
Keluar dari home teater kepalaku berkunang-kunang, sedikit pening. Aku sama sekali tidak menikmati film tadi. Keberadaan Ayahanda sungguh luar biasa meruntuhkan mentalku.
"Cantik kenapa? Wajahmu pucat sekali." Bunda Sasmita meraba wajahku, "Demam?" tanya Bunda sambil meraba lagi dahi dan leherku.
"Bunda, Rinjani hanya gerogi dan belum terbiasa di dekat Ayahanda." kataku menjelaskan, tak mau membuat khawatir bunda Sasmita.
"Lebay banget, Mbak. Ayahanda saja sedaritadi diam saja, malah tidur."
Ya, dipertengahan film yang di putar tadi Ayahanda mendengkur halus, tapi sama saja bagiku. Menakutkan.
"Jani tidak terbiasa di ruangan ber AC lama-lama, Bun. Mungkin dia masuk angin." jelas Nanang.
"Ndeso..." celetuk Nakula.
"Sudah-sudah, bisa-bisa kangmas kalian membakar rumah Bunda jika nanti istrinya pulang dalam keadaan lapar dan masuk angin." Bunda bergegas menuju dapur. "Bunda buatkan mie rebus seperti dulu, mau?" Belum juga aku jawab, ketiga anak bunda Sasmita mengiyakannya dengan serempak.
"Sana ke paviliun. Nanti bunda antar."
Aku melangkah dengan gontai, tidak berselera untuk bercanda ataupun bicara. Semua terasa hampa.
Akupun tak bisa menerka tujuan apa yang Ayahanda rencanakan, hingga membuatku berada di paviliun yang menjadi tempat dimana aku dan Nanang saling mengutarakan rasa. Mataku kosong, ingatanku berlari kecil membentuk siluet kenangan. Saat aku dan Nanang sering menghabiskan waktu di bawah guyuran hujan, saling tertawa, saling mengulurkan tangan dan menari di bawah hujan. Semakin aku ingat kenangan ini semakin membuatku pusing. Perutku mual. Dengan tertatih-tatih aku keluar dari paviliun dan berjongkok di depan rerumputan. Aku membungkuk, sesuatu dari dalam perutku merangkak naik dan menghambur keluar dari mulutku. Pait.
Nanang panik, ia terus berteriak memanggil Bunda Sasmita. Sedangkan Sadewa terus menepuk-nepuk pundakku. "Mbak, kenapa?" ia terus bertanya dengan pertanyaan kenapa tanpa bisa aku jawab kenapa.
"Cantik kenapa?" Bunda Sasmita membantuku berdiri. Aku menggeleng, "Benar-benar akan dibakar rumah Bunda oleh Kaysan." Aku tak percaya, Bunda Sasmita benar-benar memikirkan hal yang diluar perkiraan.
"Jani hanya masuk angin, Bun." jelasku terbata-bata.
"Kamu sudah haid?" Kepala ku langsung menoleh. "Bunda tidak berpikir kalau Jani hamil, kan?"
"Nang, jadi sopir. Kita ke rumah sakit." Nanang terperanjat, "Jani hanya masuk angin, Bun. Bunda kerik saja, nanti sembuh. Penyakitnya orang ndeso seperti itu, Bun." jelas Nanang.
Suasana begitu amat panik saat aku mulai limbung di bahu Bunda Sasmita.
"Hush... ngawur kamu! Sudah ganti pakaian, kita ke rumah sakit. Bunda tidak mau, Kaysan marah-marah disini!"
"Kacau ini kacau, Bunda sudah membuat mie rebus belum?" Samar-samar masih aku dengar suara Sadewa. Ia langsung di cubit Bunda Sasmita.
"Di dapur, bawakan kesini untuk si cantik dan buatkan teh hangat manis."
"Apes..." Sadewa menepuk jidatnya.
Lengang sejenak.
__ADS_1
Hingga Ayahanda, Nanang dan Sadewa keluar dari pintu belakang.
"Bunda ini mie rebusnya." Sadewa membawa satu nampan berisi teh hangat dan mie rebus.
"Minum dulu teh hangatnya." Bunda menyodorkan bibir gelas itu di depan bibirku, aku menyeruputnya.
"Ada apa dengan putriku?" tanya Ayahanda kepada Bunda Sasmita.
"Rinjani ketakutan tadi mas, gerogi sampai masuk angin." jelas Bunda Sasmita. Mata Ayahanda sedikit terpincing heran.
"Maafkan Ayahanda, putriku." Ayahanda mengelus rambutku.
"Ayahanda tidak bersalah." kataku lalu menutup mulutku, sesuatu ingin keluar dari dalam perutku. Aku bergegas keluar dari paviliun menuju rerumputan lagi.
"Cantik harus ke rumah sakit."
Bunda menyuruh Nanang untuk memapah tubuhku. Aroma parfum ini ku endus hingga mengisi seluruh rongga dadaku. Aroma parfum yang sama.
"Nang, rumah sakit Tirtodiningratan." Ayahanda mengekori langkah kami.
Aku berhenti, membiarkan Nanang menahan berat badan ku, "Tidak mau." ucapku lirih.
"Kenapa, Jani? Wajahmu semakin pucat." jawab Nanang.
"Itu rumah sakit Nurmala Sari."
"Maaf Ayahanda."
"Sudah-sudah jangan berdebat." Bunda Sasmita mendahului langkah kami, pakaiannya sudah di ganti dengan pakaian yang lebih formal.
Tiba di samping mobil kodok berwarna kuning, Bunda memincingkan matanya, "Mau bikin Jani semakin mual, Nang. Pakai mobil bunda."
Toyota Fortuner sudah berbunyi alarmnya, tanda kunci otomatis mobil itu terbuka. "Mas mau ikut ke rumah sakit?" Bunda menahan pintu mobil saat Ayahanda mendekati Bunda Sasmita.
"Tidak, titip putriku Rinjani." Bunda mengangguk.
Mobil melesat cepat menuju rumah sakit. Isi hatiku cemas. Sebenarnya ada apa dengan tubuhku, jikapun hanya masuk angin aku hanya butuh kerik dan minum tolak angin.
Bunda yang menyetir mobilnya, membiarkan aku bersandar pada lengan Nanang. Sadewa dan Nakula tidak ikut, mereka harus ke kampus.
"Nang, pastikan Rinjani tidak pingsan." kata Bunda mengebu-gebu. Nanang berkali menepuk-nepuk pipiku, membuatku harus kembali tersadar dari lamunanku.
Bunda Sasmita layaknya pembalap jalanan, ia menyalip beberapa kendaraan seperti sedang membawa pasien penting yang harus segera diatasi.
__ADS_1
Tiba di halaman rumah sakit, aku sudah sedemikian lemas. "Nang, ambil kursi roda."
*
Dan, siapa yang harus disalahkan atas keadaan ini. Aku terbaring di atas ranjang pasien, dengan dua dokter yang memeriksa tubuhku. Jarum infus sudah terpasang di punggung tangan ku. Begitu pula dengan Bunda Sasmita dan Nanang. Mereka setia menungguku.
"Apakah pasien Rinjani sudah menikah?" tanya salah satu dokter bernama Vanya sambil memeriksa perutku dengan alat USG.
Satu dokter lainnya keluar dari ruangan membawa sampel yang sudah diambil dari vaginaku.
Bunda Sasmita dan Nanang saling melempar pandang, Nanang mengangguk, "Saya suaminya, Dok."
Aku menghela nafas berat, andai Kaysan yang menemaniku. Batinku tak mau menyalahkan dirinya.
"Anak-anak sekarang memang sudah berani nikah muda ya, Bun." Dokter Vanya tersenyum, setelah selesai memeriksa perutku. Aku tak mengerti arti dari layar TV yang menampilkan isi perutku. Hanya saja dokter Vanya sudah memprint out USG 4D hasil pemeriksaan rahimku.
Bunda Sasmita ikut ke ruangan dokter Vanya, meninggalkan ku dan Nanang. Ia menghampiriku. "Kita bisa dibunuh mas Kaysan." kataku saat ia tersenyum lebar.
"Lalu siapa yang akan menanggung malu jika kamu hamil tanpa seorang laki-laki. Tidak ingat perjanjianmu dengan mas Kaysan." Nanang duduk di kursi tunggu.
"Ada sesuatu yang tidak baik." jelasnya.
"Aku sedang tidak mau menerka-nerka sendiri, Nang. Jika memang tidak baik pasti ada jalan keluarnya."
"Jani, aku suka berpura-pura menjadi suamimu. Itu tandanya kita bisa bermesraan layaknya suami-istri." Aku melotot, ingin sekali aku menepis mulut Nanang yang seenaknya bicara.
"Jangan ngawur!" Nanang tergelak, "I remember, when you kiss my lips."
"Uhuk-uhuk..." Bunda Sasmita pura-pura terbatuk-batuk.
"Maaf ya Bu dokter, anak muda memang suka mengumbar kemesraan." Bunda Sasmita menyunggingkan senyum, lalu tangannya menepuk bahu Nanang. "Keluarlah, ada hal yang perlu di bicarakan dengan Rinjani secara privat. Bunda tidak mau hatimu gelisah jika mendengarnya." Nanang mengangguk, lantas ia pergi meninggalkan ruangan.
Diagnosis mengatakan jika aku hamil di luar rahim. Itu menyebabkan akhir-akhir ini aku mengalami flek darah yang aku anggap biasa. Karena biasanya sebelum haid aku akan mengalami flek-flek pada umumnya.
Tekanan mental yang terjadi secara drastis membuat tubuhku mengalami perubahan secara signifikan. Dokter Vanya menyarankan untuk meluruhkan janinku yang baru berumur lebih dari satu bulan, jika tidak, benar kata Nanang keadaan tidak baik-baik saja.
Sudut mataku berair, aku meminta dokter Vanya untuk berbicara empat mata dengan Bunda Sasmita.
"Mas Kaysan harus tahu." ucapku lirih di selingi dengan isakkan tangis.
"Bunda akan memberi kabar Kaysan, tapi berjanjilah jangan menceritakan nobar tadi pagi." Aku mengangguk, memang harusnya aku tutupi. Pun, jika tidak terjadi apa-apa denganku tadi, janin ini akan berkembang tidak sempurna.
Ku pikir testpack dulu itu memang negatif. Ternyata Tuhan memberi kesempatan untuk aku lebih berjuang keras diatas ranjang dan diatas setapak jalan terjal bebatuan.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa menerka takdir Tuhan, meskipun itu takdir hidup yang berakhir perpisahan.
Happy reading ππ