Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 72. [ Waktu ]


__ADS_3

"Sudah kenyang?" tanya Kaysan sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil.


"Sudah, mas." Senyum cerah menghiasi wajahku, saat semangkuk mie rebus dengan topping kesukaanku sudah tandas tak tersisa, bahkan aku tidak menyisakan untuk Kaysan.


Insiden kompor yang di pencet-pencet tanpa diputar membuatku harus berdebat dengan Nakula lima belas menit yang lalu.


Dia, si jutek Nakula. Enggan untuk mengajariku menghidupkan kompor gas yang tidak aku ketahui cara menghidupkannya. Dia menjuluki diriku dengan si udik, sama seperti Kaysan. Ditambah dengan sebutan, ndeso, katrok, dan kata-kata yang mendominasi jika aku adalah seorang yang gaptek.


"Pake baju dong mas, nanti masuk angin." kataku sambil membawakan baju gantinya ke arah ranjang.


"Kangen!" Mataku melotot saat tanganku sudah di tarik paksa Kaysan, "Apa sih mas, ini masih sore."


"Tidak apa-apa sore, nanti malam tinggal istirahat dengan nyenyak."


Aku menggerutu, saat tangan Kaysan sudah mengusap-usap punggungku. Gayanya seperti biasa, merem, sambil memiringkan kepalanya.


"Mau cium?"


"Hmm..."


"Melek mas, biar aku bisa melihat binar matamu." kataku sambil menahan senyum.


Kelopak mata Kaysan mulai terbuka, tak mau menunggu lama ia sudah mencium bibirku.


Di pangkuannya, aku merasakan ada sesuatu yang mulai hidup sendiri. Kaysan sudah polos, tanpa sehelai benang yang menutupi seluruh tubuhnya. Biasanya jika akan bersenggama, Kaysan akan melucuti pakaianku terlebih dahulu. Tapi sekarang, aku sudah melihat sekujur tubuhnya yang mulai meremang.


Kaysan memejamkan matanya, dengan gerakan meraba ia mulai melepas kancing piyamaku. Aku kegelian, saat tangan itu sudah nakal ditempat biasanya.


Aku beranjak dari pangkuannya, sesekali aku ingin mengerjai Kaysan, akankah dia marah saat nafsunya sudah menyelimuti tubuhnya. Aku menyaut handuk dari sampingnya


"Tangkap aku mas, hahaha." Aku terkekeh sambil berlari sampai ke ujung pintu.


"Rinjani, jangan bercanda!" Rahang Kaysan mengeras, matanya melotot tidak terima.


Aku menjulurkan lidahku, "Mas izinkan aku untuk membawa motor sendiri ke kampus." Aku sudah memegang kenop pintu dan memutarnya.


"Jangan pernah merubah posisi berdirimu, jika tidak! Kamu sama sekali tidak aku izinkan untuk keluar kamar!"


"Lah, aneh. Katanya suruh kuliah. Mana bisa gak keluar kamar."


"Kuliah online!"


Langkah kakinya sudah mulai mendekatiku, aku tergelak.


"Mas gak malu ya?"


"Brisik!"


Kaysan menarik paksa tanganku, mengajakku untuk kembali ke atas ranjang, "Jangan kasar mas, nanti Jani pingsan lagi."


"Buka bajumu sendiri!"


"Enggak mau."


"Rinjani!"


"Ha-ha-ha..." Dia sudah tersulut amarahnya, terpaksa aku membuka bajuku sendiri, sedangkan Kaysan sibuk menarik celanaku.


"Apa sih mas, yang manis dong."


"Diam!"


"Berdo'a dulu, Jani gak mau mas kesetanan."


Semua pakaian tanggal, Kaysan berdehem tanpa melihatku, matanya memejam dan mengangguk, "Sudah."


"Cium..."


Tubuh Kaysan mulai menindihku, rasa hangat mulai terasakan. Kaysan menyeringai senang, "Aku mau gaya baru."


"Gaya apa mas?"


"Bercinta."

__ADS_1


Dahiku mengerenyit heran, "Gaya yang gimana mas, 'kan sama saja ujungnya, penyatuan."


"Aku mau gaya baru."


Dasar laki-laki! pikirku, "Iya, mas mau gaya apa? Gaya ikan terbang?"


"Boleh."


Aku mendengus kesal, "Kenapa gak sekalian gaya ikan kering mas, terbujur kaku." Aku menggeleng dengan ide bodoh yang aku katakan.


"Ayo kita buat kamasutra versi kita, Rinjani."


Aku berdecih, "Mas, ada-ada aja sih. Caranya gimana coba gaya ikan terbang?"


Kami mengubah posisi, aku diatas Kaysan dibawah. Hal seperti biasa yang diajarkan Kaysan adalah memusingkan.


Aku frustasi, tapi menuruti suami adalah pahala bagiku.


"Apa hanya diam?" kata Kaysan.


"Iya, iya."


"Ini termasuk pelajaran memuaskan suami."


"Iya, Jani paham."


Aku mulai mengoyahkan pinggulku, namun telapak tanganku menutupi mataku.


"Buka matamu, aku ingin melihat binar matamu, Rinjani."


Semprul!


Laki-laki dibawahku ini sedang menguji emosiku. Bukan malah bernafsu aku malah dibuat sebal dengan permintaannya.


"Mas, aku malu seperti ini." Tapi pinggulku masih bergoyang.


"Tidak perlu malu, kamu slalu lucu."


"Cepet deh mas, keburu adzan magrib berkumandang."


Aku berdecih, tapi rasa nikmat yang mengganjal ini membuatku ikut menikmati setiap detik persenggamaan di sore hari.


Kaysan menarik kedua kakiku, membuatku hanya menyangga tubuhku dengan kedua tangan yang memegangi lutut Kaysan.


"Seperti ini gaya ikan terbang, aku suka Rinjani. Terus."


Aku hanya berdehem, dan masih menikmati setiap ritme naik turun dengan kecepatan sedang. Nafas kami sudah memburu nyaris tersengal-sengal.


Tanganku yang sudah pegal akhirnya terpaksa menyudahi memberi hentakan pada tubuh Kaysan. "Capek mas, gantian."


"Kan baru sebentar." keluhnya sambil menaruh kedua kakiku, "Sekarang mas aja yang bergoyang, terserah mau goyang dombret apa goyang Inul juga boleh."


Kaysan menyeringai senang, "Jangan pingsan!"


Aku merebahkan diriku di atas kasur, sambil mengatur nafas panjang. Kaysan tidak menindih tubuhku, dia malah duduk di sisi ranjang.


"Sudah ya mas, Alhamdulillah." kataku sumringah sambil beranjak dari ranjang, tanganku memunguti pakaian yang berceceran di atas lantai.


"Aku sedang searching goyang dombret dan goyang Inul yang kamu katakan, Rinjani."


Aduh, Biyung! batinku sambil menggeleng. "Mas. Sudah ya?"


Mata Kaysan masih sibuk melihat ponselnya, ia menganggukkan seperti sedang memahami sesuatu.


"Yasudah, goyang dombret saja. Sepertinya lebih asik."


Pakaian yang aku punguti sudah tersebar lagi diatas lantai. Saat Kaysan menarik tanganku lagi.


Kakiku terseok-seok mengikuti gerakan tubuhnya, sungguh monster dibelakangku ini tidak menyia-nyiakan kesempatan kali ini, bahkan dia tak pernah puas meski aku sudah berkali-kali lepas.


"Mas, cepetan deh. Sebentar lagi adzan, harus mandi lagi."


"Sebentar lagi, aku sedang belajar gaya goyang dombret."

__ADS_1


"Sudahlah mas, kakiku mau patah."


"Sepertinya harus dicoba lagi, Rinjani. Sampai aku pintar melakukan gaya ini."


Aku terkapar di atas ranjang, saat Kaysan mendorong memacu tubuhnya dengan cepat.


"Mas, gendong ke kamar mandi. Kakiku sudah lemas tak berdaya."


"Tidak mau, jalan sendiri."


Aku berdecih, "Gitu ya, oke. Awas kalau minta jatah belajar gaya goyang dombret, atau gaya ikan terbang, Jani gak mau jadi bahan praktek."


"Yakin?" Kaysan lalu mengendongku seperti bridal style menuju kamar mandi. Berkali-kali aku memukul bahunya karena dia masih menyeringai dengan senangnya.


"Mandi nanti mau gaya apa, Rinjani?"


"Gaya batu!"


*


Selepas makan malam dan bercengkrama bersama keluarga Kaysan dan si kembar. Nakula, adik ipar yang menyebalkan itu dengan beraninya meminta izin kepada Kaysan untuk menemaniku pergi ke toko buku.


Kaysan tersenyum penuh makna, makna yang tersirat dari bibirnya tak lain adalah jatah untuk bermain diatas ranjang. Meski, harus ada perdebatan dan simbiosis mutualisme diantara aku dan Kaysan. Kaysan mengizinkanku untuk pergi dengan Nakula dengan syarat, ronde malam ini akan bertambah lagi, harusnya malam ini aku bisa tertidur dengan nyenyak. Atau sekedar membaca ulang modul pembelajaran yang diberikan dosen pembimbing.


Dia suamiku, tidak mengerti kegelisahanku, kepalaku pusing mikirin pelajaran sejarah. Kepalanya pusing mikirin gaya baru, oh Tuhan! Kasihanilah badanku yang kurus ini.


Disini dikepalaku hanya berisi cara, cara untuk menjinakkan torpedo yang sedari tadi sudah siap meluncur pada target, target muara kenikmatanku.


Kaysan menengadah menatap langit-langit kamar, matanya terpejam. Seulas senyuman terus menghiasi wajahnya. Sungguh senyuman itu teramat sangat menyebalkan.


"Jani lelah." kataku dengan senyum masam.


"Besok aku bilang Mbok Darmi untuk membuatkanmu jamu."


"Jamu apa? Jani gak suka."


"Jamu kuat, biar tubuhmu bugar sepertiku."


"Memang mas minum jamu?" tanyaku penasaran.


"Hmmm, jamu tradisional dan sate kuda."


Aku terperangah, "Jadi bisa seperti ini, berdiri terus?"


"Iya, sudah fungsinya."


Aku menepuk jidatku sambil menggeleng, "Sekali lagi sudah ya mas, mengertilah Jani butuh istirahat."


Tak butuh waktu lama, mata kami saling beradu pandang. Saling mengisyaratkan rasa mendalam. Aku memposisikan tubuhku diatas Kaysan, merangkul leher Kaysan dan memejamkan mataku. Bibir kami saling mengecup, lalu p-e-r-l-a-h-a-n ranum bibir kami saling beradu.


Aku mencium bibir Kaysan dengan agresif, merasakan bibirnya dengan penuh semangat. Tanganku mengusap bahu Kaysan dan turun menikmati lekuk tubuhnya yang kekar. Sentuhan lembut dan menggoda itu perlahan memercik gejolak muda Kaysan. Kaysan mendorong tubuhku, hingga akhirnya aku berbaring dengan nafas yang tersengal-sengal.


Kaysan menarik celana tidurku, membuangnya ke sembarang arah. Rasa pedih sisa tadi sore masih terasa, hingga hentakan keras menyentuh ujung rahimku. Kaysan terus memacu tubuhnya. Aku suka suara yang keluar dari bibirnya, seksi.


Nafas kami terus beradu, bagai deru ombak yang memecah batu karang. Suara kamar kami tak lebih dari diorama mengelikan dan menjijikkan bagi sebagai orang.


Aku sudah di puncak kenikmatan, untuk kedua kalinya dalam sehari kami berdua mengalami pelepasan hormon estrogen dan progesteron secara bersamaan.


Kaysan mencium keningku, "Istirahatlah."


Bagai anak kucing yang tidak mau di tinggal induknya, aku menahan tangan Kaysan. "Puk-Puk."


Kaysan tersenyum, ia menggendong tubuhku dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Aku suka caranya, meski dia kadang seperti seorang monster. Dia tak pernah risi untuk membersihkan tubuhku. Seperti ritus pagiku, malam adalah ritus untuknya, kami sama-sama saling belajar untuk saling memahami. Meski terkadang ada sesuatu yang harus dikorbankan. Waktu!


*


Jam 04.10 pagi Kaysan membangunkanku, dengan malas aku mengambil air wudhu dan mengikuti Kaysan untuk berserah diri kepada sang Kuasa.


"Istirahatlah, biar Mbok Darmi yang membuat teh hangat untukku."


Kaysan merapikan rambutku, "Aku tahu kamu lelah, nanti sebelum sarapan pagi. Aku akan membangunkanmu."


"Gak papa, Mas?" tanyaku meyakinkan.

__ADS_1


"Iya..." Kaysan mengecup keningku, dan beranjak keluar dari kamar.


Aku yang masih mengantuk akhirnya terpejam lagi diatas sajadah.


__ADS_2