
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Om Seno sudah ngeciwis diatas panggung sendiri. Sedangkan aku baru saja selesai mandi. Mengganti atributku dengan longslave dan menggunakan celana cargo pendek motif tentara.
Aku keluar dari balik panggung, menyusup masuk diantara panitia lainnya.
"Sorry om... aku mandi dulu tadi." kataku menyaut ocehan om Seno.
"Gaya, aku we adus kringet ra masalah. [ aku saja mandi keringat gak masalah ]
"Lah, om kan wes payu. Wes ndue garwo. Aku digantung koyo pemean." [ Lah, om kan sudah laku. Sudah punya 'Gorwo-sigarane nyowo/pasangan hidup', Aku digantung seperti jemuran ]
"Rinjani cari jodoh, siapa yang mau? Tunjukkan pesonamu." Om Seno membuat sayembara, gila pikirku. Bagaimana jika Kaysan tahu?
"Deadline om."
Aku menunjuk jarum jam yang berputar ditanganku.
Alunan distrosi musik mulai menghentak dengan perlahan, ritme suara yang dibawakan dengan nada seriosa atau kami biasa menyebutnya dengan genre gothic metal mulai memukau para penonton.
Riuh terdengar tepuk tangan dari para penonton yang sudah berjejalan masuk ke dalam gedung auditorium. Semakin malam penonton semakin membludak.
Aku mendengar di sudut kiri panggung sambil memangut-manggutkan kepalaku pelan.
Tiga puluh menit mereka perform, kini akhirnya menuju ke band-band dengan penikmat musik paling banyak. Paling digemari dan ditunggu-tunggu.
Berduyun-duyun mereka memadati bibir panggung, meringsek diantara penonton lainnya. Saling berebut oksigen, karena semakin malam semakin padat seperti lautan hitam. Energi mereka mulai dipacu dengan distrosi-distrosi tinggi yang siap membakar jiwa. Barisan blokade mulai kewalahan menahan pagar pembatas. Hingga membuat beberapa panitia diluar, terpaksa ditarik masuk untuk ikut menahan pagar besi. Ini sungguh diluar perkiraan kami selaku panitia.
Di atas panggung aku mulai merasakan sensasinya, atmosfer yang berpacu dalam melodi keras. Tapi tubuhku tidak mau beranjak dari tempatku berdiri, aku hanya menikmatinya dengan senyuman.
"Gak turun?" Nina menghampiriku, ia membawa kotak P3K. Aswin pacarnya dengan mata yang merah ikut menahan barisan blokade.
"Disini enak, Nin. Aku tidak mau ditelan lautan manusia yang sudah menjadi bringas."
"Bilang saja hatimu sedang tidak sinkron dengan keadaan.."
Aku terkekeh, "Kamu pandai menebak. Aku mau penutupan dulu, Nin. Bye, jangan lupa siaga 1."
Nina mengangguk.
Di atas stage, keadaan sudah benar-benar gila. Banyak penonton yang berteriak minta Air. Mengepalkan tangannya ke udara dan berteriak "Dead Squad, Dead Squad, Dead Squad." Atau mengacungkan tangannya keudara dengan jari metal 🤘
Suaraku dan Om Seno seperti di telan gemuruh suara. Kalah telak 2 lawan ratusan orang yang sudah tidak sabar mendengar suara band favorit mereka. Band yang digawangi oleh Stevi Item sebagai gitaris, Daniel Mardhany sebagai vocal, Anak agung Gde sebagai basis, Karis sebagai second gitaris dan Alvin sebagai drummer.
"Sabar, sabar. Cek sound dulu."
__ADS_1
"Jan, Jani. Sebelum band penutup beraksi. Kemarin pihak sponsor ingin ikut andil dalam penutupan acara ini."
"Loh, om. Gladi resik kemarin gak dibicarakan sama aku." kataku bingung, bahkan aku saja tidak tahu siapa pihak sponsor tersebut.
Aku menjauhkan mic dari bibirku, berdebat dengan Om Seno sebentar dibelakang panggung.
"Aku lupa, Jan, suer." Om Seno mengangkat jarinya , Peace!
"Lalu siapa nama sponsornya, om? Edan, kalau sampai lupa, besok pagi duit yang masuk bisa diminta lagi. Sembrono!"
"Tapi dia mintanya emang di akhir acara Jan, mau surprise."
"Surprise diacara beginian, tambah edan." pikirku sambil menggeleng.
"MC mana MC..." Teriak punggawa Dead Squad. Aku menggaruk kepalaku, bingung.
Tim panitia yang mencari sponsor akhirnya datang menghampiriku dan om Seno.
"Sorry, sorry. dia maunya kamu Jan yang baca." Mataku membulat, Iqbal menyerahkan satu lampiran berisi tulisan. Aku membacanya dengan seksama.
"Yakin, bal. Ini sponsor kita?" Ingin aku memastikan lagi kenyataan yang aku dapat barusan.
"Yakin, Jan. Dia sendiri yang datang mengajukan permohonan untuk menjadi sponsor utama. Makanya dia minta ikut andil dalam penutupan acara ini, gede duitnya." Iqbal berbicara dengan mantap dan senang sekali. Karena biasanya mencari sponsor utama itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit...
Aku maju ke depan panggung, menyesap oksigen yang sudah bercampur dengan kepulan asap rokok. Sesak melingkupi rongga dadaku, sesak lagi yang aku tahu sebagai sponsor utama adalah Pabrik gula dan pabrik teh milik keluarga Adiguna Pangarep.
Aku menelan ludahku susah payah, teriakan dari penonton sudah tidak bisa di atur lagi. Bringas, panas, haus, lapar jelas akan membuat mereka semakin membabi buta. Tak peduli lawan atau kawan, tubuh liar mereka akan menghentak mengikuti distrosi-distrosi gitar yang semakin malam semakin kencang.
"Sudah gak sabar ya, sudah gak sabar dengan penampilan Dead Squad..." Teriakku, suara gemuruh terdengar bersahutan.
"Kasih waktu lima menit buatku untuk mengatakan kata-kata penutup. Jadi mohon bersabar sebentar, bisa?"
Gemuruh tadi perlahan mulai meredam. Aku menghela nafas panjang,
"Aku ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih untuk para Metalhead yang sudah datang ke venue ini untuk meramaikan acara kami. Dari scene mana saja kalian berasal aku tak peduli. Genre musik apa yang kalian suka, kita adalah sama, kita adalah hamba Tuhan yang mencari jalan kehidupan. Jika kelam menyelimutimu maka carilah secercah cahaya untuk mengindahkan hidupmu. Terimakasih banyak untuk semua pihak sponsor yang sudah bersedia membantu kami dalam menyelenggarakan acara besar ini, kalian benar-benar luar biasa." Tepuk tangan meriah dari para penonton, membakar semangat malam ini.
"Teruntuk pemilik pabrik gula dan pabrik teh sebagai sponsor utama malam ini, jika Anda ada di venue acara ini. Mohon untuk datang kemari, bercengkrama dengan kami sebentar disini..."
Semua orang berlomba-lomba mencari sosok yang aku maksud. Akupun juga begitu, siapa bilang aku tidak rindu. Bahkan rindu ini sudah mengacaukan hari-hariku.
Mataku berkeliaran, hingga laki-laki yang memakai celana cargo panjang hitam, memakai kaos bertuliskan logo band asal Bandung 'Jasad' dan memakai jaket kulit itu meringsek diantara kerumunan penonton.
Aku terpesona, ini sisi lain yang tak pernah aku lihat darinya. Tapi aku berusaha menyembunyikan senyumku yang sumringah, berusaha untuk tidak mengenalnya.
__ADS_1
"Gula apa yang manis..." teriakku.
"Gu-langkahkan kakiku bersamamu."
Kaysan menyaut mic yang berada di dekatku.
"Ternyata pemilik pabrik gula lebih manis dari gulanya." Aku terkekeh.
Sorakan renyah dari penonton membuat lututku semakin lemas. Mereka tidak tahu jika aku seperti sedang merayu kekasihku.
Aku berjinjit berbisik di telinga Kaysan, "Mau dipanggil bapak atau om?"
Mata Kaysan membulat, "Panggil mas saja."
"Baik, untuk mas Kaysan yang terhormat. Kami tahu siapa anda, kami tahu kiprah anda di tanah yang kami pijaki. Aku mewakili seluruh panitia acara ini mengucapkan banyak-banyak terimakasih untuk kontribusi besar terhadap acara kami. Semoga pabrik gula dan pabrik teh yang keluarga mas Kaysan didirikan semakin melejit dan semakin makmur. Gemah Ripah loh Jinawi. Terimakasih, salam Rahayu untuk kita semua."
Aku membungkuk di depan Kaysan.
Penonton bertepuk tangan meriah, distrosi-distrosi tinggi kembali menghentak lagi. Death metal teknikal mulai membius jiwa raga yang kembali memanas.
"Sudah tidak sabar... teriakannya mana..."
Dead Squad, Dead Squad, Dead Squad.
AIR, AIR, AIR.
Kaysan diatas panggung hanya tersenyum, dia benar-benar hanya butuh pengakuan jika dia ada di balik panggung membantuku. Ternyata dia mendukungku diam-diam.
Kaysan melempar beberapa botol air mineral.
"Mas, mau sambutan." tanyaku lirih.
"Tidak, hanya ingin mengejutkanmu."
"Wow wow, aku terkejut mas." kataku sambil memegang dadaku.
"Baik, acara kami tutup dengan penampilan terakhir dari Dead Squad. Terimakasih atas kehadiran kalian semua, pulanglah dengan selamat."
Aku dan Kaysan pindah di sisi kiri panggung.
Bercengkrama sambil menikmati atmosfir yang menggila.
🤘🤘🤘🤘
__ADS_1