
Di pendopo belakang, Nanang sudah membawa koper besarnya. Seakan-akan tak pernah datang kesini lagi, Nanang dan Ayahanda begitu mendramatisir suasana. Mereka saling beradu kalimat-kalimat perpisahan, hingga suasana pagi ini terasa sangat menyedihkan. Aku, Kaysan dan si kembar melihat ayah-anak itu sambil melempar pandang dan mengangkat bahu.
"Tidakkah Ayahanda bisa bertemu BRM Nanang di rumah bunda Sasmita." Sadewa angkat bicara, kedua ayah-anak itu menoleh ke arah Sadewa, "Ampun... ampun..." Kedua telapak tangan Sadewa mengatup. "Sadewa tidak bermaksud menyuruh Ayahanda. Tapi mas Nanang hanya pulang ke rumah lama, begitu juga dengan kami nanti Ayahanda."
Aku bersembunyi dibalik bahu Kaysan, bermaksud untuk menghindari tatapan mata Ayahanda.
"Putriku Rinjani." panggil Ayahanda.
Hatiku berdegup kencang, pasti akan ada sesuatu yang krusial untuk dibicarakan.
"Dik Jani, dipanggil Ayahanda." Kaysan menepuk pahaku.
"Eh... iya mas." Aku mulai merangkak mendekati Ayahanda. Disana Nanang masih duduk bersila di hadapan Ayahanda. Aku mengatupkan tangan, "Sendiko dhawuh, Ayahanda."
"Kalian berdua ikut Ayahanda ke pendapa agung." Aku mendongak, bukan bermaksud melawan arus. Hanya saja pagi ini aku ada jadwal kuliah. Aku mengatupkan tangan, "Ayahanda, apa Rinjani bisa ke pendapa agung setelah selesai kuliah? Maaf Ayahanda." Aku menunduk saat Ayahanda hanya menggelengkan kepalanya.
"Baik Ayahanda."
"Putraku Kaysan, berilah izin untuk putriku membolos kuliah." titah Ayahanda yang langsung di sanggah oleh Kaysan.
"Rinjani harus kuliah Ayahanda, ada beberapa tugas yang harus di kumpulkan hari ini." jelas Kaysan.
"Ayahanda yang akan memberinya pelajaran langsung. Pergilah, Ayahanda akan mengembalikan istrimu secara utuh." Aku menutup mulutku menahan tawa, memang Ayahanda mau mengambil apa dari tubuhku, hati? Hati yang terkadang gamang menerima keadaan ini.
"Apa ada yang lucu putriku, Rinjani?" tanya Ayahanda. Aku tak bisa berkata apa-apa selain hanya membuat keadaan ini tak setegang menghadapi pak Rahmat,
"Ayahanda harus berjanji untuk mengembalikan Jani secara utuh, jika tidak..." Aku menunjuk Kaysan dengan jempolku, "Kangmas Kaysan akan marah."
"Secuil pun tak boleh?" Kaysan dan aku menggeleng bersamaan, Ayahanda tersenyum lebar, "Baiklah putra dan putriku, sudah saatnya kembali ke tangung jawab masing-masing." Kami berlima mengangguk dan mengatupkan kedua tangan di depan wajah.
__ADS_1
Selepas Ayahanda undur diri, kami berlima berkumpul, "Apa aku melakukan kesalahan?" tanyaku heran. Sedangkan Sadewa menyeletuk dengan senangnya, "Pendapa agung adalah tempat paling ngeri. Hati-hati." Sadewa mencoba meracuni pikiran ku, "Pendapa agung bukan sembarang tempat." lanjut Nakula.
"Mas benar begitu?" Kaysan mengangguk, "Nang, jaga Rinjani."
Aku menatap Kaysan dan Nanang secara bergantian, "Aku bukan barang titipan mas!" sungutku.
"Aku tidak bisa mendampingimu Rinjani, aku harus ke kampus untuk mengurus surat izinmu."
Kaysan membelai rambut ku. "Nanang akan membantumu, karena disana kamu harus mematuhi aturan dan tata karma yang ada, berbeda dengan di rumah." jelas Kaysan. Selanjutnya bibirnya mengecup keningku.
Sudah sering aku katakan, ada rasa getir dan bahagia yang berukir dalam setiap senyumnya. "Mas hati-hati ya, jangan tergoda ayam kampus. Ingat! Mas hanya miliku." kataku.
edangkan ketiga adik Kaysan hanya berdecih, sudah sering kedua kembar itu melihat tontonan yang monoton. Mencium kening, bergandengan tangan. Mereka tidak tahu jika kami berdua memiliki duri dalam daging yang kapan saja siap menghunus pada lubang penderitaan.
*
Aku dan Nanang bersiap. Kali ini kami tidak pergi berdua, kami di tunggu oleh Ayahanda di pelataran parkir.
Astaga! mendadak aku rindu bapakku, Herman. Bagaimana kabarnya sekarang, sudahkah ada wanita bule yang meluluhkan hatinya. Atau, hatinya sudah membeku seperti glester di kutub selatan. Entah.
"Putriku, sudikah kiranya kita bertiga nonton bersama di rumah BRAy Sasmita." Aku menatap Nanang, ia hanya mengangkat bahu seakan tak mau ikut campur dengan permintaan Ayahanda.
"Maaf Ayahanda, bukankah tadi izinnya untuk pergi ke pendapa agung?"
Ayahanda menyingungkan senyum, "Ayahanda ingin menikmati waktu bersama di paviliun Rinjani." Aku menunduk, akal-akalan apa lagi ini, "Baik Ayahanda. Rinjani akan menurut."
Waktu terus berjalan. Sesekali aku menatapnya sendu. Nanang hanya diam saja, ia memilih mengedarkan pandangannya ke luar jendela.
Tiba di pelataran parkir rumah bunda Sasmita, hatiku semakin tidak menentu. Ingin sekali aku mengeluarkan pertanyaan demi pertanyaan yang sedaritadi hanya berkubang di kepalaku. Apa maksud Ayahanda dengan kebohongan ini, bagaimana jika Kaysan mengetahui jika ia menjadi korban skenario pagi ini.
__ADS_1
Bunda Sasmita menyambut kami berempat di depan teras rumah. Senyumnya mengembang, tatkala mendapati putra sulungnya sudah kembali ke rumah. Bunda Sasmita mencium punggung tangan Ayahanda.
"Kangen aku mas." ucap Bunda Sasmita sambil merentangkan kedua tangannya. Ayahanda mendekap bunda Sasmita,
"Bontot harus bersabar." ucap Ayahanda.
Aku menunduk sambil tersenyum melihat keluarga ini, kenapa manis sekali, seperti tak pernah terjadi perselisihan diantara kelima istri Ayahanda, begitu juga pemeran utamanya. Bagaimana Ayahanda bisa bersikap seperti ini, apa Ayahanda bisa bersikap adil dengan semua istrinya. Aku menggeleng cepat, aku tidak mau menerka-nerka sendiri praduga yang terkadang salah persepsi.
"Apa kalian tidak ikut berpelukan bersama kami, kemarilah anak-anak ku." Bunda Sasmita dan Ayahanda menarik lenganku dan Nanang secara bersamaan. Aku terpaku, pada satu sisi dekapan ini layaknya seperti dekapan sebuah keluarga yang utuh. Hangat tak terperikan, sehangat asmara yang kian membara.
"Jadi sekarang Ibunda punya teman untuk sarapan bersama?" Kami berempat melepas pelukan, Ibunda memulai percakapan untuk melepas lengang. Nanang dan Ayahanda masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Aku bergeming, rasanya seperti de Javu, kali pertama aku menginjak teras rumah ini, adalah saat satu bulan hari jadian dengan Nanang. Nanang begitu gembira mengenalkan aku dengan bunda Sasmita.
Ibunda menarik tanganku, "Cantik ayo masuk, ini juga rumahmu."
"Hah..."
"Cantik, jangan bengong. Nanti disambet Nanang seperti waktu itu, mau?"
Wajahku tersipu, disambet maksudnya dicium.
"Rumah Bunda benar-benar akan terbakar api cemburu, mau?" ujarku yang dijawab gelakan tawa Bunda Sasmita, "Ini rahasia, sebentar lagi si kembar akan kemari." Bisik Bunda Sasmita seakan takut jika Kaysan akan mendengarnya.
Bunda Sasmita merangkul bahuku. Kami berdua berjalan beriringan masuk kedalam rumah. Ruang tamu ini bernuansa klasik, dindingnya di cat dengan warna putih, berderet-deret pigura terpajang rapi menempel di dinding. Potret lawas we ware bare dengan Ayahanda dan Ibunda seperti keluarga pada umumnya, mesra dan harmonis.
"Beginilah kehidupan kami, cantik. Bunda sebagai istri paling bontot harus nrima ing pandum." [ Sikap menerima, bersabar dan bersyukur atas semua yang sudah diberi dan yang telah terjadi ]
Bunda Sasmita menjelaskan satu persatu foto-foto yang terpajang di pigura. Nanang saat kecil begitu mengemaskan, apalagi Nakula dan Sadewa. Aku paham, sepaham-pahamnya, jika mereka bertiga saat kecil pasti sering berebut mainan. Terlihat selisih diantara mereka hanya dua tahun.
"Genetika di keluarga kami sangat sulit untuk memiliki anak perempuan. Semoga hadirmu menjadi bunga yang cantik, yang menyebarkan aroma keindahan dan kenyamanan." Bunda Sasmita menepuk bahuku, "Ayo Bunda kasih tahu dimana kamar Nanang saat ia menikmati kepedihan hatinya." Bunda tersenyum, bukan senyum bahagia, senyuman itu pasti pernah dihiasi tangis yang menderu-deru.
__ADS_1
Happy Reading ๐