Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Rumah ]


__ADS_3

Jauh di lubuk hatinya, Ayahanda merindukan kehadiran Kaysan disisinya.


Laki-laki yang kerap menaruh benih di lima rahim itu terkadang menikmati penyesalannya dalam kesendirian. Ada dahaga yang perlu ia hujani dengan air mata kerinduan.


Kamar Kaysan dan pendopo belakang tak ubahnya menjadi kenangan bisu yang begitu carut-marut di hati Ayahanda. Ada tawa yang menjelma menjadi tangis, ada tangis yang berubah menjadi lengang tak bersuara. Kilatan amarah itu datang, lalu berdiri tegak dihadapannya. Tertawa terbahak-bahak menyaksikan Ayahanda yang termenung menyesali perbuatannya.


"Sudah aku katakan, anakmu memiliki ambisi yang sama sepertimu!" Ibunda datang membawa setangkup bunga seperti yang sering diberikan oleh Rinjani.


Bunga yang sama, saat Ayahanda mendekati Sasmita sebagai wanita terakhir untuk mengucap janji suci.


"Putraku adalah laki-laki yang setia. Darahmu tak mengalir dalam darah putraku." Ibunda menaruh setangkup bunga itu dipangkuan Ayahanda.


"Kelak bunga itu akan berganti dengan darah daging yang menyerupai Kaysan dan Rinjani. Cucu pertamamu!" Ibunda berbalik. Ia meninggalkan Ayahanda yang termenung sambil mendekap erat setangkup bunga kenangan.


"Cucuku..." Ayahanda yang berwibawa kini luluh lantak dengan keangkuhan yang berdiri tegak menghancurkan segalanya.


Cinta, takhta, dan keluarga.


*


"Bagaimana ini?" tanya Sadewa.


Kepergian Kaysan dan Rinjani memicu masalah besar yang menyebabkan Ayahanda dan Ibunda sekaligus bunda Sasmita bertengkar. Ibunda yang merindukan Kaysan, dan Sasmita yang mengkhawatirkan Rinjani.


"Mas Kaysan pasti ke rumah pak Herman. Kamu ingat dimana lokasinya?" Dua kembar itu masih memata-matai Ayahanda dari balik jendela.


"Rathdowne street, Melbourne." jawab Nakula.


"Gimana, apa kita beri tahu Ayahanda? Kasian Ayahanda, sudah enam Minggu tidak di jatah Bunda." ucap Sadewa. Perihal jatah malam Sadewa dan Nakula pasti mengetahui. Terlebih memang ada jadwal tertulis dalam bersikap adil dengan semua istri.


"Biarkan saja mas Kaysan dan Mbak Jani disana. Biarkan mereka menepi sejenak." Nakula berangsur mundur. Ia memilih duduk di sofa sambil menunggu kedatangan tamu istimewa.


"Apa kamu yakin mas Kaysan dan Mbak Jani bahagia disana? Kalau mereka juga bertengkar gimana? Aku khawatir." Sadewa melempar senyum ke arah Nakula. Alisnya naik-turun mendapat ide cemerlang.


"Lalu mas Nanang?" tanya Nakula.


"Mas Nanang sedang pdkt dengan temannya Mbak Jani. Tidak usah diajak, nanti dia gak move on, makin ribet urusannya." Cibir Sadewa.


"Atur ajalah, kalau bisa weekend. Biar gak pada curiga."

__ADS_1


Nakula tersenyum mendapati tamu istimewanya datang membawa makanan kesukaannya.


"Modus!" Cela Sadewa, ia tahu betul jika Nakula sudah move on dan membuka hatinya untuk gadis lain selain Narnia.


"Brisik! Pergi sana ke kamar. Aku butuh privasi." ucap Nakula. Sadewa tersenyum manis, "Untung mempan, kalau gak jomblo seumur hidup!" Sadewa terkekeh melihat Nakula yang menajamkan matanya.


"Ah! Banyak cinta yang datang dan pergi. Kalau patah hati jangan lupa move on lagi." Sadewa menyaut satu cup jus alpukat yang terdiam diatas meja.


"Satu gelas berdua lebih romantis." Tawa Sadewa meledak melihat pipi sang psikiater memerah. Tersipu malu.


"Buat kamu saja, kak Risma." kata Nakula, ia tersenyum malu-malu.


"Ambillah gelas, kita bagi jadi dua." ucap Risma membalas senyum Nakula.


Dari balik tembok, Sadewa asik mengintip Nakula dan Risma.


Bibit mengintip sepertinya mendarah daging pada darah Nakula dan Sadewa. Entah Ayahanda atau Sasmita yang mengajarinya.


*


...Rathdowne village, Melbourne....


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Kaysan.


Ia menggendong Rinjani menuju singgasana cinta-kasur.


"Aku kangen mas." seru Rinjani yang masih tak ingin turun dari gendongan Kaysan.


"Kamu berat sayang. Turunlah." pinta Kaysan.


"Enggak!" Rinjani semakin mengeratkan pelukannya di leher Kaysan.


"Lepaskan, jika tidak aku akan kehabisan nafas." Kaysan dibuat kewalahan saat Rinjani masih asik bergelayut di tubuhnya.


"Sayang." Wajah Rinjani tersipu, "Apa?" jawabnya malu-malu.


"Kenapa?" tanya Kaysan lagi. Sikap Rinjani yang lebih manja dari biasanya membuatnya tak habis pikir. Rinjani yang biasanya harus di goda dahulu untuk melakukan persetubuhan, kini justru sudah memejamkan matanya. Ia mendongak membiarkan rambutnya tergerai bebas.


"Biarkan aku melepas tas ranselku, lalu kamu boleh melakukan apa saja dengan tubuhku." ucap Kaysan membujuk Rinjani-lagi. Rinjani menggeleng.

__ADS_1


"Istrimu hamil. Tadi pagi pergi ke rumah sakit dengan Herman dan Laura." Seloroh Mbah Atmoe yang mengetahui Rinjani tak sabar menanti kedatangan Kaysan. Ia ingin menggembor-gemborkan kabar gembira. Mbah Atmoe berdiri diambang pintu, menyaksikan kedua anak muda yang berputar-putar mengitari kebahagiaan. Kepalanya menggeleng, tak pernah kedua sejoli itu tak mengumbar kemesraan di muka bumi.


Terhitung setelah penyatuan terakhir. Ampas kopi tubruk itu sudah berubah menjadi zigot. Tak ada tanda-tanda kehamilan pada umumnya, hanya saja anak metal satu ini lebih sering melamun dan malas untuk bangun tidur. Sikapnya yang berubah menjadi manja membuat Laura lebih sering menemani Rinjani. Begitu pula Herman, ia lebih memperhatikan kondisi puterinya. Ada banyak yang perlu Herman perbaikan sebelum ia benar-benar menjadi kakek.


"Kita bakal punya bayi. Kita bakal punya anak, mas." ucap Rinjani. Senandung cinta terus ia lantunkan. Mata Kaysan berkaca-kaca, penantian lama akhirnya terwujud dalam rentetan peristiwa yang membuat Kaysan dan Rinjani saling bertahan.


"Turunlah, harusnya kamu tidak bertingkah seperti anak kecil." Rinjani cemberut, ia menurut untuk turun dari gendongan Kaysan.


"Terakhir kali, sebelum mas lebih memilih menggendong anak kita nanti." Wajah Rinjani masam. Dia pikir Kaysan juga akan bahagia menantikan hadirnya buah hati mereka.


Kaysan melepas tas ranselnya, "Pantas saja kamu tambah berat." Kaysan tertawa menggoda. Hal menyenangkan baginya adalah membuat bibir Rinjani cemberut, lucu batinnya.


"Kalau Rinjani gendut, mas Kaysan cari yang langsing?" tanya Rinjani.


"Tidak, kata teman-temanku ibu hamil justru lebih menggairahkan. Hmm..." Kaysan menyadari jika sedaritadi Rinjani hanya menunduk, tak seperti saat ia menyambutnya pulang.


"Kenapa lagi?" Kaysan berjalan mendekati pintu kamar. Ia menguncinya, karena tidak baik mengumbar kemesraan di hadapan Mbah Atmoe yang batang hidungnya sudah tak terlihat. Musim semi ini membuat kakek tua itu sering menghabiskan di pekarangan rumah.


"Harusnya kita membagi kebahagiaan ini dengan Ibunda dan Ayahanda." ucap Rinjani lirih.


"Kamu hanya perlu menjaganya sampai janin ini terlahir. Itu sudah cukup membuat kami semua bahagia." Rinjani tak sanggup melihat wajah Kaysan yang begitu manis. Kaysan benar-benar tidak bisa mengungkapkan semua rasa kebahagiaannya.


"Ada anugerah terindah yang hidup dalam jiwa wanita yang aku miliki. Kelak, dialah yang akan membuat kita tetap bersama, Jagalah." Kaysan menarik tubuh Rinjani.


"Maaf, bukan aku yang menemanimu ke dokter." ucap Kaysan menyesal. Ia mengeratkan pelukannya.


"Tidak apa-apa, mas." Rinjani tersenyum.


"Hanya saja temani Rinjani saat melahirkan nanti, Mas bisa?" pinta Rinjani penuh harap. Kaysan mengangguk.


Mereka saling menatap satu sama lain, seperti orang bodoh mereka tak tahu lagi harus mengungkapkan perasaan dan kebahagiaan dengan cara apa. Sejenak ada rasa yang tak bisa lagi dibendung oleh kata-kata. Kaysan menekuk lututnya, ia berjongkok sambil menyingkap kaos yang dikenakan Rinjani.


"Sudah berapa Minggu?" tanya Kaysan.


"Baru jalan tiga Minggu. Kata dokter, masih bahaya kalau mau ngaduk kopi lagi."


Kaysan menepuk jidatnya, "Puasa lagi...!!!"


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2