun cuacanya dingin, seperti tak menyulut api gairah muda mudi untuk berpesta pora di suatu bar.
"Apa pergaulan Anne seperti ini?"
"Bisa jadi." jawab Keenan.
Kami berdua melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
Kami bergegas masuk ke dalam bar. Siapa sangka jika di dalamnya banyak sekali wanita muda dengan baju-baju minimalis.
Akal-akalan apa yang sudah di siapkan Anne.
"Hmm... terimakasih."
Keenan terlihat menggeleng, seakan memberi peringatan untukku agar tidak meminumnya.
"Bersulang untuk malam ini." Ajak Anne, gelasnya sudah ia naikkan.
"Ambil gelas mu, Keen. Kita bersulang bersama." Ajakku.
Keenan mengangguk, ia lalu memanggil pelayan untuk menuangkan anggur merah ke dalam gelasnya.
Kami bersulang bersama. Dan, Anne tersenyum senang.
"Nikmati waktumu, Mr. Kay. Aku akan bersenang-senang sebentar."
Anne meninggalkan meja bar. Di antar pengunjung lainnya. Hanya Anne yang terlihat berbeda karena dia benar-benar menggunakan bandana dan cardigan rajut yang aku berikan. Cocok sekali dengan usianya.
"Jadi kita hanya melihat saja, atau memang kita beralih profesi menjadi bodyguard gadis itu?" ujar Keenan.
"Carilah gadis, sebelum nanti kamu ke tanah Jawa dan terpikat dengan gadis desa." jawabku malas. Aku masih memperhatikan gerak-gerik Anne dan kondisi sekitar.
"Boleh? kata mama, Bar adalah tempat untuk orang dewasa. Banyak kegilaan terselubung di dalamnya."
"Laura benar, bahkan jika aku bisa memilih. Aku akan mengubah perjanjian kemarin."
Lama menunggu dan sudah menghabiskan setengah botol anggur merah. Aku mulai bosan.
__ADS_1
"Keen, carilah Anne."
"Tidak! kata Bapak pepaya gemandul akan menyulitkan untukku."
"Pepaya gemandul?"
"Buah dada, bapak bilang di Jawa namanya pepaya gemandul." Keenan menunjukkan gadis-gadis yang menggunakan baju ketat yang membusungkan buah dadanya. Aku menepuk bahu Keenan.
"Buah dada memang menyulitkan. Dan, kamu jangan mencobanya sebelum waktunya tiba. Berbahaya!!!"
Aku menarik tangan Keenan untuk menuju lantai dansa. Benar saja, Anne sudah sempoyongan dan meracau tidak jelas.
Aku bukan laki-laki yang tidak memiliki hati nurani. Namun, jika aku salah aku akan memperbaikinya.
"Keen, kamu bawa mobilku."
Aku merogoh kantong celanaku untuk mengambil kunci mobil.
"Kita mau bawa kemana dia mas?" Keenan panik.
"Rumahmu, Laura akan menjaganya. Tidak mungkin kita membawa gadis ini pulang ke rumahnya saat mabuk. Bisa-bisa aku di gebukin lagi bodyguard keluarganya. Sakit, Keen."
Aku membopong tubuh Anne untuk keluar dari bar. Senyumnya mengembang, namun air matanya juga ikut mengalir. Otak dan hatinya memang tidak sinkron.
Mobil melesat cepat menuju rumah Laura yang tak jauh dari rumahku. Berkali-kali aku menoleh kearah Anne yang meracau sendiri. Patah hati untuk pertama kali memang butuh pelarian, dan ternyata mabuk adalah pilihannya.
Tiba di rumah Laura, Keenan membuka pintu utama dengan Laura yang tergesa-gesa menghampiri kami bertiga karena Keen berteriak keras.
"Kenapa dia, Kay?"
"Mabuk."
"Sudah, Ma. Ayo kita masuk dulu, diluar dingin."
Laura mengangguk, ia menatap sekeliling lalu menutup pintu rumah.
"Aku akan merepotkan mu, Laura."
"Dia yang kamu ceritakan? Kenapa mabuk? Kamu tidak..." Laura menggeleng, mencoba menepis rasa curiganya.
"Anne, murid ku Laura. Dia jatuh cinta karena aku memiliki sifat seperti bapak-bapak. Bukan salahku, tapi dia tetap tanggung jawabku sekarang." Kepalaku pusing. Ditambah Rinjani yang jarang memberiku kabar membuat semua menjadi runyam.
Laura menghela nafas, "Jika Rinjani sampai tahu, habis kamu, Kay!"
"Aku tahu, tapi urusannya sekarang adalah Anne. Bagaimana melunakkan hatinya untuk tidak mengejarku. Laura, bantu aku."
Keenan baru saja keluar dari kamar tempat Anne berada, ia mengambil ponsel milik Anne yang terselip di kantong celananya.
"Tidak di kunci, mas. Buka saja, siapa tahu ada informasi penting."
"Tapi itu tidak sopan, Keen. Bahkan Rinjani saja tidak pernah membuka ponselku."
"Hanya Rinjani yang menjadi pusat magnetmu, Kay." seru Laura.
Ia menyaut ponsel Anne dan membaca pesan masuk WhatsApp.
"Aku akan memberi tahu orangtuanya jika Anne di rumahku. Keen, siapkan pistol milik papa. Kalau-kalau dia membawa orang suruhannya untuk mengacaukan rumah kita. Panggil juga Sheila dan suaminya." seru Laura.
Kenapa urusannya jadi serumit ini. Apalagi harus membawa senjata api. Ini benar-benar di luar perkiraan ku jika akan terjadi gencatan senjata.
__ADS_1
Happy Reading π
Kalau gak ada konflik gak ramai. ππ