Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 43. [ Ijabsah ]


__ADS_3

Acara berlangsung sangat kitmad, bapak benar-benar berubah atau sedang memainkan peranan aku juga tidak tahu. Saat sungkeman aku memohon ampun dan restu untuk menikah. Bapak mengelus kepalaku dan meminta maaf telah mengacuhkanku dulu. Bapak juga minta maaf karena perceraiannya dengan ibu membuat ibuku Lastri pergi untuk selama-lamanya. Bibirnya bergetar dengan nada yang terbata, bapak menahan tangisnya. Bapak juga berpesan padaku, jika sudah menikah nanti menurutlah dengan suami dan melayaninya dengan baik.


Melayani, melayani, melayani.


Terngiang-ngiang dikepalaku sepanjang malam.


Selesai melakukan tradisi tintingan dan Midodareni. Aku dikurung lagi di dalam kamar. Karena pihak pengantin laki-laki akan datang membawakan srah-srahan sekaligus meminta restu untuk meminangku.


Aku hanya bisa melihat Kaysan dari balik jendela. Memakai baju seperti itu membuat kadar ketampanannya melebihi batas normal. Semua aura baik terpancar dari wajahnya.


Iring-iringan keluarganya masuk ke dalam rumah. Tidak banyak yang ikut serta karena memang ini acara rahasia. Bahkan rumah ini jauh dari pemukiman penduduk lainnya, jadi tidak banyak yang tahu tentang pernikahan anggota kerajaan.


Acara berlangsung dengan lancar sepertinya, banyak gelak tawa yang terdengar dari balik pintu kamar. Aku seperti seorang penyadap yang merekam pembicaraan.


Semakin malam, semakin sulit untuk mataku terpejam. Besok masih ada serangkaian kegiatan yang harus aku lakukan. Tidur sekamar dengan Nina membuatku sedikit nyaman, banyak yang bisa aku ceritakan dengannya. Tapi Nina, dia... Sudahlah dia terlalu banyak makan dan kini sudah terlelap dalam tidurnya.


*


Pagi harinya aku harus berpuasa Mutihan. hanya minum air putih dan nasi putih saat sahur dan buka puasa. Kata Mbok Darmi ini dilakukan untuk membersihkan diri dan untuk keberhasilan hajat.


Nanti malam adalah prosesi ijab Kabul yang dilakukan di kediaman Kaysan. Sepanjang hari yang aku lakukan hanya tidur-tiduran, bercengkrama dengan Nina dan Mbok Darmi diatas ranjang. Terlelap sebentar lalu terbangun lagi. Begitu seterusnya hingga sore menjelang.


"Nin, aku deg-degan." kataku sambil memegang dadaku yang berdegup kencang. Perias yang melihatku banyak bergerak, memasamkan wajahnya.


"Sebentar saja berlakulah seperti patung, jika tidak, kami semua akan dihukum karena mengulur waktu." Aku mengacungkan jempolku, "Siap."


Nina terus memindai wajahku menggunakan HPnya, "Jani, gemes." Ia menunjukkan wajahku saat cemberut.


Bapak masuk setelah mendapat giliran untuk dirias, "Anak bapak cantik jika berdandan dan tidak begajulan." Lah, dia bilang aku begajulan. Salah siapa coba, batinku menggerutu.


Tata rias kali ini cukup terbilang lama sekali, bahkan perutku sudah lapar tak tertahankan. Ku lirik jam masih menunjukkan pukul setengah lima sore.


Perias ini bak sedang melukis indah di wajahku. Hiasan paes agung khas Jogja sudah ia selesai. Kini tinggallah memakai busana Basahan. Wajahku pias, aku malu.


"Tidak apa-apa, tidak usah malu." Nina terkekeh, Mbok Darmi menaruh jari telunjuknya yang keriput di depan mulutnya.

__ADS_1


"Jahat kamu, Nin." Ku kerucutkan bibirku.


"Tapi kamu cantik Jani. Seperti bidadari nyemplung di kali." [ kali : sungai ]


Ku lempar lemper ke tangannya, "Makan saja sana. Jangan berisik."


*


Magrib berkumandang, menyisakan rintik-rintik hujan yang berhamburan membasahi bumi.


Setelah berbuka puasa, tiga mobil iring-iringan melaju ke kediaman keluarga Adiguna Pangarep. Ku remas tanganku yang sudah basah dengan keringat dingin. Hanya sesekali mengulas senyum saat Nina terus meledekku. Gelisah sudah jelas terpancar dari wajahku.


"Sudah cantik jangan cemberut." Senyumnya meringis.


"Jangan lupa berdoa dulu sebelum malam pertama." lanjutnya lagi, aku tersenyum lalu menggeleng.


"Bagaimana malam pertama nanti, Nin?"


Dari bangku depan Bu Rosmini menyeletuk dengan senangnya seperti mengingat saat beliau malam pertama dengan mendiang suaminya, "Jani, Jani. Nanti kamu dimakan habis sama suamimu." Sambil terkekeh kecil Bu Rosmini menjelaskannya padaku.


"Iya dimakan, dilahap, digigit, dikunyah, terus ditelan."


"Memang apanya yang mau dimakan, memang dia Kanibal?"


Semua orang terkekeh di dalam mobil. Aku semakin tersungut-sungut dengan penjelasan mereka. "Kamu memang paham, Nin? Kamu, 'kan belum nikah." Ocehku tak terima jika aku diledek sendirian, "Paham dong, aku kan perawat. Jadi masalah makan memakan aku paham."


"Kalau gitu nikah sana sama Aswin."


"Kamu dulu aja, Rinjani. Aku masih ntar."


Tak terasa mobil sampai di depan gerbang rumah Adiguna Pangarep. Gerbang terbuka, tiga mobil masuk ke pelataran parkir. Jantungku sudah berdegup tak beraturan. Bukan lagi, bahkan udara dingin merambat di bahuku yang terbuka. Tubuhku gemetar, tapi masih bisa berjalan pelan-pelan.


Kami di giring ke kebun belakang. Tepat disamping kolam ikan, pendopo kayu disulap menjadi tempat duduk pelaminan. Banyak sekali taburan bunga melati putih dan bunga sedap malam. Tidak ada suara Gending Jawa yang mengalun merdu, hanya suara kolam yang gemericik.


Di kursi pelaminan, duduk sang pemilik tahta tertinggi kerajaan, Kaysan, bapak, ayah Nina dan penghulu berserta para saksi lainnya sudah bersiap untuk melaksanakan ijab Kabul.

__ADS_1


"Aku hanya bisa menemanimu sampai sini, Rinjani. Setelah masuk di tanah kerajaan ini kamu adalah Rinjani yang lain. Rinjani yang dulu akan hilang setelah ijab kabul diucapkan." Nina mengelus bahuku, lalu memelukku dengan erat.


Ku tahan tangisku, "Ah kamu Nina. Bagiku aku tetaplah Rinjani yang ndablek, Rinjani yang kamu kenal selama 5 tahun. Kita masih bisa headbang, kita masih bisa bertemu." Aku merengut dengan manja dan bergelayut dilengan Nina. "Aku akan merindukan lenganmu ini, Nin. Lengan yang membuatku nyaman."


Nina terkekeh kecil, "Bukannya nanti akan ada lengan kekar tempatmu bersandar."


Kami berdua tertawa, hingga suara dari bapak penghulu membuat kami harus terdiam dan mendengarnya dengan seksama.


"Sudah siap Gusti Pangeran Haryo Kaysan Adiguna Pangarep untuk mengucapkan ijab Kabul?"


Ku lihat Kaysan mengangguk dan menggenggam tangan bapak penghulu berbangklon hitam.


"Saya Nikahkan engkau Kaysan Adiguna Pangarep bin Sultan Agung Adiguna Pangarep dengan Rinjani Alianda Putri binti Herman Sunandar dengan seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan emas dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya Rinjani Alianda Putri binti Herman Sunandar dengan seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan emas dibayar tunai."


Lantang Kaysan mengucapkan Ijab Kabul, aku terharu, mataku berkaca-kaca. Dengan mengucap Alhamdulillah, kini aku resmi menjadi seorang Istri.


Aku dituntun mendekat ke pendopo, inilah kali pertama kami bertatapan setelah resmi menjadi seorang suami istri. Aku tersipu, tapi Kaysan masih menunjukkan wajah kakunya. Ah! kanebo kering ini, senyum kenapa. Bikin aku takut kan, bikin aku salah pengertian kan.


Selepas Ijab Kabul, aku dan Kaysan menjalani proses balang gantal dengan melempar daun sirih secara bergantian dengan artian kami saling melempar kasih sayang.


Setelahnya kami melakukan prosesi Ngindak Endhog, dengan artian pengharapan keturunan dan kesetiaan istri terhadap suami. Aku duduk bersimpuh, membasuh kaki Kaysan dengan hati-hati. Setelah selesai, kami berjalan menuju kursi pelaminan.


Kaysan menggengam tanganku erat sekali. Si kaku ini mulai mengembangkan senyumnya.


Prosesi berikutnya adalah Kacar kucur dan suap-suapan. Ini prosesi paling dekat yang kami lakukan, jantungku berdegup kencang. Tapi sekali lagi yang aku makan hanyalah nasi putih dan air putih saja.


Kami berdua tak saling berbicara, hanya saling membalas dengan tatapan dan senyuman. Ku lihat Nina dan ibu Rosmini dari kejauhan saling berpelukan sambil matanya berkaca-kaca. Bapak bukan lagi, matanya sudah berair. Suatu takdir yang tak disangka-sangka. Ku lihat Juwita Ningrat dengan binar-binar bahagia, senyumnya tak henti-hentinya terlepas dari bibirnya.


Tapi ku lihat bapak mertua melihat kami dengan tatapan penuh maksud. Tak ku lihat senyumnya, hanya sesekali saja. Lalu apa artinya...


Acara berlangsung hingga menginjak pukul setengah sepuluh malam. Tamu undangan satu persatu mulai berpamitan pulang, begitu pula perpisahan haru dan suka cita tak terlepaskan.


Kini tinggallah aku dengan keluarga baruku, ku lihat Kaysan menatapku dengan tatapan yang siap menerkam.

__ADS_1


Like & klik favorit ๐Ÿ’š


__ADS_2