Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 125. [ Main gundu ]


__ADS_3

Keesokan paginya adalah hal yang paling menyenangkan untukku. Dokter Vanya sudah memberiku izin untuk pulang ke rumah. Aku senang sekali, itu tandanya aku bisa bertemu suami asliku, sedangkan suami gadunganku sedang ke apotek untuk menebus obat yang harus aku minum secara teratur.


Aku merasa bersalah karena telah membuatnya kerepotan selama di rumah sakit. Tapi, akupun merasa senang, hadirnya Nanang menjadi seseorang yang menghiburku. Lewat candanya, seakan menunjukkan ia baik-baik saja.


"Mbak..." Aku benci panggilan itu!


"Udah selesai urus administrasinya?" tanyaku. Seorang perawat ikut masuk ke dalam ruanganku.


"Lekas sembuh ibu Rinjani, ingat ya, tidak boleh berhubungan intim dulu sampai kondisi rahim membaik." Perawat tadi melepas jarum infus yang terpasang di punggung tanganku.


"Sampai kapan, Sus?" tanya Nanang seakan-akan ia benar-benar akan melakukan hubungan intim.


"Tiga hari lagi ada jadwal kontrol, pastikan untuk datang." Aku dan Nanang mengangguk.


Perawat tadi keluar dari ruangan, menyisakan aku dan Nanang.


"Usai sudah sandiwara cinta kita." Nanang membantuku untuk berdiri,


"Nang... boleh aku melepasmu dengan pelukan?" Aku merangkulkan tanganku di lehernya. Sedangkan Nanang hanya terpaku di tempatnya, "Terimakasih karena Bunda Sasmita sudah melahirkanmu."


"Hanya itu saja, tidak ada kata-kata romantis lainnya?" Nanang membalas pelukan ku, "Terimakasih karena tidak hanya 730 hari aku bersamamu, sekarang ayo pulang, mas Kaysan sudah menunggumu di rumah." Nanang meletakkan tubuhku diatas kursi roda.


"Bagaimana dengan perutmu?" tanya Nanang, "Sudah lumayan." jawabku,


"Kalau gitu bawa sebagai barang bawaan, karena tanganku tidak cukup membawanya." jelas Nanang, seketika menaruh beberapa tas bawaan di pahaku.


"Banyak banget, bau lagi."


Nanang menggeleng, "Itu baju-baju kotormu."


"He-he-he... Maaf, kamu pasti jijik waktu membereskannya."


"Jijik sih enggak, muntah iya." selorohnya yang langsung aku maki-maki tidak terima. "Bilang saja gak ikhlas!"


Nanang tidak buka suara, ia asyik mendorong kursi roda hingga membentuk pola zig-zag. "Nang, ampun! Jangan sampai kita nyusruk tembok. Aku belum sembuh, Nang...!" Andai saja kursi roda ini tidak ia rem secara manual, aku dan Nanang sudah di giring ke kantor satpam karena membuat kegaduhan yang menyebabkan pot bunga hias nyaris menjadi korban atas kekonyolan Nanang.


"Ngawur."


"Lucu, Mbak. Kapan lagi ya kan, bisa mainan kursi roda. Jarang-jarang aku melakukan ini." Nanang tersenyum semringah.


"Bilang saja masa kecil kurang bahagia!"


"Kok kamu tahu?"


Nanang kembali melajukan kursi rodanya, menyusuri koridor rumah sakit hingga menuju parkiran. Kenyataan jika sedari kecil Nanang tak bisa bertingkah laku layaknya anak kecil membuat hatiku trenyuh, kelak anakku nanti akan mengalami hal yang sama seperti Nanang.

__ADS_1


Semua harus diasah sejak dini, agar Lestari lan ora luput marang budoyo [ Lestari dan tidak lupa terhadap budaya ]


*


Sesampainya di rumah utama, Kaysan menyambut ku di pelataran parkir. Harusnya sekarang masih jam kerja, tapi kenapa dia masih di rumah, pakai baju santai lagi?


"Aku langsung pulang, Mbak. Sampaikan salamku untuk Ayahanda dan Bunda Juwita." Nanang membuka bagasi mobil, membiarkan para abdi dalem mengambil barang bawaan ku.


Kaysan mengekorinya, lalu membuka pintu mobilku.


"Terimakasih, Nang. Bonusnya sudah aku kirim di rekening bank milikmu." kata Kaysan sambil membuka sabuk pengaman ku.


"Kamu dibayar mas Kaysan, Nang?" tanyaku tak percaya, ternyata ada kongkalikong antara mereka berdua.


"Uang jajan, Mbak. Masak iya 3x24jam aku hanya menerima ucapan terimakasih." ucap Nanang tersenyum lebar.


"Terimakasih, mas. Lain kali kalau di butuhkan aku siap." Nanang mengangkat tangannya, hormat. Kaysan yang jengah akhirnya membopong tubuhku keluar dari mobil.


"Hati-hati istri bohongan, jangan rindu." ocehan Nanang yang membuat dahi Kaysan berkerut.


"Jangan dengarkan, dia sama si kembar sama aja!" ucapku menenangkan Kaysan,


"Apa yang terjadi selama tiga hari yang lalu, semoga tidak merubah isi hatimu."


"Jani baru pulang, sebaiknya kita kangen-kangenan."


Tiba di dalam kamar, Kaysan membaringkan tubuhku dengan perlahan. Ia pun merangkak naik ke atas ranjang dan mendekap tubuh ku erat, "Aku akan mengganti waktu yang terbuang kemarin."


Seulas senyum mengembang di bibirku,


"Kangen ya, aku juga iya." Aku mengelus rambut Kaysan, ia terdiam dan merubah posisi tidurnya.


"Apa Nanang macam-macam?" Kaysan menatap langit-langit kamar.


"Aku dan Nanang tidak macam-macam, hanya saja, aku dan Nanang kemarin..." Kaysan menoleh, matanya menatapku tajam.


"Apa kalian main serong di belakangku? Jika iya katakan sejujurnya."


Senyumku semakin mengembang dibuatnya.


"Jani bosan berbaring mas, bantu Jani bersandar?" pintaku.


Dengan hati-hati Kaysan membantuku bersandar di sandaran ranjang, "Kalau masih sakit berbaring saja!"


Aku menggeleng, "Sini aku peluk." Aku merentangkan tangan ku, hanya saja Kaysan masih enggan membalas pelukanku. "Jawab dulu tadi!" katanya.

__ADS_1


"Istri baru pulang bukannya disayang-sayang malah diinterogasi, mas mau jadi polisi apa mau jadi suami aku?"


Kaysan tersenyum lebar, "Maaf istriku, aku hanya khawatir saja denganmu, dengan hubungan kita." Kaysan menangkup kedua pipiku dengan tangannya, selanjutnya ia mencubit kedua pipiku.


"Sakit mas!" Aku mengusap kedua pipiku, "Mas kenapa sih?" lanjutku.


"Jangan ada dusta diantara kita." Ku balas ia dengan menangkup rahangnya,


"Cemburu ternyata membuatmu sedikit cerewet ya mas." Aku mencubit hidungnya.


"Aku dan Nanang tidak main serong mas, tapi main gundu." candaku yang langsung dihujani berbagai macam pertanyaan,


"Gundu! Tidak mungkin ada gundu di rumah sakit!"


"Gundu punya Nanang." jelasku.


"APA!" Kaysan mengguncang bahuku, ada kilatan amarah yang terlihat dari sorot matanya, semakin ia cemburu semakin aku suka menggodanya.


"Ha-ha-ha, aku tahu apa yang kamu pikirkan, mas. Lucu, gemes. Sudah tua kalau cemburu seperti ini ternyata." Aku mencubit pipinya.


"Hanya bercanda, sekarang Jani lapar mas. Bisakah mas Kaysan menyuapiku?"


Aku sedikit merayu karena Kaysan hanya diam saja.


"Selama dirumah sakit, Nanang yang menyuapiku, dia juga yang membantuku minum obat." Aku tersenyum menggoda, nafas Kaysan semakin memburu. Dia beranjak dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar.


Selang lima belas menit, Kaysan datang membawa makan siangku. Dia menarik kursi belajarku untuk ia duduki.


"Setelah makan siang, temani Jani tidur siang ya mas. Tiga hari lagi juga ada jadwal kontrol. Mas temani, bisa?" Ku pikir-pikir membuat Kaysan cemburu saat ini adalah hal yang curang. Terlebih wajahnya ia tekuk.


"Tidak bisa, pergilah dengan Nanang saja." jawab Kaysan alakadarnya.


"Astaga, Jani hanya bercanda soal tadi, mas. Jani hanya mau menguji seberapa besar cinta mas Kaysan."


"Sebesar apapun cintaku padamu tak bisa kamu rasakan jika yang ada di pikiranmu hanyalah Nanang."


Aku menunduk, "Maaf." ucapku lirih.


"Ha-ha-ha, makanya kalau ada orang serius jangan diajak bercanda! Sudah ayo makan, setelah ini aku harus menemani istriku tidur siang."


Aku mengangguk mantap, "Ceritakan sewaktu mas Kaysan dirumah sendiri, apa mas Kaysan rindu? Kalau Jani, rindu sekali."


Kaysan tersenyum simpul, ia lantas mengambil sendok dan menyuapiku semangkok sup ayam dan tahu.


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2