
Makan malam bersama slalu menyenangkan saat sendau gurau dan petikan gitar beriringan menemani pesta barbeque malam ini. Di taman belakang, si koki amatiran Sadewa sudah sibuk dengan bara api dan alat pemanggang. Tangannya sibuk membolak-balik kan daging sapi dan sayap ayam.
Sedaritadi mulutnya bersiul mengikuti irama nyanyian, hatinya bak bunga-bunga yang sedang bermekaran. Harum semerbaknya mampu membuat siapa saja asik berada didekatnya, dia memang mentari yang tercipta di antara mendung. Koki amatiran satu ini sungguh menghidupkan suasana yang lenggang.
Beberapa minuman bersoda dan camilan ringan ikut mereka beli dari Queen Victoria Market. Nakula berubah menjadi bartender, Nanang menjadi tim penghibur, sedangkan aku menjadi tim penikmat. Aku lesu, percakapan dengan Kaysan tadi siang cukup meyakinkan ku untuk melakukan sayembara. Aku tidak mau semua orang kesusahan karena hubunganku dengan Kaysan. Aku tak mungkin bahagia diatas penderitaan orang lain, hanya semata-mata cintaku yang bertubi-tubi terhadap suamiku.
Kaysan dan bapak sibuk berbicara di dalam rumah, katanya bicara orang dewasa.
"Let's have a fun together, let's have a fun together." Sadewa bersenandung sambil menaruh sepiring sayap ayam di depanku, "Anak buahnya Parto."
"Bukan, Mbak. Anak buahnya Soneta group." Nanang memecah lenggang terlebih dulu, setelah ia selesai memetik gitar.
Aku tak menjawab, aku masih asik menatap langit Melbourne dengan lamunanku. Sejak tadi aku dirundung gelisah karena pikiranku. Aku takut apa yang menjadi keputusan ku nanti dianggap Kaysan justru meremehkannya.
"Mikul duwur mendhem jero." [ Menghormati setinggi-tingginya, memendam sedalam- dalamnya; terhadap orang tua ]
Aku menghela nafas panjang, "Hanya lima huruf yang susah di lakukan tapi mudah di ucapkan, 'sabar', apa ini yang kamu sembunyikan dariku, Nang?"
Nanang duduk di sampingku, "Jika kamu tau kebenarannya, memang dulu kamu mau pacaran dengan ku?" Setelah ku pikir-pikir, akhirnya kepalaku menggeleng, "Sebutkan alasannya?" tanya Nanang sambil mengunyah sayap ayam yang sudah di cocol dengan saus barbeque.
"Kita berbeda, bagai tuan dan babu."
Nanang menatapku lamat-lamat, lalu menaruh tulang ayam ke dalam piring. "Dua tahun aku bersamamu, aku tahu kamu, Jani. Sedalam apapun kamu menyembunyikan sesuatu, aku tahu dari sorot matamu."
Aku menunduk cukup lama.
"Tanpa kamu minta aku akan pulang bersamamu dan menghadap Ayahanda, permasalahan kalian ada sangkut pautnya denganku."
Ku lihat Nanang, "Ada bagian dari hatimu yang harus aku tahu, bagaimana perasaanmu sekarang?"
Nanang menengadah menatap langit malam. "Kita dulu putus baik-baik, dan yang aku harap kamu bisa mencari kekasih baru dengan orang yang tak aku kenali, tapi disayangkan." Nanang menghela nafas kasar, "Justru mas ku sendiri yang menjadi kekasihmu. Aku ingin marah, Jani. Bukan marah denganmu, tapi dengan keputusanmu menikah dengan mas Kaysan. Aku sakit melihatmu seperti ini, cahayamu seakan redup tak seperti dulu."
__ADS_1
Aku tersenyum getir, "Nang, apakah ini sulit untukmu?"
Lenggang sejenak.
"Kamu bahagia dengan mas Kaysan?" Laki-laki ini sedari dulu suka membalikkan pertanyaan, tak berubah.
"Jawab dulu pertanyaanku tadi? Kamu bisa menerimanya?"
"Sudah kamu putar piringan hitam yang aku berikan sebagai hadiah pernikahanmu dan mas Kaysan?" tanya Nanang.
Aku mengangkat bahu, "Masih ku simpan, nanti rusak." kataku sambil tersenyum lebar. "Itu tidak asli, selepas pulang ke rumah, putarlah, itu semua berisi lagu-lagu kenangan kita."
Aku mengepalkan jari jemariku, erat.
BUGH.
Ku tinju bahu Nanang, "Aku pikir itu benar-benar asli."
Nanang terkekeh, "Perlu perjuangan untuk bikin tanda tangan palsu itu, Jani. Kamu tidak tahu." Nanang tersenyum masam.
"Tapi cintaku dulu tidak palsu, asli made in my heart." Mata Nanang berbinar-binar. Aku tersenyum, "Nang, terimakasih."
"Betapa malangnya kisah cintaku, Mbak. Jika dibuat judul FTV pasti judulnya begini 'Mantan kekasihku menjadi istri kakak ku', ngenes banget."
"Nang, move on gih, ajak Nakula juga."
"Aku akan selalu bersamamu, melewati petualangan ini." Nanang menoleh, "Aku tahu caranya membuat Ayahanda luluh, Mbak." Lanjut Nanang lagi, "Apa?" tanyaku.
"Bund..." Kami menoleh saat Kaysan berdehem mengacaukan diskusi kami.
"Mas, sudah selesai berbicara dengan bapak?" tanyaku menyeringai.
__ADS_1
"Kamu sendiri sudah selesai berbicara dengan Nanang?"
"Kita adalah keluarga, bukan begitu mas?" saut Nanang.
Hening.
"Banyak orang 'makan gak makan yang penting kumpul', ini ada makanan tapi gak dimakan, apa aku terlihat seperti chef abal-abal, kalian takut memakannya" Sadewa mencegah keheningan, Nakula menuangkan air soda ke dalam gelas, "Jangan bawa masalah hati disini." celetuk kembar satunya.
Pesta barbeque berlanjut, petikan gitar terdengar lagi, kami berenam duduk melingkar. Bapak juga ikut bergabung bersama kami, begitu juga seorang guru yang mendampingi bapak disini.
Pernah suatu hari aku bermimpi memiliki adik dari rahim ibuku, tapi ternyata Tuhan memberiku sembilan adik sekaligus dari rahim yang berbeda-beda. Ku lihat Nanang, sesekali ia menatapku sambil tersenyum kaku, Nakula memilih diam, dan Sadewa yang bersiul riang. Jika mereka bertiga berjalan, mereka layaknya animasi we ware bare, tapi versi manusia dan berbadan kurus, dan aku adalah Chloe. Gadis kecil yang butuh perhatian dan perlindungan.
Situasi ini membuatku senang sekaligus menyedihkan. Aku senang bisa bertemu Bapak, aku senang bisa bersama Kaysan, sedaritadi tadi dia memeluk pinggangku, memamerkan kemesraan di depan Nanang. Sungguh gaya cemburunya sudah seperti anak muda saja, dia seperti tidak mengingat umurnya sudah berapa, apa layak seorang calon Raja bertingkah seperti bocah ABG.
"Kamu kenapa sih mas?" Aku mendorong bahu Kaysan, menjauhkannya dari bahuku.
"Kebanyakan soda dan daging sapi, sepertinya kolesterolnya naik, Dik."
Aku melongo lalu tertawa, "Kamu ini mas, sudah ayo masuk rumah, jangan-jangan kena angin malam aja terus masuk angin." celotehku sambil beranjak dari duduk.
"Pak, Jani sama mas Kay masuk rumah dulu. Besok kita jalan-jalan di kebun binatang."
"koyo bocah, Mbak. Jalan-jalan neng Bonbin." seru Sadewa. [ koyo : seperti, neng : ke ]
"Biarin, yang penting mas Kaysan mau ke Bonbin, bapak juga, Nanang juga, kalau kamu mau lihat sumur lagi sana, biar timbilan." seruku sambil menjulurkan lidah.
"Sudah ayo mas. Besok jangan banyak-banyak makan daging sapi dan minuman bersoda, Rinjani tidak mau perut mas yang sixpack ini jadi buncit. Kalau buncit, fix, Rinjani benar-benar nikah sama om-om."
"Rinjani, yang sopan dengan suamimu." seru Bapak. Aku mengangguk, "Iya, iya."
"Masih ada dua jam lagi untuk bersenang-senang, setelahnya hentikan kegiatan, karena disini diterapkan jam malam." titah Kaysan terhadap ketiga adiknya yang masih asik berdendang.
__ADS_1
"Baik. Mas juga ada jam malam. Hentikan kegiatan saat kami semua akan terlelap."
Sadewa ini suka bener ya kalau ngomong ๐