Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen. [ Nakula ]


__ADS_3

..."Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah."...


...Pidi Baiq, Dilan 1991...


...***...


Hmm...


Begitulah kisah cinta mas Kaysan dan Mbak Jani. Siapa sangka, seorang gadis berusia dua puluhan tahun yang sukanya berpakaian urakan kini harus menjalani kehidupannya sebagai seorang wanita Ningrat yang setiap harinya harus belajar tentang pakem-pakem dan paugeran di istana. Awalnya aku dibuat susah oleh kehadirannya. Tapi sekarang, aku---Nakula bersyukur karena kekonyolan Mbak Jani. Aku bisa bertemu dengan Kak Rahma. Kekasihku.


Narnia meninggalkan cerita yang pernah ada begitu indah hingga aku sulit untuk meleburnya dalam ingatanku. Aku terpuruk kala Narnia meninggalkanku saat aku sedang menikmati cinta pertama dengan segala kebodohan untuk menjalaninya.


Aku---Nakula kala itu belum mengerti bahwa cinta monyet atau cinta pertama memang butuh banyak pengalaman untuk menjalaninya. Dan, pengalaman yang aku jalani dengan Narnia penuh lika-liku anak remaja laki-laki. Namun, Narnia dengan sabar mendukungku dan terus bersamaku. Lambat-laun Narnia mulai menghindariku, dan itu membuatku terusik. Aku seperti kehilangan... kepercayaan, kenyamanan, dan dukungan.


Sebetulnya, aku masih ingin terus bercerita tentang Narnia, karena masih banyak. Tapi, Narnia sudah bahagia. Dan, aku harus melanjutkan hidupku Seperti saat ini.


Sudah dua tahun berlalu, semua keluargaku sibuk dengan kisah percintaan mereka. Dan, Mbak Jani sudah jarang merepotkan diriku dengan semua ini itu yang membuatku sering ingin mencekik lehernya. Tapi, aku lebih takut pada mas Kaysan. Tatapan matanya yang menajam sudah membuatku bertekuk lutut, apalagi jika mas Kaysan sudah memberi titah yang tidak bisa dibantah. Andai, kalian tahu. Mas Kaysan lebih galak dari yang kalian lihat, pasti kalian lebih memilih aku sebagai idola kalian. Ehm...


Dua tahun terakhir, aku sudah menyelesaikan pendidikan statra satu untuk memenuhi syarat sebagai calon mantu. Setelahnya aku mencoba peruntungan menjadi pegawai baru di salah satu bank swasta yang masih berada di bawah naungan perusahaan Ayahanda.


Seperti halnya, Narnia. Kak Rahma slalu mendukungku dalam hal apapun, termasuk dalam perkara aku yang menginginkan pernikahan.


Usia kak Rahma memang sudah pantas untuk menikah. Dan, orangtuanya sudah mewanti-wanti agar segera menikahinya.

__ADS_1


Sedangkan aku, ha-ha-ha. Aku hanya bermodal nekad dengan rasa percaya tinggi untuk melangsungkan pernikahan.


Sering kali, diam-diam aku mendatangi mas Kaysan ke pabrik gula. Menanyakan hal-hal yang harus dilakukan pria dewasa untuk mempersiapkan diri menjelang pernikahan. Seperti saat ini, aku sedang di kantor mas Kaysan.


"Coba jelaskan." tanya mas Kaysan.


"Ya itu tadi, Mas." jawabku kikuk.


"Itu, apa?" tanya mas Kaysan lagi. Bibirnya melengkung tinggi. Membuatku kesal. Mas Kaysan sudah ketularan penyakitnya Mbak Jani yang harus berbelit-belit dan berujung mengerjai ku.


"Mas, ayolah. Mbak Rahma sudah berusia 30 tahun. A-ku, mau menikahinya. Apa mas bisa membantuku?"


"Uang?"


Siapa sangka, dari semua kakak yang aku miliki justru aku 'si anak bontot' yang mengajukan permohonan kepada Ayahanda dan mereka-mereka untuk melangkah menuju ke bahtera rumah tangga. Bahkan bunda Sasmita sempat tidak percaya dengan keputusanku. Bunda tidak rela, anaknya yang jarang meminta keinginan, dengan lugas ingin menikah.


Mas Kaysan tergelak, "Begitulah jika menjadi laki-laki! Lakukan dengan tekad yang kuat dan jangan ragu-ragu. Nanti kita bicarakan lagi dengan Ayahanda dan anak-anak yang lain." Mas Kaysan menepuk bahuku. Ia tersenyum, "Apalagi yang mau kamu tanyakan? Soal malam pertama?"


Sungguh mimik wajah mas Kaysan sudah terlihat tidak bersahabat, ia sudah menahan tawa.


"Itu nanti saja. Sekarang yang penting meyakinkan Sadewa. Mas... dia ngambek. Dia tidak mau berpisah denganku."


Jangan tanya bagaimana Sadewa sekarang, ia muram durja. Saat tahu aku sudah membicarakan tentang pernikahanku dengan kak Rahma dihadapan Ayahanda dan bunda. Impiannya masih jauh untuk bisa mencapai keinginannya menikah muda atau setidaknya kita bisa melangsungkan pernikahan bersama, bahkan Sadewa masih menjalani cinta segitiga antara dirinya, Isabelle dan Irene. Entah, bagaimana caranya Sadewa melakukan itu, aku tidak habis pikir.

__ADS_1


"Lebih baik kamu pulang ke rumah, istirahatlah." kata mas Kaysan.


"Aku benar-benar mengharapkan bantuanmu, mas. Seperti dulu mas mengharapkan bantuan ku menjaga Mbak Jani."


Mas Kaysan ketawa, aku juga ketawa. Saat mas Kaysan justru mendorongku keluar dari kantornya.


"Nanti kita bahas dirumah. Oke, putra mahkota." Mas Kaysan hendak menutup pintu kantornya.


"Mas!" semburku.


"Patuhilah mas. Jika tidak, mas dengan senang hati menyerahkan takhta Ayahanda untuk kalian. Dan, aku hanya akan mengelola pabrik dan bercinta dengan Rinjani. Kamu tahu, Dik. Sekalinya kamu bercinta, kamu akan ketagihan." ucapan mas Kaysan tidak ada akhlak. Percayalah aku sudah jengah dengan suara-suara yang keluar dari kamar mas Kaysan, setiap malam. Kecuali jika mas Kaysan dan Mbak Jani marahan.


"Mas akan memberimu buku kamasutra dan kamu bisa membayangkan sebelum praktek langsung. Nanti dirumah. Oke."


Aku melenggang pergi menjauhi mas Kaysan yang terkekeh. Sungguh, apa memang benar yang dikatakan mas Kaysan.


Jika sekali bercinta akan ketagihan.


Hampir tiga tahun berpacaran dengan kak Rahma, aku belum pernah menciumnya. Tapi sekarang perkataan mas Kaysan meracuni otakku. Pikirkanku berlari liar membayangkan isi buku kamasutra yang akan mas Kaysan berikan.


Pasalnya, aku memang sering mendengar suara menjijikkan dari kamar mas Kaysan, tapi untuk visualisasi, aku tidak pernah melihatnya. Aku bergidik ngeri sekaligus penasaran.


Happy reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


Part Nakula dulu ya.โœŒ๏ธ


__ADS_2