Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Kumis baba bikin cinta ]


__ADS_3

Tidak ada kegiatan apapun selain hanya rebahan diatas kasur. Kaysan hari ini pulang lebih cepat dan menjemputku di kedai Laura.


Hari ini aku belajar membuat cupcake. Dan, hasilnya. Rasa tak terduga lagi.


Aku terpaksa membawa pulang dan memaksa Kaysan untuk membantuku menghabiskan cupcake ini.


"Buka mulutmu, mas." ucapku sambil menyodorkan cupcake di depan mulut Kaysan.


"Lama-lama aku Endut seperti kamu. Sudah, dik." Sekalipun Kaysan menolak dengan alasan selembut mungkin. Aku merasa Kaysan sudah mau muntah merasakan cupcake buatan ku.


"Ya sudah, aku makan sendiri. Lagian anakku juga gak akan muntah merasakan cupcake buatan ku. Dia pasti akan menerima bubu apa adanya." ujar ku dengan wajah yang mendadak terlihat jail.


"Hari ini Jani tidak mau berdebat dengan orang tua, jadi Jani tidak akan memaksa mas lagi." Aku mengunyah cupcake dengan terpaksa, lapar kerap menderaku di setiap waktu.


"Enak Dik?" tanya Kaysan, ia balik mengerjai ku. Wajahnya jail.


"Enak." jawabku singkat.


"Hahaha, tapi wajahmu tak menunjukkan jika kamu menyukainya." Kaysan mencubit hidungku, ia mengambilkan segelas air putih dari atas meja.


Aku meminumnya dengan cepat.


"Terimakasih baba Kay." Kaysan mengelus puncak kepalaku.


Kami kembali ke atas ranjang. Rebahan sambil mencari-cari nama untuk anak kita.


"Kalau laki-laki harus pakai nama Raden Mas. Kalau perempuan pakai nama Raden Ajeng ketika kecil, saat dewasa nanti namanya menjadi Raden Ayu."


Kaysan menjelaskan silsilah keturunan Ningrat bersama gelarnya, aku mengangguk saja dan menatap fokus kumis Kaysan yang sedang tumbuh dengan subur. Ku elus kumisnya, ini menggelikan sekaligus menyenangkan, "Jangan di cukur!"


Kaysan hanya berdehem, ia asyik mencari nama-nama yang cocok untuk anak pertamanya.


"Lebih baik kita USG dulu, itu akan mempermudah dalam pencarian nama." kataku, tanganku masih asyik mengelus kumisnya. Begitupun bibirnya.


Mata Kaysan terpejam, ia menghela nafas dan hembusannya terasa hangat ditanganku, "Mau minta cium, boleh."


"Tidak!"


"Kenapa, bisanya mas Kaysan suka?" Dahiku berkerut, "Mas bosan denganku, mas sudah tidak suka dengan bibirku?"


Kaysan menaruh ponselnya, ia menangkup kedua pipiku. "Bibirmu tidak membosankan, ganti baju dan kita pergi ke rumah sakit." ucap Kaysan, ia mengecup bibirku sekilas dan beranjak berdiri.


"Baba mau mandi, bubu mau ikut?" Kaysan menyaut handuk, ia senyumnya menyeringai.


"Gak! Tiap hari bercinta, seperti tukang kue yang mengaduk adonan kue saja." sergahku cepat.


Aku membuka lemari dan mengambil baju ganti Kaysan.


"Bajunya aku taruh di atas kasur, mas."


Kaysan melongok keluar dari kamar mandi, "Bubu gak pernah mandiin baba, itu kan curang. Padahal baba sering mandiin bubu berkali-kali."


Astaga, kenapa suamiku nakal dan genit sekali. "BABA! MALU!" Aku berlari keluar dari kamar, Kaysan terkekeh dan menutup pintu.


Satu jam bersiap, kami sudah berada di jalanan beraspal. Mobil meliuk-liuk mengikuti rambu lalu lintas yang ada.


"Aku deg-degan mas." kataku sambil memegang dadaku.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku takut jika jenis kelaminnya tidak sesuai dengan yang mas harapkan."


"Itu tidak penting, yang penting kamu dan bayinya sehat dan selamat."


*


Dokter Elizabeth tersenyum, ia sedang asyik menggerakkan transducer USG di perutku. Kaysan tersenyum, ia terus melihat layar LCD yang menampilkan gerak anaknya. Wajahnya berbinar-binar, antara senang dan terharu.


"Apa jenis kelamin, Dok?" Aku beranjak duduk.


Kaysan mendengarkan dengan seksama.


Dokter Elizabeth menyerahkan foto hasil USG, "Pretty, like your wife."


Kaysan menunduk, kelopak matanya berisi air mata yang siap tumpah.


Ia terharu, "Pantas saja istriku suka masak-masakan. Ternyata anakku akan menjadi seorang Putri."


Dokter Elizabeth tersenyum, "Selamat, dan ingat trimester kedua dan ketiga ibu hamil sangat bergairah untuk bercinta. Oleh sebab itu, anda sebagai suami jangan ikut terbuai suasana dan tahu batasannya. Gunakan ritme dan gaya tertentu yang tidak menyakiti kandungannya. Jangan terlalu sering membuat istrimu bergairah. Itu akan membuat perutnya kram jika dilakukan berulang kali." Aku menahan tawa, ternyata dokter Elizabeth paham tentang urusan ranjang kami.


Aku turun dari ranjang dan menepuk bahu Kaysan, "Ayo pulang, mas."


Kaysan mengecup foto USG dan menyimpannya di dalam dompet.


"Ini milikku."


"Iya baba, simpanlah."


"Aku belum puas melihatnya, bubu."


"Sudah mas, nanti tagihan rumah sakitnya double."


Aku menarik tangan Kaysan, saat ia enggan keluar dari ruang Obgyn.


Dokter Elizabeth melambaikan tangannya. Aku menyengir kuda.


"Baba seperti bocah." Kaysan terus tersenyum. Ia menggandeng tanganku dan mengayunkannya.


Terimakasih Gusti, baru kali ini aku melihat suamiku berbunga-bunga. Wajahnya seperti terlepas dari beban berat selama ini. Terlebih anak ini bisa menyatukan Kaysan dan Ayahanda.


Kami melewati koridor rumah sakit dan berhenti di depan apotek untuk menebus vitamin. Setelahnya kami mampir ke sebuah sungai yang mengalir di tengah kota Melbourne, Yarra River. Banyak kapal berukuran sedang bertengger di pinggir sungai.


Kaysan menyuruhku untuk diam, sedangkan ia keluar dari mobil untuk membeli sesuatu.


Sejujurnya aku tidak tahu dengan jumlah keuangan yang di miliki Kaysan. Tapi apa saja yang aku inginkan slalu Kaysan turuti. Tidakkah aku serakah, ingin aku membantu Kaysan dalam segi ekonomi, tapi keadaan saat ini tak memungkinkan, apalagi janin dalam rahimku adalah hal yang sangat berharga bagi seluruh keluarga.


Kaysan membuka pintu mobil, ia membawa dua cone es krim rasa stroberi, di atasnya ada buah ceri.


"Untuk putriku." ucap Kaysan.


Aku menerima es krim pemberiannya.


"Untuk bubu!"


"Iya ampasnya." Aku mengangguk pasrah, mau cuma dapet ampasnya pun aku terima, yang penting aku sudah menikmati rasanya dan putriku mendapat nutrisinya.

__ADS_1


Lama kami terdiam dan menikmati es krim. Kaysan menghidupkan radio dari dasboard mobil.


Well I found a woman, stronger than anyone I know 


She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home  


I found a love, to carry more than just my secrets 


To carry love, to carry children of our own


...Ed Sheeran - Perfect....


Aku menghabiskan es krim ku, Kaysan juga. Aku cekikikan saat melihat masih ada es krim yang tertinggal di kumisnya.


"Pria dewasa yang berlagak seperti anak kecil." Aku menarik beberapa lembar tissue dan menghapus sisa es krim di kumis Kaysan, "Sudah bersih." Aku mengakhirinya dengan mengusap pipi Kaysan.


"Apa baba bahagia?"


Kaysan mengangguk sambil berkata, "Putriku akan cantik sepertimu, dan baba akan repot menjaganya. Pasti akan banyak pria-pria nakal yang mengganggunya."


Apa-apaan ini, Kaysan sudah berpikir terlalu jauh. Bagaimana jika putrinya nanti justru mirip dengannya. Introvert, keras kepala, penuh kejutan dan satu lagi yang paling berbahaya, memiliki nafsu seksualitas yang tinggi. Aku bergidik ngeri.


"Mari kita berdoa yang baik-baik saja, mas." Aku tersenyum kecut sekaligus penasaran dengan rupa anak kami nanti.


"Aku sedang bahagia." ujar Kaysan.


"


Bubu tahu baba bahagia, tapi untuk apa kita di parkiran? Lebih baik kita pulang dan istirahat. Bapak dan kedua eyang kita pasti bahagia."


Kaysan menggeleng cepat, ia mengambil foto hasil USG tadi dan menunjukkannya pada ku.


"Belum apa-apa aku sudah ingin menggendongnya."


"Sekarang gendong bubu saja dulu, kan sama saja sekalian gendong anak kita."


"Tidak bisa, bubu tambah berat."


"BABA! itu tandanya aku sehat." Aku mengerucutkan bibirku, benar kata Kaysan. Aku memang tambah berat, kini berat badanku hampir lima puluh lima kilogram.


"Besok belikan BH, mas."


"Kenapa dengan BHmu?"


Aku berdecih, lagaknya seperti tidak tahu saja, "BHku sudah kekecilan, mau lihat?"


Kaysan mengangkat bahunya, "Tidak! Kata dokter tadi baba tidak boleh menurutimu. Nanti putriku ikut tegang dan lahir prematur. Bahaya!"


"Kalau Jani mendesah sekarang, mas juga gak mau?"


Kaysan menjentikkan jarinya di dahiku.


"Jangan harap!" Kaysan melengos, ia tak acuh. Gayanya seperti aku jika sedang menolaknya untuk menggauliku.


Rasanya tidak enak, seperti ditolak saat lagi sayang-sayangnya.


Happy Reading 💚

__ADS_1


__ADS_2