Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Dua sejoli ]


__ADS_3

Hingga di titik ini, aku masih mengucap syukur karena dipertemukan dengan Kaysan. Laki-laki dewasa yang mengajakku mengarungi biduk rumah tangga yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya.


Ini lebih dari cukup, aku tak mungkin serakah berlama-lama hidup disini dengan Kaysan. Memang sudah saatnya untuk kembali, memperbaiki kekacauan yang terjadi. Ayahanda pasti juga rindu dengan Kaysan. Begitu sebaliknya. Meski begitu batinku bergejolak. Aku takut Ayahanda tak menerima anakku nanti, terlebih anak ini bukan sepenuhnya darah biru.


"Apa selamanya kita hidup disini?" tanyaku sambil duduk di samping Kaysan.


"Kamu tidak betah?" Kaysan menggenggam tanganku, "Kenapa?"


"Aku rindu berdebat denganmu, mas."


Alis Kaysan berkerut, "Kamu mau bertengkar?" Aku mengangguk.


"Keinginan macam apa itu, aneh!"


"Selama aku hamil, aku tidak pernah ngidam yang aneh-aneh mas." Aku tersenyum jail.


"Kamu memang tidak minta makanan aneh-aneh, semua makanan kamu makan. Tapi kelakuanmu yang tambah aneh." Sinis Kaysan menyindirku.


"Maklum hormon kehamilan sedang menguasai diriku, mas. Ini seperti bukan aku." kataku sambil melepas genggaman tangannya.


"Kalau aku gendut dan perutku banyak Stretch Mark gimana, mas masih mau bercinta denganku, mas tidak ada keinginan untuk memiliki istri lagi?"


Dengan posesif, Kaysan menjatuhkan kepalanya di pahaku. Dia mengecup perutku berkali-kali.


"Istri satu saja aku sudah pusing memikirkannya. Apalagi punya istri banyak. Lutut ku lama-lama kopong."


Aku tergelak, ku cubit perut Kaysan.


"Coba sekarang kondisinya di putar. Jika aku gendut dan tidak segagah sekarang apa kamu masih mau denganku?"


Lama aku memikirkan. Imajinasiku mendadak buyar membayangkan Kaysan yang gendut, dengan cepat aku menggeleng.


"Mas harus olahraga yang rutin!" Aku kikuk menjawabnya.


Kaysan tertawa, "Kenapa? Tidakkah cinta tak memandang fisik."


"Bukan begitu."


"Lalu?"


Aku kelabakan menjawabnya.


Seketika Kaysan tertawa, "Terkadang lisan memang berbahaya, Dik. Jadi berhati-hatilah." Aku memukul lengan Kaysan.


"Bukannya aku tidak menerima mas apa adanya, tapi kalau mas gendut itu mas mustahil. Beban hidup kita banyak, apalagi sebentar lagi kita punya anak. Kita akan begadang dan itu membuat kita tidak kelebihan berat badan. Sudah ah, mas nakal."


Kaysan mencubit pipiku, "Endut!"


*


Meski sudah berstatus pacaran, Nanang dan Anisa masih tak mengerti adakah cinta di antara mereka. Mereka pasangan bodoh yang masih tak mengakui cinta di tengah keraguan untuk bersama.


"Apa musik metal seperti ini?" Anisa berteriak di telinga Nanang. Terbiasa mendengar kidung-kidung yang menyejukkan hati, ia dibawa ke auditorium RRI untuk melihat konser metal. Ia terkejut bukan main saat hingar-bingar distorsi gitar listrik menghentak gendang telinganya, "Aku gak suka, ayo pulang!"


Nanang menghela nafas, ia menarik tangan Anisa untuk keluar dari dalam gedung.


Di area parkir tempat dimana Vespa Nanang terparkir. Nanang membantu Anisa untuk mengenakan helm.


Anisa termenung, Nanang tak merespon ketidaksukaannya terhadap musik metal.


"Marah? Kenapa diam?" tanya Anisa.


"Ayo aku antar pulang." ucap Nanang.


Ia sedang menghidupkan vespanya, tapi sepertinya Vespa itu sedang mengerjainya, "Shit!" umpat Nanang, tapi sepertinya Anisa juga merasa jika umpatan itu juga untuk dirinya.

__ADS_1


"Tidak usah pulang, tunggu saja sampai konsernya selesai." kata Anisa seraya membujuk Nanang untuk berhenti mengeslah vespanya.


"Bukannya kamu tidak suka. Maaf vespanya mogok. Kamu bisa pulang pakai ojek online?" ucap Nanang menyesal.


"A-ku, bukannya tidak suka. Hanya saja perlu membiasakan diri." ucap Anisa, ia menunduk.


Nanang menggeleng dengan tingkah Anisa, "Maaf mungkin ini terlalu cepat untukmu beradaptasi." ucap Nanang. Ia melepas helm Anisa dan mengembalikannya ke atas motor.


"Mau makan malam dulu? Band penutup masih satu jam lagi mainnya." Ajak Nanang. Anisa membalasnya dengan anggukan.


Hingga pukul setengah sebelas malam. Anisa dan Nanang masih berada di dalam auditorium RRI. Anisa hanya diam dan berdiri di belakang Nanang. Sesekali Nanang memanggut-manggutkan kepalanya menikmati distorsi musik.


"Bukankah kamu harus menjaga tingkah lalumu sebagai anak Raja?" bisik Anisa. Tanpa sadar ini adalah posisi terdekat wajah mereka berdua. Nanang menoleh dan bibirnya tepat mengenai pipi Anisa.


Anisa tersipu, ia memegang pipinya.


Nanang salah tingkah, ia tak menyangka jika bibirnya sudah memerawani pipi Anisa, "Maaf."


"Sudah dua kali kamu minta maaf, mas."


kata Anisa, ia justru semakin mengeratkan genggaman tangannya di lengan Nanang.


"Tidak akan hilang, tenang saja."


Nanang terkekeh, rasanya ia ingin menjitak jidat Anisa. Bukannya Anisa marah karena Nanang tak sengaja mencium pipinya. Anisa malah senang sekali.


Bahaya. batin Nanang.


Hatinya justru panas bukan karena atmosfer konser metal, hatinya dibuat kembang-kempis karena Anisa yang semakin menempel di badannya.


"Besok temani aku beli baju seperti orang-orang itu." Tunjuk Anisa pada segerombolan Metalhead perempuan yang rambutnya sudah tak rapi lagi. Bahkan bau parfum sudah hilang dari badan mereka. Peluh juga nampak membasahi dahi mereka.


"Untuk apa?"


"Besok sepulang kuliah. Sekarang, harus ada yang aku hadapi. Bapakmu." Nanang tersenyum jail. Anisa menepuk pundak Nanang, ia tertawa kecil tahu jika ternyata Nanang takut dengan Bapaknya.


Nanang memilih menitipkan vespanya di pos satpam. Ia akan mengambilnya besok pagi setelah montir memeriksa kondisi vespanya.


"Terus kita pulangnya gimana?" Anisa celingukan mencari taksi yang lewat.


"Ada adikku." Nanang mengambil ponselnya, ia menelepon Sadewa.


Di rumah, Sadewa mengumpat kesal. Ia menyaut jaket dan kunci mobilnya.


Ada-ada saja pemicu amarah! Gak ada mas Kaysan, mas Nanangpun jadi. Mereka yang pacaran, aku yang repot.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sudah banyak kendaraan yang keluar dari area parkir auditorium RRI.


Nanang dan Anisa duduk di atas trotoar sembari menunggu Sadewa datang.


"Apa kamu sudah di izinkan berpacaran?" tanya Nanang. Anisa mengangguk ragu.


"Yakin?"


"Kamu cinta pertamaku." jawab Anisa malu-malu.


Nanang menjentikkan jarinya di dahi Anisa, "Berarti aku harus siap-siap di marahi Bapakmu karena sudah bawa anak gadisnya pergi sampai larut malam."


Nanang memasang cengiran maut.


Anisa merona malu, "Bapak gak akan marah kalau tahu pacarku anak Raja."


Nanang tergelak, "Kalau bukan?" Anisa menatap heran Nanang.


"Bapak orangnya demokratis, tidak perlu takut. Paling cuma di acungi keris."

__ADS_1


Anisa cekikikan.


"Baguslah, nanti bisa aku bawain keris dari rumah sebagai sogokan." Nanang tersenyum sambil menyelipkan rambut Anisa.


Dari seberang jalan, Sadewa berteriak.


"Pacaran terus!!! Pulang woyyy!!!"


Semakin lama semakin hilang jati diri mereka jika sudah berurusan dengan cinta. Inilah yang ditakutkan oleh Ayahanda. Sebab cinta, bisa mengubah segalanya tanpa perlu di minta.


Nanang dan Anisa menyebrang jalan. Mereka duduk di bangku penumpang.


"Jadi sopir!" jelas Sadewa.


"Maaf, Dik. Vespanya mogok."


"Jual aja kenapa mas, senang banget nyusahin orang."


Mobil melaju menuju entah.


"Tidak akan pernah! Vespa itu menyimpan banyak kenangan." seru Nanang.


Ucapan Nanang telah membuat Anisa memincingkan matanya, "Kenangan dengan Rinjani ya?" Nanang mengiyakan.


"Nanti aku museumkan. Tapi aku tetap tidak akan menjualnya." kata Nanang, ia tak peduli dengan asumsi Anisa yang berpikir dirinya egois. Baginya Vespa itu hanyalah besi tua yang sudah melalui banyak peristiwa.


"Tidak masalah." kata Anisa.


"Apa kalian akan menjadi the next Kaysan dan Rinjani versi terbaru?" Anisa diam, sedangkan Nanang menatap Anisa dengan mesra.


"Kacang! Rumahnya dimana?" tanya Sadewa saat kedua sejoli itu tak merespon celetukannya. Anisa justru menyandarkan kepalanya di lengan Nanang. Membiarkan Sadewa semakin dibuat kesal.


"Kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini ingin ku kenang selalu."


Sadewa menyiulkan tembang kenangan sambil menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Mas, rumahnya dimana?" Sadewa memaklumi jika Nanang sedang terbuai dengan kisah cinta keduanya, seperti Kaysan dan Rinjani.


Nanang tersadar kembali dari lamunannya, ia menghela nafasnya. "Maaf."


Anisa tersenyum maklum, "Rumahku di jalan Wahid Hasyim nomer 117B, dekat kampus." jawab Anisa.


Sadewa berdehem, ia melanjutkan perjalanan lagi menuju rumah Anisa. Sedangkan Nanang menggeser posisi duduknya untuk memberi jarak antara dirinya dan Anisa.


Dari kejauhan mobil melaju pelan. Seorang laki-laki memakai sarung dan jaket kulit berdiri di depan gerbang rumah.


"Itu Bapakmu?" tanya Sadewa.


"Iya." jawab Anisa. Ia tersenyum simpul, mendapati sang bapak sudah seperti satpam.


"Bakalan ada wayangan semalam suntuk kalau kalian nikah." celetuk Sadewa.


Mobil berhenti di seberang jalan. "Kamu disini saja, siap-siap tancap gas kalau aku berlari ke arah mobil." kata Nanang, ia keluar dari dalam mobil, diikuti oleh Anisa.


Di depan gerbang, bapak Anisa menunjukkan gelagat tidak suka. Ia sudah mengira jika mobil yang berhenti di depan rumahnya adalah putrinya.


"Selamat malam, pak. Maaf saya terlambat mengantar putri bapak." ucap Nanang. Anisa menunduk, ia juga takut jika Bapaknya akan marah dan benar-benar mengeluarkan keris pusakanya.


"Tidak ada aturan yang melarang, tapi sepatutnya kamu paham apa pantas membawa anak gadis sampai selarut ini."


Nanang mengangguk, "Saya tidak akan mengulanginya lagi."


Tidak ada bantahan lagi, sang bapak merangkul bahu Anisa dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Nanang yang tersenyum senang, "Hari ini untung."


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2