
Hidup seatap dengan wanita yang pernah mengisi hatiku, membuatku terlatih untuk patah hati. Aku---Nanang, sungguh ironi sekali hidupku. Kisah cintaku sudah layak untuk di jadikan judul FTV.
Mantan pacarku menjadi istri kakakku.
Ego sering berkata bahwa aku ingin mendekatinya, tapi logika berkata aku harus menjauhinya. Menjauhi mantan kekasihku yang sudah berhasil melanjutkan kisah cintanya bersama mas Kaysan.
Suatu hari pembicaraan itu begitu membuat mataku basah. Mereka tidak salah jika akan menikah, yang salah hanyalah harapanku yang mendera hati terlalu lama.
Jujur, aku tak kuasa melihat kebahagiaan mas Kaysan yang menang atas dirinya. Bagiku Rinjani adalah cinta pertama yang sudah memberiku banyak kenangan manis.
Terpuruk dan hancur sudah aku rasakan, tapi definisi mencintai paling tinggi adalah membiarkan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain.
Definisi yang mudah di ucapkan tapi sulit untuk dilakukan. Kata-kata mutiara itu tidak berhasil membuatku merasa baik-baik saja. Aku masih memiliki rasa sesal yang membuatku merasa tidak nyaman jika berada di rumah. Melihat Rinjani tertawa bahagia dengan mas Kaysan adalah hal menyebalkan waktu itu.
Hingga aku bertemu dengan seorang gadis yang mengaku sebagai sahabat Rinjani. Anisa, aku menemukannya saat aku terjebak dalam situasi yang membuatku resah.
Kendati demikian, Anisa bukanlah gadis yang mudah percaya dengan ucapan ku. Meskipun kami sudah berbulan-bulan bersama, ia slalu meminta penjelasan yang mudah di terima oleh akal sehatnya.
Satu rumah dengan Rinjani, slalu membuat Anisa curiga. Padahal, kalau boleh memilih aku lebih suka tinggal di rumah Bunda. Tinggal di rumah utama, setelah Bunda di angkat menjadi permaisuri, dan aku otomatis menjadi pangeran adalah hal yang membutuhkan effort besar untuk membuat Anisa percaya.
Pertengkaran-pertengkaran itu tak jarang terelakkan. Anisa slalu saja membombardir pertanyaan-pertanyaan yang sama setiap hari.
Kamu ngapain aja di rumah?
Ngobrol sama Rinjani gak?
Dan, kalimat-kalimat yang menuduhku tanpa sebab. Kadang aku merasa Anisa terlalu berlebihan dalam mencurigaiku.
Terbesit dalam benakku perasaan lelah untuk menjelaskan bahwa aku dan Rinjani sudah bahagia dengan pasangan masing-masing.
__ADS_1
Aku dan Rinjani hanyalah dua orang yang terjebak dalam takdir yang harus kami jalani selamanya. Hingga kami harus terbiasa, melakukan segalanya tanpa melibatkan rasa yang membuat segalanya semakin renggang.
Rinjani, tetaplah bagian dari hidupku. Dan wanita yang akan mendampingiku harus menerimanya apapun alasannya.
*
Aku duduk di kursi di hadapannya, seperti biasa jika aku berkunjung ke kelas Anisa.
"Hai..." sapa ku.
Anisa hanya berdehem sambil merapikan buka-bukaannya.
"Anisa..." panggilku. Senyumku sudah merekah manakala Anisa menahan tawanya. Tapi dirinya masih enggan untuk menjawab panggilanku dan menatap wajahku.
"Sayang... besok aku ulangtahun, datang ke rumah, jam tujuh. Bawa kado juga. Aku tunggu." ujarku, "Rinjani slalu memberiku hadiah dulu saat aku ulangtahun!" bisikku lirih yang membuat Anisa menggebrak meja.
"Bandingkan saja aku terus dengan Rinjani!"
Anisa melenggang pergi menjauhiku. Gelagatnya memang suka begitu, apalagi kalau aku sudah membawa-bawa nama Rinjani.
Jika aku bisa mengeluarkan semua hal buruk yang pernah terjadi antara aku dan Rinjani pasti Anisa tak akan bertingkah laku seperti ini. Tapi terus terang, kelihatannya justru malah membuka aibku sendiri saat berpacaran dengan Rinjani.
Itu mustahil aku lakukan, aku hanya tak perlu menengok ke belakang dan bersiap memikirkan masa depan untuk menjadi seorang dalang.
Ku kejar Anisa yang sudah jauh dari jangkauan ku. Ia pasti hanyut dalam kecemasan yang tidak mengasyikkan.
"Yang... marah lagi? Kata Bunda cepat tua kalau setiap hari marah." kataku saat berhasil menjajarinya.
"Karena kamu setiap hari bikin aku marah!" celetuk Anisa. Ia memakai helm dan naik ke atas motor. Meski wajahnya masam ia tak mau pulang sendirian.
__ADS_1
"Mau makan dulu? Atau mau ke Mall?" tanyaku sambil men-starter motor.
Motor ku masih Vespa, meski bukan Vespa jadul yang sering mogok. Vespa kenangan itu masih ada di rumah, hanya sesekali aku gunakan untuk jalan-jalan sore dengan Dalilah.
Keponakan ku itu sungguh menggemaskan seperti ibunya, kadang-kadang cerewet, centil dan pintar mencari atensi. Seperti kisah orangtuanya yang mengambil atensi seluruh rakyat dengan pernikahan yang menggemparkan istana.
Aku sampai heran, begitukah efek dramatis hingga tak hanya berbuah kepahitan yang mendera hatiku, tapi juga sampai mengguncang jantung kota.
"Langsung pulang, nanti aku mau pergi!" jawab Anisa, masih dengan nada tinggi.
"Mau kemana?" tanyaku sembari melajukan motor keluar dari area parkir.
Berbulan-bulan pacaran dengan Anisa, membuat Ki Ageng Nugroho sering mengajakku ke pertunjukan perwayangan. Beliau mengeluh-eluhkan bahwa aku akan menjadi suami dari putrinya. Seperti aji mumpung, pagelaran wayang yang di pimpin oleh Ki Ageng Nugroho mendadak eksis. Dari mulai di undang untuk hajatan pernikahan, sunatan, atau ulang tahun pedukuhan.
"Sudah sampai. Besok jangan lupa datang ke rumah, aku akan menunggumu. Kalau kamu gak datang, kamu aku hukum!" ujarku.
"Apa hukumannya? Aku gak takut." jawab Anisa.
"Aku cium! Mau?"
Anisa salah tingkah. Ia tak menggubris ucapan ku. Ia berjalan menuju gerbang, saat dirinya menguncinya gerbangnya lagi Anisa berkata.
"Aku harap kamu bisa membuktikannya."
Aku tertawa kecil, "Harapanmu hanya akan menjadi khayalan tingkat tinggi! Aku akan menciummu saat ijab Kabul sudah terucap! Pokoknya datang ke rumah, Bunda merindukanmu!" kataku sambil meninggalkan Anisa yang menggerutu.
Bukan hal yang mudah dalam berpacaran tanpa berciuman, tapi aku mempunyai hal yang tak mau aku sesali nanti. Cukup Rinjani yang menjadi ciuman pertamaku, wanita berikutnya akan menjadi ciumanku untuk selamanya.
Besok aku ulangtahun, dan Bunda suka gitu. Suka bikin rencana-rencana yang tidak masuk akal untuk laki-laki dewasa sepertiku. Katanya Bunda rindu merayakan ulangtahun putra-putranya. Dan sekarang akulah yang menjadi korbannya.
__ADS_1
Happy reading π
Masih ada antologi Nanang dan Santosa. Dan... masih ada kejutan lagi nanti di akhir episode. Stay tune, selamat berpuasa bagi teman-teman yang menjalankannya. Sehat slalu dan salam Rahayu π