Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 67. [ Bertemu kamu ]


__ADS_3

Hari-hari ku lewati hanya dengan Mbok Darmi, aku seperti mendapat kasih sayang baru dalam hidupku. Kasih sayang Mbok Darmi yang menemani setiap ocehanku tanpa pernah mengeluh dengan sikapku. Aku slalu mengikutinya, menunggunya membuat sarapan pagi, lalu menyemai benih sawi, memberi makan ayam, Ah! Ya, nama ayam didalam sangkar itu adalah ayam kintan, ayamnya Kaysan.


Dua hari tanpa Kaysan adalah sebuah intuisi. Dan, hari ini waktunya ia kembali bekerja. Aku sudah berdandan secantik mungkin, karena satu set alat make up dan berbagai printilan aksesoris lainnya sudah berada rapi di lemari baru yang kemarin diberikan untukku. Aku dibuat terkejut dengan isinya, banyak sekali busana kebaya, selendang sutra, dan kain jarik. Sepatu kets untuk kuliah, high heels untuk kondangan, dan sepatu semi formal lainnya. Bahkan kemarin aku dan Ibunda Ratu sempat bersitegang karena meragukan perhiasan yang terlihat seperti kuningan, Ibunda mencubit hidungku lalu menentengkan kedua tangannya, 'Apa Kuningan ini terlihat murahan, Rinjani? jika iya nanti Ibunda belikan berlian', Aku terkekeh, diikuti dengan Ibunda yang terkekeh, 'Ini emas tua, pakailah. Kemarin Kaysan belum memasangkan cincin dijarimu karena cincin ini belum selesai dipesan'. Ku tatap jariku yang sudah tersemat cincin bermata hijau. Sepertinya suamiku memang menyukai warna hijau.


Pagi tadi setelah sarapan bersama, sebagian adik Kaysan berlalu pergi. Aku tak paham, jika rumah ini diperuntukkan sebagai tempat tinggal untuk anak-anak Ayahanda, kenapa adik-adik Kaysan tidak menetap saja. Bukannya lebih ramai, bukannya lebih asik jika bersama-sama.


Sekarang di waktu Indonesia barat, tepat di pukul 10.28 hanya tersisa, Nindy dan si kembar. Mereka sendiri sudah sibuk dikamar masing-masing, katanya untuk mengurus tugas harian dari kampus.


Dirumah sebesar ini, tidak ada teman rasanya kesepian. Bahkan Mbok Darmi selepas membereskan jamuan sarapan tadi pagi, lalu meninggalkanku untuk pergi ke Kedaton. Aku tidak boleh ikut, tidak izinkan.


Untuk mendengar lagu metal pun sudah enggan, bahkan ponselku mendadak sepi dengan pemberitahuan. Nina sudah jarang menghubungiku, aku juga jarang mengirimnya pesan. Kegiatanku seperti menyita waktuku untuk bersenang-senang meski hanya melempar kabar.


Aku terdampar di kesunyian kamar, sembari tatapan mataku terus tertuju pada satu pintu. Ku abaikan TV yang menyala, bahkan hadiah-hadiah dari adik Kaysan belum aku buka satu persatu. Aku belum tahu isinya, aku harus mengadu dulu pada suamiku, bolehkah aku membukanya dan memiliki? Hanya dia yang mengizinkan, sang maha benar suamiku sayang.


Aku lebih memilih berdiri dibalik jendela kamar, membiarkan angin menyibak rambutku perlahan. Lalu, terdengar suara decitan pintu yang terbuka lebar, "Mas..." Panggilku sambil menoleh, senyuman itu mengembang, dilemparnya tas ransel hitam diatas lantai lalu merentangkan kedua tangannya.


Dengan langkah lebar aku mendekati Kaysan dan memeluknya, "Kangen gak?"


"Rindu."


"Rindu itu berat ya mas, benar kata dilan. Jani gak sanggup kalau rindu sendirian." Kaysan mengecup keningku, "Bukan kata dilan, tapi kata Kaysan."


Aku terkekeh, "Mas sudah tua, tidak cocok jadi dilan." Kataku sambil melepas rindu yang sudah meluap-luap, "Jani, kesepian tidak ada mas. Jani, tidur sendirian."


"Nanti kita tidur bersama lagi, bagaimana hari-harimu Rinjani?" Tanyanya sambil melepas pelukannya, matanya menatap sekeliling hingga langkah kakinya mendekati sembilan paperbag dan satu box berisi laptop baru.


"Kemarin Jani jalan-jalan dengan adik-adik mas Kaysan, dan ini hadiah dari mereka semua. Dan, ini." Aku menunjuk box laptop yang masih belum aku buka, "Kata Indy kalau kuliah butuh laptop. Terus uang dari kartu debit mas kemarin untuk beli ini, maaf Jani gak izin dulu, mas."


"Hanya hadiah untuk, Rinjani. Mas tidak ada?"


Aku tidak berkutik, sambil menautkan kedua jari telunjukku, yang bisa aku lakukan hanya tersenyum. Kaysan menarik tanganku, "Apa cincin ini salah satu hadiah dari adikku, Jani?" Kaysan mengamati baik-baik cincin yang tersemat di jari manisku, "Jadi cincin ini bukan dipilih mas langsung ya? Cincin ini dari Ibunda, termasuk itu." Aku menunjuk lemari baruku, semangatku sudah runtuh saat mengetahui bahwa cincin yang tersemat dijariku bukan cincin pilihan dan pemberian Kaysan.


"Hadiah dari adik mas belum aku buka. Aku nunggu mas pulang, untuk minta izin dulu."


Kaysan melepas tanganku, lalu memelukku lagi, "Terimakasih sudah jujur, Jani. Bukalah, dan pakai laptopmu untuk belajar."


"Mas tidak marah?" Tanyaku meyakinkan.


"Tidak, aku yang harusnya minta maaf, Jani. Karena tidak memahami keinginanmu dan menemanimu."


"Mas, sudah makan? Mas, kenapa ayam mas namanya ayam kintan?"

__ADS_1


Kaysan menatapku sambil tersenyum lebar, "Karena ayam itu tidak bisa terbang seperti awan kintan milik dragon ball."


"Jadi, dikasih nama ayam kintan supaya bisa terbang gitu mas?"


Kaysan mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil mengacak-acak rambutku. "Lucu."


"Apanya?" Tanyaku penasaran, "Mas capek ya, mas mau Jani buatkan teh hangat?"


"Aku hanya ingin tidur siang, Jani."


"Mas, ngantuk?"


"Sedikit."


"Apa tempat kerja mas jauh banget dan gak ada sinyal?"


"Iya."


"Baru saja ketemu masa Jani langsung ditinggal tidur mas?"


"Lalu, Rinjani mau apa?"


Kaysan melepas jaketnya, menaruhnya di bahu sofa. "Kemarilah, dan bawa hadiah-hadiah itu kemari."


"Iya."


Ku bawa ke sembilan paper bag lalu menaruhnya diatas meja. Aku senang sekaligus cemas dengan isi hadiah-hadiahnya.


"Buka, dan tunjukkan isinya." Titah Kaysan, aku mengangguk, "Masa kemarin kita pulangnya dikawal polisi mas. Apa begitu ya kalau jadi orang penting?"


Kataku sambil membuka paperbag berwarna coklat dengan label Stradivarius, celana panjang dan blouse berwarna senada, "Dari Rama mas, katanya untuk kuliah."


Kaysan mengangguk, "Bukan hanya orang penting saja yang dikawal polisi Rinjani. Orang jahat juga dikawal polisi. Kamu bisa memakainya untuk kuliah."


Satu persatu aku membuka paperbag, dan menunjukkan isinya pada Kaysan. Isinya adalah benda-benda yang bisa aku gunakan untuk kuliah, banyak yang berupa pakaian dan jam tangan. Hingga paperbag yang membuatku penasaran sejak kemarin menjadi paperbag terakhir sebelum aku buka dan ini adalah paperbag titipan dari adik Kaysan yang tak bisa datang, aku merogohnya. Mataku terkesima melihat satu piringan hitam berlogo Metallica, dengan semua tanda tangan dari personilnya.


"Mas, ini wow banget. Bagaimana bisa adik mas mendapat tanda tangan mereka?" Ucapku berapi-api.


"Tidak tahu."


Aku menghela nafas, memasukan lagi piringan hitam itu ke dalam tempatnya.

__ADS_1


"Ayo Jani temani tidur. Mas sepertinya lelah sekali."


Kaysan tersenyum manis, lalu menarik tanganku dengan cepat. Tiba di atas ranjang, aku semakin dibuat melotot dengan perkataan Kaysan, "Puk, puk."


"Puk-puk?"


"Iya."


"Hmm..."


Aku memiringkan tubuhku, lalu menepuk bahunya dengan pelan. "Jangan minta aneh-aneh ya mas, ini masih siang."


"Siang malam pun slalu bisa, Rinjani."


"Jadi mas hanya kangen dengan tubuhku? Mas curang, jahat ih."


Aku menepuk bahu Kaysan cukup keras, menyudahi memberi tepukan dibahunya. "Memang Rinjani tidak rindu dengan tubuhku? Setiap malam aku hanya memeluk guling, dan terus berharap untuk segera pulang dan memeluk tubuhmu."


"Alasan."


"Yasudah, Puk-Puk lagi saja. Aku gak minta aneh-aneh, aku juga gak minta hadiah pernikahan. Sepertinya adik-adikku mulai melupakanku dan lebih memilih kakak barunya." Katanya sambil mengiba.


"Mas emang pandai, sini."


Aku memiringkan lagi tubuhku, memberi tepukan pada bahu Kaysan. "Jangan melihatku seperti ini."


"Aku rindu tatapan matamu, Rinjani."


"Bilang aja mas minta cium, merem deh mas terus tidur siang."


"Tidur siang hanya untuk bocah, Rinjani."


Aku mencubit lengan Kaysan, "Mas.., tutup jendelanya!"


Hahaha, maaf baru up. Baru dapet ide, jangan lupa like yah. Nih aku kasih bonus visual jaman Rinjani masih jadi anak laundry dan anak metal.




Visual Nindy Kencana Ambarwati.

__ADS_1




__ADS_2