Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 109. [ Diary ]


__ADS_3

Sultan Agung Adiguna Pangarep tidak hanya seorang Raja yang gagah dan berani, beliau adalah salah satu Raja yang pandai memanah dan berkuda. Ayahanda pun adalah seorang penulis sastra Jawa yang handal.


Seminggu setelah kejadian itu, aku dan Kaysan memilih berpisah ranjang. Aku tidur di kamar Indy dan menemukan sebuah diary. Diary masa remaja seorang Nindy yang tergelak begitu saja di atas nakas. Aku membukanya, setelah pintu kamar aku tutup rapat.


Berkali-kali aku menutup mulutku, ternganga tanpa bisa mengeluarkan suara. Semakin ku buka halaman demi halaman lainnya, aku semakin penasaran dengan Ayahanda. Aku hanya tahu Ayahanda memang bersikap lembut sekaligus tegas dengan semua anak-anaknya. Tapi dengan Indy, Ayahanda seperti menjadi sosok lain yang tak pernah ia tunjukkan pada anak lelakinya. Aku menutup buku diary Indy dan mengembalikan lagi ke tempat semula.


Aku merebahkan diri diatas ranjang, pikiranku mengudara. Tiga puluh tiga hari lagi Sayembara itu akan menjadi titik awal perjuangan ku, aku bahkan tidak tahu apa yang akan Ayahanda rencanakan. Tapi aku tahu, apa kesukaan Ayahanda sekarang, dengan begini aku 'sedikit' bisa merayunya. Ah! Aku tersenyum licik, tikus cantik seperti ku tahu saja cara menyusup mencari informasi dan perhatian.


Aku berguling, ku ambil HPku dan menghubungi seseorang. Setelah berjanjian di suatu cafe, aku bergegas menuju kamarku. Sudah seminggu aku tak berhubungan badan dengan Kaysan. Setelah malam penuh amarah yang ia lakukan, aku dan Kaysan berjanji untuk tak saling menyentuh satu sama lain dikarenakan aku dan Kaysan sedang menjalani puasa Mutihan.


Kini aku menanti dengan was-was benih yang akan tumbuh di rahimku, jadikah, atau akan terlebur bersama darah yang keluar setiap bulan. Aku menanti tanpa pasti.


"Mau kemana, Mbak?" tanya Nakula saat aku berpapasan dengannya di ruang keluarga.


"Mau tau aja, sudah sana ke psikiater. Cantik kan dia, masih muda kok." Ejekku sambil menjulurkan lidah. Kemarin seorang psikiater dari salah satu jebolan universitas ternama datang ke rumah, sesuai titah Ayahanda dan Kaysan.


Nakula di suguhkan seorang wanita cantik dengan paras yang ramah. Usianya lebih tua lima tahun dari Nakula, tapi badannya lebih kecil darinya. Dia yang akan membantu Nakula dalam misi melanjutkan kisah cintanya, "Bukalah hatimu, bukalah sedikit demi sedikit." ocehku sambil bersiul. Nakula menarik tanganku, "Mbak." panggilnya membuatku berbalik, "Terimakasih." Seulas senyum menghiasi wajahnya, senyum yang tulus dari hatinya.


"Inget, ideku tidak gratis. Kamu harus menjadi tim back up untukku."


Nakula mengangguk, "Nanti aku akan membeli seperangkat alat tempur berupa bunga sesaji dan dupa cina, lalu Mbak tinggal melakukan semedi di gua."


"Kamu pikir aku mau jadi si buta dari gua hantu! Aku mau menjadi Srikandi berjiwa Larasati. Sudah, jika mas Kaysan nanti pulang lebih awal, bilang saja istrinya sedang merayu seseorang." Aku tersenyum lebar.


"Dasar pembuat ulah." gerutu Nakula.


Aku menuju pelataran parkir. Motor KLX hitam sengaja Kaysan jual, sebagai gantinya motor bebek tak berjenis kelamin ini menjadi tunggangan ku sekarang.


Motor melesat ke arah jalan Sudirman, dimana aku akan menemui Anisa. Bapaknya akan menjadi kunci sukses rayuanku kepada Ayahanda. Bapak Anisa yang seorang budayawan pasti tahu arti dari selembar kertas yang aku sobek dari buku diary Indy.


Tiba di sebuah cafe dengan dekorasi kekinian, aku berjalan dengan mantap menuju meja yang sudah di pesan Anisa. Tangannya melambai, "Anisa, apa kabar?" tanyaku setelah mendaratkan ciuman di pipi kirinya, "Kamu apa kabar, katanya ke Australia. Mana oleh-olehnya." Tangan Anisa menengadah.

__ADS_1


"Ada, tapi nanti." Aku menyeringai, "Aku butuh bantuanmu." kataku sambil mengeluarkan kertas dari kantong celana ku. "Bapak kamu tahu artinya ini? Jika iya, oleh-oleh dari berbagai negara boleh kamu bawa." kataku sambil menaruh tas belanja di atas meja.


"Apa ini?" Anisa membuka secarik kertas yang nyaris berubah warna. "Ini bahasa Kawi, Jawa kuno." kata Anisa sambil mencerca kalimat demi kalimat yang ditulis oleh Indy.


"Itu seperti bahasa sansekerta." lanjutku.


"Bahasa Kawi bisa seperti bahasa sansekerta, karena kebanyakan tulisannya sudah berabad-abad lamanya dan kebanyakan dari kaum Buddha, contohnya kakawin yang ditulis saat berdirinya kerajaan Majapahit di abad ke 14 atau biasanya terkenal dengan Mpu Tantular sang pujangga sastra Jawa kuno." ucap Anisa mengebu-gebu, dia seperti memberi contoh bagaimana jika Bapaknya sedang berorasi menyajikan kisah-kisah unik dari budaya yang ada di negeri ini.


"Mendarah daging sekali genetik bapakmu, Nis." Aku tersenyum jenaka, "Ini sudah makananku, Jani. Mau tidak mau."


Aku tertawa, setelahnya kami menceritakan liburan semester yang sebentar lagi akan berakhir.


Selesai urusannya dengan Anisa, kini aku melajukan motor bebek ini menuju toko bunga. Aku ingin membeli dua tangkai bunga sedap malam, tujuh tangkai mawar putih, dan lima tangkai lili putih. Itu untuk Ayahanda, agar Ayahanda mengingat bagaimana perjuangannya sebelum meminang istri ke duanya.


Eufloria Florist.


Motor ku berhenti tepat di depan toko bunga, harum semerbaknya menerpa wajahku, seperti mengajakku untuk segera masuk ke dalam toko dan segera memilih bunga segar untuk orang terkasih.


"Ada yang bisa aku bantu kak?" tanya seorang karyawan dengan ramah. Aku tersenyum, melihat mawar putih seperti mengingat ku pada Kaysan dan ibu.


Sambil menunggu rangkaian bunga tersusun rapi. Aku menulis kata-kata indah dengan pena hitam. Aku bergidik ngeri saat membaca ulang tulisanku sendiri, bisa mati di hukum Kaysan jika ia tahu aku melakukan hal senekat ini.


"Sudah selesai kak."


Aku menatap bunga itu dan tersenyum puas, ikat pitanya berwarna merah, kontras dengan warna bunganya.


"Menerima jasa pengiriman gak kak?" tanyaku sambil menyelipkan sepucuk surat rayuanku.


"Bisa kak, alamatnya dimana?"


Aku menulis alamat rumah Ayahanda, berserakan nama penerimaannya.

__ADS_1


"Kirimkan bunga yang sama setiap hari selama 33 hari."


Karyawan bernama Tari ini menatapku dengan penuh tanda tanya besar. "Jika bisa menjaga rahasia, kakak nanti aku kasih bonus."


Sudahkah aku seperti tikus berdasi yang pintar melakukan penyogokan?


"Nanti kata-katanya akan aku kirim lewat WhatsApp."


"Baik kak, untuk sekarang biayanya 108.000 rupiah." Aku mengangguk dan membayarnya.


Terlepas dari semua yang aku lakukan untuk membuktikan jika cinta tak cukup untuk memenuhi syarat sebagai calon pendamping Kaysan yang layak, aku hanya ingin tahu apakah Ayahanda bisa berlapang dada menerima ku tanpa perlu menyandingkan aku dengan orang yang jelas-jelas sudah menang telak dari segi apapun.


Aku bergegas pulang karena sebentar lagi Kaysan juga akan pulang dari tempat kerja. Puasa Mutihan yang aku lakukan begitu menguras kadar gula dalam darah ku. Aku loyo, tapi semoga atas seizin Sang Maha Kuasa, apa yang aku lakukan akan membuahkan hasil.


Kembalinya Nanang di rumah ini tak lebih dari bara api yang menyala, gerak-geriknya slalu mencuri perhatian ku. Seharusnya ia bisa pulang dan tidur di kamarnya, tak perlu menginap di rumah Ayahanda selama ini.


"Mbak, dari mana?" tanyanya.


"Jalan-jalan." jawabku.


"Jaga kesehatan."


Diruang keluarga inilah dia slalu menunggu ku, sebab letaknya yang berada di tengah-tengah membuat ku harus memilih untuk tidak mengacuhkannya. Jika tidak dia akan berkomplot dengan Nurmala Sari untuk menjauhkan ku dengan Kaysan.


"Kalau aku sakit kamu memang sedih?" tanyaku penasaran.


"Kalau kamu sakit semua repot, Mbak."


"Sakit ada obatnya, jangan risau."


"Itukan sakit fisik, kalau sakit hati gak ada obatnya."

__ADS_1


"Obat semua rasa sakit itu ada di dalam hati dan pikiran. Kalau sakit hati di biarkan menahun, yang ada hanya akan menjadi dendam. Jangan sampai, Nang. Amit-amit."


Maaf baru update, kesibukan merajalela. πŸ˜‚πŸ™


__ADS_2