Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 87. [ Aku cemburu ]


__ADS_3

Kaysan, suamiku memang tidak pernah cerewet. Dia menutup jati dirinya rapat-rapat, bahkan ia tak pernah menceritakan perjalanan hidupnya selama 34 tahun kepadaku, hingga satu persatu kebenaran mencuat begitu saja. Tanpa di duga, tanpa ku minta.


Sore ini, aku memilih untuk menunggunya di pinggir kolam. Kolam kenangannya dengan Nurmala Sari.


Sesuatu mendadak mengusik kegelisahanku. Ibarat sebuah puisi, Kaysan adalah puisi gelap. Bahkan kritikuspun tak mampu membedahnya, membedah apa yang pernah terjadi dengan Kaysan. Hingga tumpukan-tumpukan masa silamnya menjadi sebuah bukit rahasia.


Kaysan tetaplah sebuah misteri hingga aku sendiri yang akan membongkar celah sempit untuk mengulik tentang kisah masa lalunya dengan Nurmala Sari yang tentu saja akan menyulut api baru di kehidupanku, api cemburu.


Ku lihat mobilnya sudah terparkir di pelataran rumah. Langkahnya berjalan mendekatiku, bibirnya tersenyum.


Ku balas ia dengan cemberut, jengkel sekali! Bagaimana bisa ia masih tersenyum, sedangkan aku sudah suka rela menceburkan diri pada kubangan muara tak berujung. Kubangan yang mungkin akan banyak akar belukar yang siap menjerat kakiku lalu menenggelamkannya.


"Mas." Ku cium punggung tangannya.


Kaysan mengurai rambutku.


"Sudah mandi?"


"Sudah."


"Cantik."


Wajahku sudah berhias rona merah, tersipu.


"Mas juga mandi, biar ganteng."


"Aku sudah ada yang punya."


"Lalu, jika sudah ada yang punya. Tidak mandi!"


"Apa yang membuatmu berada disini?" tanyanya padaku.


Aku masih memegang toples berisi pelet ikan. Sambil menimbang-nimang pertanyaan selanjutnya.


"Tidak ada, hanya ingin menemani mas memberi makan ikan koi kesayangan." jawabku basa-basi sambil menyodorkan toples pelet ikan itu ke tangannya.


"Kenapa?"


"Kenapa apanya, Mas?"


"Bukannya jam segini kamu hanya akan di kamar sambil merebahkan tubuhmu diatas ranjang." Aku mengangguk,


"Hanya ingin menghitung berapa jumlah ikan ini. Apakah cukup untuk makan malam serumah."


"Maksudnya apa Rinjani?" tanyanya curiga.


"Ikan koi ini gemuk-gemuk mas, pasti dagingnya tebal dan bergizi." Aku sengaja menggoda amarahnya.


Terlihat rahang Kaysan mengeras.


"Bercanda, jangan dimasukkan hati." Aku tersenyum kecut.


"Kenapa lagi denganmu?"


Dasar lelakiku memang tidak peka, masih juga bertanya kenapa. Harusnya dengan gelagat ku yang cemberut dan tidak bersemangat ini dia sudah paham jika aku cemburu. Bagaimana Lelakiku tidak tahu. Dia dengan asiknya malah memberi ikan-ikan itu pelet, entah bagaimana jalan pikirannya. Dia begitu biasa-biasa saja melihatku yang sudah getir menanti jawabannya.

__ADS_1


"Ikan ini hanya mahluk hidup. Tidak perlu di cemaskan dengan cerita yang pernah berkaitan dengan ikan ini."


"Lalu apa mas tetap akan hidup berdampingan dengan masa lalu, meski hanya sebuah kolam kenangan."


Kaysan tersenyum manis, "Aku suka caramu cemburu, menambah kesan manis diwajahmu."


"Jani sedang tidak ingin rayuan, Jani hanya ingin penjelasan."


"Sudah dijelaskan, ikan ini hanya mahluk hidup, jadi biarkan saja ikan ini beranak pinak di dalam kolam ini."


"Ikan ini memang tidak bersalah, yang salah masa lalu yang tersirat di dalamnya."


"Sudah mau gelap, lebih baik kita ke kamar." Ajaknya sambil merangkul bahuku, aku yang masih cemberut hanya bisa menyilangkan kedua tanganku di depan dada.


Tangannya yang kekar seakan mencekik leherku. Tak sampai di situ, bibirnya terus mengecup ujung kepalaku.


Salahkah jika aku cemburu. Tapi Lelakiku dengan sabarnya menuntunku, meredam emosi yang terkadang menjelma menjadi ketakutan. Takut jika Kaysan masih menyimpan rasa dengan Nurmala Sari.


Secara bersamaan adzan Maghrib berkumandang. Kaysan sudah berada dikamar mandi. Ku siapkan juga baju gantinya, begitu pula ku sajadah panjang untuk kami bercengkrama dengan Tuhan.


*


Aku menuang teh hangat dari teko kaca ke dalam cangkir Kaysan dan cangkirku.


"Minumlah mas." Ku taruh teko kaca dan menggantinya dengan cangkir teh Kaysan.


Kaysan menerimanya, di seruputnya teh hangat hingga habis tak tersisa.


"Haus? Mau lagi?" tanyaku padanya, ia hanya mengembalikan cangkir teh itu ke tanganku tanpa membuka suara.


"Apa ada masalah?" tanyaku.


"Tidak terlalu buruk." jawabnya masih sibuk mengetik sesuatu di keyboard.


"Apa bisa Jani bantu?"


"Tidak perlu, kerjakan saja tugas kuliahmu."


Aku mengangguk, tu tatap Kaysan sebentar lalu menuangkan teh hangat lagi ke cangkirnya, setelahnya aku pergi menuju meja belajarku. Ada beberapa tugas yang perlu aku selesaikan. Sambil mendengar musik metal melalui headphone, aku mulai hanyut ke dalam irama musik yang menghentak gendang telingaku.


Kami mulai sibuk sendiri, beginilah keadaannya jika egoisme saling bertemu. Lelakiku tidak tahu jika aku ingin memasuki dunianya. Jika masih ada batasannya, maka untuk apa sebuah aksara jika tidak untuk saling berkata.


Aku mulai terantuk, IQ sedang yang aku miliki sepertinya agak menyulitkanku untuk menemukan jawaban.


Berkali-kali menoleh ke Kaysan untuk menanyakan jawaban, yang ditatap sedang berganti baju.


"Mau pergi?" tanyaku.


"Tetaplah dikamar, Mala dan keluarganya akan datang bertemu Tuniang Dewi."


"Baiklah. Pakai parfum yang banyak, jangan lupa rambutnya pakai pomade biar rapi." Entah perhatian atau sindiran, Kaysan berjalan kearahku. Dari belakang ia mengecup ceruk leherku.


"Jangan cemburu."


"Biarin, cemburu gratis."

__ADS_1


^^^"Cemburu memang gratis, tapi berbahaya untuk kesehatan hatimu."^^^


"Lalu bagaimana Jani mengekspresikan rasa cemburu, diam saja. Biar tertumpuk dan sewaktu-waktu menjadi bom waktu yang siap meledak. Aku cemburu!" kataku dengan nada yang sedikit nyolot.


"Hanya sebentar, nanti sebelum kamu tidur aku sudah dikamar menemanimu."


"Jani mau tidur dengan Mbok Darmi!"


"Jangan."


"Kenapa?"


"Kasur Mbok Darmi sempit, tidak cukup untuk tidur berdua. Disini saja, kasur ini terlalu luas jika hanya tidur sendiri."


"Ajak tidur saja itu ayam kintan berserta ikan-ikan koi kesayangan!"


"Aku suka caramu cemburu, jadi tandanya kamu juga mencintaiku?


"Pakai ditanya! Kalau gak cinta aku tidak mau diajak bercinta om-om sepertimu. Sudah tua jangan nakal!" kataku sarkasme.


"Enggak nakal, aku dan tusuk sate ini hanya milikmu seorang." Kaysan kembali mencium ceruk leherku.


"Sudah sana, awas jangan ada kontak fisik dengan Nurmala Sari. Apalagi tatap-tatapan mata. Tidak boleh lebih dari 5 menit!"


"Bukannya tidak sopan jika berbicara tidak melihat lawan bicaranya. Itukan termasuk unggah-ungguh dalam berbicara." [ unggah-ungguh : sopan santun ]


"Jani tau!" Aku bersungut-sungut kesal, ku putar kursi belajarku. Membelit kaki Kaysan dengan kakiku, "Jani lebih suka mas main game dengan Nakula dan Sadewa, Jani lebih suka mas memilih tidur dengan ayam kintan. Tapi Jani tidak suka mas seperti itu."


"Salahnya dimana?" Aku sedikit berpikir, memang tidak ada yang salah, hanya rasa cemburuku saja yang berlebihan.


"Cium dulu sebelum pergi." Pintaku yang langsung di angguki Kaysan, ia mengelus pipi kananku, sebelum akhirnya ia membenamkan bibirnya di bibir ranumku.


Jika Kaysan menyukai caraku cemburu, aku menyukai bibir hitamnya yang suka menyesap putung rokok.


Dadaku sesak bukan karena asap rokok yang ku hirup disampingnya, dadaku sesak karena pahitnya kenyataan.


*


Dikamar, aku bertanya-tanya dalam benakku : Sebenarnya Kaysan masih mencintai Nurmala Sari atau tidak. Atau aku hanyalah pelarian dari buah zakarnya.


Ku peluk guling ini sambil berkelana di media sosial.


Setelah makan malam yang diantar Mbok Darmi ke dalam kamar, aku sudah dilanda rasa kantuk. Tetapi, rasa penasaran mengajakku untuk mengendap-endap keluar dari kamar. Aku ingin melihat situasi di pendopo belakang.


Kenapa slalu pendopo belakang yang menjadi tempat favorit keluarga ini berkumpul, karena di titik itulah semua keindahan rumah ini terbuat.


Aku mengedarkan pandang, laksana seorang maling yang ingin mencuri uang. Mataku awas mengawasi jalannya pengintai.


Dibalik pintu terakhir, sebelum sampai ke area taman belakang. Aku menyaksikan drama kolosal di samping kolam ikan, Nurmala Sari tampak tertawa riang, sedangkan Kaysan sibuk memberi koi pelet ikan. Mereka bak pasangan serasi ala bangsawan yang rela di jodohkan untuk perluasan kekuasaan.


Gelombang cemburu seperti menggulung rasa percaya diriku.


Happy Reading πŸ’š


Kasih like n vote ya πŸ˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2