Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Obrolan ringan ]


__ADS_3

"Bukannya Bapak tahu Rinjani dan mas Kaysan kesini untuk menata hati?" Rinjani melipat kedua tangannya. Wajahnya murung, tatkala mendengar hubungan Bapaknya dengan Laura berada di tahap serius.


"Kamu tidak setuju?" Herman melihat mata Putrinya berkaca-kaca.


"Jani lelah dengan keadaan, Pak. Jangan menambah semua ini semakin rumit." Air matanya kembali mengisi pelupuk matanya.


Di kamar Herman kedua bapak-anak itu bicara empat mata. Kebetulan Kaysan sudah tidak ada di rumah, ia mengajak Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya untuk keliling kota Melbourne. Cuaca tak sedingin biasanya, karena hari-hari menuju musim semi sudah akan terlihat di depan mata.


"Bapak mencintai Laura, atau hanya menjadikan pelarian saja?" tanya Rinjani tersungut-sungut.


Herman tampak berpikir, ia belum memastikan perasaannya, kehadiran Laura yang hanya mengisi kekosongan semata, atau memang benar-benar mengisi sepenuh hatinya.


"Bapak harus ingat, besan bapak adalah Raja. Sedangkan aku dan mas Kaysan belum benar-benar di terima oleh Ayahanda. Bukan! aku yang belum di terima." seru Rinjani, "Bapak sudah lupa dengan Ibu?" Lanjutnya lagi sambil menghapus air matanya.


"Bapak bertemu dengan Laura satu Minggu setelah kepulanganmu waktu itu. Bapak kira permintaanmu dulu adalah kesungguhan yang akan membuatmu senang. Bukankah kamu juga rindu kasih sayang seorang ibu? tanya Herman.


Rinjani menghela nafas kasar, "Ibu Rinjani ada lima, Pak." jawabnya sambil mengangkat kelima jari tangan kanannya.


"Yasudah di genapi jadi enam." seru Herman sambil tersenyum jenaka.


Rinjani tak berhenti ngomel-ngomel, ia semakin di buat bingung di pagi yang tak biasa.


"Bapak tahu Sheila?" tanya Rinjani penuh selidik.


"Tahu." jawab Herman singkat, ia ingin menguji seberapa penasarannya Rinjani dengan Sheila. Anak Laura yang sudah memiliki kekasih seorang perwira polisi.


"Siapa dia? Hmm... bapak lihatkan, tadi malam dia mencium pipi Kaysan." seru Rinjani tidak terima, saat keluarga Laura memberi salam perpisahan dengan saling memberi kecupan pipi. Hal biasa yang dilakukan oleh orang luar pada umumnya.


"Putri Bapak cemburu?" goda Herman, semakin disenggol, Rinjani akan semakin cerewet.


"Cuma Rinjani yang boleh cium mas Kaysan!" Lagaknya benar-benar menjadi-jadi, seakan ada kerinduan dari seorang anak kecil yang menantikan sosok seorang Bapak yang memiliki citra pelindung dan mengasihi.


"Tapi Keenan kemarin juga menciummu, apa Kaysan juga cemburu?" Herman semakin menjadi-jadi, saat putrinya justru menggerutu kesal sambil mengacak-acak rambutnya.


"Mas Kaysan, kan, sudah dewasa. Ia tidak mungkin cemburu dengan anak ingusan!" Sergah Rinjani membela diri. Baginya Keenan adalah anak belasan tahun yang belum paham jatuh cinta.

__ADS_1


"Keenan memang masih remaja. Tapi remaja disini diusia 17 tahun sudah di tuntut untuk mandiri." jelas Herman mendekati Rinjani. Ia tahu putrinya butuh penjelasan yang logis tentang Laura dan anak-anaknya.


"Laura adalah istri seorang jendral polisi di Melbourne. Suaminya mati tertembak saat mengikuti penyergapan ******* yang menyerang masjid terbesar di kota ini. Sedangkan, Sheila adalah kekasih teman papanya. Perwira polisi muda yang diberi amanat papa Sheila untuk menjaganya. Musim semi nanti mereka akan mengadakan pernikahan di altar dekat taman kota." Herman menarik tangan putrinya, "Masih ada yang perlu kamu ketahui?" Rinjani mengangguk.


"Bapak sudah tahu, kan, pernikahan beda agama dan negara butuh persiapan yang matang dan tidak mudah. Bagaimana jika Laura tidak mau Bapak ajak pulang ke tanah Jawa? Belum lagi menantu bapak bukan orang sembarangan. Darahnya masih mengalir darah biru!" jelas Rinjani yang benar-benar dirundung kemalangan.


"Beri waktu untuk Bapak membicarakan dengan Laura." Herman tersenyum simpul. "Tapi apakah kamu dan Kaysan akan menetap lama disini?"


Rinjani menggeleng tidak tahu. Baginya kemana saja asalkan dengan Kaysan ia akan menurut saja.


"Yasudah, tidak kenal maka tidak sayang. Besok Bapak akan mengajakmu ke bakery shop milik Laura. Kamu bisa berlatih membuat kue disana." ujar Herman. Putrinya tidak mungkin terus menjadi Puteri dalam sangkar emas. Rinjani butuh pengalaman yang bisa menjadikan itu modal usaha kelak sekalipun ia terlepas dari tembok istana dan pundi-pundi uang yang Kaysan miliki. Sejatinya apa yang dimiliki manusia hanyalah titipan dari sang maha Kuasa. Kapan saja bisa diambil atau dijungkirbalikkan keadaan.


Rinjani memutuskan berjudi dengan intuisinya. "Boleh, asal jangan minta Rinjani untuk menerima Laura dalam sekali kedipan mata. Bagi Rinjani ibu tetap hidup didalam sini." Rinjani menunjuk dadanya, ia ingat perkataan Nakula tentang Narnia yang hidup di dalam jiwanya, meski raganya telah tiada.


"Bagi bapak, ibumu memang pernah hadir dan masih. Hanya saja banyak kenangan pahit yang sudah Bapak toreh untuk ibumu." Ada gurat penyesalan di wajah seorang Herman.


"Terus apa Bapak nanti juga akan melakukan hal yang sama untuk Laura? Aku heran, bagaimana cara bapak berkomunikasi dengannya? Sedangkan bapak saja ngomong bahasa Inggris masih terbata-bata?"


Rinjani terkekeh geli sambil menyeka air matanya. Teringat akan ibunya, ia seperti menguapkan kenangan pahit satu tahun silam. Sebelum dahaga akan cinta mengalihkan semua rasa sakitnya. Bagi Rinjani, kehadiran Kaysan seperti malaikat maut yang mengajaknya berlarian diatas bara api dan tanjakan curam. Dan pikirnya itu menyenangkan, dan penuh tantangan. Ia bisa mengulik seberapa besar nyalinya, seberapa kuat dirinya sebelum masalah-masalah besar menyergapnya diam-diam.


"Lalu, kalau bapak menikahi Laura bapak mau kasih makan dengan apa?"


"Dengan nasi dan lauk pauk." jawab Herman santai.


"Bapak jangan membuat aku dan mas Kaysan malu!"


Rinjani keluar dari kamar, ia terbelalak melihat Kaysan dan kedua abdi kinasih sudah duduk di sofa.


"Kapan kalian pulang?" tanya Rinjani. Ia cukup malu, jika Kaysan mendengar ocehannya. Mbah Atmoe tertawa-tawa, "Sejak tadi."


Mata Rinjani membulat.


"Mas juga dengar?" Rinjani menghampiri Kaysan.


Kaysan yang sudah tahu siapa Sheila pun hanya tersenyum sambil menepuk sofa disampingnya. "Bapak sudah cerita tadi malam, semuanya." jelas Kaysan. Ia menyelipkan rambut Rinjani k belakang telinganya.

__ADS_1


"Kapan? Kenapa aku tidak tahu?" Rinjani mendaratkan tubuhnya didekat Kaysan. Ia bergelayut manja, dengan mata awas yang menatap tajam ke arah Kaysan. Pasalnya setelah kepulangan Laura dan anak-anaknya. Rinjani dan Kaysan hanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Seperti biasanya, memberi jatah organ-organ kenikmatan untuk saling bertemu membentuk koalisi baru.


Kaysan dan Rinjani versi junior.


"Waktu kamu sudah tidur. Pembicaraan orang dewasa."


Dhanangjaya dan Mbah Atmoe mengangguk, "Kami sudah tahu. Dan, tidak sepatutnya menaruh curiga dengan orang yang baru kita kenali. Hanya saja perlu waspada."


"Tapi, eyang. Rinjani juga sudah dewasa. Rinjani sudah 21 tahun!" seru Rinjani.


"Kapan kamu ulang tahun?" Kaysan lupa, jika istrinya juga mengalami pertambahan


usia.


"Waktu kita baru pindah ke sini."


"Jadi suamimu lalai tidak mengucapkan selamat ulang tahun dan memberimu kado!" Eyang Dhanangjaya menyulut suasana.


"Iya lupa. Tapi waktu itu Rinjani juga lupa." Rinjani tertawa kecil dan tak mau memperpanjang masalah. Terlebih kondisi keuangan Kaysan saat ini bukan dalam keadaan yang normal.


"Maaf ya, Dik." ucap Kaysan sambil mengeluarkan sebuah jepitan rambut dari kantong celananya.


Ia memasangkan jepitan rambut dengan hiasan permata hijau di bagian atas rambut Rinjani. "Rambutmu sudah panjang, ada baiknya sedikit di potong." kata Kaysan menangkup rahang Rinjani.


"Agar tidak menganggu saat kit..."


"Uhukkkk....Uhukkkk!!!!" Eyang Dhanangjaya terbatuk-batuk. "Anak muda sekarang memang tidak tahu waktu. Ada kesempatan tubruk, rumah sepi tubruk, lagi marahan ujungnya juga tubruk."


"Apa eyang, kopi tubruk?" Rinjani tersenyum lebar. Ia paham dengan maksud eyang Dhanangjaya.


"Kamu dan Kaysan itu memang seperti kopi tubruk. Cocok saling melengkapi, tinggal ampasnya saja yang belum jadi. Semoga disegerakan." Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya menyebut kata Amin. Begitu juga Kaysan dan Rinjani.


Merekapun tidak sabar menanti datangnya sang buah hati.


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2