
"Sugeng Mengeti Wiyosan Dalem Kangjeng Rasulullah Muhammad SAW"
*
Jarum jam terus berputar dengan cepat, hari ini Senin pukul 11 siang. Tak ku dapati dia mengirim pesan ataupun ojek online yang datang membawakan makan siang.
Dimana gerangan mu wahai pangeran ku.
Aku menyesal, telah memberinya titah untuk mencari ibu. Lebih menyesal lagi jika keberadaan ibu tidak ditemukan atau malah .... jasadnya sudah mati menjadi tulang belulang. Tuhan, sudah menculik wanita terindah dalam hidupku, rasanya ini tidak adil. Lebih tidak adil lagi, aku bagikan gadis yang tidak tahu jalan pulang. Tidak ada tempat untuk ku kembali ataupun berkeluh kesah.
Kenapa ibu tidak mencariku, kenapa? Apa aku menjadi beban keluargaku. Padahal aku sudah bisa mencari uang, walaupun hanya untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Kalaupun ibu pulang, menemuiku. Ibu bisa mengganti posisiku dan aku bisa mencari pekerjaan lain. Paling tidak ada seseorang untuk ku bersandar walaupun hanya sebentar.
Jika hari ini kekasihku sudah mencari ibu, sudah ku pastikan aku harus bersiap kapanpun dia memberi kabar keberadaan ibu.
Hatiku harus benar-benar siap. Karena menikah tidak hanya butuh lima huruf yang disebut C i n t a.
*
Hari menjelang sore, aku masih disibukkan dengan kegiatan menyetrika baju pelanggan. Rasa penantian berjam-jam rasanya lama sekali, ini yang aku takutkan dari sebuah perasaan. Rasa egois untuk slalu ingin melihat, ditemani atau sekedar menerima kabar sudah mulai melingkup ruang hatiku.
Rasanya sudah tidak waras, jarak umurku dan Kaysan adalah 14 tahun. Waktu aku lahir dia sudah remaja. Mungkin paras wajahnya sudah digandrungi banyak remaja yang mengiba-iba untuk berada di dekatnya.
Apa dia juga punya cinta pertama, atau cinta monyet. Siapa wanita yang berhasil membuat laki-laki kaku itu jatuh cinta. Siapa wanita yang beruntung mendapatkan cinta pertamanya. Astaga, memikirkannya membuatku lapar. Aku melenguh, baiklah-baiklah. Aku harus berdamai dengan perasaanku, berdamai sendiri jika Kaysan pasti sibuk bekerja dan mencari ibu.
Biarlah rindu ini aku tumpuk menjadi satu. Nanti jika bertemu, aku curahkan rindu yang sudah membabi buta ini kepadanya. Laki-laki yang sudah matang usianya. Menggelikan!
*
Sesuai rencana awal setelah aku selesai menyelesaikan pekerjaanku adalah mencari makan siang sekaligus makan malam. Hari ini sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Jika ambil jam lembur aku akan mendapatkan jatah istirahat selama 2 jam. Dan jam-jam inilah saat-saat dimana tanganku sudah merasakan pegal, punggungku bukan lagi. Sudah minta untuk rebahan.
Aku menutup toko dan merebahkan diri diatas kasur kempis, ku pandangi lagi HPku yang tidak ada notifikasi dari orang yang aku tunggu.
Aku penasaran, apa Kaysan memiliki sosial media. Apa laki-laki kaku itu memiliki Instagram atau Facebook. Jari jemariku mulai berkelana mencari namanya di kolom penelusuran. Menscroll dari atas ke bawah nama yang terkait dengan Kaysan atau foto-foto yang memberi tag di akun namanya.
Tatapan ku tertuju pada satu potret foto, disitu Kaysan menggunakan baju tradisional jawa, memakai kain jarik dan baju Surjan. Menggunakan ikat pinggang berupa kain setagen berwarna coklat. Kepalanya ditutup dengan blangkon dengan warna senada. Dia gagah sekali, sumpah aku terpesona melihatnya berpenampilan seperti itu.
__ADS_1
Tapi bukan itu maksudku, wanita yang berada disampingnya. Mata sedikit sipit, putih, bersih, jarinya menjentik, menggunakan baju kemben dan kain senada dengan Kaysan.
Kepalanya disanggul dengan menarik. Sanggul polos yang menampilkan kesederhanaan, dan wanita ini terlihat anggun. Berbeda sekali denganku yang pecicilan.
Jika dilihat mereka mesra sekali, siapa wanita itu gerangan. Aku mulai melihat komentar-komentar netizen dan siapa pemilik paras ayu itu.
R.A Nurmala Sari Tirtodiningratan.
Aku menghela nafas panjang, bukan karena cemburu. Karena cemburupun tak bisa mengubah posisiku dan statusku. Statusku hanyalah rakyat jelata yang ketiban nasib mujur.
*
Malam harinya setelah mandi dan melakukan sholat Maghrib dan Isya aku memilih untuk keluar toko mencari jajanan di Alfamart dan makan malam di lesehan ayam penyet pak gondrong.
Aku mulai sebal dengan HPku, mulai sebal jika harus menunggu kabar. Ini yang membuat aku tidak mau buru-buru mempunyai pacar, rutinitas mengirim pesan, atau Videocall'an. Huft... lagi-lagi aku menghela nafas. Gimana mau Videocall'an kalau ketemu saja masih diem-dieman.
Apa dia mau mengajariku esensi rindu yang sebenarnya. Tanpa berkirim kabar sampai akhirnya sebuah pertemuan. Old school sekali caranya berpacaran. Mengerikan, ternyata cara berpacaran laki-laki matang sungguh berbeda. Aku yang masih seperti mangga muda ini butuh perhatian, hahaha. Aku tergelak, aku memang gadis yang butuh perhatian yang tidak aku dapatkan dari laki-laki yang aku harapkan. Laki-laki yang menjadi cinta pertamaku, Herman!
Aku berjalan menyusuri trotoar jalan. Langkah kakiku lesu, pikiranku masih berkecamuk sendiri. Dimana kekasihku, hey kekasihku. Sembunyi dimana kamu?
"Jani..."
"Jani, mau kemana?" tanyanya lagi sambil turun dari motornya. Aku hanya menunjuk arah Alfamart tanpa membuka suara.
"Jani, aku minta maaf untuk kesalahanku yang dulu."
Aku tersenyum, "Tidak ada yang dibahas lagi ,'kan, Nang. Semua sudah kita bicarakan dulu."
"Jani..." Dia mendekatiku, tubuhku otomatis kebelakang. "Kita masih bisa berteman bukan, besok malam Minggu kita rapat acara tahunan. Aku mau kita tidak terlihat seperti musuhan."
Aku tersenyum kecut, "Memang dari kapan kita musuhan."
"Kamu block nomerku. Hapus semua pertemanan di semua sosial media. Kamu anggap itu tidak bermusuhan?"
Tenggorokan ku seperti tercekat, aku memang melakukan itu semua. Bahkan menghapus semua foto-foto kami berdua di sosial media. Dua tahun berpacaran dengan Nanang membuatku sulit untuk melupakannya. Meski sebenarnya banyak kepura-puraan dalam hubungan kami.
__ADS_1
"Nang, aku mau pergi cari makan. Pergilah, pertemuan kita tidak sengaja." lataku sambil menepuk bahunya.
"Jani, aku minta maaf." Nanang menarik paksa tanganku dan menggenggamnya, "Maaf Rinjani."
Aku menghela nafas, bahkan drama ini terjadi tidak jauh pintu Alfamart. Banyak orang lalu lalang yang memperhatikan kami. Terlebih, kasir itu paham betul siapa laki-laki yang berbicara denganku. Karena kami berdua dulu sering nongkrong di depan Alfamart atau Nanang yang slalu mengantar-jemput kerja.
"Sudahlah, Nang. Aku pergi dulu." Aku melepas tangannya, dia tak bergeming dan hanya melihatku masuk ke dalam Alfamart.
Tiba-tiba rasa kesal menggelayuti pikiranku, ditambah lagi Kaysan yang tidak tahu kabarnya bagaimana. Hah! Status memang menyebalkan.
Aku mengambil susu UHT rasa stroberi dan berbagai macam cemilan. Setibanya di kasir, Asih sudah tersenyum lebar,
"Ketemu mantan kak?"
"He'em..."
"Makin cakep ya dia kak."
"Mau?"
"Haha, nanti kakak cemburu."
"Gak cemburu, udah ikhlas aku kak Asih."
"Yakin kak, apa udah ada yang baru?"
Aku tertawa, "Jangan bilang-bilang kalau kamu lihat dari kejauhan."
"Kak Rinjani mah hoki. 25rb kak."
Aku mengambil uang dari dompet dan menyodorkannya.
"Terimakasih atas kunjungannya, besok datang lagi."
Aku bergidik ngeri, Asih tersenyum seperti seorang penjilat.
__ADS_1
*
Salam dari pemuda yang menolak tua. Selamat hari sumpah pemuda untuk para pemuda Indonesia. Terus berkarya walau hanya sekedar sambungan kata. 🔥