
Saya di sidang habis-habisan oleh Kanjeng Sultan dan GPH Kaysan di pendopo belakang.
Saya di tanya dengan detail perasaan
apa saja yang saya rasakan saat bersama Nindy.
Saya menjawab jujur tentang perasaan saja. Karena saya tidak ingin main-main dengan sebuah hubungan di usia saya yang sudah pantas menggendong seorang bayi.
"Panggilkan putriku Nindy!" titah Kanjeng Sultan.
Abdi dalem lain mengangguk, lalu pergi ke dalam rumah.
Kini giliran GPH Kaysan yang bertanya tujuan saya setelah saya dan Nindy di pertemuan dalam sidang perdana kasus asmara.
Saya mengatupkan kedua tangan. Membungkuk hormat kepada dua punggawa kerajaan, "Saya ingin mendekati sahabat ndoro ayu Rinjani, Nina."
"TIDAK BOLEH!!!" seru Nindy dihadapan Kanjeng Sultan.
"Jaga sopan santun!" GPH Kaysan mengingatkan.
"Ayahanda... Aku sudah menunggu lama. Aku sudah menanti datangnya hari bahagia. Tapi kenapa aku harus menerima kenyataan pahit ini, Ayahanda."
Nindy bersimpuh di hadapan Ayahanda. Seruan kekecewaan itu terdengar begitu menyengat hatinya. Saya hanya menunduk, jikapun hubungan ini terjalin semakin lama saya yakin makin ruwet urusannya.
Nindy memukul lengan saya, "Aku nunggu kamu menerimaku. Aku menunggu. Tapi begini caranya kamu menolakku setelah empat tahun kita melalui hari-hari bersama."
Perhatikan Nindy kepada diri saya memang cukup menunjukkan bahwa dia memang menaruh harapan besar terhadap saya. Tapi lagi-lagi saya tidak menaruh apapun terhadapnya.
Saya baik padanya karena saya menghormati semua orang di rumah ini. Saya menghormatinya selaku anak dari Kanjeng Sultan Adiguna Pangarep.
Sayang menghormati Nindy karena dia memang patut dihormati oleh saya.
"Jawab mas? Kenapa bisa-bisanya kamu memilih Nina untuk menjadi wanita yang ingin kamu dekati sedangkan kita sama-sama tahu Nina menyukai Nanang!" seru Nindy.
Saya menghela nafas dan membungkuk saat Kanjeng Sultan memberi titah untuk berhenti berbicara.
"Sudah cukup bertingkah seperti anak remaja putriku, Nindy!" ujar Kanjeng Sultan.
Nindy menunduk, air mata terlihat meniti di wajahnya.
__ADS_1
"Saya hormati keputusanmu Raden Mas Saleh Samudera Adinoto Salahuddin Rumi! Panggilkan istriku Sasmita dan gadis bernama Nina sekarang juga. Siapkan telekomunikasi dengan putraku pangeran Nanang!" titah Kanjeng Sultan.
Saya mendongkak, begitu juga semua orang yang ada di pendopo belakang. Semua orang terlihat bingung dengan rencana Kanjeng Sultan untuk memanggil Nina, begitu juga dengan pangeran Nanang.
"Untuk apa Ayahanda? Jam segini Nanang sudah tidur." jelas GPH Kaysan.
"Lakukan semua perintahku. Selesaikan malam ini juga permasalahannya!" titah Kanjeng Sultan.
"Ayahanda!" tukas Nindy.
Kanjeng Sultan hanya diam. Sedangkan GPH Kaysan pergi meninggalkan pendopo belakang diikuti Nindy yang mengajarnya.
Rengekannya belum selesai, terdengar Nindy masih meminta GPH Kaysan untuk tidak menjemput Nina ataupun memanggilnya ke rumah utama.
"Maaf Gusti, saya tidak bermaksud menyakiti hati putri Kanjeng Sultan. Saya hanya menginginkan Ayahanda di rumah bisa menerima calon istri saya."
Terlebih Kanjeng Sultan hanya tersenyum dan mengangguk.
"Saya yang membawamu kesini, saya yang bertanggungjawab atas dirimu. Jangan sangkut pautnya pengabdian mu dengan urusan asmaramu. Pilihanmu adalah pilihanmu."
Saya mengangguk sambil tersenyum. Selang beberapa waktu, GKR Sasmita datang dari dalam rumah. Diikuti ndoro ayu Rinjani. Keduanya sama-sama bingung dan terlihat cemas.
"Kenapa kamu keluar dari kamar, putriku Rinjani? Bukankah kamu butuh istirahat total?"
Ndoro ayu Rinjani menggeleng, "Mas Kaysan bilang Nina harus kesini, ada apa Ayahanda? Bukankah Nina tidak melakukan kesalahan."
GKR Sasmita pun juga bertanya, "Tolong jelaskan ada apa ini mas? Aku tidak tenang jika Nanang masih di usik meskipun ia sudah di luar negeri. Aku kasian sekali dengannya."
"Kalian tenanglah, tunggu sampai semua orang berkumpul di sini."
Tidak ada yang membantah ucapan Kanjeng Sultan. Semua diam sampai Nina benar-benar datang ke sini.
Kebersamaan dalam mobil kemarin cukup membuat saya terkesan dengan pola asuh dan perilaku Nina ketika mengasuh Suryawijaya.
Dia paket komplit untuk saya bawa pulang ke hadapan Ayahanda dan Ibunda di tanah kelahiran saya, kota Cirebon.
"Hubungi putraku Nanang dan panggil putriku Nindy!"
GPH Kaysan yang baru saja ingin duduk di dekat istrinya lantas berdiri lagi untuk memanggil adiknya.
__ADS_1
"Ternyata begini rasanya disuruh wira-wiri. Pantas saja adik-adikku memilih pergi." gumam GPH Kaysan yang bisa kami dengar.
Keadaan kembali tegang. Nina hanya diam, ia kebingungan menerka apa yang terjadi.
Setelah Nindy tiba di pendopo belakang, wajahnya terlihat sembab. Ia menunduk dengan lesu di hadapan Ayahanda.
Panggilan juga sudah terhubung dengan Nanang.
"Dengarkan nasihat Ayahanda anak-anakku. Ini bukanlah perintah, ini bukanlah sesuatu yang baru kalian pahami tentang cinta. Kalian sama-sama dewasa, kalian sama-sama memiliki keputusan besar untuk mendapatkan hati seseorang. Ayahanda disini hanya mengingatkan, kita sebagai manusia memang patut memilih yang terbaik untuk masa depan. Putriku Nindy, kamu tahu kekuranganmu, itu sebabnya mengapa Ayahanda katakan bahwa dirimu harus legowo jika Santosa tidak memilihmu. Putraku Nanang, sejatinya laki-laki harus bisa mengambil keputusan yang tegas. Dan, kamu Santosa. Bijaklah dalam hal apapun. Lebih-lebih, Nina gadis yang kamu inginkan bukanlah gadis yang tidak bisa di taklukkan dengan mudah."
Kata-kata Kanjeng Sultan sanggup membuat Nina dan Nanang saling melempar pertanyaan yang sama.
Di balik telepon, Nanang mengatakan bahwa dirinya cukup bingung dengan pembicaraan lintas benua. Sedangkan Nina menginterupsi Kanjeng Sultan dengan apa yang beliau maksud.
"Santosa menginginkan Nina sebagai calon istrinya." jelas Kanjeng Sultan.
"Apa!" keduanya serempak ingin menampik jika keduanya cukup terperangah.
Nanang mematikan sambungan telepon. Nina menggeleng cepat seraya menyatakan penolakannya.
Keadaan tembah kacau saat ndoro ayu Rinjani mengatakan jika suami Nina harus mengizinkannya menjadi dayangnya.
Saya diam. Bingung.
GKR Sasmita berkata, "Nina... Bunda mengerti hubungan kamu dan Nanang hanya sebatas sahabat. Meskipun kalian sama-sama nyaman untuk berinteraksi. Tapi kalian berdua juga tidak bisa sampai ke hubungan pernikahan. Bunda ikhlaskan kamu untuk tidak menggantungkan masa depanmu dengan Nanang. Kamu gadis baik, tapi putraku memang belum bisa memastikan kapan dirinya akan pulang dan memberimu kepastian."
"Maaf Kanjeng Sultan dan Bunda Sasmita. Saya masih tidak mengerti mengapa harus bawa-bawa saya dalam hubungan Om Santosa dan Mbak Nindy. Saya tidak mau menyakiti Mbak Nindy. Sayapun juga tidak akan memaksa Nanang untuk menerima saya. Saya akan pulang ke rumah tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada kalian semua." kata Nina.
Dering ponsel milik GKR Sasmita pun berdering. Beliau mengatakan jika Nanang yang meneleponnya.
"Nang... Bunda tahu kamu sering kecewa karena cinta. Bunda tahu, Nang. Tapi tidak baik jika menggantungkan perasaan seorang wanita. Bunda tahu loh gimana rasanya menanti sebuah jawaban tanpa kepastian."
Saran saya memang pangeran Nanang tidak perlu mengiyakan ajakan Nina untuk menjadi sepasang kekasih. Saya siap maju kok dan memberinya kepastian.
Saya juga seorang pangeran. Lebih dewasa dan bisa mengayomi Nina. Namun perkataan pangeran Nanang sanggup membuat saya harus lebih berjuang...
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun selain untuk menikahinya setelah aku selesai kuliah nanti, Bun. Tapi aku gak bisa pulang dalam waktu dekat, mungkin empat atau lima tahun lagi kalau Nina mau menungguku."
Dasar pangeran Nanang. Mana mungkin seorang wanita betah menunggu dalam jarak dan waktu yang sangat lama dan panjang.... Sedangkan saya sudah siap menggencarkan aksi malam ini juga.
__ADS_1
Happy reading ππ