Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 124. [ Rentang kisah ]


__ADS_3

Rentang kisah mengalir laksana air yang turun dari hulu, meliuk-liukkan dari tempat tinggi menuju tempat yang landai. Menerjang apa saja yang ada di hadapannya, hingga akhirnya semua itu bermuara pada samudera kasih yang luas tak terperikan. Membawa lara, suka, dan rahasia di dalamnya. Semua tersembunyi di dasar hati, bersemayam di antara elegi Sukma yang mendera hati yang dirundung asmara.


Semua ada masanya,


Semua ada maknanya,


Hanya saja, waktu yang berbicara.


*


Kemarin Ayahanda datang bersama Bunda Sasmita, bertepatan dengan itu Ibunda Juwita juga datang. Entah kenapa waktunya bisa sangat pas. Seperti mendapat cinta kasih yang luar biasa, aku mendapat ganti atas Lastri yang meninggalkan ku. Bunda Sasmita dan Ibunda Juwita berebut untuk menyuapiku, hingga pada akhirnya Ayahanda yang memilih untuk menyuapiku. Namun, kedua wanita itu menunjuk Nanang untuk menyuapiku. Tidak bisa katanya, takut aku syok lagi dan jatuh pingsan jika Ayahanda yang menyuapiku. Lagi-lagi tanpa penolakan ia dengan bersemangat duduk di sebelah ku.


Kehadiran Nina kemarin cukup menghibur ku. Dia banyak bercerita bagaimana ia cukup kaget mendengar kebenaran jika Nanang adalah adikku. Meski tak lama, ia berjanji untuk menemuiku lagi, di waktu yang tidak pasti.


Beberapa hari aku hanya berbaring di ranjang rumah sakit, aku sudah di rundung bosan. Apalagi bersama Suami gadunganku yang semakin hari semakin melunjak perhatiannya. Aku sudah ingin pulang, berkali-kali aku meminta diri kepada dokter Vanya untuk memberiku izin pulang, tapi sayang, belum waktunya.


Satu hari lagi bersama Nanang adalah waktu yang paling lama sekali. Aku kangen Kaysan.


POV Kaysan :


Keberadaan mereka berdua adalah keberadaan yang aku cemaskan, ingin aku menjenguknya, sayang, keberadaan ku disiang hari pasti akan menimbulkan kecurigaan. Sudah dua hari raganya tak bisa aku miliki, adikku Nanang pasti menikmati keadaan itu.


Siang ini aku berhenti di salah satu toko bunga langganan keluarga, Eufloria Florist. Bunga-bunga yang menjadi bagian penting di Keraton adalah bunga-bunga kiriman dari toko ini.


Masuk ke dalam toko, mataku terpincing dengan salah satu karangan bunga yang sama seperti di rumah. "Untuk siapa bunga itu?" Beberapa karyawan tampak terdiam sejenak, seketika aku tersadar siapa aku. Mereka menunduk, "Maafkan kami Gusti, bunga ini di kirimkan oleh seseorang yang di rahasiakan." Mereka mengatupkan tangannya.


"Baiklah, maafkan saya jika kedepannya, pihak dalam tidak lagi meminta kiriman bunga dari toko ini, bukankah toko ini berjaya karena menjadi salah satu toko bunga langganan Keraton?" Beberapa karyawan saling melempar pandang, "Seseorang yang bernama Rinjani dan di kirimkan untuk Sultan Agung." Tergagap mereka menjawabnya.


"Rinjani?" gumamku lirih.


"Iya Rinjani. Dia meminta kami untuk merahasiakan identitas dirinya sampai kiriman bunga ini usai sepuluh hari lagi."


"Kirimkan bunga yang sama untuk seseorang yang bernama Rinjani, di rumah sakit Harapan Indah, di bangsal melati nomer tujuh." titahku yang langsung diangguki karyawan toko bunga.

__ADS_1


Apa maksud dari Rinjani mengirimkan bunga-bunga itu untuk Ayahanda. Apa dia sedang melakukan hal terselubung berkaitan dengan sayembara yang akan di laksanakan sebentar lagi. Aku sebenarnya tahu apa saja yang akan terjadi di sayembara nanti. Aku hanya memastikan jika semua itu tidak berakibat fatal bagi kesehatan Rinjani. Terlebih kondisi Rinjani saat ini sedang buruk.


"Sudah selesai, Pak." Ku lihat sebuket bunga yang sama seperti milik Ayahanda,


"Secarik kertas!" pintaku, dengan tergesa-gesa mereka mengiyakan permintaanku. Ku lihat wajah mereka sedikit ketakutan, apa wajahku menyeramkan. Tapi kenapa? Kata Rinjani wajahku tampan dan meneduhkan. Apa dia berbohong hanya untuk membuatku senang. Benar-benar gadis yang pintar mencari aman.


"Silahkan, pak. Ini penanya sekalian." Aku berdehem sambil mengambil secarik kertas berwarna pink dan pena berwarna hitam, kepalaku memikirkan kata-kata yang tepat untuk istriku. Tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk membuat kata-kata romantis. Akan lebih mudah jika yang aku tulis adalah kiat-kiat sukses menjadi pengusaha muda.


Aku terus mengetuk-etuk etalase kaca dengan pena.


Diam-diam aku mendukungmu


Diam-diam aku mencintaimu


Namun...


Diam-diam aku juga meragukanmu


Ragu...


Karena...


Aku tahu hatimu sedang tidak berada ditempatnya.


Hatimu sedang mengudara diantara elegi tawa dan ratapan gamang kisah cinta kita.


Aku tersenyum puas tak kala nyanyian sastra itu sudah aku selesaikan selama tiga puluh menit. "Jangan dibaca, kirimkan dengan selamat, jangan ada satu kelopak bunga pun yang lepas dari tangkainya!" Aku mengulurkan sejumlah jumlah uang berserta tipsnya.


Aku mengambil beberapa foto bunga itu sebelum akhirnya kurir mengantar bunga itu ke rumah sakit tempat istriku berada.


*


"Nang, pulang sana." Aku berusaha mengusirnya.

__ADS_1


"Tugasku belum selesai, jadi aku tidak bisa pulang." Nanang kembali sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Nang, kamu butuh istirahat." kataku lagi mengingatkannya.


"Justru aku disini banyak istirahat. Sudah diamlah, ada tugas percakapan bahasa Jerman sekarang."


"Nang, kenapa harus bahasa Jerman, apa kamu mau ke Jerman?" tanyaku penasaran, karena jurusan yang ia pilihan bertolak belakang dengan latar belakang keluarganya.


"Nanti setelah aku lulus, aku mau ke Jerman. Meninggalkan kenangan di tanah kelahiranku dan mencari tambatan baru disana."


"Jahat!" Tanpa sadar aku menutup mulutku karena keceplosan, "Jauh banget move on nya." lanjutku lagi setelah Nanang menajamkan matanya, "Kata bunda Sasmita aku harus mengejar mimpiku. Aku ingin menjadi guru bahasa dan mengajari anak-anak lain yang kurang beruntung, seperti yang kamu lakukan di rumah belajar."


Ketukan pintu membuat aku dan Nanang menoleh secara bersamaan, aku cukup terkejut dengan rompi yang di gunakan kurir tersebut. Toko bunga rahasia.


"Ada kiriman bunga untuk Rinjani dari..." Kurir tadi menjeda ucapannya, "Maaf saya lupa." Nanang mengambil bunga itu dan menyerahkannya padaku, "Terimakasih." Nanang mengantar kepergian kurir bunga tadi ke depan pintu.


"Bunga dari siapa?" Ia bertanya.


"Entah, tidak ada nama pengirimnya." jawabku yang semakin terkejut dengan pilihan bunga yang sama seperti bunga yang aku kirim untuk Ayahanda.


Siapa yang berhasil mengendus rahasia yang aku sembunyikan. Jangan-jangan... Ponselku berdering. Membuang-buang uang untuk Ayahanda, sedangkan aku saja tak pernah kamu belikan bunga!


Kaysan mengirimkan pesan yang diakhiri dengan emoticon cemberut.


Bibirku melengkung membentuk senyuman, Terimakasih sayang, kemarilah aku kangen. Ku membalas pesannya. Sambil menunggu balasan dari Kaysan, ku endus bunga-bunga itu sambil menunggu balasan pesan dari Kaysan.


"Senyum-senyum sendiri, ada apa?" tanya Nanang.


"Bunga ini dari mas Kaysan." jawabku senang penuh binar-binar.


"Sejak kapan kamu suka bunga? Dulu saja aku membelikanmu setangkai mawar merah, kamu enggan menerimanya."


Aku bersorak, "Karena hanya satu! Kalau banyak tentu aku bawa pulang, sudah satu layu lagi! Enggak romantis."

__ADS_1


"Maklum, bunganya gerogi melihat kecantikan wajahmu. Jadi minder dan layu..." ucap Nanang dengan santainya.


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2