Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 24. [ Thrill Rush ]


__ADS_3

Kami berjalan keluar menuju pelataran parkir, sudah tersedia motor KLX hitam. Dia mau ngajak aku Thrill Rush, bagaimana bisa aku tidur diatas motor. Kejengkang malah iya.


"Mas, ada motor bebek gak?" tanyaku mentolerir.


"Kenapa, Rinjani?" jawabnya sambil memakai masker dan helm.


"Motor bebek aja, Mas. Lebih nyaman." Negoisasi lagi sampai deal batinku.


"Adanya ini, Rinjani. Sudah ayo naik."


Aku memakai helm dan maskerku, "Aku saja yang bawa mas, mas mau kepantai mana?" tanyaku sambil mengganti posisi tas ranselku ke depan.


"Tidak! Aku saja yang bawa." Kaysan mengangkat tinggi-tinggi kunci yang dia genggam.


"Aku saja mas, percuma tidur diatas motor. Tidak bisa, sudah sini kuncinya." Aku berjinjit berusaha meraih kunci motornya.


"Kamu yakin bisa, Rinjani?"


"Bisa, kalaupun nanti nabrak mobil. Mas yang ganti perbaikannya." Aku terkekeh, Kaysan menyerahkan kunci motornya.


Dengan sigap aku naik keatas motor, begitu juga Kaysan.


Pintu gerbang sudah dibuka lebar oleh Parto, dia masih terlihat sebal bukan main melihatku yang sudah berani menginjak rumah majikannya tanpa berdebat dengannya.


Aku menggeblar motor keluar dari parkiran rumah. Menuju jalanan yang ramai, Kaysan hanya diam dibelakang. Apa dia merasakan hal aneh. Atau, dia malah takut jika aku menabrak mobil orang. Aku tidak peduli, rasa kantuk ku tiba-tiba menghilang. Aku lebih fokus melihat jalanan di depanku, membiarkan Kaysan berkelana dengan pikirannya sendiri.


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, berkali-kali aku lihat Kaysan dari kaca spion. Matanya mengedar, tangannya memegang lututnya sendiri. Aku cukup geli dibuatnya, sebenarnya alasanku untuk memboncengkannya adalah untuk menghindari drama pelukan.


Kalau dipikir-pikir motor ini dengan tinggi badanku tidak sebanding, ditambah berat badan Kaysan yang kekar membuat kakiku harus menahan motor dengan sekuat tenaga saat berhenti di tengah rambu lalu lintas.


"Mas, mau kepantai mana?" tanyaku menoleh ke kiri, dia sedikit mencondongkan kepalanya. "Nanti gantian aku yang bawa motornya saat jalan menanjak dipergunungan, aku gak yakin kamu kuat."


Aku tertawa, orang ini seperti cenayang. Sudah tahu apa yang akan terjadi, tentu aku tidak kuat. Bisa-bisa njungkel di tanjakan.


Motor ini terus melesat cepat, menyalip beberapa mobil dan motor yang ada di depanku. Tangan Kaysan lagi-lagi masih tetap berada di lututnya. Dia tidak meminta izin untuk memelukku atau dengan instingnya sendiri. Apa dia begitu menghormati perempuan. Hingga tibalah aku di jembatan sebelum jalan tanjakan dan berkelok. Aku sudah ngeri melihat tingginya pegunungan ini.


Motor berhenti, "Mas gantian."


Kami berganti posisi, begitu juga posisi tasku.


Di menggeblar motor dengan kecepatan penuh, aku yang takut terjengkang akhirnya terpaksa memegang pinggangnya.

__ADS_1


"Maaf, Mas." kataku sedikit berteriak, takut jika suaraku hanya akan kabur terbawa angin.


"Pegangan yang baik, jalanan lebih berkelok dan bergelombang." katanya sambil menarik satu persatu jari-jari tanganku, ia tangkup dalam satu genggaman tangannya.


Aku melirik sekilas ke arah spion. Matanya berbinar seperti seekor bebek ketemu kolam.


Aku menyandarkan kepalaku di punggungnya yang bidang. Kekar, cocok sekali untuk bersandar. Sepertinya aku mulai hanyut dalam permainannya. Apa mendalami karakter harus seperti ini, harus menggunakan manis-manis.


Aku rasa tidak, dia punya cara sendiri. Dengan caranya aku rasa dia adalah laki-laki yang menghargai perempuan dan menjunjung tinggi martabat perempuan.


"Kenapa berhenti mas?"


tanyaku sambil mengedarkan pandanganku. Kami berhenti tepat didepan warung kelontong, "Isi bensin, Jani. Kamu mau beli apa?"


"Air aja mas, tenggorokanku butuh penyegaran." Iya penyegaran, siapa tahu nanti tenggorokanku tercekat dengan kata-katamu yang luar biasa.


"Apa lagi?" Kaysan turun dari motor, membuka penutup bensin, seorang bapak berkacamata bundar menuangkan dua botol bensin secara bergantian.


"Beng-beng, Mas. Dua."


"Beng-beng? Apa itu Rinjani?"


Aku melongo, untung pakai masker. Jadi tidak, terlihat betapa terkejutnya aku. Laki-laki di depanku tidak tahu Snack bernama beng-beng. Kemana saja dia selama ini, apa beban hidupnya tidak membuatnya leluasa melihat iklan TV. Sungguh kasian laki-laki ini, bahkan aku saja yang tidak pernah lihat TV tahu apa itu Beng-beng.


Setelah selesai melakukan pembayaran, aku masukan Snack itu kedalam tas ranselku. Berjalan menghampiri Kaysan yang sudah nangkring diatas motor, "Maaf, Mas."


"Apa yang kamu beli, Rinjani. Kenapa tidak sekalian tadi."


"Mas aja tidak tahu apa itu Beng-beng, sudah ayo, Mas. Keburu sore." Ajakku sambil naik ke atas motornya.


Motor kembali melesat diatas jalanan beraspal, hingga tak berapa lama. Motor tiba di TPR, dia merogoh kantong jaketnya, membayar biaya masuk sebesar 10rb untuk dua orang.


Jalanan yang kami lalui mulai melewati jalan bebatuan yang sengaja di cor semen oleh warga. Sedikit bergeronjal dengan batu-batuan khas pegunungan dan tepi pantai.


"Mas, pinjem karpet Aladin sana." Keluhku sambil mencengkeram kedua bahu Kaysan saat tubuhku berlonjak-lonjak.


"Tidak ada karpet terbang Rinjani."


"Hanya kiasan mas."


"Mas, masih jauh?"

__ADS_1


"Sudah dekat, bertahanlah."


"Mas, pantat Jani kesemutan."


Kaysan terkekeh sebentar, sebelum tangannya menggenggam tanganku lagi.


"Kamu pasti suka."


"Apanya mas?"


"Pantainya."


"Oh, aku kira suka sama mas."


Tidak ada jawaban, suaranya digantikan suara deburan ombak dengan pasir putih yang membentang.


Kami turun dari motor dan berjalan mengikuti jalan setapak warga.


"Mas yakin pantainya sesepi ini?"


"Pantai ini cenderung pantai untuk camping. Jadi memang sepi, Rinjani. Karena akses jalan kesini juga sulit."


Aku mengangguk, "Mas, tidak bermaksud mengajakku camping disini,'kan?" tanyaku ragu-ragu, jika dia mengiyakan. Aku akan cepat-cepat mengambil alih kunci motornya dan meninggalkan dia sendiri disini.


"Aku hanya mau berdua denganmu, Jani."


"Kata Nina jika berduaan yang ketiganya setan, Mas. Apalagi ditempat sepi." Protesku yang hanya diberi seulas senyum manisnya.


"Aku menjagamu, Rinjani. Sampai kita menikah nanti"


"Mas! Jangan bahas pernikahan. Aku masih muda."


"Tapi aku sudah tidak muda lagi. Aku butuh pendamping untuk menggantikan tahta Ayahanda."


Aku menghentikan langkahku, "Jadi maksud mas mendekatiku hanya untuk menggantikan tahta Ayahanda. Jadi mas tidak benar-benar menyukaiku?"


Nada suaraku sudah parau, aku sudah menahan isakkan. Jikalau hadirku hanya untuk status yang tidak bisa aku lakukan. Status yang jelas membutuhkan kerja keras dan pengakuan kekuasaan.


"Pergantian tahta kerajaan masih butuh waktu bertahun-tahun, Rinjani. Tapi aku mau kamu belajar menjadi anggota kerajaan, sebelum akhirnya kita diangkat sebagai Raja dan Ratu."


Aku menunduk, "Aku tidak bisa."

__ADS_1


*


Rahayu, kersaning Gusti ๐Ÿ™


__ADS_2