
"Silahkan diminum mas." kataku sambil menaruh cangkir teh di hadapan Kaysan.
"Duduklah, Rinjani. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
Aku mengangguk, "Akupun begitu, mari kita bicarakan."
*
Berbulan-bulan sudah aku tinggal dirumah ini. Tak ada yang berubah sejak kedatanganku, Ayahanda tetaplah menjadi sosok yang sulit aku rangkul, aku kesulitan menebak semua kata yang keluar dari mulutnya. Entah titah ataupun peraturan semua sudah aku kerjakan dan aku patuhi, tapi semua tak merubah keadaan disini. Ayahanda tetaplah menjadi sosok dingin untukku, aku benar-benar kehilangan kasih sayang dari seorang 'bapak', Ibunda tak lebih dari tameng yang memisah antara aku dan Ayahanda. Ibunda slalu memegang tangan kiriku, sedangkan tangan kirinya memegang tangan Ayahanda. Seakan melerai dan mengajak kita untuk melangkah bersama. Ibunda tetaplah menjadi Ibunda, dengan sifatnya yang sulit aku tebak , 'pun aku tak bisa menduga-duga apa yang Ibunda rasakan. Ibunda sudah menelan pil pahit pernikahan, sedangkan beliau masih berdiri tegar, tak mempertontonkan kesedihan atau nelangsa yang berlebihan. Dialah panutanku sekarang.
Aku belajar les kepribadian, semua berisi cara mengendalikan diri, cara berbicara dengan baik dengan tatanan bahasa yang benar, begitu juga cara berjalan dan cara menghormati orang lain. Semua membentuk pribadi ku sekarang, lambat laun aku kehilangan jati diriku yang sebenarnya. Saat dirumah aku berusaha menjadi pribadiku yang lain, pribadi yang masih sama denganku tapi dalam sisi yang berbeda. Aku seperti memakai topeng.
Aku telah sadar melakukannya, itu semua semata-mata hanya aku tak mau membuat air yang tadinya tenang menjadi keruh.
Jika dirumah aku mulai membiasakan diri mengganti celana yang biasa aku kenakan dengan kain jarik, dari les kepribadian yang aku dapat, aku terapkan dalam les menari, semua berkaitan, dengan baik aku mulai bisa menggerakkan tubuhku mengikuti pakem-pakem dasar menari. Meskipun terkadang aku masih kesusahan dalam mengingat gerakan yang beruntun.
Selayaknya seorang istri aku masih melayani Kaysan dengan baik, tak jarang justru aku yang memintanya. Jika dulu aku sering dimandikan Kaysan, kini semua keadaan justru berbalik. Aku menghormatinya layaknya abdi-abdi dalem yang tunduk padanya, tapi aku mengabdi menjadi seorang istri sekaligus ratu di masa mendatang.
Tindak tanduk ku pasti akan menjadi buah bibir jika aku masih menjadi Rinjani yang dahulu.
Satu sisi dalam diriku tersenyum
Satu sisi dalam diriku menangis
Sisi lain dari diriku ingin menyuarakan nada sumbang. Sisi lainnya berharap semua berjalan baik-baik saja.
Hatiku tak lebih dari badai yang tenang, tubuhku layaknya berada dalam pelukan hujan. Dingin.
"Apa yang ingin mas bicarakan?" tanyaku setelah lama hanya ada keheningan.
"Katakan dulu apa yang mau kamu bicarakan."
Aku mengangguk, "Jika mas mengizinkan, liburan semester nanti Rinjani ingin menemui bapak."
"Baik, itu saja? Tidak ada yang lain?"
Kepalaku menggeleng, "Cukup itu saja."
__ADS_1
"Aku izinkan, dengan syarat temani aku ke Sydney."
"Jika tidak keberatan, bisakah mas pergi ke Sydney sendiri? Rinjani hanya ingin menemani bapak, sudah lama Rinjani tidak mengetahui kabarnya."
"Bapak baik-baik saja." kata Kaysan menegaskan.
"Sebaiknya Rinjani melihat bapak langsung untuk meyakinkan."
Kaysan menarik salah satu tanganku, "Kamu kenapa, Rinjani? Tidak bisakah kamu menjadi yang dulu, saat awal kita bertemu." Aku hanya menunduk tak berani menatap mata Kaysan, bagiku matanya selalu ingin mengajakku untuk menyelam lebih dalam. Aku tahu Kaysan akhir-akhir ini sering mengajakku bercanda, berkali-kali juga Kaysan mengajakku untuk kencan, tapi jawabanku slalu sama, 'aku sedang banyak tugas akhir semester dan kegiatan belajar'
"Terimalah Rinjani sekarang, ini semua Rinjani lakukan untuk kebaikan bersama. Tak lebih dan tak kurang."
Kaysan melepas tanganku, "Apa yang kamu inginkan, Rinjani? Kebebasan?"
"Bukan."
"Katakan biar aku tahu maumu?"
"Tidak ada, mas. Selain hanya ingin membuktikan bahwa aku layak menjadi istri pangeran."
"Kamu tidak perlu berubah menjadi siapapun, Rinjani. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri, kembalilah seperti dulu saat kamu meluapkan emosimu."
"Maaf mas, tidak bisa. Nanti nilai kepribadianku menjadi C-, Rinjani enggan untuk mengulang dari awal. Maka yang bisa Rinjani lakukan hanya menuruti perintah guru. "
"Aku suamimu, apa kamu juga tidak mau menurutiku?"
Kaysan mengguncang bahuku, seolah-olah menyadarkan aku dari lamunan panjang.
"Baiklah, ada beberapa hal yang perlu Rinjani selesaikan sebelum ke Sydney. Bisakah mas menunggu?"
"Kamu mau ke Sydney bersamaku, Rinjani? Kamu yakin?"
Aku mengangguk, sisi lain dari diriku menyetujui, "tidak ada salahnya piknik, ke luar negeri lagi, paling tidak aku bisa naik pesawat sambil sesekali mencium aroma kebebasan."
"Terimakasih." Kaysan memelukku bahuku erat-erat. Dalam dekapannya, air mata sudah menggenang kembali. Ada sesuatu yang ingin aku utarakan, tapi ada kalanya bungkam akan lebih baik.
"Boleh dilepas? Rinjani kesulitan bernafas." Kaysan tersenyum lebar, lalu melepas pelukannya. "Sudah lama kita tidak seperti ini, maukah Rinjani berlatih menari bersama."
__ADS_1
"Rinjani sudah ada Tuniang Dewi."
"Baiklah, aku hanya ingin tahu sudah seberapa mahir kamu menari. Apa pantatmu udah bisa joged jaran goyang?"
Batinku tertawa, tapi bibirku hanya mengulas senyum. Sungguh sejujurnya aku lelah seperti ini, aku lebih suka terbuka menyampaikan pendapat.
"Tuniang Dewi tidak mengajari Rinjani untuk joged jaran goyang, hanya goyangan pinggul yang menunjukkan etika dalam menari yang lemah gemulai. Bukan goyangan pinggul yang eksotis."
Kaysan terbahak, lalu mencibirku. "Ya, ya, ya, memang hanya aku yang boleh melihat goyangan pinggulmu yang eksotis, bukan orang lain."
Pipiku tersipu. "Minumlah, mungkin tehnya sudah dingin."
"Biar aja tehnya dingin, yang penting pagi yang mendung ini ada kamu yang menemaniku, tidakkah ini jarang terjadi. Sudah lama aku ingin menghabiskan waktu denganmu, tapi waktu 24jam hanya menyisakan 4jam untuk kita berbagi cerita."
Kaysan mengambil cangkir teh dan meminumnya hingga habis, "Terimakasih istriku, lain kali berilah gula batu."
"Baik, besok akan Rinjani beri gula batu."
"Gula batu keras tapi manis, seperti aku."
Ya Tuhan! Ada apa dengan suamiku, rasanya aku ingin terbahak-bahak menertawai ucapannya. Tapi kata guru les kepribadianku seorang Ratu tidak boleh tertawa terbahak-bahak, hanya boleh tersenyum manis cenderung tersenyum malu-malu. Jelas itu bukan sifat asliku.
"Baiklah, jika itu menurut mas benar, Rinjani hanya bisa menyetujui."
"Duduklah disini, aku sudah lama tidak memangkumu."
"Suami istri tidak boleh bermesraan di tempat umum apalagi sampai pangku-pangkuan."
Kaysan menepuk jidatnya, "Baiklah, sebaiknya memang harus ada yang diluruskan."
Dengan cepat Kaysan menganggat badanku dan memangkunya. "Kita dirumah, bukan ditempat umum. Kita boleh seperti ini, tidak ada yang melarang termasuk guru kepribadianmu. Dengarkan itu baik-baik Rinjani, aku yang memiliki kuasa atas dirimu disini. Semua gurumu hanya sebatas contoh, agar kamu berlalu dengan baik."
Hujan datang membawa udara dingin. Di pangkuannya aku merasakan kehangatan yang sudah lama aku rindukan.
Terimakasih sudah setia nunggu cerita ini ya, terimakasih banyak yg sudah like dan vote π
Besok kita nghalu ke Sydney cari buaya π
__ADS_1