
Aku sengaja menyembunyikan tas ranselnya diatas lemari pakaian saat Rinjani lari terbirit-birit ke kamar mandi. Usahaku berhasil, saat aku keluar dari kamar mandi setelah meredam gelombang nafsu. Rinjani masih memakai handuk yang membelit tubuhnya.
Bibirnya mengerucut, sambil cerewet menanyakan dimana tas ranselnya. Aku tersenyum jenaka. Jelas-jelas dia tidak bisa menjangkaunya. Dengan dalih Mbok Darmi lupa menaruhnya, aku mencarikan solusi. Solusi yang akan menguntungkanku. Aku seperti rubah berbulu domba. Domba yang mendamba kecantikan mangsaku.
Rinjani berkelit, dia tidak mau ganti baju di dalam kamar. Saat Rinjani pergi, aku memilih untuk keluar dari kamar. Berjalan menuju dapur untuk mencari kudapan, sambil menyesap rokok untuk memberi rasa tenang.
Rinjani pasti lapar, aku bukan lagi. Rasa tegang dan kaku membuat asam lambungku meningkat.
Tiba didalam kamar, Rinjani sudah bersembunyi dibalik selimut. Aku ingin menertawakannya. Dia pasti dirundung rasa malu. Apalagi ini adalah kali pertama kami berdua terlihat lebih intens.
Saat ia bertanya aku memiliki sarung atau tidak, dia semakin membuatku tergelak. Dia lucu sekali, batinku. Bahkan ocehannya yang menyatakan jika dia seperti ingin ronda malam membuatku, tertawa. Dia benar-benar memberi warna dalam hidupku.
Diwaktu yang sudah menunjukkan pukul 00.45, kami selesai menyantap hidangan penutup. Bukan! Hidangan penutup untukku selain sebatang rokok, adalah Rinjani.
Aku membiarkannya bernafas sejenak, sembari menyesap sebatang rokok di pinggir taman. Aku menikmati masa-masa terakhir diriku menjadi seorang perjaka.
Setelah menghabiskan dua batang rokok, aku berjalan menuju kamar. Ku lihat gadis kecil itu tidur dengan gelisah, ia terus mengerjapkan matanya menatap plafon kamar lalu duduk disisi ranjang. Apa dia menungguku, astaga manis sekali.
Tubuhku belum siap untuk mendekati seorang hawa yang tidur di kamarku, seorang hawa yang membuat kamarku akan penuh dengan suaranya, seorang hawa yang akan menjadi tempatku berlabuh. Ku tepuk sisi sofaku, tapi ia malah menepuk sisi ranjangnya. Apa boleh dikata, dia seperti memberi lampu hijau untuk aku mendekatinya, senyumku menyeringai.
Dengan langkah seribu aku mendekati ranjang, dan ikut membenamkan sebagai kakiku di balik selimut.
"Tidurlah kamu pasti lelah."
"Mas..."
"Iya, ada apa Rinjani?"
"Puk..., Puk."
__ADS_1
"Puk..., Puk?"
Dahiku mengerenyit, baru kali ini dihidupkan aku mendengar kata 'Puk-Puk'. Aku bingung harus melakukan apa, ini juga kali pertama bagiku pria dewasa yang tidak banyak pengalaman dalam berpacaran.
Lalu tangan kecil itu menepuk-nepuk bahuku, "Puk..., puk seperti ini mas." Aku tersenyum, mulai mengerti arti kata 'Puk-Puk' versi Rinjani.
"Aku rindu ibu mas, dulu ibu sering menepuk-nepukku seperti ini." Tangan Rinjani masih terus menepuk bahuku, aku menikmati sentuhannya.
"Besok kita ke makam ibu. Sekarang tidurlah."
"Tapi..."
Rinjani tersenyum. Dia seperti menagih janjiku untuk menciumnya saat statusku sudah menjadi suaminya.
Dulu saat mendalami karakter dengan Rinjani, pertemuan antara keningku dan keningnya adalah pertemuan paling romantis yang kami lakukan. Ku pejamkan mataku, karena menatap matanya akan membuat jantungku semakin berdebar tak karuan.
"Berdoa dulu mas." Suara Rinjani membuyarkan imajinasiku. Bagaimana bisa aku lupa, ini adalah kali pertama tubuhku dan tubuhnya saling menghantarkan rasa hangat. Sambil berdoa dalam hati. Ku sipitkan mataku, terlihat Rinjani juga memejamkan matanya, kelakuannya membuatku tersenyum.
Mataku membulat saat bibir yang sedari tadi diam menggigit bibirku, "Kenapa?" Aku tersentak.
"Aku gak bisa nafas mas." Rinjani terengah-engah, aku lupa jika hawa di depanku ini adalah mahluk hidup yang memerlukan oksigen.
Aku menarik tubuhku, lalu bersandar di bahu ranjang. Ini belum apa-apa dan belum masuk ke tahap selanjutnya. Ku tepuk pahaku, saat Rinjani masih menghirup nafas dalam-dalam. Rinjani menurut, gadis kecilku malu-malu naik ke pahaku. Ia masih menunduk dengan pipi yang tersipu, wajahnya tampak ragu.
"Kenapa?" tanyaku.
"Malu, mas." ucapnya lirih.
Aku memandang Rinjani lamat-lamat, "Pengalaman pertama memang malu-malu kucing. Lihat mataku."
__ADS_1
Rinjani mengangkat kepalanya, dengan tersipu ia melihatku. "Kenapa mas begitu, ada yang lucu?"
"Kamu lucu, pipimu merah seperti tomat."
"Jangan gitu." Rinjani memeluk ku dengan erat. Menyembunyikan wajahnya di ketiakku. Aku hanya bisa mengelus punggungnya yang putih.
Meski tubuhnya kecil, dia mampu membuat seluruh otot tubuhku menegang. Termasuk otot-otot tak bertulang. Aku mulai tak kuasa, saat tubuh Rinjani mulai menggeliat hebat karena sentuhan yang aku lakukan. Aku benar-benar menjadi laki-laki yang tergesa-gesa. Berkali-kali dia menggeliat seperti ulat bulu yang digelitiki. Rinjani, dia begitu lucu dimataku, dahinya penuh dengan keringat, tubuhnya bukan lagi. Kami seperti kepanasan di dalam sauna, meskipun sedaritadi AC sudah menyala.
"Buka matamu dan tatap aku Rinjani." Ku bisikan kata-kata ditelinga, aku takut dia malah tertidur karena sedari tadi matanya hanya terpejam.
"Mas, Jani malu."
"Tidak apa-apa, apa kamu sudah siap?"
Matanya tiba-tiba mendelik, bibirnya meracau, aku hanya bisa tersenyum saat kami berdua sudah seperti kucing kehujanan.
Benar kata dr Bryan, seusia Rinjani belum paham cara memuaskan suami. Tangannya masih pasif, hanya sesekali mencengkeram bahuku. Tapi cengkramannya begitu kuat saat aku mulai menyentuh bagian sensitifnya.
Apa malam pertama begitu indah seperti yang aku rasakan sekarang. Hingga Ayahanda memiliki istri empat dan satu selir.
Pikiranku mendadak beku, mendadak ada sesuatu yang harus aku yakinkan. Ku sudahi menjelajahi dunia baruku. Nafsuku tiba-tiba menghilang seketika.
Aku harus yakin jika gadis kecil ini siap menyerahkan jiwa dan raganya untukku, aku harus memastikan bahwa Rinjani sudah siap untuk melakukannya, tanpa perlu aku paksa.
Pagi hampir menjelang, diskusi kecil tentang masa depan sudah ada di genggaman tangan. Aku suka saat ia sedang cemberut, aku suka perhatian kecilnya mesti hanya memakaikan bajuku.
Dia adalah gadis yang taat kepada Sang Pencipta dan kepadaku. Jika malam ini harus tertunda karena prahara 'meyakinkan diri', esok tidak akan ku tunda lagi untuk menyatukan tubuh ini.
Ku 'Puk... Puk' bahunya, lalu mengecup keningnya. "Have a good dream my empress."
__ADS_1
Malam pertama dalam hidupku berakhir dengan pelukan hangat dari Rinjani. Meski sebenarnya ada sesuatu yang masih mengganjal di bawah selimut.
[flashback - POV Kaysan]