
Belum juga kami puas melepas dahaga akan kerinduan, anak ini sudah menginginkan semua perhatian jatuh padanya.
Dalilah berontak, ia bertingkah laku layaknya aku saat sedang menyaksikan konser metal. Ia mulai menendang hebat, berjingkrak-jingkrak, dan berputar-putar mencari jalan keluar untuk bertemu bapaknya yang ia rindukan.
Aku mengaduh kesakitan. Kaysan buru-buru mengetuk pintu kamar bunda Sasmita dan adik-adiknya. Kepanikan melanda Kaysan, wajahnya gugup dan tidak bisa mengontrol dirinya sekarang.
Semua lampu menyala terang, bagaikan serangan fajar, Sadewa mencari sumber kegaduhan yang terjadi.
"Ada apa ini, ada apa?"
Mata Sadewa berkeliaran, dan terpusat pada Kaysan yang kebakaran jenggot.
"Mas udah pulang dan sekarang kalian berdua mau pamer kemesraan?" tanya Sadewa dengan wajah masam.
"Rinjani akan melahirkan, siapkan mobil dan baju-baju gantinya!" ucap Kaysan menggebu-gebu.
Sadewa menghela malas, ia berjalan dengan malas menuju kamar Nanang. Istrinya siapa, yang repot siapa. Giliran enak-enak gak ajak-ajak. Huft... gumamnya terdengar ditelinga.
Aku tersenyum simpul, ku langkahkan kaki dengan tertatih untuk mengelus lengan Kaysan, "Sungguh wajah mas membuatku geli. Ayo tarik nafas dan keluarkan."
Kaysan menangkup pipiku, "Dalilah mau lahir dan kamu masih sesantai ini?" Kaysan sama sekali tak mengurangi raut wajahnya yang tegang.
"Lebih baik sekarang mas bantu memandikan bubu dengan air hangat."
Aku tersenyum. Mungkin Kaysan tidak pernah membaca artikel tentang cara menghadapi istri yang pecah ketuban sehingga kebingungan melanda dirinya.
Kaysan menghela nafas, ia kembali mengetuk pintu kamar Bunda Sasmita tanpa memperindah gagasanku.
"Bun... Bangun Bun... Jani pecah ketuban!!!"
"Sabar mas, sabar." ujar Sadewa yang langsung menyelonong masuk ke dalam kamar bunda Sasmita.
"Bunda lagi sholat, lebih baik mas memandikan Mbak Jani dan sholat subuh."
Kaysan mengatur nafas dan kembali menatapku, "Maaf." ucapnya sembari mencium keningku.
"Gendong... kata dokter kalau pecah ketuban tidak boleh banyak jalan."
Tanpa berpikir panjang, Kaysan lalu membopongku masuk ke dalam kamar Nanang.
Ia melucuti pakaianku setibanya di kamar mandi, "Andai masih ada kesempatan satu hari untuk menyentuhmu, dik." Kaysan mengatur temperatur suhu air shower, "Anak mas yang pengen buru-buru ketemu Bapaknya. Dia kangen berat, makanya udah buru-buru pengen keluar." kataku sambil melepas kancing baju Kaysan satu persatu.
"Masih ada kesempatan untuk mandi berdua."
Ketubannya memang sudah pecah karena terhimpit pelukannya, tapi kontraksi masih belum terjadi secara drastis.
Kaysan mulai mengguyur tubuhku dengan air hangat, tangannya dengan lembut membersihkan tubuhku.
Setiap lekukan tubuhku ia resapi dalam-dalam, "Apa sudah keluar ASInya?" tanya Kaysan. Ia menatap dengan seksama kedua payudaraku yang lebih besar dari sebelum aku pulang. Bahkan pucuknya tampak semakin menonjol dan membuat Kaysan menelan salivanya.
"Coba mas remas." Kaysan menatapku penuh tanda tanya.
"Pelepasan akan membuat kontraksi rahim cepat terjadi, dan itu akan memudahkan bayinya mencari jalan keluar."
Gayung bersambut, Kaysan yang sudah tak bisa menahannya lagi menangkup payudaraku dan meremasnya pelan, "Sudah lama." katanya dengan suara serak.
__ADS_1
Tanganku menyusup ke dalam celananya, "Bubu cuma bisa bantu pegang dan mengelusnya."
Kaysan mengangguk mantap, tangan kanannya melepas celananya dan tangan kirinya masih meremas buah dadaku.
Keadaan ini berlangsung selama dua puluh menit, susah sekali mengeluarkan calon adik-adik Dalilah dari lubang kecil milik Kaysan. Tanganku hampir pegal, dan kontraksi semakin menjadi-jadi saat nafsuku sudah merayapi tubuhku.
Aku sudah tidak sanggup, dibawah guyuran shower Kaysan melanjutkan sendiri kegiatan. Aku membasuh tubuhku dan membelitnya dengan handuk.
Di dalam kamar, sudah ada bunda Sasmita yang melihatku dengan khawatir. Aku tersenyum getir.
"Maaf, bunda. Suka kebablasan."
Bunda Sasmita menggeleng tanpa membahas kejadian barusan.
Dengan sigap bunda membantuku untuk berkemas diri.
Selang beberapa menit, aku sudah berada di kursi roda. Semua sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit termasuk Kaysan yang sudah menyelesaikan ibadahnya.
Jalanan masih terbilang sepi, dengan mudah mobil melesat cepat menuju rumah sakit.
Tidak ada yang bersuara, karena semua sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Kaysan yang cemas sembari menggenggam erat tanganku, bunda Sasmita yang membawa mobil dengan ugal-ugalan, dan si kembar yang ikut terjebak dalam situasi mencengangkan.
Tiba di rumah sakit, dokter langsung melakukan observasi kala 1 untuk memeriksa pembukaan serviks. Biasanya jika Kaysan yang sering memasukkan jarinya, kini ada jari lain yang menyusup ke dalam lubang intimku. Aku takut, malu, tegang, dan semua rasa yang bercampur aduk menjadi satu.
"Baru bukaan tiga, ndoro ayu. Kita USG sebentar untuk melihat posisi janin, kepalanya sudah ada di bawah atau belum." Aku mengangguk pasrah dan menyerahkan semuanya kepada sang ahli.
Tak ingin membiarkan aku berjuang sendiri, Kaysan terus berada di sampingku, ia terus mengamati proses yang di lakukan oleh sang dokter. Tanpa rasa malu, ia terus mengecup punggung tanganku. Seakan ia ingin menebus kesalahannya karena banyak halaman kosong yang ia lewatkan.
"Semua bagus, tinggal menunggu proses bukaan lengkap. Namun, jika air ketuban hampir habis dan bukaan belum lengkap, kita harus melakukan proses operasi caesar. Observasi kami lakukan satu jam lagi."
Bunda Sasmita dan si kembar masuk ke dalam ruangan.
"Sarapan dulu Jani cantik istri mas Kaysan." ucap bunda Sasmita sambil membawa kantong plastik berisi makanan.
"Bunda..."
"Jangan nangis, please." Bunda Sasmita mengecup keningku.
"Melahirkan akan membutuhkan banyak tenaga, jadi kita sarapan dulu. Oke."
"Bunda..." Aku merengek lagi.
"Jangan takut... jangan takut..." ucap si kembar. Mereka asyik melihat monitor yang menunjukkan gelombang detak jantungku.
"Naik, turun, naik, turun. Naik... Turun..." ujar Sadewa, ia terkekeh kecil seperti mendapat mainan lucu.
"Kalian sudah mau jadi Om. Hentikan kekonyolan kalian, ini di ruang sakit!" hardik Bunda Sasmita.
"Kami kan hanya mau menghibur Mbak Jani ndoro ayu kesayangan Ayahanda melahirkan." ujar Sadewa lagi, ia menatapku dengan tatapan menyebalkan.
"Hubungi Ayahanda dan Ibunda Juwita. Jangan lupa kabari mas Nanang untuk menyiapkan abdi dalem." Sadewa mengambil ponselnya sambil lalu, ia tampak berbincang dengan seseorang di layar telepon.
"Nanti setelah melahirkan dan mengurus bayi, untuk sarapan saja kamu tidak ada waktu. Sekarang buka mulutnya, biar bunda suapi anak bunda paling cantik."
Aku menurut karena menolaknya sama saja aku tidak menghargai kebaikan Bunda Sasmita semalam ini.
__ADS_1
"Bunda akan senang jika melihatmu tersenyum." Bunda mengelus perutku, dan menciumnya, "Baik-baik sama bubu ya, cucu Grandma." ucapnya lirih yang dibalas tendangan kecil oleh Dalilah.
Aku tersenyum dan kembali melanjutkan sarapan pagi.
Jarum jam terus berputar, dan memberikan efek dramatis dalam ruangan. Semua orang bersuka cita menyambut kedatangan keluarga baru Adiguna Pangarep. Tak terkecuali Ayahanda, sang eyang kakung yang membuatku berurai air mata. Banyak do'a-do'a yang di rapalkan selama menunggu bukaan lengkap.
Observasi sebelumnya baru menunjukkan bukaan lima, yang berarti masih menunggu lima bukaan lagi. Atau jika tidak, dokter akan melakukan tahap induksi melahirkan untuk merangsang kontraksi otot rahim agar semakin mempercepat pembukaan.
Aku menunggu, dan terus menunggu dengan cemas. Didampingi Kaysan yang tak lelah memberiku semangat. Ia tak peduli dengan tatapan jengkel adik-adiknya yang jengah melihat kelakuan Kaysan yang terus memberiku kecupan dan kata-kata mesra. Hingga induksi melahirkan benar-benar dilakukan.
Perutku semakin kram, dan aku tidak bisa lagi menahannya. Terlebih sudah ada darah yang bercampur dengan air ketuban yang keluar. Hingga induksi kembali di lakukan. Aku kelimpungan, rasa sakit mulai menjalar di sekujur tubuhku.
Perawat menyarankan untuk mengatur nafas sambil mengecek kondisi dekat jantung Dalilah.
Semua orang di minta keluar, kecuali Kaysan. Nakula menaruh tripod dan kamera untuk membuat rekaman video pribadi atas permintaan Kaysan.
"Belum waktunya mengejan ndoro ayu."
"Sakit..." Aku mencengkeram lengan Kaysan dengan erat, teramat erat hingga tubuh Kaysan condong ke arahku.
Dokter menekuk lututku, sambil melihat serviks yang mulai terbuka sempurna.
"Tarik nafas, hembusan."
"Tarik nafas, hembusan."
"Dengarkan aba-aba saya. Sekali sudah mengejan jangan sampai berhenti!"
Aku pasrah dan mengikhlaskan pada takdir Tuhan. Kaysan mengusap air mataku, "Baba sudah janji untuk menemani kalian. Sekarang waktunya bubu berjuang untuk buah hati kita." Kaysan mengecup keningku lama.
Dokter mengangguk, mengisyaratkan sudah waktunya untuk mengejan. Sekuat tenaga aku mendorong Dalilah untuk keluar. Berkali-kali aku mengatur nafas panjang dan mengejan kuat. Semua uratku menegang hebat, aku kesusahan untuk mendorong Dalilah keluar.
"Akuuu... gak kuat mas." kataku terbata-bata, keringat dingin membasahi tubuhku. Kaysan mendekap tubuhku.
"Dorong lagi ndoro ayu. Kepalanya sudah terlihat."
Aku mengatur nafas, dengan sisa tenagaku yang sudah menipis. Dengan cengkraman di bahu Kaysan, aku kembali mengejan kuat.
"Buat aku marah, mas. Buat aku marah!!!"
Jika aku marah aku akan mendapatkan kekuatan lebih. Entah kekuatan untuk menyerang atau melawan.
Kaysan menangkup wajahku dan mengecup bibirku.
"Jika ini bisa membantumu, aku akan berkata sejujurnya. Jika waktu di Australia aku berkencan dengan wanita lain selain dirimu. Anne, anak didikku."
Sekejap ruangan bersalin menjadi hening. Benarkah? Atau Kaysan hanya membual untuk memancing emosiku.
Aku menatap Kaysan sekilas, pikiranku berkecamuk. Kembali teringat jika Kaysan adalah calon Raja yang bisa saja mempunyai istri lagi ataupun gundik. Ku dorong bahu Kaysan. "Pembohong!!!" Aku menangis bercampur dengan semua rasa sakit yang menghantam perutku. Dalilah menggeliat hebat.
"Dorong bu...dorong terus... Jika tidak bayinya akan keracunan air ketuban."
Berbekal rasa sakit yang luar biasa bertubi-tubi, aku mencengkeram sisi ranjang dan mengejan kuat.
Aku tak peduli bagaimana setelah ini, yang penting bayiku lahir dengan selamat.
__ADS_1