
Sepulang dari Mall. Nakula masih menunjukkan wajahnya yang cemberut. Aku menyadari kekecewaan di hatinya. Gimana tidak, jika seharusnya ia membeli Nike Air Jordan dengan harga 70 juta, kini ditangannya hanya tertenteng sepatu dengan merk Converse dengan harga 799rb, itupun mendapat dua pasang. Kami membeli sepatu dengan model yang sama, itu maunya sebagai ganti rasa kecewa dihatinya.
"Nakul, besok Mbak traktir bakso beranak. Di dekat outlet mailbox. Enak." kataku menghiburnya.
"Bakso we, ora gumun." Langkahnya menjauhiku. [ Bakso saja, tidak heran ]
"Enak lho, ada bakso gorengnya. Banyak cewek-cewek sekolahan juga, kamu bisa sambil cari pacar." Aku berlari kecil mendekatinya.
"Wegah, Mbak. Aku terima sepatu ini, dan buang sepatu Mbak yang buntut itu." [ wegah : tidak mau ]
"Nakula, jangan marah. Mbak, minta maaf."
"Stop it, Mbak. Sudah sana." Nakula mengibaskan tangannya. [ hentikan ]
"Bilang dulu enggak marah?"
"Enggak!"
Aku mengulas senyum.
"Jangan kapok ya."
"Hmm."
Nakula pergi ke kamarnya, akupun juga.
Setelah selesai melakukan mandi besar dan ritus siangku dengan pemilik semesta.
Aku membelitkan kain jarik di pinggangku, setelahnya aku keluar kamar menuju pendopo belakang.
Tuniang Dewi seperti kemarin, menggunakan kain jarik dan kebaya, kini tangannya sedang memegang dupa cina. Mulutnya merapal Do'a seperti sedang melakukan sembahyang sesuai agamanya. Ya, Tuniang Dewi adalah seorang Hindu. Dalam tubuhnya sudah berlumur adat-istiadat Bali, begitupun kebangsawanan yang mengalir dalam darahnya. Sepertinya Sang Hyang Widhi dan dewa penari telah memberinya bakat untuk menjadi seorang penari sekaligus Kaum Brahmana yang disegani.
Aku menunggunya sembari duduk di pinggir kolam ikan. Ku lihat ikan ini gemuk-gemuk, terbesit ide jail untuk memegangnya. Tanganku sudah aku masukan ke dalam air, terlihat air mulai bergelombang. Tanganku berlarian mengejar ikan.
Aku semakin girang saat seekor ikan sudah berhasil aku tangkap.
Aku membawanya naik ke udara, ikannya megap-megap. "Kamu gendut, kebanyakan pelet." Aku berbicara sendiri. Ikan koi ini semakin menggelepar, semakin menggemaskan.
"Masukan ke dalam air, jika Mbak tidak mau di marahi mas Kaysan."
Nakula mendatangiku, dengan cepat mengambil ikan koi dan melepasnya ke dalam air.
"Kenapa?"
"Ikan peninggalan Mbak Nurmala Sari."
"Oh." kataku pergi menjauhi Nakula.
Pantas saja Kaysan slalu rutin memberinya makan, bahkan jika ada waktu lengang ia lebih memilih duduk di pinggir kolam sembari menatap ikan kenangan. Jadi ini alasannya.
__ADS_1
...Sesuatu membakar sebagian hatiku....
Ku temui Tuniang Dewi, beliau sudah selesai sembahyang. Kini beliau sudah bersiap dengan selendang biru yang ia kalungkan di lehernya.
"Tuniang mau menari?" tanyaku setelah duduk bersimpuh di hadapannya.
"Tuniang mau ngibing adikmu." Senyumnya mengembang, sedangkan Nakula tersenyum kecut.
"Ngibing, apa itu Tuniang?"
"Tarian joged Bumbung, tarian yang dibawakan dengan gaya centil, sedikit menggoda lawan penari. Kamu mau lihat sisi lain Nakula?"
Aku mengangguk, ku tatap Nakula yang menajamkan matanya ke arahku. Mungkin artinya tidak setuju. Tapi aku tidak peduli, coba kita lihat adik iparku ini apa pandai menari.
Diiringi suara tabuhan alat tradisional berupa bambu yang di putar melalui speaker aktif. Tuniang Dewi mulai melenggak-lenggok tubuhnya, begitu eksotis dan lemah lembut. Senyumnya centil menggoda Nakula, yang di goda tertekuk wajahnya. Aku tertawa kecil melihat Nakula. Tapi adik iparku tidak diam saja saat selendang sudah tergantung di lehernya. Gerak tubuhnya mulai menghentak lantai, mulai membalas kibingan Tuniang Dewi. Mereka menari dengan begitu epik.
Aku bertepuk tangan, terpukau dengan cara Nakula membalas godaan Tuniang Dewi. Cara menari yang masih menghormati Tuniang Dewi sebagai guru. Berkali-kali aku mengacungkan jempol untuk menyemangati Nakula, diwaktu yang sama Sadewa datang, duduk bersila di dekatku.
"Keren." katanya.
"Iya." kataku sambil bertepuk tangan saat Nakula dan Tuniang Dewi sudah menyelesaikan tariannya.
"Bagus banget, kamu ternyata luwes juga, Nakul. Top markotop."
Nakula hanya tersenyum tipis. Ibarat sedang melakukan ujian, ia berhasil mendapat nilai A+.
"Jathilan aja gimana, Tuniang?"
"Jathilan? Kamu memang tidak berubah!"
Tuniang Dewi menggeleng tidak percaya.
"Nakula, kamu bisa beristirahat. Sedangkan kamu Sadewa dan Rinjani. Ikutin gerakan tubuh Tuniang. Masih ingat gerakan dasar berjalan?"
"Ingat!" Aku dan Sadewa mengangguk mantap.
Tak ada tabuhan gendang atau iringan tembang. Hanya ditemani gemericik air mancur yang meluncur di kolam kenangan Kaysan dan Nurmala Sari.
Sambil berlatih berjalan, pikiranku berkelana sendiri. Semakin ku ingat semakin terbakar hatiku. Hingga aku tak menyadari sudah menabrak Sadewa dan Tuniang Dewi di depanku. Kami bertiga jatuh terjerembab. Aku ingin tertawa tapi inginku bukan begitu. "Maaf."
Nakula yang sedaritadi duduk melihat, membantu Tuniang Dewi untuk berdiri. Sadewa membantuku, "Hati-hati, Mbak."
Suasana mendadak jadi agak mencekam.
"Memang sulit menjadi penari, apalagi menjadi penari yang harus mematuhi pakem-pakem dan gerak yang sudah diatur. Tidak banyak yang bertahan, karena terkadang menjadi penari dianggap membosankan. Banyak yang mencemooh, apalagi menjadi penari ngibing sudah pasti banyak laki-laki nakal yang menggoda, melecehkan. Tapi kaidah-kaidah menari sendiri perlu kita lestarikan dan jaga. Banyak penari yang masih menjaga etika dan estetika dalam menari. Kamu tahu Rinjani, Tuniang sebelum seperti sekarang sudah melalui proses panjang sebagai penari."
Aku mengangguk. Menyesal sudah sembrono dalam berlatih menari. [ sembrono : tidak hati-hati ]
"Itu hanya salah satu tarian dari tanah kelahiran Tuniang. Tentu berbeda dengan tarian yang akan kamu lakukan, mimik wajahmu harus memancarkan pasemon atau pancaran jiwa. Tubuhmu harus tegak lurus tapi tetap gemulai, tetap rilex. Jangan tegang, kalau tegang dengan suamimu saja." Tuniang Dewi sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Satu lagi cah ayu. Berlatih menari itu harus Sawiji berarti fokus, konsentrasi penuh namun tanpa ketegangan.
Greged sebagai semangat yang terkendali, kesungguhan untuk mencapai tujuan.
Sengguh berarti rasa percaya diri tanpa kesombongan. Ora mingkuh sebagai ketangguhan, tetap bertanggung jawab dan tidak berkecil hati saat menghadapi kesukaran-kesukaran." Tuniang Dewi menepuk bahuku.
"Tuh, Mbakyu. Dengarkan, jangan cuma mikirin mas Kaysan pulang kapan." cecar Sadewa yang terkekeh kecil melihatku yang hanya manggut-manggut saja.
"Tuniang?" panggilku.
"Ada apa cah ayu?" jawabnya.
"Apa benar 5 are² sama dengan 1M?"
Tuniang Dewi tersenyum, lantas ia mengibaskan selendangnya.
"Sudah tahu masih tanya, 5 are² sama dengan 500 m². Tanah yang dibelikan suamimu akan Tuniang buat sebuah pura untuk sembahyang kasta sudra dan sanggar tari. Harusnya kamu bangga dengan suamimu cah ayu. Suamimu sudah memberikan modal besar untuk menjadikan banyak anak-anak menjadi penari sepertimu." [ kasta sudra : kasta terendah di Bali ]
"Nakul, sebenarnya berapa banyak uang yang dimiliki mas Kaysan?"
"Rahasia, kalau Mbak tahu pasti pingsan. Mbak, kan norak."
"Wah, bisa beneran ternak sapi metal aku. Ikan koi mah gak ada artinya. Nanti kita goreng saja."
"Bilang aja cemburu, ribet!"
"Cemburu tanda cinta."
"Jangan jadi sumbu pendek, dasar norak."
"Biarin, dasar jomblo!" Aku menjulurkan lidahku.
"Jomblo bebas." Nakula berlagak sombong.
Aku berdecih, "Gaya, gak inget kamu tadi habis..." Aku menjeda ucapku. Terlihat Nakula mendadak lesu.
"Dasar baperan." kataku sambil berusaha berdiri.
"Tuniang, ayo berlatih lagi."
"Tuniang ingin makan bakso beranak. Di dekat outlet mailbox."
Aku dan Nakula menepuk jidat, sambil melempar pandang. Sebelum akhirnya kami bertiga tertawa bersama.
"Apa yang kalian tertawaan?"
"Kamu, njathil sana." [ njathil/jathilan adalah tarian kesenian tradisional yg tersebar di banyak wilayah pulau Jawa dengan sebutan yg berbeda-beda ]
Happy Reading 💚
__ADS_1