
Pagi menjelang dengan ketegangan.
"Apa kamu ingin mengulangi tragedi yang terjadi dengan sahabatmu, Anisa?"
"Tragedi apa, Pak?" Anisa pura-pura tidak tahu. Tangannya mengoles roti dengan selai kacang.
Dalang kondang dengan nama Ki Ageng Nugroho mengintrogasi perihal kedekatan Anisa dan Nanang. Ia tahu, jika laki-laki semalam adalah anak Sultan Agung Adiguna Pangarep.
"Surat yang kamu berikan waktu itu?"
Anisa mengunyah rotinya, ia membiarkan Bapaknya terus memberi ultimatum tentang kedekatannya dengan Nanang.
"Baru juga pacaran beberapa bulan, Bapak menganggapnya seperti aku sudah mau kawin saja!" seru Anisa.
"Siapa tahu kamu ingin mengikuti jejak teman kuliahmu, dimana dia sekarang? Kabur, sembunyi?" tanya sang dalang.
"Dia dan mas Kaysan sedang mencari kebahagiaan. Sudahlah, Pak. Anisa tahu berpacaran dengan mas Nanang adalah kenekatan. Tapi aku menikmatinya." ucapan Anisa membuat sang Bapak menghela nafas.
"Terserah kamu saja, tapi awas jika kamu minta kawin sebelum selesai kuliah!"
Sang dalang kembali mengangkat pegangan wayang kulit dan membersihkannya.
"Anisa!" Bapaknya berteriak saat Anisa hanya manggut-manggut saja.
"Anisa gak akan kawin sebelum selesai kuliah, kecuali jika mas Nanang memang mengajakku untuk ke KUA!" Anisa memasang wajah ceria. Ia memundurkan kursinya, dan beranjak berdiri.
Sang bapak mengeluarkan kerisnya.
"Bapak ingin punya mantu yang bisa meneruskan tradisi perwayangan. Itu artinya mantu Bapak juga harus menjadi dalang!"
"Bapak berpikir terlalu jauh, iya kalau nikah sama mas Nanang. Kalau besok putus? Anisa saja belum kepikiran untuk nikah, Bapak sudah kebingungan." ucap Anisa. Anisa berdiri, ia memanggil mamaknya untuk berpamitan.
Pagi ini ia ada kelas tambahan untuk datang ke Keraton. Ada tugas untuk membuat artikel terkait keberlangsungan hidup para abdi dalem di keraton.
Sang mamak keluar dari dapur, "Pacaran boleh, tapi ingat siapa pacarmu."
"Kenapa Mak?" [ mamak \= ibu ]
"Pacaran dengan anak Raja ada aturannya. Jangan lupa untuk sopan terhadapnya."
Anisa mengangguk, ia mencium punggung tangan Bapaknya lalu mencium punggung tangan mamaknya.
Anisa tak lupa dengan pesan mamaknya, tapi mengingat Nanang pernah tak sengaja mencium pipinya. Anisa malah menduga yang tidak-tidak.
Gadis itu membawa motor maticnya keluar dari rumah menuju keraton. Setibanya di Keraton, semua teman-temannya sudah menantinya di lahan parkir.
"Lama, tumben." sindir Slamet.
"Sorry, mas. Tadi butuh pesangon dulu dari Bapak. Pesangon kehidupan." ujar Anisa.
Slamet terkekeh geli, mengingat kembali ia juga pernah diberi pesangon kehidupan oleh Ki Ageng Nugroho.
Kemudian berjalan menuju pintu masuk. Tak di sangka, Anisa disambut oleh seorang laki-laki yang membuatnya terpesona.
Nanang memakai ageman kejawen. Anisa tak menampik, penampilan Nanang semakin membuat hatinya berbunga-bunga. Ia menunduk sambil tersenyum malu-malu.
"Saya diutus oleh dosen kalian untuk mendampingi tugas kalian hari ini. Jadi, siapkan telinga baik-baik karena tidak ada pengulangan kata." ucap Nanang lugas.
Kelompok di bagi menjadi dua bagian. Delapan mahasiswa mengikuti Nanang, sisanya mengikuti abdi dalem senior yang diminta Nanang untuk membantunya.
Anisa jelas mengekori pacarnya.
Satu persatu pertanyaan Nanang jawab dengan jelas dan lugas. Ia juga membiarkan mahasiswa untuk membuka opininya tentang kehidupan sehari-hari abdi dalem keraton.
"Kehidupan di istana tidak bisa berlangsung dengan baik dan lancar tanpa adanya abdi dalem, mereka adalah piranti pendukung yang sangat penting untuk menjaga keberlangsungan acara dan kegiatan di istana. Abdi dalem juga salah satu tiang penyangga kehidupan istana yang ikut menjaga dan melestarikan budaya leluhur." jelas Nanang. Mereka berhenti di salah satu pendopo.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan urusan gaji?" tanya Slamet.
"Banyak abdi dalem yang menjadikan pekerjaannya tidak semata-mata hanya urusan gaji. Banyak dari mereka yang memilih sebagai bentuk bakti terhadap Keraton. Jika kita ikhlas, rezeki bisa datang dari penjuru mana saja. Termasuk rezeki jodoh dan kesehatan."
Anisa tidak fokus, ia justru dibuat melayang dengan setiap kata-kata yang diucapkan Nanang.
Pantas saja Rinjani betah dengan mas Kaysan. Ternyata ini sisi lain dari mereka keturunan ningrat. gumam Anisa. Ia masih tak menyadari jika Nanang sudah berada di depannya.
"Tugas harus dikumpulkan paling lambat nanti siang."
Anisa tersentak, "Ah, ya..."
"Lalu mana tulisannya?"
Anisa menatap buku catatan, isinya kosong melompong, "He-he-he." Anisa tersenyum getir.
"Kalian bisa mencari abdi dalem untuk membuat artikel tentang mereka. Satu abdi dalem satu mahasiswa, tidak boleh sama atau menyontek!" ucap Nanang.
Ke tujuh mahasiswa mulai berpencar, hanya tersisa Anisa yang masih terdiam di hadapan Nanang.
"Tidak ada tindakan istimewa untuk pacar. Pergilah." ujar Nanang, ia sudah melangkah menuju ruangannya.
"Hmm... Apa Rinjani dulu menghormatimu sebagai anak Raja?" tanya Anisa tiba-tiba.
Nanang menoleh, "Kerjakan tugas kuliahnya! Urusan pribadi dibahas nanti."
"Tapi nanti jadikan?"
"Iya. Pergilah dan cari abdi dalem estri. Mereka ada di bagian pawon." Anisa mengangguk, ia melihat petunjuk arah menuju pawon.
Sebenarnya Nanang tidak tinggal diam, ia mengikuti langkah Anisa dari jalan yang berbeda.
Bapak Anisa yang seorang budayawan dan dalang, mempermudahkan Anisa untuk bertanya tentang kehidupan sehari-hari para abdi dalem termasuk dari segi persoalan pribadi. Ia dengan mudah membuka opini acara dan fakta yang bisa di ungkapkan dengan kata-kata yang logis dan rasional.
"Apa-apa memang harus dilandasi dengan niat hati yang bersih."
"Lalu, apa sepenuhnya Mbok Ningsih akan mengabdi kepada istana?"
"Kalau sudah waktunya kembali ke sang pencipta ya sudah tidak sepenuhnya cah ayu. Simbok sudah sepuh." [ sepuh : tua ]
Anisa tersenyum dan mengangguk.
"Ada yang terikat tapi tak selamanya bisa bersama." gumam Mbok Ningsih.
*
Anisa dan teman-temannya kembali ke kampus. Mereka sibuk membuat artikel sebelum nantinya akan digunakan sebagai laporan kegiatan dan program studi lapangan.
Anisa memilih perpustakaan sebagai tempatnya belajarnya. Hatinya sedang ceria, terlebih kekasihnya sedaritadi duduk di sebelahnya.
"Semalam kamu dimarahi Bapak?" tanya Nanang.
"Tidak. Bapak biasa saja." jawab Anisa.
"Jadi besok bisa diulang lagi?" goda Nanang.
Anisa menjentikkan jarinya di lengan Nanang. "Janganlah! Sekali boleh di tolerir. Dua kali boleh di maklumi, ke tiga kali jangan mimpi!" seru Anisa.
Nanang tersenyum.
"Aku pikir tadi malam Bapakmu bakal menodongku dengan keris. Aku rasa Bapakmu asyik juga." ujar Nanang.
Anisa mengangguk, tangannya sibuk mengetik keyboard dengan cepat.
"Bapak memang asyik, apalagi Bapak pengen punya mantu yang bisa jadi dalang, pasti tambah asyik."
__ADS_1
Nanang melongo, "Dalang?" tanyanya.
"Iya."
Nanang menggaruk kepalanya, "Belum ada di benakku untuk nikah."
"Aku juga, jadi tenang saja."
"Karena aku masih punya tujuh kakak yang belum nikah. Mas Rama, Mas Dimas, Mbak Nindy, Mas Aska, Mas Andri, Mas Danu, dan Mas Airlangga."
"Iya mas Nanang." ucap Anisa, ia tak mau ambil pusing dengan urusan yang belum benar-benar akan terjadi, "Akhirnya selesai." lanjut Anisa. Ia membereskan laptopnya dan bersiap untuk pergi.
"Aku masih ada kelas satu jam lebih." kata Nanang.
"Kita ketemu lagi nanti sore. Jemput aku di rumah." Anisa mengelus bahu Nanang.
"Hati-hati."
"Iya... kamu juga."
*
Sore hari di kediaman Anisa. Nanang berada di teras rumah ditemani oleh sang dalang. Sedangkan Anisa masih bersiap di dalam kamarnya.
"Mau kemana?"
"Jalan-jalan, Om."
"Om? Apa wajahku masih seperti om-om?" Sang dalang meraba wajahnya.
"Tidak." jawab Nanang jujur.
"Kalau begitu kenapa memanggil saya dengan panggilan 'Om'?
"Karena saya tidak tahu harus memanggil Ki Ageng Nugroho dengan panggilan apa." jawab Nanang jujur.
Bapak Anisa tertawa, "Lucu juga."
Lucu? apanya yang lucu. batin Nanang.
Anisa keluar, ia menggunakan dress maxi berwarna hitam. Dengan tatanan rambut yang di gerai bebas.
"Biasa saja lihatnya, anakku memang cantik!" seru sang dalang saat melihat Nanang menajamkan matanya.
"Jam dinding terus berputar, jangan lupa pulang sebelum di tampar!"
Nanang dan Anisa mengangguk dan berpamitan dengan Ki Ageng Nugroho.
...Brumm.... brumm... brumm......
Kali ini Nanang tak menggunakan Vespanya, ia membawa si kuning mobil kodok. Dengan kecepatan sedang, mobil itu berkendara di jalanan kota.
"Kau cantik hari hari ini, dan aku suka. Kau lain sekali..." gumam Nanang sambil bersenandung kecil.
Anisa tersenyum, "Apa sih."
"Kalau sudah seperti ini, tidak mungkin aku membawamu ke store Origin Merch."
"Terus kita mau kemana?"
"Nonton." Alis Nanang naik-turun.
Gayung bersambut, Anisa menyetujui ajakan Nanang untuk nonton film di bioskop. Ia juga mengatakan jika ingin makan malam bersama di bawah jembatan Janti.
Happy Reading ๐
__ADS_1