
Pukul dua pagi, manik mata itu sudah terpejam. Mendengkur halus, dengan tangan yang memeluk tubuhku. Menenggelamkan wajahnya dalam ketiakku, hembusan nafasnya membuat rasa hangat menjalari tubuhku.
Bagaimana bisa gadis kecil ini membuat seluruh otot tubuhku bekerja dengan baik. Bagaimana bisa setiap kata yang keluar dari mulutnya, adalah kata-kata yang mampu meyakinkan ku untuk terus memperjuangkannya.
Hingga lamunanku tersesat pada kegelisahanku sesungguhnya.
Sejak lama, tidak ada yang melarang kami keturunan darah biru untuk memiliki selir apalagi untuk seorang Raja. Bagaimana jika Rinjani mengetahui bahwa aku bisa memiliki selir. Apa perkataan yang keluar dari mulut gadis kecil ini masih bisa menyejukkan hatiku, gadis yang semakin membuatku merasa menjadi laki-laki yang egois.
Apa gadis ini akan menerimanya, atau justru gadis ini akan berlari menjauhiku. Menjauhi semua impianku.
Setiap hembusan nafasnya seperti memberi nuansa kehidupan baru untukku. Rinjani, akankan kamu menerima seluruh keputusanku nanti?
Malam semakin hening. Ku nikmati wajah baru dalam kamarku, wajah yang senantiasa memberiku secercah harapan, rindu dan rasa.
Seulas senyum menghiasi wajahku. Ku tatap wajahnya dari dekat, matanya terpejam, ku elus alis hitamnya, ku elus hidung kecilnya yang lucu, pipinya putih, mulus, rambutnya acak-acakan, bibirnya ranum merah muda.
Rinjani...
Mataku sulit terpejam, memandanginya membuatku semakin gelisah. Gelisah karena mengingat kembali kecupan pertama kali antara bibirku dan bibirnya yang bertaut. Hingga akhirnya aku memilih untuk meredam gelombang nafasku dengan menyesap sebatang rokok di dalam kamar mandi, sembari menunggu adzan subuh tiba.
*
Pukul 04.15, aku sudah bersiap untuk membangunkannya. Matanya masih terpejam rapat. Aku tidak tega, tapi tidak mungkin aku melanggar janji hanya karena alasan kasihan.
"Ehm..." Tubuhnya menggeliat, dengan malas menarik selimutnya lagi. Menyembunyikan wajahnya dari cahaya lampu.
"Bangun. Ayo sholat berjamaah." kataku sambil menarik selimutnya, terlihat paha putihnya yang mulus. Menggoda.
Dengan terhuyung-huyung, ia menganggat tubuhnya dan duduk disisi ranjang. Sepertinya dia masih belum sadar dengan tubuh bagian bawahnya. Tidak bisa aku pungkiri, dengan nafas memburu aku berusaha meredamnya. Meredam nafsu untuk bercinta.
__ADS_1
"Mandi dulu, Jani."
"Hmm..."
Dia hanya berdehem sambil menunduk, matanya mengerjap-ngerjapkan menyesuaikan cahaya lampu.
Aku tahu, dia masih mengantuk. Tapi aku akan merasa bersalah, karena lalai menjadi imam yang baik untuknya.
Aku tersentak saat dia menyuruhku untuk memejamkan mataku. Dia sadar, dengan terbirit-birit lari ke kamar mandi sembari berteriak menyuruhku untuk mencari tas ranselnya.
Aku terkekeh kecil, dengan cepat mengambil tas ranselnya di atas lemari. Lalu melesat ke depan kamar mandi, menunggu Rinjani. Suara gemericik air masih terdengar, setelah beberapa saat. Ia melongok keluar pintu, mengambil tas ranselnya.
Dengan dalih Mbok Darmi menaruhnya di depan pintu kamar, dia seolah percaya dengan alasanku.
Aku masih menunggunya di depan pintu kamar mandi saat Rinjani memakai pakaiannya. Saat dia keluar, harum, dia tampak segar dengan rambut basah yang terurai bebas. Entah kenapa dia terlihat lucu dengan celana gemasnya, tapi itu hanya untukku. Tak ku izinkan dia memakai celana pendek di luar kamar.
"Biasakan untuk terbiasa."
*
"Sudah siap?" Aku mengambil dua sajadah besar dan menggelarnya di tempat biasa aku melakukan ritual antara aku dan sang pemilik semesta.
"Siap." Rinjani berdiri di belakangku, dengan khidmat ia mengikuti setiap Do'a yang aku ucapkan.
Selepas shalat subuh, aku sudah terbiasa untuk membuka mataku hingga saatnya tiba untuk sarapan dan berangkat kerja. Tapi tidak kali ini, mataku masih terbuka untuk menikmati keindahan hawa yang melepas mukenahnya.
Sudah dari dulu, Mbok Darmi akan membawakan secangkir teh tawar hangat ke dalam kamar. Itu sudah seperti kewajiban harian yang harus Mbok Darmi lakukan. Meski sudah sepuh, Mbok Darmi adalah orang yang taat mengabdi kepada keluarga Ningrat. Itu semata-mata beliau lakukan untuk mendapat berkah dan lindungan dari leluhur atas seizin Allah.
Pengabdian abdi dalem ini adalah bentuk kesetiaan mereka kepada kami.
__ADS_1
Mbok Darmi juga aku pilih menjadi abdi dalem Kinasih yang akan membantu Rinjani, seperti Dhanangjaya. Darmi Dhamarwulan adalah seorang guru spiritual. Beliau akan menjadi guru Rinjani. Dengan dalih Mbok Darmi akan di hukum oleh Ayahanda jika Rinjani tidak menurutinya. Itu hanyalah alasanku saja, supaya Rinjani lekas menjadi pohon yang di pupuk dengan ilmu, dan tumbuh dengan cepat.
Selepas Mbok Darmi keluar dari kamar. Tinggallah aku dan Rinjani. Dia menghampiriku, mengambilkan cangkir tehku. Karena itu yang aku mau, istri harus mengabdi kepada suami dengan cara memanjakan suami meski hanya dari hal sepele. Karena dari hal sepelelah, Rinjani akan belajar. Terlebih saat dia bertanya, Baik mas, lalu apa lagi?
Terbesit ide untuk membuatnya tidak malu-malu lagi denganku.
Ciuman selamat pagi. Aku tersenyum penuh arti, berharap dia tak perlu berkelit lagi. Lakukan.
Mataku tak benar-benar terpejam, aku ingin melihat apa Rinjani berani melakukannya. Dia tampak perpikir sejenak. Lalu, dengan cepat bibirnya mendarat di bibirku. Sekilas, masih nampak malu-malu. Tak apa, aku mengerti. Karena sebuah hubungan baru perlu adaptasi.
Sesuai janjiku tadi malam, sebelum kata Puk-Puk terdengar begitu asing di telinga ku. Pagi ini aku akan mengantar Rinjani ke pusara ibu Lastri. Lalu pergi ke villa pinggir pantai. Rinjani menyebutnya sebagai bulan madu. Bahkan bulan madu yang ingin aku siapkan untuknya bisa lebih dari sekedar tidur di villa. Namun kata tapi slalu tersemat dalam hati, untuk tetap berhati-hati dengan langkah yang harus aku jalani.
Semoga Rinjani mengerti dan slalu menerima apa yang aku beri meski hanya sebuah cinta yang sederhana. Cinta yang tak pernah aku katakan dengan gamblang.
*
Sepanjang perjalanan menuju pemakaman Mirisewu, Rinjani hanya terus terdiam sembari menatap pemandangan sekeliling. Ia seperti merekam sebuah perjalanan dalam ingatannya.
Apa yang ingin kamu lakukan Rinjani? Apa kamu diam-diam ingin pergi sendiri ke makam ibumu jika aku tidak mau menemanimu.
Tiba di pemakaman Mirisewu. Kami duduk di depan pusara ibu, aku memandunya untuk hantaran Do'a.
Di belakangnya, aku masih sabar menunggunya agar terpuas rasa rindunya akan Ibunya. Meski tak banyak terucap dari bibirnya, aku tahu. Mata itu masih menyiratkan luka dan rindu yang di aduk menjadi satu.
Aku menyentuh pipinya, mengatakan jika ibu masih bisa melihat kita dari tempatnya sekarang. Mesti ibu sudah tiada masih bisa merasakan rasa yang kita miliki.
Tanpa diminta pun aku akan menggendong Rinjani jika bukan di pemakaman. Seperti alasanku dulu, jika tidak etis mengendong seorang gadis di pemakaman.
Aku berjalan meninggalkan Rinjani yang sibuk mengadu pada ibunya. Tapi aku juga senang, dia mengadu pada ibu untuk memberinya cucu. Cucu yang akan kami buat nanti malam dalam ranjangku.
__ADS_1
๐ Kaysan