Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Maternity shoot ]


__ADS_3

POV Rinjani.


Tepat pukul lima pagi, selepas shalat subuh. Aku sudah siap untuk jalan-jalan pagi, sudah rutin aku melakukannya kegiatan ini. Kata Ibunda, ini akan mempermudahkan dalam proses melahirkan. Aku tidak mengerti, apa melahirkan akan sesakit yang orang bicarakan. Biarlah aku merasakannya nanti. Karena satu bulan lagi Dalilah akan lahir, dan mendekati hati-hati itulah aku sering merasakan punggungku ngilu, sakit, dan membuatku tidak betah berlama-lama berdiri. Tidak jarang jika malam aku sering terjaga, dan siangnya aku menghabiskan waktu untuk tidur.


"Sudah siap?"


Aku mengangguk. Pak Santosa adalah ajudan Ayahanda yang kini menjadi ajudanku. Beliau yang menjagaku dan membawakan kursi roda, jikalau aku kelelahan. Pak Santoso akan mendorongku dengan kursi roda.


Kami mengendarai mobil untuk menuju taman milik keluarga Ayahanda. Taman dimana Kaysan pernah terlelap dalam pangkuanku. Saat itu masih awal yang indah bagiku, saat hadirnya memberi kesempatan untukku membuka hati dan menjalani cinta yang tak seharusnya aku jalani.


"Gusti pangeran haryo Kaysan belum memberi kabar?" tanya pak Santosa.


"Belum, pak. Mungkin lagi sibuk, atau sedang ada badai jadi menghambat sinyal telekomunikasi." jawabku tanpa ingin menaruh curiga sedikitpun, karena aku yakin Kaysan tak akan mengecewakan aku dan Dalilah.


"Menjadi istri pangeran memang sulit, apalagi pangerannya gagah dan tampan. Harus banyak-banyak sabar dan nrima ing pandum, karena tak mungkin banyak wanita yang menggoda suamimu."


Aku mengangguk, "Sudah risikonya, pak. Mau gimana lagi." Aku terkekeh kecil, menyembunyikan rasa naif ku yang tak mau mengakui bahwa Kaysan memang memiliki daya pikat dari senyumnya dan tingkah lakunya.


"Pak Santosa ini sebenarnya masih bujang atau sudah beranak?" Aku penasaran, karena dia masih muda, gagah, sekaligus uhukk... Tampan.


"Maunya bujang atau beranak?" Pak Santosa terlihat tersenyum sungkan.


"Itu terserah Bapak." Aku tertawa.


"Saya masih bujangan, umur juga masih 30 tahun dan seharusnya tidak pantas dipanggil bapak."


Aku mengelus perutku saat tawaku mulai tidak bisa aku kontrol.


"Aduh Gusti... Jadi 'pak' Santosa tidak mau dipanggil Bapak?"


"Apa boleh buat, Panduka Raja yang memintanya." Ia tersenyum.


Kami tiba di taman. Pak Santosa dengan sigap membuka pintu mobilku dan menurunkan kursi roda. Seperti itu kegiatannya, dan ia akan mengikuti langkahku sambil membawakan air mineral. Istimewa sekali rasanya saat hamil, Ayahanda bahkan sudah membooking salah satu kamar di rumah sakit swasta untuk melahirkan nanti.


Aku mulai melangkahkan kaki di atas jalanan konblok. Sejuknya pepohonan dan udara pagi membuatku tenang, terlebih suasana masih hening. Langkah ku berhenti tepat di depan kolam ikan dan air mancur.

__ADS_1


Sesaat aku ingat dengan pesan eyang Dhanangjaya untuk meditasi, atau sekedar melakukan yoga agar tercipta ketenangan jiwa.


Aku memilih duduk di depan kolam pancuran, dengan mata terpejam. Jariku membentuk pola ngithing. Buih pancuran rintik di wajahku, seakan menggelitik mataku untuk terbuka. Aku tersenyum, rasanya tidak bisa serius dalam menjalankan yoga.


Pak Santosa mengulurkan air mineral, "Sudah?"


Aku hanya menyengir kuda sambil membuka tutup botol.


"Habis ini kita jalan-jalan dulu ya, Pak. Ke kampus." pintaku sebelum aku meminumnya.


"Aku mau beli cilok rasa rindu." jelasku lagi.


Pak Santosa merogoh ponselnya dari dalam kantong baju safarinya, ia berjalan menjauh dan menghubungi Ayahanda.


Pasti dia mau meminta izin, aku di perbolehkan beli cilok atau tidak. Padahal cuma cilok, bagaimana jika Ayahanda tahu aku ingin jajan tahu gejrot dan semua makanan yang ada di kantin kampus. Pasti Ayahanda langsung memberiku dua ajudan lagi dan menjagaku dalam segala sisi.


"Boleh, tapi hanya lima ribu." kata pak Santosa setelah mendapat persetujuan dari Ayahanda, "Mau jalan sendiri, atau naik kursi roda?" lanjutnya lagi sembari menyiapkan kursi roda di hadapanku.


"Jalan saja."


Kami menuju lahan parkir. Dan bergegas menuju kampus dimana cilok rasa rindu menggelar lapak jualannya.


"Pedas manis, atau pedas gurih?"


"Hmm..., pedas manis biar seperti mas Kaysan."


Pak Santosa mengangguk, ia turun dari mobil dan membeli cilok rasa rindu pedas manis seharga lima ribu.


Saat ini aku sedang duduk-duduk manis di depan teras rumah, sambil beristirahat dari rasa lelah karena membawa perut buncit ku. Oh Dalilah, sebentar lagi kita ketemu baba, empat Minggu bukan waktu yang lama dan kita harus sabar.


Aku mengunyah cilok dengan senang hati, sambil tersenyum-senyum sendiri membayangkan rupa putriku nanti.


"Pagi-pagi udah jajan!" Suara menyebalkan itu datang dari mulut Sadewa.


"Ayahanda sudah mengizinkan, lalu apa salahnya."

__ADS_1


"Salahnya Mbak gak bagi-bagi." Sadewa berjalan menuju garasi rumah, ia sudah bersiap untuk pergi ke kampus, "Di cari Bunda disuruh mandi dan sarapan." katanya sedikit berteriak.


"Hmm..."


Aku masuk ke dalam rumah dan memanggil Bunda Sasmita.


"Iya cantik, ada apa?" Bunda Sasmita mengeringkan tangannya setelah selesai mencuci piring.


"Mas Kaysan tidak memberi kabar Bunda Sasmita?" tanyaku, karena aku tahu, Kaysan juga sering meminta kabar tentang ku dari Bunda Sasmita.


"Tidak cantik, kenapa? Ada masalah?"


"Masalahnya aku rindu. He-he-he."


Bunda Sasmita mencubit pipiku gemas, "Sabar ya cantik, Kaysan sedang menuntaskan tanggung jawabnya." Bunda Sasmita membelai rambutku, "Sekarang mau mandi dulu, atau mau Bunda buatkan sandwich?"


Aku menarik kursi dan menunggu Bunda Sasmita memanggang roti, "Habiskan dan mandi. Nanti ada maternity shoot dengan Ayahanda dan Ibunda."


"Bunda Sasmita tidak ikut?"


"Ikut."


Aku mengangguk dan menghabiskan sandwich buatan bunda Sasmita. Setelahnya aku mandi dan pergi menuju rumah utama untuk melakukan maternity shoot yang bunda Sasmita katakan.


Ternyata sejak kemarin Ayahanda sudah menyewa fotografer profesional dan make-up artist. Menyulap pendopo belakang menjadi studio foto outdoor dengan tema princess of Java alias semua pernak-perniknya dan printilannya tak jauh berbeda dari biasanya. Memakai kebaya, taburan bunga melati dan mawar putih, dan yang bikin aku kaget. Ayahanda juga menyiapkan balon berjumlah tujuh berwarna pink dengan tulisan


...D A L I L A H....


Rasanya aku ingin bertukar keluh kesah tentang Kaysan dengan Ibunda. Tapi melihat kondisinya sekarang yang tak memungkinkan, aku mencoba menundanya. Aku tak ingin membuat Ibunda yang sudah cantik dengan balutan kebaya berwarna merah muda ikut khawatir dengan kondisiku---kondisi Kaysan.


Momen maternity shoot dengan segala macam gaya sudah di abadikan kamera. Aku, Ayahanda, Ibunda, dan bunda Sasmita berganti untuk berfoto bersama. Tak luput, Mbok Darmi yang menjadi abdi kinasih ikut serta dalam momen membahagiakan ini.


*


Setiap fajar yang berganti, semakin menumpuk rindu yang mengusik hatiku.

__ADS_1


Setiap fajar yang berganti, aku slalu berharap agar waktu cepat berlalu dan menemukan kembali jalan rindu. Karena aku tak ingin terlena dengan kesepian yang membuatku semakin hanyut dengan perasaan kalut.


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2