
Aku kan menjadi malam-malam mu
'kan menjadi mimpi-mimpi mu
dan selimuti hatimu, yang beku.
Aku kan menjadi bintang-bintangmu
'kan slalu menyinarimu
dan menghapus rasa rindumu, yang pilu.
*
Nafas kami tersengal-sengal, bahkan udara serasa hilang seketika. Kamar ini menjadi semakin panas, bringas, dan tak terkendali.
Menjerit, tak pernah Kaysan dengarkan. Ia hanya mengecup bibirku, jika kata-kata dimulutku mulai meracau tidak jelas
"Sadar, mas. Sa-darrrr..." kataku terbata-bata.
Diatasku, keringat yang membasahi dadanya semakin membuatnya seksi. Lengannya terlihat kekar menumpu tubuhnya, sedangkan tangan satunya mengusap peluh yang membasahi dahiku. Pupil matanya terlihat kabur akan gairah yang menggelora. Aku salah, telah memancing singa jantan yang perlahan mengaung merasakan kenikmatan.
Aku tak mengerti kenapa percintaan ini begitu panas, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengerti. Persenggamaan memang salah satu bagian penting dalam hidup seorang laki-laki. Tidak heran jika masa SMA dulu banyak teman-teman disekolah sering mencari colongan untuk melihat bokep diam-diam. Mereka bilang, untuk latihan.
Aku sudah kehilangan semuanya. Tubuhku lemas, tulang-tulangku sudah lepas dari poros-porosnya.
"Mas, nanti Jani hamil!"
"Sssstt..."
Kaysan menaruh jari telunjuknya di bibirku, "You're so cute, Rinjani, So pretty." Kaysan mencium keningku, "Sebentar lagi, aku begitu gemas dengan tubuhmu yang mungil ini." Suaranya terdengar serak, hentakan tubuhnya mulai melambat.
"Sakit mas..." Air mataku meleleh lagi.
"Jangan menangis lagi, Rinjani." Hentakan begitu cepat sehingga. Aku menjerit, tubuhku menggeliat hebat hingga akhirnya buram.
*
Ku cium aroma terapi di hidungku, semerbak minyak kayu putih ku endus pelan-pelan. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, berat. Mataku rasanya bengkak, bahkan tak terbuka sempurna.
Ku lihat Kaysan menatapku dengan khawatir, tangannya tak henti-hentinya memijit lenganku, mengelus pipiku dengan pelan.
"Mas..." panggilku lirih, Kaysan mendekatiku dan mencium keningku.
"Maaf, Rinjani. Maafkan aku." Kaysan menggenggam tanganku sambil mencium punggung tanganku berkali-kali, "Maaf." ucapnya berulangkali.
"Mas..."
Kemilau matahari menyusup melalui celah jendela. Cahayanya terang benderang, kicauan burung juga terdengar bersahutan diluar kamar.
Aku berusaha mengingat-ingat sebelum mataku buram dan tak sadarkan diri.
"Mas, maaf." Aku menunduk, "Maafin Jani ya mas."
Kaysan menarik tubuhku ke dalam pelukannya, "Aku khawatir denganmu, Jani. Ini sudah hampir jam dua belas siang, kamu tak kunjung sadar."
Aku terbelalak bukan karena semalam aku pingsan karena diserang Kaysan. Aku terkejut karena aku tak pakai baju dan tidur lama sekali, aku seperti melakukan balas dendam.
__ADS_1
"Maafin Jani, Mas. Jani sudah buat mas khawatir. Jani juga tidak membuatkan mas teh tawar hangat." Aku menunduk, belum dua hari aku menjadi istri, aku sudah tidak mematuhinya.
"Rinjani, aku lebih khawatir dengan keadaanmu. Bahkan Indy juga merasa bersalah karena sudah menganggapmu tidak perawan."
"Maafin Jani."
"Ehmm!"
Pintu kamar terbuka, Indy terlihat masuk dengan membawa satu nampan berisi sepiring makanan dan segelas air putih. Terlihat juga sebungkus obat-obatan.
Dengan cepat aku menyembunyikan tubuhku di bawah selimut. Bibirku tersenyum kaku, "Indy, maaf merepotkanmu."
"Benar-benar merepotkan, sudah semalam berisik, ditambah pingsan. Kamu tahu gak, mas Kaysan benar-benar panik. Bahkan menyuruhku untuk membawa tubuhmu yang telanjang itu ke rumah sakit. Gilakan, bukannya selesai bercinta happy malah harus dibuat geger dengan dirimu yang pingsan."
Mataku membulat, jadi Indy tahu aku sekarang masih dalam keadaan telanjang. Bahkan dia semalam juga mendengar suara dari mulut kami berdua. Aku menatap Kaysan, lalu menatap Indy. "Maaf Indy, sebenarnya aku juga gak mau pingsan. Tapi aku gak kuat." kataku tanpa rasa malu.
"Mandi sana. Jam segini belum mandi, jika Ibunda tahu kamu pasti dihukum. Bahkan mas Kaysan tidak suka cewek yang bau."
Aku pasrah, mau dikatakan bau badan atau abu mulut aku terima saja. Karena memang rasanya badanku sudah lengket penuh dengan keringat dan minyak kayu putih yang bercampur aduk menjadi satu. Aromanya jelas-jelas membuat lubang hidungku menjerit.
"Indy, kamu keluar dulu. Biar mas yang mengurus Mbakmu." Kaysan memberi kode dengan mengibaskan tangannya.
"Mas juga gak kira-kira, badan udah segede Hulk gitu main sama bocah lama-lama." Indy menggeleng, "Aku percaya, jika bocah ini masih perawan. Mending mas simpen ini seprai buat kenang-kenangan malam pertama kalian." Indy menepuk-nepuk seprai sambil tertawa cekikikan.
"Nanti bakal mas museumkan, sekarang kamu keluar dulu." pinta Kaysan, sedangkan Indy melenggang keluar kamar.
Mulutku melongo lebih tepatnya menganga tanpa suara. Kini Kaysan berjalan mendekati pintu kamar dan menguncinya.
"Mas, tidak minta lagi, 'kan?"
Aku mengangguk.
"Itu apa Jani, jelaskan lebih spesifik?"
"Mas!"
"Mana lagi yang masih sakit?" Terlihat Kaysan mulai menggodaku, menarik selimut yang menutupi tubuhku.
Ku cengkram selimut yang sudah tak beraturan bentuknya.
"Semua sakit mas, semua rasanya remuk." Aduku pada Kaysan sambil menunjuk semua bagian yang terasa pegal.
"Setelah mandi nanti aku pijitin."
"Jani gakmau di tusuk-tusuk lagi!"
"Tusuk-tusuk?"
"Iya, tusuk-tusuk itu bikin Jani pingsan. Bikin Jani nyaris demam."
"Hahaha, tusuk-tusuk. Kamu kira daging sate. Harus ditusuk."
"Mas!"
"Cup, cup, cup. Kasian sekali istriku, meski badanmu kecil dan terbilang ramping. Aku cukup dibuat kewalahan menghadapi situasi semalam. Ah, sudahlah. Ayo aku mandikan. Badanmu pasti sudah seperti lem lalat."
"Lem lalat?"
__ADS_1
"Iya lengket dan berbau, jadi minta dihinggapi lagi."
Bahuku terangkat, "Kenapa harus lalat mas, menjijikkan." Wajahku menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Lalat tak slalu dipandang buruk Rinjani, meski keberadaannya mengganggu tapi dia cukup bermanfaat."
"Apa manfaatnya?"
"Pengurai sisa-sisa kehidupan, sudah cukup. Waktumu mandi dan makan."
"Gendong mas, sesuatu masih mengganjal disini. Seperti tusuknya belum mas cabut."
Kaysan tergelak, "Sudah aku cabut dan aku simpan tusuknya."
Ku rangkulkan tanganku dilehernya, saat Kaysan mulai mengendongku menuju kamar mandi.
"Hanya denganmu aku seperti kehilangan jati diri, Rinjani. Lihatlah dadamu penuh dengan tanda cintaku yang berbentuk abstrak." Aku tertawa kecil, ingin ku gigit lagi bibirnya yang terlalu jujur ini.
Kaysan menaruhku disisi bathtub, sambil menunggu air hangat di dalam bathtub penuh. Kaysan berlutut dibawahku, tangannya memeluk perutku.
"Bersabarlah dua tahun saja, nanti akan ku isi rahimmu dengan benih-benihku." Kecupan berlabuh di perutku.
"Mas, berdirilah. Aku tak mau menodai kehormatanmu jika seperti ini. Berdirilah, aku mohon mas." kataku mengiba, "Jangan seperti ini, nanti Jani dimarahi Ayahanda dan Ibunda."
"Hanya ada kita berdua, tenanglah."
"Enggak bisa tenang!"
Aku menahan bahu Kaysan. Kepala Kaysan menengadah, "Sulit Rinjani untuk tidak melakukannya." Kabut gairah terlihat dari sorot matanya.
"Apa pria dewasa seperti ini, pantas saja mas buru-buru menikahiku. Aku takut nanti menjadi remukan peyek. Gurih tapi tak berbentuk."
Kaysan tersenyum, lalu berdiri.
Seperti biasanya, ritus mandi adalah ritus menyenangkan baginya, sedangkan aku hanya bisa menunduk malu.
"Disitu masih sakit, jangan lama-lama."
"Iya."
Tak sampai disitu, setelah membilas tubuhku Kaysan menyuruhku untuk berendam ke dalam bathtub.
"Berendam air hangat akan melancarkan peredaran darahmu, Jani."
"Kasih garam sekalian mas." kataku.
"Untuk apa?"
"Untuk menambah khasiat melancarkan peredaran darah."
"Tidak ada garam disini, sudah nikmati saja yang ada." kata Kaysan sambil melepas kaos hitam yang ia kenakan.
"Iya, lalu untuk apa mas juga membuka baju?"
"Menemanimu."
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah kasih vote, salam Rahayu ๐
__ADS_1