Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Anne vs Kaysan II ]


__ADS_3

Ketiadaan cahaya matahari semakin membuat suasana menjadi muram.


Semenjak semalam aku sudah di bekali sepucuk senjata api. Bahkan Bapak yang tak tahu menahu soal kejadian ini, ikut-ikutan merayakan kegaduhan dengan cara menakut-nakuti ku. Bukan Bapak yang tak usil seperti Rinjani.


"Laura, sepertinya kita harus menunda pernikahan kita."


"Kenapa, mas? Bukannya surat-surat sedang di urus Rinjani."


"Masalahnya bukan itu, tapi anak mantu kita sedang buat masalah."


"Betul. Anak mantu kita memiliki kelebihan daya tarik. Jadi dia memakan buah simalakama yang membuatnya sial sendiri."


Kedua lansia itu masih saja bersilat lidah dan memojokkan ku atas kegaduhan ini.


Tanpa sadar aku menghentak gelas cukup kuat.


"Aku sangat malas jika harus berurusan dengan hukum. Ini bukan kriminal dan bukan penculikan." ujarku.


Sampai waktunya sarapan pagi selesai. Anne tak kunjung bangun.


Laura dan Bapak terdiam, lalu mengangguk.


"Kita cek kondisinya."


"Opsi bagus."


Kami bertiga menuju kamar yang Anne tempati. Kamar milik Laura yang masih menyisakan benda-benda peninggalan suaminya. Termasuk almari kaca yang berisi senjata api dan lencana. Semalam suntuk Laura yang menemani Anne, sedangkan aku sendiri tidur bersama Keenan. Ia banyak bercerita tentang semua hadiahnya yang diberikan papanya dan rasa kesepiannya. Mungkin inilah sebabnya Anne banyak berulah.


Bapak dan Laura mendekati Anne, lalu duduk di tepi ranjang. Sedangkan aku bersandar di kusen pintu dan menyandarkan tubuhku.


"Lama sekali dia tidur, apa dia tidak lapar?" tanya Bapak, "Apa jangan-jangan dia tersesat di alam mimpi." lanjut Bapak lagi sambil meraba dahi Anne.


Laura menepis tangan Bapak, "Biar aku saja yang memeriksanya.


Bapak menyengir kuda, lalu ia menatapku, "Laura sama-sama posesifnya dengan Rinjani, Kay."

__ADS_1


Laura menggeleng, ia mencubit paha Bapak dengan gemas.


".. ada-ada saja tingkah kedua lansia ini." Aku melipat kedua tanganku dan menyaksikan Laura menguncang lengan Anne.


Sedikit ada pergerakan, Laura tersenyum.


"Bangunlah, jika tidak kami akan membuang mu ke luar rumah." Laura memberinya segelas air putih.


Anne mengerjapkan matanya. Bersusah payah ia membuat dirinya sadar dari sisa mabuk semalam. Tangannya berkali-kali mengusap wajahnya, dan menepuk kepalanya.


"Kamu ada di rumah kita, keluarga Kaysan dan Rinjani." jelas Laura, ia mengusap lembut lengan Anne. "Minumlah."


Anne menatap Laura sekilas, sedangkan aku hanya bisa melihatnya sambil memikirkan solusi terbaik setelah ini. Semua mendadak semakin runyam, terlebih sekarang orangtuanya sudah kembali bekerja. Papa Anne kembali berlayar, dan Mama Anne kembali ke catwalk untuk memperagakan busana. Bakat yang di miliki Anne jelas menurun dari ibunya.


Perlahan-lahan Anne mengambil gelas yang diulurkan Laura, ia meminumnya dengan pelan.


"Mau mandi air hangat, itu akan membuat tubuhmu rilex?" ujar Laura, ia sangat tahu apa yang dirasakan oleh Anne, karena putrinya Sheila dulu juga bertingkah seperti ini.


Mata Anne kini beralih padaku, "Sudah membaik? Jika iya aku akan mengantarmu pulang." ujarku, sambik mendekatinya.


Aku menghela nafas, "Baiklah, tapi aku yang memilih tempatnya!" kataku telak.


Dari luar, sayup-sayup terdengar suara pintu yang di ketuk berulang kali.


Bapak memegang bahuku dan mencengkeramnya, "Biar Bapak saja yang membukanya, itu pasti Sheila dan suaminya."


Aku mengangguk. Beberapa saat hanya ada keheningan. Aku tak acuh, dan memilih melihat-lihat foto yang di kirim oleh Nakula. Aku menyerah, mungkin benar yang dikatakan para pembaca, jika tindakan ku sudah melebihi batas. Dan, aku yakin, urusannya semakin ruwet. Hari ini saja aku harus mengambil cuti, yang berarti waktuku menemani Rinjani saat melahirkan nanti semakin terkikis. Aku menghela nafas, tidak mencoba untuk menutupi kefrustrasian ku.


Entah apa yang di lakukan Laura dan Anne di walk in closed. Karena sedaritadi terdengar gumam dan tawa yang bersautan. Tapi, aku yakin. Laura tahu apa yang harus dilakukan untuk meredam tingkah liar gadis labil itu.


Semerbak wangi sabun menusuk hidungku, tidak wangi seperti saat Rinjani habis mandi. Bahkan dengan tingkah konyolnya, ia kadang bertingkah seperti bintang iklan shampo, mengibas-ibaskan rambutnya dan melempar handuknya ke sembarang arah. Lalu... setelah itu... dia menggodaku. Tanpa sadar aku tersenyum sekaligus tersentak saat Laura melempar handuk ke tanganku.


"Kay, mandilah. Kau kusam sekali." Laura menggeleng, ia menggandeng tangan Anne untuk keluar kamar.


*

__ADS_1


Euforia mabuk semalam Anne ceritakan di ruang tamu, bersama keluarga Laura yang tampak terbuka menerima Anne sebagai tamu. Tapi, Bapak sedaritadi menatapku tajam! Tajam sekali, bahkan kalau tatapan itu memiliki kekuatan, mataku sudah dibuat berdarah-darah, seperti tangis Rinjani jika melihat kejadian ini.


Aku menyumpah. Bukan ini yang aku inginkan saat jauh dari Rinjani. Aku hanya ingin menyelesaikan tanggung jawabku, mengambil cuti saat Rinjani melahirkan dan kembali lagi ke sini untuk menyelesaikan tugasku. Itu saja, tidak lebih. Tapi, semua seakan masih menghadang ku untuk menjadi laki-laki setia dengan satu istri. Anne---menyentuhnya saja aku tidak ingin---aku bukan laki-laki brengsek yang mengambil kesucian gadis yang tergila-gila dengan ku!


Duduk di kursi yang berbeda, aku mulai mengerti, banyak hal-hal yang kedengarannya terlalu indah untuk jadi kenyataan justru biasanya tidak akan menjadi nyata.


Obrolan mereka masih bersaut-sautan, kadang terdengar tawa, guyonan bapak dan tingkah Laura yang menambah bumbu suasananya menjadi hangat. Sheila mendekatiku, ia menyuruhku untuk mengikutinya ke arah dapur.


"Sudah ada pertemuan wali kelas dan wali murid Anne?" tanya Sheila.


Aku mengangkat bahu, "Belum, orangtuanya sibuk, Ila." jawabku sambil menuang kopi ke dalam cangkir.


"Fix, dia hanya butuh perhatian, Kay. Mama ada seseorang yang bisa membantunya lepas darimu. Seperti aku dulu." Dahi ku berkerut saat Sheila tersenyum lebar, seakan ia mengingat kembali kenangannya.


"Kamu yakin, Ila? Tapi janjiku masih enam hari lagi."


"Tepati saja janjimu, nanti mama akan ikut dengan kalian." kata Sheila, "Untung hanya gadis SMA yang menyukaimu, Kay. Disini, permasalahan seperti itu adalah hal sepele. Tidak perlu ambil pusing." lanjut Sheila seraya menepuk bahuku.


Setelah hari itu, aku memang memenuhi janjiku dengan Anne. Bersama Laura, yang menggantikan peran Ibu Anne dan Bapak yang menggantikan posisi papanya. Berkali-kali mereka mengingatkan agar tidak menganggu hubungan ku dengan Rinjani. Anne berkali-kali ingin menolaknya, tapi saat Laura mengingatkan banyak hal yang menyenangkan tanpa sebuah ikatan pernikahan, keyakinan Anne untuk mendekatiku perlahan memudar.


Disekolah Anne memintaku untuk berbicara 'lebih' tentang kisah cinta ku dengan Rinjani. Apapun tujuannya, aku menambah bumbu pedas dalam hubungan yang aku jalani dengan Rinjani. Agar ia paham tidak mudah menjadi aku ataupun Rinjani.


Anne memberiku sepucuk surat saat terakhir kali kami bersama. Disaksikan oleh Laura dan Bapak, aku mengacak-acak rambutnya gemas.


"Kejarlah cita-cita mu."


Tanpa di duga. Anne memelukku, "Untuk terakhir kalinya Mr. Kay."


"Baiklah-baiklah, setelah ini. Jangan harap aku bersikap baik padamu."


Anne terkekeh, ia melepas pelukannya dan menatapku intens. "Mr. Kay, maaf."


Aku cuma mengangguk, lalu termenung. Pikiranku berkecamuk, semoga saja ini bukan termasuk dalam kategori perselingkuhan. Karena Bapak dan Laura menjadi saksinya, jika aku tidak berbuat macam-macam yang membuat seorang Kaysan Adiguna Pangarep dicap menjadi laki-laki yang tidak setia.


Aku laki-laki setia pada pasanganku. Camkan itu baik-baik!!!

__ADS_1


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2