Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 123. [ Yang terlewatkan ]


__ADS_3

...Hidup itu jangan seperti sajak tanpa makna. ...


...Gubahan aksara yang bersambung tanpa tahu kalimat apa yang tersirat di dalamnya....


Pagi menjelma menjadi getir yang menggetarkan hati, saat ku tahu Nanang duduk sambil melipat kedua tangannya menjadi bantalan kepalanya. Tapi untuk apa dia tidur di dekatku, padahal ada sofa disana. Ruangan ini memiliki fasilitas lengkap, dokter siagapun slalu datang berkunjung tepat waktu, begitu juga perawat yang membantuku mengganti pembalut.


"Nang, bangun, Nang." Aku menepuk-nepuk punggungnya dengan tangan kiriku. "Nang, bangun..."


Dia hanya berdehem, sekalipun aku goncang lagi pundaknya dia hanya menggeliat sebentar.


"Nang, mau pipis." kataku pelan. Nanang mengerjapkan matanya, "Masih pakai kateter kan. Pipis aja di ditempat." katanya sambil merasakan dongkak setelah bangun tidur. Ia mengucek matanya, lalu menggeliat dan menguap.


"Bau jigong!" Aku menutup hidungku, "Bauu..."


"Aku mau ngopi, kalau ada apa-apa pencet tombol emergency."


"Nang... cuci muka, gosok gigi, aku gak mau suami gadungan ku bau mulut!"


"Brisik! Kamu saja gak cuci muka, enggak gosok gigi, aku gak protes. Karena apa coba? ...karena aku menerima kamu apa adanya." Nanang sempoyongan saat berdiri, "Badanku pegal semua, apa aku ke ruang fisioterapi saja ya minta pijet." Nanang tersenyum lebar, "Boleh juga ideku." Nanang bergegas ke kamar mandi.


Semalam sebelum aku tertidur Bunda Sasmita datang membawakan Nanang baju ganti dan peralatan mandi. Tak lupa laptop kebanggaannya. Bunda Sasmita hanya sebentar saja, karena malam tadi katanya masih berlanjut jatah berduaan dengan Ayahanda. 'Pun kata Bunda Sasmita, Ayahanda nanti akan datang kesini untuk menengok ku.


Terdengar suara gemericik air dan siulan Nanang. Kenapa ia terdengar sangat gembira. Tuhan, saat aku tertidur semalam dia tidak menyentuh tubuhku, kan. Jangan sampai! Aku menggeleng cepat, membuang jauh-jauh pikiranku.


Selang beberapa menit, ia keluar. Bersama perawat yang membawa baki khusus untuk mengobatiku. "Waktunya mandi ibu Rinjani." Perawat itu tersenyum,


"Tolong mandikan istri saya ya, Sus. Jangan lupa pakaikan bedak dan gincu." Nanang menghampiri perawat yang sama seperti semalam.


"Pak Nanang tidak mau memandikan istrinya?" tanya perawat Andini, "Saya tidak bisa, Sus. Nanti saya pengen jadi repot." Nanang mengangkat tangannya, "Suster saja, saya sudah membayar mahal rumah sakit ini." Nanang berangsur mundur dengan tangan yang terangkat ke atas.


"Baiklah Pak Nanang. Silahkan tutup pintunya." ucap perawat Andini.


Pagi hari di kediaman keluarga Adiguna Pangarep.


Ibunda menghampiri Kaysan di ruang keluarga. Selepas sarapan bersama Kaysan memilih untuk berkutat dengan pekerjaannya. Semalam ia hanya termenung, kelopak matanya sulit terpejam. Pikirannya hanya tertuju pada Rinjani dan Nanang.

__ADS_1


"Ibunda nanti ikut ke rumah sakit." Ibunda duduk di samping Kaysan. Tangannya mengelus punggung Kaysan.


"Sabar yo 'le. Pacobaning urip pancen akeh wujude." [ Percobaan hidup memang banyak wujudnya ]


"Nelongso atiku, Bu." Kaysan menepuk-nepuk dadanya. "Apa aku sanggup menjaga Rinjani, sedangkan saat ia kesakitan bukan aku yang disampingnya." Adu Kaysan kepada ibunya.


Juwita Ningrat tersenyum, "Sakit yang kamu rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit yang Bunda miliki. Kudu bakoh, kudu legowo." [ Harus kuat, harus ikhlas ]


"Apa aku dan Rinjani berpisah saja, Ibunda?" Mata Kaysan berkaca-kaca, "Memang hatimu siap? Jangan gampang memutuskan hubungan, jika nantinya kamu akan menyesal. Sudah-sudah, Ibunda nanti akan menjenguk Rinjani. Anak itu memang pandai membuat siapa saja mencintainya. Jangan cemburu, Nanang tidak akan berbuat melebihi batas." Ibunda menepuk pundak Kaysan.


"Ibunda titip salam untuk Rinjani." Ibunda menajamkan matanya, "Punya HP untuk apa?" tanya Ibunda.


"Untuk berkomunikasi." jawab Kaysan alakadarnya. "Nah, itu tahu. Jangan jadi lemot karena cemburu. Sudah, Ibunda harus sidak ke pasar-pasar tradisional." Ibunda Juwita Ningrat melangkah pergi meninggalkan Kaysan yang termenung.


"Kenapa aku tidak kepikiran untuk menelepon, istriku." gumamnya sendiri. Urat pilu perlahan memudar dari wajahnya, Kaysan menggenggam HP nya dan tergesa mencari nama, Rinjani Istriku.


Kantin rumah sakit.


Nanang :


Rindu seolah hal yang teramat berdosa untukku sekarang. Kejadian ini tak mampu aku takar dengan akal sehatku, aku ingin menjauh, tapi semesta berkata bahwa aku memang harus ada di dekatnya.


Batinku semalam meronta, tak ada siapa-siapa, hingga bisikan setan membujukku untuk menggenggam tangannya. Tangan yang senantiasa merangkul bahuku atau menggandeng tanganku. Tangan mungil pekerjaan keras. Hatinya bak kapas, namun jangan salah sangka, kapas itu bisa berubah menjadi kapas berlapis baja jika kemauannya sudah ia kehendaki. Badannya memang kecil tapi makannya selalu lahap. Itu yang membuatku suka, Rinjani tak pernah gengsi bersama denganku.


Semakin ku lihat, bayangan tawa dan canda itu menari-nari liar di kepalaku. Seketika sesak merasa mendera, jika ku ingat aku slalu memaksanya untuk menjadi apa yang aku minta. Tak aku pungkiri, meski berpisah dengan Rinjani, ada bagian kenangan yang masih aku simpan. Mau tahu, Rinjani adalah cinta pertamaku sekaligus my first kiss. Ku lihat wajahnya, semakin ku tatap wajah itu semakin ada keinginan lain yang meronta di dadaku.


Ku cium punggung tangannya malam tadi, sebelum akhirnya aku ikut terpejam bersama tangan yang aku genggam.


Sebenarnya di kedai kantin ini aku menunggu seseorang, seseorang yang aku benci dalam kisah perjalanan cintaku dan Rinjani. Siapa lagi kalau bukan ustadzah Nina binti Abdul Aziz. Cewek metal yang mau menjadi perawat. Ku pikir itu sulit, bagaimana jika nanti yang ia periksa adalah laki-laki dan bukan muhrimnya. Berat sekali aku membayangkan menjadi Nina, apalagi berat badannya.


"Senyum-senyum sendiri kenapa, Nang?" Ah dia, pucuk di cinta ulam pun tiba.


"Ada pasien yang mau bertemu dengan mu." kataku sambil membawa cup kopi.


"Siapa yang sakit?" tanya Nina yang memakai almamater kampus tercinta.

__ADS_1


"Rinjani." Belum juga ku minum kopiku, Nina sudah menarik tanganku, "Dimana ruangannya?" Nina mengebu-gebu.


"Sabar, dia tadi baru dimandiin perawat."


Nina menghempaskan tanganku. "Mana suaminya?"


"Mas Kaysan kerja."


"Mas?" Nina memincingkan matanya.


"Wow...ooo, aku ketahuan ya, Nin." Aku berpura-pura kaget, "Perkenalan, aku adalah Bendoro Raden Mas Nanang." Nina berangsur mundur, kepalanya menggeleng tak percaya, "Jangan bercanda!"


"Rinjani menjadi kakak iparku, dan sekarang aku lagi berpura-pura menjadi suami palsunya." jelasku lagi.


"Bagaimana Jani bisa melewati ini semua, Nang. Astaghfirullah, dia pasti kesulitan selama ini." Nina terus menggeleng, "Dia keguguran, dan aku minta kamu jangan membuatnya berpikir keras." Nina semakin beristighfar.


Tiba di ruang inap Rinjani. Nina yang sudah tak sabar menemui Rinjani langsung berhambur mendekati ranjang Rinjani. Sedangkan yang diatas ranjang pasien hanya tersenyum simpul, "Nina." panggil Rinjani. Mereka berpelukan.


Aku yang masih memiliki tugas kampus dan desain untuk brand clothing terbaruku memilih untuk acuh dengan kedua sahabat yang mulai meracau tidak jelas. Aku membiarkan mereka berbagi kisah dan kasih. Sedangkan aku sibuk membuka laptop dan memakai headset.


Rinjani :


Dering HPku yang berkali-kali berbunyi membuatku harus mengangkat panggilan itu. Entah kenapa sesuatu yang penting di luar sana ingin mendengar suara ku. Aku meraba nakas, dan melihat siapa dalang atas keramaian di ruang inapku.


Terlihat nama Kaysan terus menghubungi nomorku.


Pagi mas. sapaku dengan senyuman.


Dibalik telepon Kaysan terus menanyakan kondisiku, hingga aku yang lelah menjawab, akhirnya memilih untuk melakukan panggilan video. Cukup lama Kaysan untuk menerimanya, hingga wajahnya mulai terlihat di layar HPku.


Lihat, 'kan, Rinjani sudah membaik, tadi sudah mandi dan sudah pakai bedak. Kata perawat biar tidak pucat.


Kaysan menanyakan hal lain yang membuat dahiku berkerut.


Nanang di kantin mas, sarapan.

__ADS_1


Kaysan menganggukkan kepalanya, dengan dalih ingin berangkat kerja, Kaysan mengakhiri video call.


POV aku bagi menjadi POV Rinjani dan POV author, atau jika tidak akan ada POV pemeran lainnya. πŸ’šπŸ™


__ADS_2