
Dua minggu setelah kejadian itu, dia tidak menghubungiku. Tidak apa, dia sibuk. Akupun begitu, tapi dia tak melupakanku. Nasi-nasi itu datang lagi menemani makan siangku. Bahkan barang-barang yang tak aku mengerti juga datang untuk ku, sepucuk surat dan segenggam bunga mawar putih, slalu ia kirim setiap malam.
Semerbak harumnya mengalahkan parfum laundry literan yang kadang membuatku merasa pusing tujuh keliling.
"Anggap saja ini sebagai ganti hadirku disisimu."
"Rinduku membelenggu."
"Manis senyummu."
"Bersabarlah disana."
"Tunggu aku, sebentar lagi."
"Rinduku sudah tidak bisa diatur."
Aku baca sepucuk surat yang slalu ia selipkan di antara mekarnya bunga mawar. Aku senyumi setiap tangkai yang aku taruh di vas kaca yang ku beli dadakan waktu itu di pasar karang gayam.
Manis... andai mawar ini dia beli langsung untuk ku. Andai dia juga yang mengatakan kata-kata itu tanpa harus lewat tulisan pena hitam. Sukmaku sudah pasti melayang ke udara, melayang-layang terbuai angan. Andai mawar yang dia beri adalah mawar tanda ketulusan hati. Bukan karena akan ada perpisahan atau kematian.
Ku simpan bermacam bentuk kertas kecil berwarna pink itu dengan rapi. Ku simpan mawar-mawar yang hampir mengering di toples kaca. Hadirnya tak pernah ku harapkan, hadirnya pemilik senyuman itu. Hanya akan menambah beban untuk ku, beban perasaan.
Entah sudah sampai mana hatiku berkembang, aku tidak bisa mengatakan. Sudahkah cinta! Aku tergelitik untuk perasaan satu ini, kami sama-sama tidak pernah mengatakan cinta. Semua mengalir apa adanya.
Aku paham, rindu itu akan berubah menjadi cinta.
Aku paham setiap kisah pasti ada kasih.
*
Dua Minggu lagi adalah acara tahunan yang komunitasku adakan. Semua berjalan lancar, bahkan Nina ukthi metal itu terlihat kalem saat menangani tanggungjawabnya untuk mencari katering nasi box. Dia juga mengemban sebagai panitia P3K, katanya sebagai praktek sebelum benar-benar menjadi seorang perawat.
Aku tidak yakin, takut-takut dia malah melakukan malapraktek. Hahaha. Nina, Nina. Bukannya dia nanti mengobati orang-orang yang baku hantam di arena konser. Dia pasti akan melakukan ultimatum sebelum mengobati pasien, Aku tergelak.
Sore semakin sore, senjanya mulai digantikan gelapnya malam. Menyisakan bulan dengan cahayanya temaram. Malam ini aku putuskan untuk pulang kerumah. Aku sudah menyiapkan barang bawaanku, sudah ku pesan ojek online juga. Tinggal ku tunggu datangnya bapak-bapak berjaket hijau.
Aku duduk dianak tangga di depan toko, sambil melihat kendaraan hilir mudik, melihat sepasang kekasih dimabuk kasmaran, bercengkrama membicarakan masa depan gemilang. Terlihat sepasang orangtua yang duduk berjarak. Ah! Apa romantis hanya saat muda saja, apa karena sudah terbiasa bersama, jadi mereka tidak perlu berpelukan di atas jalan. Hahaha, Hanya ini hiburanku, memikirkan yang bukan nasibku.
Bapak ojol datang, seperti biasa berkata, "Mbak Rinjani." Sambil tersenyum, menyerahkan helm kebanggaannya.
Tubuhku sudah pegal-pegal. Mungkin karena akan haid tubuhku jadi sedikit manja, slalu seperti ini jika sudah mau dapat tamu bulanan. Pegal, mood naik turun, kaki minta dipijit bahkan nafsu makanku melejit. Ini sudah tidak parah, dulu saat SMP aku sering izin tidak masuk sekolah, karena jika mau haid tubuhku akan seperti orang hamil. Kram, muntah, pusing, kata dokter aku malnutrisi jadi menyebabkan tubuhku mengalami dismenore.
Aku sampai di depan rumah, kulihat dedaunan kering berserakan di teras rumah. Ku lihat tanaman hias juga mengering.
__ADS_1
Ternyata bapak benar-benar pergi dan tak kembali. Aku benar-benar menjadi anak yang malang.
Ku buka knop pintu yang berdebu, ku hidupkan saklar lampu. Ku masuki tempat yang sudah dua tahun menjadi saksi hidup pedihnya diriku dan begitu berantakannya keluargaku.
Ku lihat sofa lama yang menjadi tempat tidur bapak ku, bahkan asbak rokok itu masih terlihat sama ditempatnya.
Ku geraikan gorden penutup pintu, siluet tubuh yang meringkuk mengisakan tangis itu membuatku rindu. Lastri... kemana pergimu.
Aku duduk di kasur kempis sambil mengelus bayangan ibu. Aku rindu sentuhannya, omelannya, masakannya, aku rindu semuanya tentangnya. Aku rindu saat kamu masih bisa tersenyum, masih bisa bercanda, bahkan masih bisa bernyanyi menyenandungkan lagu sendu Nike Ardilla.
Klise lambat itu menari-nari dikepalaku, akankan rinduku akan terobati. Bisakah laki-laki itu menemukan ibu? dalam batinku aku berharap.
Aku menyandarkan tubuhku. Kembali ke rumah ini mengingatkanku pada luka dua tahun ini. Luka keluargaku dan luka asmaraku.
Diam-diam aku mulai terisak, rasa sesak memenuhi isi dadaku. Bahkan kepalaku mulai berhalusinasi sendiri. Ku dengar orang bercakap-cakap diluar rumah.
Suara pintu mulai terbuka, pantulan langkah sepatu itu terdengar mendekatiku. Mataku buram karena air mata, ditambah lagi cahaya lampu kuning 5watt menambah sulit aku melihat.
Bayangan itu mendekatiku, "Kenapa menangis?" tanyanya padaku.
Ia mengusap air mataku.
"Siapa kamu, kenapa disini?" Aku mengibaskan tangannya.
Aku terperanjat, "Dasar hantu! Datang tak di undang pulang tak diantar." Aku merenggangkan tangan memeluk tubuhnya. "Jahat kamu mas. Aku kira tadi hanya bayanganmu saja."
"Kamu rindu?"
"Hemm, mas. Kenapa disini?" tanyaku saat sudah puas memeluk tubuh kekarnya.
"Aku mengikuti tadi."
"Mas penguntit seperti jambret!" kataku sambil mengusap sisa air mataku. Aku keluar dari kamar ibu dan berjalan mendekati sofa.
Ku hempasan tubuhku dengan malas, di ikuti Kaysan yang duduk di depanku.
"Maaf mas. Membawamu ke antar berantah."
"Bicara apa kamu, Jani. Jangan pernah membahas kasta denganku!" Nada suaranya meninggi.
"Maaf."
"Kenapa pulang ke rumah tidak bilang?"
__ADS_1
"Kenapa mas tidak kasih kabar?
"Kenapa Rinjani tidak datang ke rumah?"
Hey, apa aku terlihat seperti gadis yang mengejar-ngejar cinta. Mengunjungimu adalah hal pantang yang aku lakukan. Aku menghela nafas, berdamai dengan keadaan, supaya dia lekas pulang.
"Ada apa mas mengikutiku sampai kesini?"
"Mengobati rinduku yang sudah tidak bisa aku atur."
"Salah mas sendiri kenapa tidak kirim pesan."
"Mas mau minum? Jani buatkan dulu." lanjutku lagi setalah mengambil HP dan menghidupkannya.
"Tidak perlu Jani. Aku hanya sebentar." Dia menahan tanganku sebelum aku beranjak dari tempat duduk. "Tumben pulang, ada apa?"
Dia melihat sekeliling, mengamati perabotan yang ada di rumah ini. Aku malu, dirumah ini banyak foto saat Rinjani kecil, terlebih posenya terlihat centil.
"Hanya mau ambil beberapa baju dan membersihkan rumah." kataku sambil memainkan HPku.
"Matikan HPmu saat berdua dengan ku." Mataku membulat, "Hanya sebentar, tanya Nina ada dirumah gak."
"Matikan HPmu!"
Aku membuang nafas kasar, "Udah ini udah." Aku menaruh HPku diatas meja.
"Besok ambil libur, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?" tanyaku heran.
"Jawaban dari semua kekhawatiranmu."
"Apa sih mas, gak usah bikin teka teki."
"Ibumu."
"Lastri..."
Kaysan menggengam tanganku, raut wajahnya sudah sedemikian serius.
"Ibu ketemu mas...? Dimana dia mas?" ucapku mengebu-gebu sambil mengeratkan tangannya, aku sudah senang sekaligus takut dengan kenyataan yang terjadi.
"Mas, katakan ibu dimana..."
__ADS_1